" ku kira kita sudah sepakat kalau aku adalah pendengar yang baik." Aku menatap nya sekilas Dan takut. Hal hal ini. Aku malu pada diri ku. Sungguh.aku hanya anak 17 tahun yang penuh mimpi. Dan cowok dari antah berantah yang baru ku kenal. Okay aku memang naksir dengan nya dari beberapa waktu lalu, tepatnya sejak kami SMP. Tapi aku tidak pernah berpikir hubungan ini akan berjalan sejauh ini dengan nya. Mikhael membawa ku pada dekapan nya.
" aku janji, aku akan memepertahankan mu selama lama nya."
" okay, aku terhibur." Mikhael tertawa kecil, Dan aku mulai duduk tegap.
" you know what? selamanya adalah waktu yang lama! apalagi selama lama nya ! itu sesuatu yang sulit untuk di hitung, bahkan hanya dengan membayangkannya." Mikhael menatapku bimbang.
"i know right!" ia menggeleng.
"kau takut ?" ia memberi jeda.
"atau tidak percaya ?"aku menaikan kedua pundakku.
"sudah jelas dua duanya!" mikhael menambahkan.
."sebagai sesuatu yang manusiawi! aku lebih banyak takut bila pada akhirnya aku tidak bisa percaya dengan ucapanmu, atau takut bila sessuatu yang lain di luar kendali kita !"
" oh sekarang kau sudah menjadi normal?" ia meyindir.
" aku lebih suka dirimu yang aneh, okay!" aku mengalihkan pandanganku. Dan memikirkan ayah. sudah jelas ini bukan perkara mudah. ayah bukan seseorang yang mudah di bujuk, ia memiliki prinsip yang keras, biasanya sesuatu yang sudah ia katakan adalah sesuatu yang sudah di dasari research dan cukup kuat bukti yang mendukung. jadi bisa di bilang "mustahil" untuk memberi jalan lain atau hanya berpendapat.
" dengar.. " Mikhael mengalihkan pandanganku.
" aku mengatakan semuanya dengan jujur!" mataku bergerak sedikit dan hanya mampu berkata Ok. Mikhael mengambil sesuatu dari kantung nya. Ia menunjukan ku sebuh cincin dengan model cukup unik. Cincin tersebut tidak menyatu, Satu lingkar Menuju ke bawah Dan satunya Menuju ke atas. Kedua ujung nya berbentuk lancip.
" aku melihat cincin ini di Jogya, ketika liburan sekolah tahun lalu, aku suka sekali. Padahal tidak muat. Entah kenapa aku hanya ingin membeli nya."
" ku pikir ada hubungan nya dengan mu." ia menatap jariku. Lalu memasukan cincin tersebut ke jari telunjukku. Dan ajaib. Cincin nya muat saja. bahkan serasi.
" kau tahu, ini adalah cincin penangkal ketakutan. " Aku ngakak. Dan Mikhael meringis.
" kita berdua tahu kau adalah penakut. "
" okay, aku akan menerima nya sebagai penangkal ketakutan."
" Dari semua kata, dan makna dari 'jujur' aku ingin mencari kata lain agar sekali saja seseorang seperti mu, seseorang yang aku sukai tanpa alasan, seseorang yang memberiku perasaan tanpa tapi, seseorang yang ku percaya dengan oleh sebab apa, seseorang yang .. " Mikhael kehilangan kata.
" seseorang yang membuatku ingin membangun kehidupan masa depan."
"Seseorang yang memburu pikiranku sebelum tidur..,"
"seseorang yang membuatku selalu ingin tahu apa yang ia lakukan!"
"seseorang yang bertahun tahun membuatku gugup hanya untuk menyapa." aku mendengarkan dengan baik setiap kata yang ia katakan. menelusuri sisi gelap dari kalimat kalimat indah. dan aku menyerah. Mikhael menang.benar benar mengambil perasaan damai ini dalam senyum nya yang menawan.
" seseorang sepertimu! seseorang yang memiliki jutaan kata dan sulit untuk di ungkakan! hanya.. seseorang seperti mu.." Mikhael terdiam, matanya berkedip sekali dalam ketakutan, dan memandangku jauh, menarik penasaran ini ke dalam matanya. menyedot kami dalam ruang tanpa ujung. berlari. tertawa. sedih. marah. menari. hidup. bahagia. segala bentuk ekspresi itu berada diantara kami. Mikhael menyentuh pipiku dengan kedua tangannya. ia mendekakan keningnya.
" Bawa aku kemanapun bersamamu!"