Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Bertahan

Maria Cecília Santana, 24 tahun

Suara pertama yang dikenal Maria Cecília Santana bukanlah suara seorang ibu, bukan pula kehangatan pelukan yang menimangnya dengan janji cinta abadi. Yang pertama ia dengar adalah derit gerbang tua, didorong tangan-tangan asing di suatu dini hari yang dingin, diiringi tangis lemah bayi berusia tiga bulan, terbungkus selimut yang terlalu tipis untuk melindunginya dari dunia.

Malam itu, tak seorang pun melihat siapa yang meninggalkannya di sana.

Tapi seseorang menemukannya.

Isabel selalu berkata bahwa sebagian hidup dimulai dalam keheningan agar belajar, terlalu dini, untuk menjerit dalam diam. Dialah yang membuka gerbang di pagi kelabu itu dan menemukan gadis kecil dengan mata yang terlalu besar untuk tubuh serapuh itu. Dan pada saat itu, Isabel memutuskan bahwa anak itu takkan sekadar menjadi satu lagi angka yang hilang di antara sekian banyak.

"Kau akan punya nama," bisiknya, mendekap bayi itu ke dalam pelukannya. "Dan kau akan punya kisah."

Begitulah Maria Cecília Santana lahir.

Maria, diambil dari nama nenek Isabel dari pihak ibu. Cecília, dari nenek pihak ayah. Dan Santana, karena ia ditinggalkan tepat pada hari Bunda Maria Santana. Sebuah nama sarat makna untuk hidup yang belum tahu betapa berat beban yang kelak dipikulnya.

Tahun-tahun pertama Maria Cecília adalah satu-satunya masa yang bisa disebut—meski dengan hati-hati—bahagia.

Isabel lebih dari sekadar pengasuh. Ia adalah tempat berlindung, kasih sayang, perlindungan. Satu-satunya orang yang memandang Maria Cecília seolah ia berharga, seolah ia istimewa di tengah tempat yang penuh anak-anak terlupakan.

"Kau tidak dibuang," kata Isabel sambil mengelus rambut gadis kecil itu. "Kau ditinggalkan untuk ditemukan."

Maria Cecília percaya. Ia harus percaya.

Tapi dunia punya cara yang kejam untuk meruntuhkan satu-satunya keyakinan yang dimiliki seorang anak.

Saat Maria Cecília berusia enam tahun, Isabel pergi di suatu sore biasa untuk membeli bahan makanan. Ia tak pernah kembali.

Tabrakan itu cepat, kata mereka. Ia tak sempat menderita, kata mereka. Seolah itu bisa menjadi penghiburan bagi seorang anak yang kehilangan satu-satunya sumber cintanya.

Dan di hari itulah neraka dimulai.

Tanpa Isabel, panti asuhan tak lagi menjadi tempat berlindung dan berubah menjadi medan bertahan hidup. Orang-orang yang bekerja di sana tak punya kesabaran, tak punya kebaikan. Yang mereka punya hanya aturan, hukuman, dan ketidakpedulian yang menyayat.

Maria Cecília cepat belajar bahwa menangis tak ada gunanya.

Di usia tujuh tahun, ia sudah mencuci pakaian yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Di usia delapan, ia membantu di dapur, bahkan saat tangannya nyaris tak sampai ke kompor. Di usia sembilan, ia membersihkan koridor demi koridor seorang diri.

Dan berbuat salah tak pernah diizinkan.

Hukuman datang dalam bentuk paling kejam: kelaparan.

Tiga hari tanpa makan.

Kadang empat.

Pernah suatu kali tubuhnya tak sanggup lagi. Dunia berputar, lantai seakan naik menghantam, dan ia terjatuh. Saat terbangun, tak ada seorang pun di sisinya. Tak ada kekhawatiran, tak ada perhatian. Hanya perintah dingin agar ia melanjutkan pekerjaannya.

Dan ia pun terus bertahan.

Karena bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan.

Tahun demi tahun merayap berat, seakan waktu sengaja menjadi lebih menekan baginya. Setiap ulang tahun hanyalah pengingat bahwa tak ada yang datang menjemputnya. Tak ada ayah, tak ada ibu. Tak ada penjelasan.

Di usia delapan belas, ketika akhirnya ia meninggalkan panti asuhan, tak ada perpisahan.

Tak ada pelukan.

Bahkan tak ada satu pun ucapan "semoga berhasil".

Hanya pintu yang ditutup di belakangnya.

Dan Maria Cecília, sendirian di dunia.

São Paulo terlalu luas bagi seseorang yang tak punya apa-apa. Jalanannya riuh, tergesa, acuh tak acuh. Tak ada yang berhenti. Tak ada yang menoleh.

Ia mengembara berhari-hari.

Tanpa makanan.

Tanpa air.

Tanpa arah.

Ia tidur di mana saja yang bisa—trotoar, bangku taman, sudut mana pun yang tak langsung mengusirnya. Tubuhnya sakit, kepalanya berdenyut, dan keputusasaan mulai menetap seperti bayangan yang enggan pergi.

Di salah satu sore itulah, ketika ia bahkan tak lagi punya tenaga untuk meminta tolong, seseorang akhirnya melihatnya.

"Anakku..."

Suara itu lembut, sarat kekhawatiran.

Maria Cecília mengangkat pandangannya dengan susah payah dan mendapati seorang wanita tua berambut putih dengan sepasang mata yang teduh.

"Kau baik-baik saja?"

Ia tidak baik-baik saja.

Tapi ia pun tak tahu harus menjawab apa.

Bu Iracema tak bertanya lebih jauh saat itu. Ia hanya mengulurkan tangan.

