Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Siang ini udara di koridor terasa dingin dengan ketegangan, seorang pria di sebuah koridor nampak berdiri dengan tegap---sikapnya sempurna.

Tubuh gagahnya mengenakan pakaian Dinas Upacara (PDU) TNI Angkatan Darat berwarna hijau tua yang sangat rapi.

Tubuhnya nampak seperti anak panah, dengan tumit rapat dan dada di busungkan ke depan, pandangan matanya juga tertuju ke depan.

Garis lipatan celananya presisi dengan kerah kanan dan kirinya terpasang lambang simetris, dan tanda pangkat yang berkilau di bawah cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela dan ventilasi.

Namun, semua kerapian itu tak mampu melindunginya dari tekanan mental sang atasan, yang pagi ini tengah menyemprotnya dengan kata-kata mutiara.

Tepat di hadapannya, sang atasan yang seorang perwira tinggi berpangkat Jendral Bintang empat---di dada kiri sang Jendral terlihat berjejer barisan tanda jasa dan lencana kehormatan.

Seolah mencerminkan jasa dan ketegasannya selama puluhan tahun untuk pengabdiannya pada negara.

Kini wajah sang Jendral sangat marah dan rahangnya mengeras, dengan guratan yang terlihat jelas akan kemarahan---matanya juga melotot tajam.

Satu tangannya terangkat dengan jarinya---menunjuk-nunjuk ke arah sang bawahannya, Mayor Angga Pratama.

Jarinya terus menunjuk ke arah sang bawahan, mulutnya terus melontarkan teguran dengan suara berat dan keras yang menggelegar di koridor.

Sesekali banyak perwira menengah dan rendah yang lewat, seolah mereka tak peduli---bukan tak peduli tapi karena bukan urusan mereka.

Sang Jendral masih memarahi Angga yang masih berdiri tegap.

"Kamu ini di didik untuk jadi perwira! Masa mimpin perencanaan Komando bisa ada kesalahan!" bentaknya, jarinya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Angga.

"Kamu itu udah di didik menjadi perwira yang tanggap, tanggon, dan trengginas! Kenapa saat operasi perencanaan kemarin bisa ada kekeliruan kecil!" marah sang Jendral.

Angga masih berdiri tanpa berkedip sedikit pun, karena sesuai aturan militer.

"Siap, salah! Siap, tidak akan saya ulangi kembali, Jenderal!" jawab Angga dengan suara lantang.

Angga masih berdiri tegap, karena aturan tak tertulis dalam militer saat menghadapi kemarahan sesuai aturan, tidak boleh membantah, tidak boleh membuat alasan---hanya harus menerima.

"Kenapa bisa di lapangan, satu detik keterlambatan atau satu digit kesalahan koordinat taruhannya adalah nyawa anak buahmu!" seru sang Jenderal dengan nada yang menekan.

Setiap kata yang keluar dari mulut sang Jendral memang menyakitkan, namun hantaman ini seperti pukulan palu gada yang mengenai dadanya. Ada sebuah rasa bersalah yang mendalam, sekaligus menjadi tekanan yang berat.

"Siap, salah! Siap, saya minta maaf, Jenderal!" ulang Angga dengan suara lantang

Angga sebagai seorang perwira muda yang berprestasi, karena sejak kecil menjadi cita-citanya.

sebuah ekspetasi yang tinggi yang di taruh pundaknya---namun, kesalahan kecil akan menjadi kecacatan bagi karirnya.

Sang Jendral setelah puas memarahi anak buahnya ini, sekilas menatapnya beberapa saat lagi---berusaha memindai akan keteguhan anak buahnya, yang masih muda ini.

Pria itu menghela napas panjang, lalu menyuruh Angga kembali ke ruangan untuk melakukan perencanaan ulang.

Sebuah tekanan yang di alami Angga menjadi bumerang, yang akan mendekatkannya akan takdir yang di gariskan untuknya.

Di tempat lain, sore hari di sebuah taman kota yang asri dengan pohon yang rimbun.

Suasana yang tenang, nampak kontras dengan suasana di markas militer yang menjadi tempat Angga sedang bertugas.

Di atas sebuah bangku kayu jati yang panjang, dua orang gadis---Asri dan Putri duduk berdampingan.

Asri wanita yang anggun dan sangat pintar, tubuhnya yang semampai mengenakan blouse renda di dadanya warna abu-abu, dan kedua ujung lengannya melebar menyerupai terompet.

Bawahnya di padukan dengan celana jeans warna biru, dan tangannya memegang sebuah buku catatan kecil---sesekali memainkan ujung pulpen.

Di sebelahnya duduk Putri---sepupunya yang tampil lebih santai.

Penampilannya juga tak kalah modis dari Asri, tubuhnya juga tak kalah semampai dari Asri.

Putri Lestari mengenakan kaos lengan pendek warna salem, di padukan dengan kardigan rajut warna krem.

Bawahnya mengenakan celana jeans warna navy, di samping bahunya bersandar tas jinjing kanvas yang bertuliskan "Indonesia to the World".

Putri sedang berbicara dengan bangga dan semangat, sesekali tangannya bergerak aktif di udara menjelaskan sesuatu.

"Gua bangga banget sih ama lu, As. Bisa ke pilih mewakili Indonesia ke Singapura buat penelitian lanjutan candi itu... itu pencapaian gila! Enggak semua arkeolog muda punya kesempatan emas kayak gini untuk memaparkan hasil ekskavasi penemuan candi kemarin di kancah internasional."

Putri bicara seolah membahas proyek ilmiahnya, sementara Asri hanya mendengarkannya dengan tatapan serius.

Asri tersenyum tipis, matanya menatap buku catatannya.

"Yah ini tanggung jawab besar Put, sesuai janji gua ama papa dan mama gua...," kata Asri dengan lirih.

"Tapi Put, riset candi ini adalah kunci sejarah buat literatur kita, emang Singapura jadi langkah awal," lanjutnya.

Putri tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan setuju, namun matanya melirik tas kanvasnya.

"Terus, yang tawaran ikatan mahasiswa Indonesia di Spanyol itu, lu jadi kesana dapet kesempatan buat ngenalin sejarah kebudayaan Nusantara," kata Putri bertanya kepada sepupunya.

Mendengar itu Asri menghela napas, dengan angin taman sesekali berhembus sambil menerbangkan helai rambutnya yang lurus bergelombang warna hitam legam.

Spanyol bukan hanya sekedar perjalanan dinas singkat seperti Singapura---yang free visa, jika ke Spanyol harus urus visa dan tentu akan ribet.

Spanyol menjadi komitmen jangka panjang yang bisa mengubah seluruh hidupnya, putri memutar tubuhnya menghadap Asri.

"Jadi gimana? apa lu mau ke Spanyol? kalo lu pindah ya gua balik lagi ke apartemen," tanya Putri yang berbicara dengan Asri.

Dua sepupu itu terlihat bersama karena semenjak kedua orangtua mereka tewas akibat kecelakaan pesawat, keduanya terlihat selalu bersama.

Asri mewarisi rumah dan beberapa tanah, sementara Putri mewarisi yayasan, bisnis kecil furniture dan Apartemen.

Jadi keduanya tak ada rasa saling iri, malah saling mendukung dan melindungi.

"Belum ada rencana gua sampai situ," jawab Asri pelan, suaranya hampir tersapu oleh des angin taman.

Bagi Asri dirinya belum ada rencana ke Spanyol, akhirnya mereka memutuskan mencari cafe karena untuk memuaskan dahaga mereka.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!