Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Ketika Warisan Bukan Lagi Jaminan.
Suara dentuman musik menggema memekakkan gendang telinga, memenuhi sebuah klub malam eksklusif.
Di salah satu sofa VIP, Aksa Wicaksono bersandar santai. Sebotol minuman mahal berada di tangannya, sementara beberapa wanita cantik mengelilinginya. Tawa Aksa terdengar paling keras di antara mereka.
Malam itu seharusnya berlangsung menyenangkan. Harusnya. Namun saat pintu area VIP tiba-tiba terbuka, suasana langsung berubah.
Seorang pria tua melangkah masuk dengan tongkat di tangan. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam dan berwibawa. Di belakangnya berdiri beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam.
Wicaksono.
Aksa yang semula tertawa langsung terdiam. "Kakek?"
Wicaksono tidak menjawab. Pandangannya menyapu meja penuh botol, lalu berhenti pada wanita-wanita yang mengelilingi cucunya.
"Bangun."
Aksa mengerutkan kening. "Aku belum selesai."
Tok!
Ujung tongkat Wicaksono menghantam meja. "Jangan membuat Kakek mengulang."
Aksa mendengkus. "Ini masih sore, Kek. Aku bukan anak kecil yang gak boleh keluar malem."
"Kau memang bukan anak kecil." Wicaksono menatapnya dingin. "Itulah masalahnya. Usiamu sudah cukup untuk menjadi pewaris keluarga Wicaksono, tetapi kelakuanmu masih seperti anak yang tidak tahu arti tanggung jawab."
Aksa bangkit dengan malas. "Kakek datang jauh-jauh cuma buat ngomel?"
"Aku datang untuk membawamu pulang," tegas Wicaksono.
"Aku gak mau." Ia masih kukuh dengan pendiriannya.
Hingga tanpa aba-aba, Wicaksono mengayunkan tongkat kayunya.
Buk! Buk! Buk!
Pukulan berturut-turut mendarat telak di bahu, punggung, hingga pinggul Aksa.
"Astaga! Sakit, Kek!" Aksa refleks berusaha menghindari pukulan kakeknya, menangkis dengan tangannya.
"Kalau begitu, anggap ini perintah." Wicaksono berkata dengan tegas. "Pulang."
Para wanita yang tadi menemani Aksa satu per satu beringsut meninggalkan tempat itu.
Aksa menatap kakeknya dengan kesal. "Ngapain sih Kakek selalu mempermasalahkan aku? Toh, pada akhirnya aku juga yang bakal mewarisi semuanya."
Senyum tipis muncul di wajah Wicaksono, tapi tak membawa kehangatan. "Jangan terlalu yakin."
Aksa terdiam, masih meringis mengusap bahunya yang terkena pukulan.
"Selama kau masih hidup kayak gini, bukan tidak mungkin Kakek nyari orang lain."
Aksa tertawa sinis. "Siapa? Anak-anak mereka?" Tatapannya dengan nada suara yang berubah meremehkan. "Mereka hanya anak gundik."
Wicaksono tidak menyukai kata itu, tetapi juga tidak membantah. Justru itulah alasan Aksa begitu percaya diri.
Aksa tahu satu hal. Seburuk apa pun kelakuannya, pasti akan ditolerir oleh kakeknya.
"Aku pewaris satu-satunya keluarga Wicaksono yang sah," katanya percaya diri. "Kakek gak bakal nyerahin perusahaan sama anak-anak dari para gundik itu."
Wicaksono menatap cucunya lama. "Kau benar."
Aksa tersenyum puas.
"Tapi jangan salah mengartikan kebencian Kakek kepada mereka sebagai alasan untuk membiarkanmu menghancurkan keluarga ini."
Aksa belum sempat menjawab ketika dua bodyguard mendekat.
"Hei!"
Salah seorang langsung memegang lengannya.
"Lepasin!"
"Paksa dia pulang," perintah Wicaksono.
"Aku bisa pulang sendiri!" teriak Aksa.
"Jalan," titah Wicaksono tanpa peduli protes dari cucunya.
Aksa memberontak, tetapi kedua bodyguard tetap menyeretnya keluar dari klub.
Wicaksono berjalan di belakang mereka dengan wajah dingin. "Aku memang gak akan membiarkan anak-anak dari garis lain mengambil alih keluarga Wicaksono. Namun bukan berarti aku akan terus membiarkan kamu hidup sesuka hati."
Rahangnya mengeras. "Karena suatu hari nanti, kamu harus jadi kepala keluarga. Dan jika sifat buruk itu tidak berubah... Aku sendiri yang akan memastikan kamu kehilangan hak itu."
Begitu tiba di rumah, Aksa langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. "Dasar kakek tua!"
Ia mengusap beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa sakit akibat pukulan tongkat tadi. "Sudah tahu aku udah dewasa, masih aja diperlakukan kayak anak kecil."
Wicaksono yang baru masuk bersama beberapa bodyguard tidak menanggapi keluhannya. Ia hanya berjalan menuju kursi di seberang Aksa, lalu duduk dengan tenang.
Aksa masih mengomel. "Kalau Kakek gak suka aku ke klub, tinggal bilang. Gak perlu sampai nyamperin sambil bawa bodyguard segala. Malu aku dilihat orang."
"Kau sudah selesai?"
Aksa mendengkus. "Belum."
Wicaksono menatapnya datar. "Kalau begitu lanjutkan."
Aksa langsung terdiam, tetapi dalam hati dongkol setengah mati.
