Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: BISIKAN DI UJUNG DUNIA RUIN

​Sret... sret...

​Suara gesekan besi berkarat menembus tanah berbatu memecah kesunyian malam. Bau belerang dan besi terbakar mengendap pekat di udara, menyengat hidung siapa pun yang masih bernapas di tanah terlarang yang telah runtuh ini.

​Di atas sana, langit terbelah ungu gelap, dipenuhi retakan cahaya keemasan yang berdenyut tidak stabil. Hukum alam di tempat ini sudah terlalu rapuh, seolah ruang dan waktu bisa hancur menjadi debu kapan saja.

​Sesosok ksatria penjaga gerbang dimensi melangkah. Zirah peraknya tak lagi utuh—separuhnya telah lumat terkorosi cairan hitam pekat yang mendesis. Dari balik helm tempurnya yang retak, sepasang matanya menyala kemerahan bagai bara yang hampir padam.

​"Siapa..." Suara ksatria itu berat, pecah, dan terengah-engah dari balik tenggorokannya yang rusak. "Siapa yang berani melintasi batas hancur ini...?"

​Ia menghentikan langkah, menancapkan pedang raksasanya ke tanah hingga menimbulkan getaran kecil di antara bebatuan. Jemari zirahnya yang berdarah bergerak gemetar, menarik pelindung kepalanya perlahan hingga terlepas.

​Di balik helm itu, setengah wajahnya pucat pasi bagai mayat, sementara separuhnya lagi dipenuhi jaringan otot membiru yang terus berdenyut akibat distorsi energi ilahi yang liar. Setetes air mata darah mengalir pelan dari sudut matanya, menetes ke tanah yang menghitam.

​"Mo... Xie..." bisik ksatria itu, menatap sosok pemuda yang berdiri beberapa langkah di depannya. "Namamu... mengalir di antara sisa-sisa dinding takdir yang runtuh..."

​Ia mendesah kesakitan saat gelombang tekanan dimensi kembali menghantam dadanya. Tubuhnya gemetar hebat, memaksa lutut zirahnya menghantam tanah batu dengan keras hingga memicu bunyi benturan yang memilukan.

​"Dunia ini sudah tidak punya aturan... tak ada dewa, tak ada moral," lanjutnya dengan tawa parau yang bergetar antara kepasrahan dan kegilaan. "Kau bisa membunuhku, menyiksaku, atau menginjak jasadku untuk mengklaim takhta kosong di balik gerbang itu. Tapi katakan padaku... Mo Xie... apa yang sebenarnya kau cari di ujung reruntuhan ini? Kekuasaan? Atau kematian?"

​Di depannya, Mo Xie hanya berdiri membisu.

​Jubah hitamnya yang ditiup angin malam yang dingin. Ia menatap langit retak di atasnya tanpa sedikit pun riak ketakutan di matanya yang hitam pekat.

​Perlahan, Mo Xie melangkah mendekat. Suara langkah kakinya terdengar tenang dan konstan di atas tanah yang bercampur darah kering. Ia membungkukkan badan sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata ksatria yang tersiksa itu.

​"Aku tidak butuh takhta yang kau bicarakan," ucap Mo Xie. Suaranya rendah, datar, namun mengikat di tengah deru angin belerang. "Takhta di atas puing-puing hancur hanyalah monumen konyol bagi kesombongan yang sudah mati. Dan aku tidak berniat menyiksamu... keberadaanmu di sini sudah cukup menjadi siksaan."

​Tangan kanan Mo Xie yang terbebat perban hitam terangkat pelan, menepuk ringan bahu zirah perak sang penjaga.

​"Tugasmu sudah usai," sambung Mo Xie. Semburat pendar dingin dari dalam jiwanya meredam tawa melengking tak berwujud yang berbisik di udara sekitar mereka. "Yang kucari bukanlah kekuasaan... melainkan titik akhir dari kepalsuan dunia ini. Istirahatlah."

​Mo Xie tegak kembali, melangkah melewati sang ksatria yang kini tertegun mematung. Di ambang gerbang dimensi, kegelapan murni membentang tanpa batas, memuntahkan hawa dingin yang sanggup membekukan sirkulasi darah fana.

​Ia berhenti tepat di garis batas. Namun, tepat ketika kakinya hendak melintasi kegelapan tersebut, sebuah denyutan dahsyat menghantam Dantian di dalam dadanya. Inti Es Purba di dalam tubuhnya bergetar kencang, memancing kembali ingatan nyata yang telah terkubur selama lima ratus tahun—sebuah kenangan utuh yang hidup kembali sebelum seluruh kedamaian itu hancur dihantam Bencana Langit.

​Lima ratus tahun yang lalu. Sebelum langit Benua Tianlan pecah dan udara teracuni oleh racun belerang.

​Kesadaran Mo Xie seolah ditarik kembali ke era masa lalu itu. Hamparan rumput hijau membentang luas bagai samudra tanpa tepi, berkilau indah di bawah usapan angin pegunungan yang membawa aroma bunga melati liar dan embun pagi yang murni.

