Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - WULIN DA HUI DI PUNCAK TERATAI EMAS

Angin musim gugur tahun ke-17 Kaisar Hongwu mengamuk di atas Puncak Teratai Emas, puncak paling curam di Gunung Huashan.

Tebingnya seperti pedang yang ditancapkan langit. Jika kau terpeleset, kau tidak akan jatuh ke tanah, kau akan jatuh ke awan. Dan di atas awan itulah, ratusan bendera perguruan berkibar liar hari ini.

Setiap sepuluh tahun sekali, dunia persilatan mengadakan Wulin Da Hui. Pertemuan Besar. Bukan untuk arisan. Untuk menentukan siapa yang berhak memegang Bendera Wulin dan menjadi pemimpin dunia persilatan yang lurus selama sepuluh tahun ke depan. Tahun ini, Huashan mendapat giliran menjadi tuan rumah, dan itu berarti kehormatan sekaligus neraka bagi mereka.

Arena batu seluas tiga lapangan padi telah dipahat di puncak. Di sekelilingnya, sudah berkumpul hampir tiga ratus pendekar. Bau arak, keringat, minyak senjata, dan dupa bercampur menjadi satu.

Di tribun timur yang paling indah, di mana kabut paling tipis dan pemandangan lembah paling jelas, duduk dua sosok dari Jiangnan. Li Qingzhou, 24 tahun, jubah sutra biru-putih motif ombak Danau Tai, kipas besi berukir naga di tangan. Senyumnya licik, matanya tidak pernah berhenti menghitung berapa orang di arena yang bisa ia bunuh dalam tiga gerakan. Di sampingnya, Su Meiyin, 22 tahun, gadis kota air dengan gaun hijau giok. Payung kertas berminyak bermotif tinta ia sandarkan di bahu, tapi semua orang tahu di dalam payung itu ada 36 jarum perak dan pedang tipis yang bisa memotong hujan.

"Pendekar dari Zhongyuan semuanya otot, tidak ada otak," bisik Li Qingzhou sambil mengipasi dirinya pelan. "Lihat itu, Yue Zhengtian masih saja membawa pedang sebesar pintu."

Di tengah, di tempat yang paling dihormati, duduk dua kutub langit. Bhiksu Jueyuan dari Gunung Shaolin, Henan. Usia 28 tahun, kepala plontos dengan sembilan titik luka bakaran dupa suci, jubah saffron. Tongkatnya terbaring di pangkuan, matanya terpejam, tapi setiap pendekar yang lewat dalam radius lima langkah merasa napasnya menjadi lebih berat karena hawa tenaga dalamnya yang seperti gunung. Di seberangnya, Zhang Lingyun dari Gunung Wudang, Hubei. 26 tahun, jubah putih-biru Tao, rambut disanggul, pedang tipis Taiji di punggung. Dedaunan yang jatuh di dekatnya tidak pernah jatuh lurus, selalu berputar pelan, selaras dengan napasnya.

Tidak jauh dari mereka, Master Jing Yue, 29 tahun, dari Gunung Emei, Sichuan. Jubah abu-abu dengan aksen pink sakura, dua pedang pendek kembar di pinggang. Wajahnya dingin seperti salju abadi di puncak Emei. Murid-murid wanita di belakangnya tidak ada yang berani bersuara. Di atas batu yang paling tinggi, yang bahkan elang pun malas hinggap, berdiri tuan rumah itu sendiri. Linghu Feng, 23 tahun, pendekar Huashan. Jubah putih tepi merah, pedang panjang Huashan di tangan, rambutnya berkibar liar. Wajahnya tegang. Jika pertemuan ini berantakan, nama Huashan akan tercoreng selama 50 tahun.

Di tribun barat, yang sengaja dijauhkan, aroma aneh tercium. Bau manis dan busuk bercampur. Tidak ada yang berani duduk dekat pemuda berjubah ungu gelap bermotif laba-laba emas. Tang Wuying, 27 tahun, putra Tang Men dari Sichuan. Sarung tangan mekaniknya berderak pelan, dan di sela-selanya terlihat kilau jarum beracun. Ia memutar botol giok kecil, tersenyum dingin.

Di sisi utara, hawa menjadi dingin. Kunlun Laozu Baimei, kakek berjanggut putih panjang, jubah bulu putih, tongkat es kristal yang mengeluarkan uap. Usianya 80 tapi terlihat 50. Tidak ada yang tahu pasti. Dia datang bukan untuk bendera. Tujuh malam berturut-turut ia bermimpi tentang cahaya emas yang muncul dari arah Sungai Kuning. Mimpi yang sama yang dialami pendiri Kunlun 300 tahun lalu sebelum Kitab Tai Chu hilang.