Wicaksono menumpukan kedua tangannya di atas kepala tongkatnya. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Lusa kamu nikah."
Aksa mengira dirinya salah dengar. "Apa?"
"Lusa kau nikah," ulang Wicaksono.
Aksa langsung bangkit dari sofa. "Lusa?"
"Ya."
"Sama siapa?"
"Perempuan yang sudah dijodohkan denganmu sejak lama," jawab Wicaksono.
Aksa tertawa tidak percaya. "Kakek bercanda?"
"Apa wajah Kakek kelihatan kayak sedang bercanda?" kata Wicaksono sambil menunjuk mukanya sendiri.
Senyum Aksa seketika menghilang. "Aku gak mau."
"Baik." Wicaksono berdiri. "Kalau begitu, mulai malam ini kau keluar dari rumah."
Aksa terdiam, mencerna ulang perkataan kakeknya, meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar.
"Semua kartu kreditmu diblokir," kata Wicaksono dengan ekspresi serius. "Mobil yang kau gunakan dikembalikan. Apartemen, klub, rekening yang selama ini Kakek biayai, semuanya dihentikan."
"Kek..."
"Dan mulai bulan depan, lanjut Wicaksono. "kau tidak akan menerima satu rupiah pun."
Aksa menatap kakeknya tidak percaya. "Kakek gak bisa ngelakuin itu."
"Kakek bisa," tegas Wicaksono
"Itu gak adil!" protes Aksa.
"Warisan ini milik keluarga, bukan milikmu."
Aksa mengepalkan tangan. "Aku masih muda! Aku belum mau nikah!"
"Kau sudah cukup tua untuk menikah."
"Aku masih ingin menikmati hidup!"
Wicaksono mendengkus. "Kau sudah menikmati hidup terlalu lama."
Aksa mondar-mandir dengan wajah kesal. "Aku gak kenal perempuan itu. Gimana mungkin aku nikah sama dia?"
"Kau akan mengenalnya setelah menikah." Wicaksono bicara dengan nada enteng.
Aksa spontan berbalik menghadap kakeknya sambil berkata dengan nada tinggi. "Itu gila!"
"Yang gila itu kamu." Wicaksono menunjuk Aksa dengan tongkatnya. "Umur sudah dua puluh lima tahun, tapi otakmu cuma isi pesta dan wanita!"
Aksa menggeleng keras. "Gak. Aku gak mau."
Wicaksono tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan memberi isyarat. Salah seorang bodyguard langsung maju dan melepaskan paksa jam tangan Aksa.
"Hei!" Belum sempat Aska bereaksi, bodyguard kedua maju, mengambil dompet dari saku celananya.
"Balikin!" Aksa mencoba merebutnya, tetapi kedua benda itu sudah berpindah ke tangan Wicaksono.
Wicaksono memasukkan dompet dan jam tangan itu ke sakunya dengan wajah datar.
"Kakek!" Mata Aksa dipenuhi kekesalan dan amarah.
Namun Wicaksono sedikitpun tak peduli dan kembali memberi perintah. "Seret dia keluar."
Aksa membelalak. "Apa? Kek?"
Dua bodyguard langsung memegang kedua lengannya.
"Lepasin!" Aksa berusaha melepaskan diri. "Kakek! Aku belum selesai bicara!"
"Kalau begitu bicara di luar." Wicaksono bicara tanpa menatap cucunya.
"Kakek!"
Aksa diseret menuju pintu. Pada saat itulah Asti yang baru keluar dari arah tangga terkejut melihat putranya diseret dua pria berbadan besar.
"Aksa!" Asti segera berlari menghampiri. "Ayah, apa yang terjadi?"
Wicaksono menoleh ke arah menantunya. "Anakmu gak mau nikah."
Kening Asti berkerut. "Nikah?"
Aksa langsung berteriak. "Ma! Tolongin aku!"
Asti panik. "Ayah, lepasin Aksa!"
Tetapi Wicaksono malah berkata, "Justru kau yang harus membujuknya."
"Tapi..." Asti tak sempat melanjutkan kalimatnya saat suara datar. Wicaksono terdengar.
"Kalau kau terus melindungi dan memanjakannya, kasih sayangmu justru akan semakin menjerumuskannya."
Asti langsung terdiam.
Aksa memandang ibunya tidak percaya. "Ma?"
Wicaksono berjalan mendekati Asti. "Besok pernikahan itu tetap berlangsung. Aku gak peduli gimana caranya kau buat anakmu sadar." Setelah mengatakan itu, Wicaksono berbalik.
Aksa masih berusaha memberontak. "Kakek! Aku gak mau nikah!"
Wicaksono berhenti di depan pintu. "Kalau begitu, hidup sendiri tanpa uang Kakek."
Aksa semakin frustrasi dan bodyguard kembali menariknya.
"Hei! Tunggu!" Aksa memutar kepalanya ke arah ibunya, wajahnya memelas penuh permohonan. "Ma!"
Asti tak mengatakan apapun, wajah terlihat serba salah.
Aksa akhirnya berhenti melawan. Wajahnya kusut masai. "Oke!"
Wicaksono menaikan sebelah alisnya. "Apa?"
"Aku nikah!" Aksa menggeram penuh frustrasi. "Tapi setelah itu jangan ganggu hidupku!"
Wicaksono tersenyum tipis. "Itu urusan nanti."
...🔸🔸🔸...
..."Menjadi pewaris bukan tentang seberapa banyak yang akan kau terima, tetapi seberapa besar kau mampu bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadamu."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?