​Di atas bukit kecil yang menghadap ke arah Lembah Yunlan, seorang pemuda terduduk santai sembari bersandar pada batang pohon oak raksasa.

​Pemuda itu adalah Mo Xie di masa mudanya.

​Ia belum mengenakan jubah hitam koyak atau balutan perban di tangan kanannya. Hanya kemeja kain sederhana yang membalut tubuhnya, dengan rambut hitam pendek yang sedikit berantakan ditiup angin musim semi. Matanya yang hitam memancarkan kehangatan seorang pemuda yang belum pernah menanggung beban dendam atau tersentuh oleh pahitnya pertempuran darah.

​"Kau melamun lagi, Mo Xie?"

​Suara jernih yang lembut bagai dentang lonceng perak memecah keheningan di atas bukit.

​Mo Xie menoleh, lalu seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Di sampingnya, berdiri seorang gadis bergaun putih bersih tanpa noda. Cahaya matahari memantul indah di rambut keemasannya yang panjang, sementara jemarinya yang halus menggenggam sejambak bunga matahari liar yang baru saja dipetiknya.

​"Aku hanya sedang berpikir, Yurou," sahut Mo Xie pelan, suaranya terdengar hangat dan tenang. "Apakah dunia ini akan selalu sedamai ini?"

​Chu Yurou tertawa kecil—sebuah tawa murni yang sanggup menghapus segala keletihan dan kegelapan di dalam jiwa siapa pun yang mendengarnya. Ia duduk perlahan di samping Mo Xie, menyandarkan kepalanya yang harum di bahu pemuda tersebut.

​"Tentu saja," bisik Yurou, matanya yang sehangat sinar mentari menatap langit biru terang yang membentang murni tanpa celah sedikit pun. "Selama para Dewa Penjaga melindungi tanah ini, dan selama kau berada di sisiku... tidak akan ada yang berubah. Dunia ini akan tetap indah."

​Mo Xie meraih jemari halus Chu Yurou, menggenggamnya erat dengan penuh kehangatan. Di telapak tangannya saat itu, belum ada bekas kapalan pedang, retakan energi korosif, atau noda darah musuh.

​"Aku berjanji," gumam Mo Xie muda dengan nada polos yang teramat tulus. "Aku akan menjaga kedamaian ini. Aku akan melindungimu dan dunia ini dari apa pun."

​Namun, kenangan indah itu tidak bertahan lama.

​Dalam sekejap mata, pemandangan hangat di Lembah Yunlan mendadak retak bagai cermin yang dihantam godam. Langit biru yang terang seketika berubah menjadi merah darah. Awan terbelah, memuntahkan petir hitam dan taring-taring dimensi yang melahap daratan hijau tersebut dalam hitungan detik.

​Jeritan histeris bergaung dari seluruh penjuru Benua Tianlan. Pohon oak raksasa terbakar menjadi abu, dan hamparan rumput hijau berubah menjadi tanah tandus yang melepuh.

​"Mo Xie...!"

​Suara jeritan Chu Yurou terdengar memilu di tengah kepungan api ilahi. Genggaman tangan mereka terlepas secara paksa oleh gelombang kejut dimensi.

​Mo Xie muda menjerit histeris, menggapai ke depan dengan sekuat tenaganya, namun ia hanya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh gadis berambut keemasan itu perlahan-lahan retak, memudar, dan hancur menjadi serpihan cahaya yang menyayat jiwa sebelum akhirnya lenyap ditelan kegelapan kehampaan.

​"YUROU—!"

​Gema teriakan masa lalu itu tersentak putus.

​Kesadaran Mo Xie kembali secara mendadak ke alam nyata. Ia terbangun dari ingatan kelam itu, tetap berdiri kokoh di ambang gerbang dimensi yang hancur.

​Napasnya memburu halus, sementara tangan kanannya yang terbungkus kain perban hitam menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Semburat aura korosif ungu gelap berdenyut tipis dari balik perban tersebut, merespons gejolak emosi dan rasa sakit yang kembali membakar dadanya.

​Angin belerang kembali merobek jubah hitamnya. Tak ada lagi Lembah Yunlan yang hijau. Tak ada lagi tawa murni Chu Yurou. Yang tersisa hanyalah dirinya—seorang pemuda yang jiwanya telah tertempa oleh pahitnya masa lalu, berdiri sendirian di ujung dunia yang telah runtuh.

​Mo Xie memejamkan matanya sejenak, meredam gelombang amarah yang berkecamuk di dalam Dantiannya. Ketika ia kembali membuka mata, tidak ada lagi keraguan atau kelemahan di dalam pendar mata hitamnya.

​"Janji itu..." desis Mo Xie rendah, suaranya dingin menembus deru badai belerang. "...akan tetap kubayar, meski harus meretakkan seluruh takhta langit."

​Dengan satu langkah mantap, suara langkah kakinya bergema tegas saat Mo Xie akhirnya menyeberangi garis batas, melangkah masuk ke dalam kegelapan dimensi yang tak terduga.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!