—Pagi yang begitu hangat bagi Esha.
Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di babdung, tempat yang Esha kagumi dari dulu.
Ia berjalan pelan dengan tas pink
yang menggantung di pundaknya. Rumah demi rumah dilewati, toko demi toko ia lewati. Senyum lebar di wajahnya, betapa senang hatinya. Bertemu teman baru, guru batu, dan suasana baru.
🎯
Esha berdiri didepan gerbang, menarik nafas panjang lalu menghembuskanya. Berjalan pelan kearah lorong lorong kelas dengan wajah gembira namun hati yang gugup.
—ia menaruh tas dibangku lalu pergi menuju aula. Ternyata banyak siswa siswi baru yang sedang menunggu acara dimulai.
Esha duduk dengan tangan yang
sesekali memeras ujung bajunya.
Mendadak, ada tangan yang menyambutnya.
Ia melihat tangan itu sekejap dan membalas uluran tangan itu. "Halo namaku Narasya, kamu boleh panggil aku Aca. " katanya dengan senyum ramah.
—"ohh, hai.. namaku Alesha, panggil aja Esha. " sahut Esha dengan gugup
🎯
Setelah acara selesai semua murid diarahkan untuk pergi ke kelas yang sudah diberikan.
—Aca dan Esha satu kelas, betapa senangnya mereka berdua.
Dua orang itu memutuskan untuk duduk berdua.
Hari demi hari, pertemanan mereka begitu erat. Setiap saat mereka bersama. Sampai akhirnya..
Ada seorang anak baru yang pindah ke sekolah mereka. Dan ia masuk ke kelas Esha.
Esha melihat Aca begitu senang sampai terus mengobrol dengan anak baru itu.
—"Hai, kenalkan namaku Narasya, panggil aja Aca" ucap perempuan itu
"iya, halo Aca. namaku Fanen. Salam kenal. " jawabnya.
🎯
—Waktu demi waktu berlalu, Kini Aca lebih sering bermain dengan Fanen dibanding Esha. Pergi ke kantin, toilet, dan bahkan hal-hal kecil seperti membuka bungkus chiki, Aca lagi lagi bergantung pada Fanen.
Tepat suatu hari, dimana hari itu adalah hari upang tahun Fanen. Esha dan teman-teman lain di undang ke acara nya.
Tapi anehnya, Esha tak melihat Aca dihari itu. Betapa kebingungannya dirinya.
🎯
Saat acara dimulai, Fanen berbincang kepada teman lainya. Esha sedikit menguping pembicaraan itu.
—"Sebenarnya, aku hanya memanfaatkan Aca, betapa bodohnya dia" celoteh Fanen.
Esha begitu terkejut, entah apa yang Fanen pikirkan? apa omongan nya itu benar?.
Keesokannya, ia memberi tahu Aca.
Anehnya, Aca tak percaya. Ia malah meninggalkan Esha sendiri dan marah padanya.
𝘈𝘤𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘬𝘰𝘬..