Di tribun pejabat yang dibangun khusus dengan kayu terbaik, dua musuh bebuyutan dipaksa duduk bersebelahan. Jenderal Xiao Lie dari Xiangyang, 38 tahun, kota benteng yang terkenal menahan pasukan Mongol seperti dalam kisah Pendekar Rajawali. Zirah ringan hitam di atas jubah, tombak pendek di punggung, bekas luka perang di pipi. Matanya merah menatap Pangeran Zhuo Long dari Beijing, 32 tahun, jubah biru tua bordir naga emas, pedang istana berhias giok. Senyumnya ramah, tapi semua orang tahu di balik senyum itu ada 100 cara untuk membunuhmu tanpa menyentuhmu. Di belakang Pangeran, berdiri seperti patung, Tie Mian Yu, Pengawal Imperial, 34 tahun, zirah mengkilap, topeng besi setengah wajah, Da Dao raksasa di tangan. Diam, loyal, mematikan.

Dan di sudut paling berdebu, paling berangin, tempat semua orang buang sampah kulit kacang, duduk dua orang asing yang membuat semua orang tidak nyaman. Asha Lone Wolf, 30 tahun, pengembara Gurun Gobi, Daerah Barat Xiyu, jubah coklat pasir compang-camping motif Uighur, scimitar melengkung, tertawa keras sambil minum arak dari kantung kulit kambing. Di sebelahnya, Ratu Loulan, 27 tahun, Ratu Racun Xiyu, gaun merah darah gaya Persia, rambut keriting, mata ungu, ular hijau-hitam melilit lengannya. "Banyak daging segar hari ini," desisnya.

Di tengah semua itu, di bawah pohon pinus yang tumbuh miring di tebing, ada dua orang yang sama sekali tidak diperhatikan.

Satu adalah bocah dengan jubah tambal-tambalan yang jauh lebih lusuh dari pengemis mana pun, membawa gulungan besar terbungkus kain goni di punggungnya, dan pedang kayu patah di pinggang. Mu Chen, 17 tahun. Anak yatim dari desa kecil di Dataran Tengah, Zhongyuan. Sepuluh tahun lalu, saat menggembala kambing, ia jatuh ke celah tebing Sungai Kuning dan menemukan sebuah gua tersembunyi. Di dalamnya ada kerangka pertapa Kunlun yang memeluk sebuah kitab emas yang bercahaya. Saat ia menyentuhnya, kitab itu terbang dan masuk ke kepalanya. Sejak itu, tulisan-tulisan emas terbang di dalam mimpinya, mengajarkannya hal-hal aneh. Ia datang ke Huashan karena mimpinya menyuruhnya datang.

Dan di sebelah Mu Chen, ada seorang pengemis yang jauh lebih jorok.

Jubahnya tambal-tambalan, ada sembilan kantung besar di pinggangnya yang sudah robek, rambut acak-acakan diikat tali jerami, wajah kotor penuh minyak. Di tangannya, labu arak besar yang penyok, dan di sampingnya tergeletak tongkat bambu hijau kehitaman yang bengkok, seperti tongkat untuk memukul anjing liar di pasar.

Pengemis itu sedang minum, lalu bersendawa sangat keras.

"Burrrpp... Ah! Arak Huashan tahun ini seperti kencing kuda!"

Beberapa pendekar menoleh marah, tapi melihatnya pengemis, mereka hanya meludah.

Dua pendekar di arena sedang bertarung serius, jurus Harimau Turun Gunung. Pengemis itu tertawa terbahak-bahak.

"Harimau? Itu kucing kudisan jatuh dari atap! Hei, bocah, kalau kau pakai jurus begitu, ibumu pun akan malu!"

Mu Chen yang duduk di dekatnya kaget. Anehnya, saat ia dekat dengan pengemis ini, kitab emas di punggungnya yang biasanya panas dan bergetar jika dekat dengan orang kuat seperti Bhiksu Jueyuan atau Zhang Lingyun, tiba-tiba menjadi sangat tenang. Tenang seperti danau yang paling dalam.

Pengemis itu menoleh pada Mu Chen, menyeringai memperlihatkan gigi kuning.

"Hei, bocah goni! Kau juga mau ikut rebutan Bendera Wulin? Dengan pedang kayu patah itu? Kau mau mencongkel gigi mereka?"

Mu Chen tersipu. "Aku... aku hanya ingin melihat, Paman."

"Paman? Aku masih perjaka, bocah!" Pengemis itu tertawa sampai araknya tumpah. "Sini, duduk. Kau punya bau yang sama seperti anjingku dulu. Bau orang yang dikejar takdir."

Di arena, Ketua Aliansi Sementara, tetua Huashan berteriak, "Cukup! Siapa yang merasa berhak menantang untuk Bendera Wulin, majulah!"

Hening. Lalu Tang Wuying berdiri. Yue Zhengtian juga berdiri. Suasana memanas.

Tiba-tiba, Pangeran Zhuo Long bertepuk tangan pelan.

"Kenapa harus bertarung satu-satu? Bukankah lebih seru jika kita mencari sesuatu yang lebih menarik? Kudengar, ada seorang bocah yang membawa gulungan bercahaya di punggungnya. Sejak kemarin, gagak-gagak di Huashan tidak berhenti berputar di atasnya."

Darah Mu Chen membeku.

Semua mata kini tertuju padanya. Li Qingzhou membuka kipasnya dengan tap. Su Meiyin mengangkat payungnya sedikit. Master Jing Yue meletakkan tangan di gagang pedang.

