Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Kuning dan Pria Es

Suasana kantin fakultas ekonomi siang itu begitu riuh. Aroma nasi goreng, kepulan asap kopi, dan gelak tawa mahasiswa beradu dengan hawa panas udara Jakarta yang menyengat. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman koridor, seorang gadis dengan bando berwarna kuning cerah sedang tertawa lepas. Suaranya yang renyah dan ekspresif sesekali menarik perhatian beberapa mahasiswa yang lewat.

Valerie Amelia. Gadis semester satu yang baru beberapa bulan mencicipi kehidupan kampus itu seolah memiliki pasokan energi yang tidak pernah habis. Wajahnya yang manis selalu dihiasi senyuman lebar, dan sepasang matanya yang bulat berbinar jenaka setiap kali dia berbicara.

"Lalu, Val? Kamu beneran bilang begitu ke dosen pengantar akuntansi?" Tiara, sahabat karib Valerie sejak hari pertama orientasi kampus, bertanya di sela kunyahannya.

"Ya beneran, Ra! Habisnya kuisnya mendadak banget. Logika aku kan belum siap buat ngitung debit kredit jam delapan pagi," sahut Valerie berapi-api, tangannya bergerak heboh di udara untuk mendramatisir ceritanya. Dia menyedot jus jeruknya hingga menyisakan bunyi berisik di dasar gelas. "Tapi untung aja nilaku nggak hancur-hancur banget."

Tiara menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah bersahaja sahabatnya itu. Namun, tawa Valerie mendadak terhenti. Gelas jus jeruk yang baru saja diletakkannya tertahan di udara. Pandangan matanya lurus menatap ke arah pintu masuk kantin. Sepasang mata bulat itu melebar, berbinar jauh lebih terang daripada saat dia menceritakan nilai kuisnya tadi.

Seorang pria berjalan tegap melewati selasar kantin. Pria itu mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Jam tangan kulit hitam melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan tatapan matanya begitu lurus—dingin, kaku, tanpa ekspresi sedikit pun. Kehadirannya yang membawa aura intimidasi instan seolah membuat keriuhan kantin mereda selama beberapa detik.

Pria itu adalah Dean. Kakak kandung Tiara yang berusia beberapa tahun di atas mereka, seorang lulusan terbaik yang kini sudah memegang kendali penuh di perusahaan keluarga. Kedatangannya ke kampus siang itu hanya untuk mengantarkan berkas penting Tiara yang tertinggal di rumah.

"Kak Dean..." bisik Valerie lirih. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menabuh dada dengan irama yang tak beraturan. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Dean, namun efek yang ditimbulkan pria itu pada dirinya selalu sama. Luar biasa dahsyat.

Sejak awal semester satu, tepatnya saat Valerie pertama kali berkunjung ke rumah Tiara untuk mengerjakan tugas kelompok, dia sudah menjatuhkan hatinya pada Dean. Saat itu, Dean sedang duduk di ruang tengah, membaca laporan bisnis dengan kacamata bertengger di hidungnya. Pertemuan pertama yang biasa bagi orang lain, namun bagi Valerie, itu adalah momen di mana dunianya berputar balik. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Kak Dean! Di sini!" Tiara melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

Dean menghentikan langkahnya. Matanya bergulir ke arah meja sudut, menangkap sosok adiknya dan... seorang gadis berbando kuning yang kini mendadak duduk tegak dengan wajah merona merah. Dean berjalan menghampiri meja mereka dengan langkah konstan yang berwibawa.

"Ini berkasmu. Lain kali jangan ceroboh," ucap Dean datar begitu tiba di depan meja. Suaranya berat, bariton, dan sangat minim intonasi. Dia meletakkan map cokelat di atas meja tanpa berniat untuk duduk.

"Hehe, makasih ya, Kakakku yang paling ganteng," sahut Tiara menyengir, buru-buru memasukkan map itu ke dalam tasnya. "Kakak nggak mau minum dulu? Panas banget lho di luar."

"Tidak. Aku harus segera kembali ke kantor. Ada rapat setengah jam lagi," jawab Dean lugas. Matanya sempat melirik sekilas ke arah Valerie yang sejak tadi hanya diam menatapnya dengan mata berbinar-binar. Bagi Dean yang selalu bergerak dengan logika dan keteraturan, sosok Valerie di matanya adalah definisi dari kepolosan remaja yang penuh warna—dan jujur saja, sedikit berisik.

Dean tidak tahu, di balik bando kuning dan wajah merona itu, jantung Valerie sedang bekerja dua kali lipat lebih keras.

"Halo, Kak Dean..." Valerie akhirnya memberanikan diri menyapa. Suaranya yang biasanya lantang kini melunak, terdengar sangat manis dan agak malu-malu.

Dean hanya memberikan anggukan kepala yang sangat tipis sebagai respons. Begitu kaku, seolah lehernya enggan untuk bergerak lebih dari satu senti. "Aku pergi dulu," ucapnya kepada Tiara, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada Valerie.

Valerie menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap punggung tegap Dean yang perlahan menjauh dan menghilang di balik koridor kampus. Desahan napas panjang lolos dari bibir ranumnya.