"Ikutlah denganku."

Dan, untuk kedua kalinya dalam hidup, Maria Cecília ditemukan.

Iracema Cortez

Rumah Bu Iracema kecil dan sederhana, tapi penuh oleh sesuatu yang nyaris tak dikenali Maria Cecília: kehangatan yang menerima apa adanya.

Di hari-hari pertama, ia nyaris tak bicara. Ia makan perlahan, seakan takut makanan itu akan lenyap kapan saja. Ia tidur lebih lama dari biasanya, mencoba memulihkan bertahun-tahun lelah yang menumpuk.

Bu Iracema tak pernah memaksa.

"Setiap orang punya waktunya sendiri," katanya.

Dan sedikit demi sedikit, Maria Cecília mulai membangun kembali dirinya.

Ia mendapat pekerjaan di sebuah kafe kecil dekat rumah. Gajinya kecil, tapi bagi dirinya itu berarti martabat. Untuk pertama kalinya, ia punya sesuatu yang benar-benar miliknya.

"Simpan uangmu," nasihat Bu Iracema. "Uang pensiunku cukup untuk kita berdua. Kau harus bersiap untuk masa depan."

Maria Cecília mengangguk.

Ia tak pernah punya masa depan sebelumnya.

Hari-hari terasa lebih ringan. Ada rutinitas, ada rasa aman, bahkan ada momen-momen tawa—sesuatu yang langka dalam hidupnya selama ini.

Ia mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, hidup bisa menjadi lebih dari sekadar luka.

Tapi kebahagiaan Maria Cecília selalu seakan punya tanggal kedaluwarsa.

Bu Iracema jatuh sakit.

Awalnya hanya tanda-tanda kecil. Lelah di sini, nyeri di sana. Tapi dalam hitungan bulan, penyakit itu berkembang terlalu cepat.

Maria Cecília melakukan segala yang ia bisa. Ia merawat, membantu, dan tetap di sisinya hingga napas terakhir.

"Kau adalah hadiah dalam hidupku," kata Bu Iracema dengan suara lemah. "Jangan pernah lupakan itu."

Tiga bulan kemudian, ia pun pergi.

Maria Cecília baru berusia dua puluh tahun.

Dan, sekali lagi, ia sendirian.

Atau setidaknya, begitulah yang ia kira.

Beberapa hari kemudian, datang sebuah kejutan.

Bu Iracema mewariskan rumah kecil itu untuknya.

Lebih dari itu: sejumlah tabungan yang tersimpan, cukup untuk membuat Maria Cecília benar-benar memulai hidup dari awal.

Ia menangis.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena syukur.

Setelah Isabel, Bu Iracema adalah orang pertama yang mencintainya tanpa mengharap imbalan apa pun.

Dan, untuk pertama kalinya, Maria Cecília memutuskan bahwa ia takkan sekadar bertahan hidup.

Ia akan benar-benar hidup.

Dengan uang yang ditinggalkan itu, ia berhasil masuk kuliah. Tak mudah. Hari-hari pertama terasa menakutkan—orang-orang baru, lingkungan yang sama sekali asing, kenyataan yang terasa terlalu jauh dari dunianya.

Di sanalah ia mengenal Ana Paula.

Ana Paula Vasconcelos, 24 tahun

Ana Paula adalah kebalikan Maria Cecília dalam hampir segala hal. Ceria, banyak bicara, spontan. Tipe orang yang begitu melangkah masuk ke sebuah ruangan, seakan menerangi segala di sekelilingnya.

"Kamu jarang bicara, ya?" kata Ana Paula di hari pertama, duduk di sebelahnya tanpa sungkan.

Maria Cecília hanya membalas dengan senyum kecil.

"Santai, aku bisa bicara untuk kita berdua," tambahnya sambil tertawa.

Dan, entah bagaimana, itu berhasil.

Persahabatan itu tumbuh dengan sederhana, tapi tulus. Ana Paula tak banyak bertanya, tapi selalu ada. Dan Maria Cecília, meski dengan segala tembok pertahanannya, perlahan mulai mengizinkan dirinya terbuka.

Seiring waktu, mereka menjadi tak terpisahkan.

"Kamu tinggal sendiri?" tanya Ana Paula suatu hari.

"Iya."

"Kalau begitu, sudah diputuskan. Mulai sekarang kamu tinggal bersamaku juga."

Maria Cecília tertawa.

Dan menerimanya.

Rumah yang dulu terasa terlalu besar untuk satu orang, kini hidup kembali. Tawa, obrolan, malam-malam belajar, bahkan pertengkaran konyol soal siapa yang harus mencuci piring.

Ana Paula pun memikul lukanya sendiri. Ibunya telah meninggal lebih dari setahun lalu, dan ia satu-satunya keluarga yang tersisa.

Dua kisah yang retak.

Dua hidup yang ditandai kehilangan.

Tapi, bersama, mereka menemukan sesuatu yang sudah lama tak dimiliki keduanya: rasa memiliki tempat.

Dan, untuk pertama kalinya, Maria Cecília tak lagi merasa sekadar seseorang yang ditinggalkan.

Ia merasa menjadi seseorang yang tinggal—yang bertahan.

Dan yang, mungkin, masih menyimpan banyak hal untuk ditemukan tentang siapa dirinya sebenarnya.

Karena, jauh di lubuk hati, satu pertanyaan masih tersisa, diam, menunggu saat yang tepat untuk muncul:

Siapa orang tuanya?

Dan mengapa mereka meninggalkannya?

Ia belum tahu.

Tapi ia hampir menyadari bahwa sebagian jawaban bisa mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!