"Kitab!" Ratu Loulan menjilat bibirnya, ularnya mendesis keras.

Mu Chen gemetar. Kain goni yang menutupi kitab emasnya tiba-tiba robek sendiri karena panas, dan tulisan-tulisan emas melayang keluar, berputar di udara! Cahaya keemasannya menerangi seluruh puncak yang berkabut!

"TAI CHU HUN YUAN JING!" Kunlun Laozu Baimei berdiri dengan mata terbelalak, suaranya menggelegar membuat salju di puncak jauh berjatuhan. "Kitab yang hilang 300 tahun lalu! Kitab yang membuat guruku gila!"

Kekacauan pecah. Ratusan pedang terhunus. Jenderal Xiao Lie dan Tie Mian Yu melompat.

"Bocah, serahkan kitab itu pada Istana!" teriak Pangeran Zhuo Long.

Mu Chen tidak bisa bergerak. Ia baru 17 tahun. Ia hanya anak gembala.

Saat itulah, pengemis di sampingnya bersendawa sekali lagi, lalu berdiri dengan malas, memungut tongkat bambu bengkoknya.

"Ah, berisik sekali anak-anak muda zaman sekarang."

Ia meneguk sisa araknya sampai habis, lalu melempar labunya ke arah Pangeran Zhuo Long. Labu itu melayang pelan, sangat pelan, tapi Pangeran Zhuo Long tidak bisa menghindar. Buk! Labu penyok itu mengenai dahinya.

"Siapa berani?!" Tie Mian Yu meraung, Da Dao raksasanya yang beratnya 50 kati menebas ke arah pengemis dengan kekuatan membelah batu.

Pengemis itu tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tongkat bambu bengkoknya. Gerakan yang sangat sederhana. Dari bawah ke atas. Seperti orang malas mengusir anjing liar di pasar.

Pang!

Suara benturan tidak keras, tapi seluruh Puncak Teratai Emas bergetar. Pedang Da Dao baja hitam terbaik Istana, patah menjadi dua. Tie Mian Yu sendiri terpental sepuluh langkah, menabrak tribun dan memuntahkan darah.

Hening. Hening yang mematikan.

Bhiksu Jueyuan yang tadinya bersila langsung berdiri, matanya terbuka lebar. "Jurus... Jurus Tongkat Pemukul Anjing! Da Gou Bang Fa!"

Zhang Lingyun dari Wudang wajahnya pucat. "Tidak mungkin..."

Pengemis itu menggaruk punggungnya dengan tongkatnya, lalu menatap Mu Chen yang melongo.

"Bocah goni, kau tahu kenapa kitab itu memilihmu? Karena kitab itu bosan menunggu orang pintar. Ia ingin orang bodoh yang masih punya hati."

Ia melangkah maju satu langkah. Batu di bawah kakinya retak.

"Anak-anak! Dengarkan baik-baik! Aku sudah berkeliling dari lautan Timur sampai Gurun Barat, dan aku muak melihat kalian berebut kertas!"

Ia mengangkat tangan kirinya yang kotor. Tiba-tiba, angin berhenti. Awan di atas Huashan berputar membentuk pusaran besar.

"Naga memang harus ditaklukkan, tapi bukan dengan cara kalian!"

Ia menghantamkan telapak tangannya ke langit.

ROOOAAARRR!!!

Delapan belas bayangan naga emas raksasa muncul dari telapak tangannya, melesat ke langit, mengaum, membuat semua bendera perguruan robek, membuat semua pendekar yang berdiri terhempas duduk. Bahkan Kunlun Laozu Baimei harus mengangkat tongkat esnya untuk menahan.

"18 Tapak Penakluk Naga! Xiang Long Shi Ba Zhang! Dialah... Pengemis Utara " teriak Linghu Feng dengan suara gemetar. Legenda yang ia dengar dari kakek buyutnya. Orang terkuat dari utara yang 30 tahun lalu menghilang setelah menaklukkan 7 aliran sesat sendirian dengan satu tongkat anjing.

Pengemis itu, yang kini berdiri tegak dengan 18 naga emas yang masih berputar di sekeliling tongkat bambu bengkoknya, menatap Mu Chen dan tersenyum, gigi kuningnya terlihat.

"Nah, bocah. Mau jadi muridku tidak? Kalau jadi muridku, setiap hari kau harus mengemis, mencuri ayam, dan minum arak. Enak, kan? Atau kau mau kitabmu itu direbut mereka dan dunia persilatan hancur lagi seperti 300 tahun lalu?"

Mu Chen, dengan kitab emas yang masih melayang di atas kepalanya dan ratusan pendekar terkuat yang mengelilinginya dengan pedang terhunus, hanya bisa menelan ludah.

Pertemuan Besar Persilatan yang seharusnya menentukan pemimpin baru, baru saja berubah menjadi hari pertama dari kekacauan terbesar dalam sejarah Wulin.

Dan semuanya dimulai dari seorang pengemis mabuk yang menonton sambil minum arak.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!