"Ganteng banget... tapi dinginnya melebihi es krim di freezer," gumam Valerie dengan binar cinta yang tidak disembunyikan sama sekali.

Tiara yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas panjang sambil menepuk jidatnya sendiri. "Val, aku ingetin ya sebagai sahabat sekaligus adiknya. Kak Dean itu manusianya kaku banget. Hidupnya itu cuma isinya angka, kerjaan, sama logika. Dia nggak bakal paham sama kode-kodean cewek, apalagi yang modelan ekspresif kayak kamu."

Valerie menoleh ke arah Tiara, bando kuningnya ikut bergoyang. Alih-alih ciut karena peringatan Tiara, senyumnya justru semakin merekah lebar. Tekad terpancar jelas dari matanya.

"Justru itu yang bikin menantang, Ra! Kalau dia ramah ke semua orang, namanya bukan Kak Dean. Aku suka dia yang apa adanya begitu. Pokoknya, mulai hari ini, aku bakal bikin es batu itu meleleh!" seru Valerie penuh percaya diri, kembali ke mode blak-blakannya yang berenergi.

"Terserah kamu deh, Val. Tapi kalau kamu dicuekin sampai nangis, jangan ngadu ke aku ya," canda Tiara, meski dalam hati dia tahu sahabatnya ini memiliki tingkat keras kepala yang luar biasa jika sudah menginginkan sesuatu.

Namun, di balik keceriaan yang Valerie tunjukkan siang itu, ada sudut kecil di hatinya yang menyimpan rasa sepi. Kehidupan luar kampus Valerie tidak seindah senyumannya. Di rumah, dia adalah anak yang tidak pernah terlihat. Orang tuanya selalu menumpahkan seluruh perhatian, kasih sayang, dan kebanggaan mereka kepada kakak perempuannya yang dinilai sempurna dalam segala hal. Valerie sering kali merasa seperti bayangan yang berjalan di dalam rumahnya sendiri.

Mungkin karena itulah, Valerie menjadi sosok yang sangat ekspresif dan mencari perhatian di luar. Dia mendambakan sebuah tempat di mana kehadirannya divalidasi, di mana dia bisa dicintai seutuhnya tanpa harus dibanding-bandingkan. Dan entah mengapa, sosok Dean yang dingin dan sulit digapai justru memicu keinginannya untuk membuktikan diri. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat pria es itu tersenyum.

Sore harinya, setelah kelas terakhir selesai, Valerie tidak langsung pulang ke rumah. Dia sengaja mampir ke toko kue di dekat kampus. Dengan teliti, dia memilih beberapa potong brownies cokelat potong yang tidak terlalu manis—informasi yang dia korek secara paksa dari Tiara mengenai selera lidah kakaknya.

"Ini buat Kak Dean, Ra. Tolong kasihin ya nanti malam," ujar Valerie sambil menyerahkan kotak kue cantik itu kepada Tiara saat mereka berjalan menuju gerbang kampus.

Tiara menerima kotak itu dengan dahi mengernyit. "Kamu beneran mulai aksi kamu hari ini?"

"Tentu saja! Langkah pertama: rebut hatinya lewat perut," jawab Valerie riang, mengedipkan sebelah matanya. "Bilang dari Valerie yang imut."

Malam itu, di kediaman keluarga Dean, kotak kue itu berakhir di atas meja kerja pria tersebut. Dean yang baru saja menyelesaikan laporan keuangan bulanannya menatap kotak itu dengan dahi berkerut. Tiara sudah menyampaikannya tadi saat makan malam, lengkap dengan pesan dari si pengirim.

Dari Valerie.

Dean membuka kotak itu. Aroma cokelat yang pekat langsung menguar. Dia mengambil satu potong kecil dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya pas, tidak terlalu manis, persis seperti seleranya. Sambil mengunyah perlahan, pikiran Dean mendadak melayang pada kejadian di kantin kampus siang tadi.

Gadis dengan bando kuning. Gadis yang menatapnya seolah-olah dia adalah satu-satunya hal menarik di dunia ini. Dean menghela napas pendek, menutup kembali kotak kue tersebut. Logikanya kembali mengambil alih. Usia mereka terpaut cukup jauh, dan bagi Dean, Valerie masih terlalu muda, terlalu kekanakan, dan terlalu berisik untuk dunianya yang tenang dan teratur.

"Hanya ketertarikan sesaat anak kuliahan," gumam Dean pada dirinya sendiri, mencoba menepis debaran aneh yang sempat singgah di dadanya siang tadi. Dia kembali menatap layar laptopnya, memilih mengabaikan rasa itu dengan tumpukan pekerjaan.

Dean tidak pernah tahu bahwa kotak kue malam ini hanyalah awal dari badai persisten yang akan mengguncang hidupnya yang kaku. Dia tidak tahu bahwa gadis berbando kuning itu memiliki cadangan energi dan ketabahan yang luar biasa untuk mengusik ketenangannya. Satu tahun ke depan akan menjadi saksi bagaimana logika seorang Dean akan diuji habis-habisan oleh ketulusan tanpa batas dari seorang Valerie Amelia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!