Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Perjalanan awal
..."bulan tidak pernah memaksa awan untuk pergi, ia hanya bersinar, dan awan akan mengikuti nya sendiri"...
pada malam yang dingin salju turun dengan pelan, tidak berisik jatuh tanpa suara, sama seperti 20 tahun jing yue tinggal di sini.
Aula utama sekte emei yang kosong tanpa suara murid-murid yang berlatih atau bercanda.
Lentera sudah padam satu-satu, bendera yang menjadi kebanggan sekte robek di terpa angin.
Di lantai kayu yang keras dan dingin serta di penuhi debu, terbaring kepala biara emei - Guru Hui guang, nafas nya tinggal sehelai.
para murid utama sudah pergi 3 bulan yang lalu, bilang nya "ingin mencari Sekutu" dan akan kembali.
Sedangkan para murid luar kabur seminggu yang lalu saat surat ultimatum dari 8 sekte datang.
Hanya tinggal 2 orang di sekte yang sudah hancur, Guru yang sekarat... dan jing Yue yang masih menyapu.
"jing yue... " suara guru Hui guang serak, hampir tenggelam terbawa angin.
Jing Yue meletakkan sapu dan mendekat secara perlahan, berlutut di samping ranjang, tidak ada air mata.
tangan nya memutih dan dingin, sama dingin nya dengan tangan guru nya.
"semua.... sudah pergi ya? " tanya sang guru dengan sendu.
"ya" jawab singkat jing Yue, satu kata dan datar.
Guru Hui guang tertawa kecil, suara nya rapuh "aku kirim mereka pergi... karena takut mereka mati di sini, tapi kau... kenapa masih bertahan? "
Jing Yue menatap jendela mengingat memori lama, salju menumpuk di atas atap.
"dulu... waktu aku umur 2 tahun, guru membawa ku dari tumpukkan salju ini, guru berkata : emei tidak membuang orang kedinginan"
Dia berhenti sebentar menarik nafas panjang dan melanjut kan "jadi aku tidak pergi"
Tidak ada drama dan tidak ada sumpah.
Cuma alasan sederhana dan kebaikan sederhana, menjadi alasan seorang anak buangan bertahan.
Guru Hui guang menggenggam tangan jing Yue dengan lembut, kulit nya sudah seperti es.
"dengar kan aku jing Yue, Emei... sudah redup, kitab kita telah hilang, murid juga sudah tidak ada, orang Jianghu bilang kita sudah mati"
Jing Yue diam tidak menjawab.
"tapi selama masih ada satu orang yang menyapu tempat ini, selama masih ada orang yang berlatih setiap malam di bawah badai salju,.... Emei belum mati"
Guru mengangkat tangan dan menyentuh dahi jing Yue.
"kau bukan murid terbaik, kau juga bukan yang terpintar,
tapi kau yang satu-satu nya yang punya hati setenang air di danau paling beku, itu... yang di butuhkan emei sekarang"
Guru Hui guang menghembus kan nafas terakhir kali nya, lentera terakhir pun ikut padam.
Di luar, di malam yang dingin, salju turun dengan gemerlap putih nya.
Di dalam, jing Yue masih berlutut, menemani jasad guru nya sampai fajar.
Tidak ada teriakan atau pun ratapan.
Saat ayam mulai berkokok, dia bangkit berdiri.
Melipat jubah guru nya dengan rapi, dan menyapu lantai untuk terakhir kali nya.
Jing Yue mengikat pedang kayu nya di punggung.
Di depan gerbang emei yang besar dan kosong, dia menoleh sekali, dan melakukan sujud penghormatan kepada kepala biara sekaligus guru nya.
Lalu dia turun gunung, sendirian dengan membawa nama emei menuju Jianghu.
Bukan karena di perintah.
Bukan karena dia berani.
tapi karena kalau dia juga pergi,... maka emei benar-benar mati pada malam itu.
Setelah menutup gerbang emei, jing Yue berjalan sendiri.
Tidak ada kuda, tidak ada bekal makanan, cuma pedang kayu, 3 roti kering, dan nama sekte di punggung nya.
Kota pertama yang dia datangi bernama LANGSHAN, kota yang ramai dan berisik.
Jing Yue berdiri di tengah pasar dengan jubah biru nya yang memudar.
Orang-orang melirik "itu pakaian emei kan? bukan nya sudah 5 tahun mereka tidak ada yang turun gunung? "
Dia berhenti di depan papan pengumuman.
Ada tulisan besar : Turnamen Jianghu 7 hari lagi - Hadiah 1000 tael.
pemenang dapat hormat 8 sekte.
Seorang pedagang mendekat dan menepuk pundak jing Yue "mau ikut nona? emei kan... ya sudah lah"
dia tertawa kecil lalu pergi.
Jing Yue tiak marah, dia cuma mengangguk pelan.
"belum mati" gumam nya pelan sampai hampir tidak kedengaran.
Di lapangan latihan kota, jing Yue menatap 3 pemuda yang sedang adu jurus buat pamer.
Salah satu nya melihat jing Yue "woi biarawati! mau nyoba? "
tema satu nya tertawa "Hati-hati, nanti pedang kayu nya patah"
Jing Yue tidak menjawab, dia meletak kan buntalan nya dan berdiri di garis dengan percaya diri.
Satu orang maju dengan meremeh kan, 30 detik pertama jing Yue cuma menghindar.
Orang-orang mulai mentertawakan nya "lari aja terus"
di detik ke 31,kesempatan datang, pemuda itu lengah "sret"
Gagang pedang kayu jing Yue mengetuk titik bahu nya dan menyebabkan pemuda itu jatuh terduduk.
Sunyi.
Jing Yue memungut buntalan nya, dan membungkuk hormat dengan gaya khas emei.
lalu pergi tanpa mengambil satu koin pun.
Dari belakang ada yang berbisik pelan, "itu... jurus emei ya? yang sudah lama tidak kelihatan"
malam pun tiba dengan bulan yang bersinar terang.
Jing Yue berjalan ke luar kota, dia tidak punya uang buat penginapan.
Di bawah pohon besar di luar kota, jing Yue tidur dengan lampu minyak kecil yang menyala.
Angin berhembus dengan dingin, suara perut lapar menemani malam yang sunyi.
Jing Yue mengeluarkan surat dari guru nya.
jaga nama emei dalam 30 hari dan jangan mati.
Jing Yue menatap nyala lampu yang kecil tapi tidak padam terkena angin.
Dia mulai menutup mata.
Besok jing Yue harus kembali jalan lagi menuju kota berikut nya.
karena perjalanan 30 hari baru di mulai... dan nama emei masih menunggu untuk di buktikan.