Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipermalukan di Depan Semua Orang
Hujan turun deras sejak sore, mengguyur atap Rumah Sakit Harapan Bunda tanpa ampun. Di lorong lantai tiga, Alya Pramesti berdiri mematung di depan pintu ruang rapat, tangannya memegang kotak kardus berisi seluruh isi mejanya — stetoskop, foto kelulusan koas, dan secangkir mug bertuliskan "Dokter Terbaik" hadiah dari adiknya dua tahun lalu.
Dua puluh enam tahun usianya, dan hari ini adalah pertama kalinya dia dipecat.
"Dokter Alya Pramesti terbukti lalai dan menyebabkan komplikasi serius pada pasien di ruang ICU minggu lalu," suara Direktur Rumah Sakit menggema di ruang rapat pagi tadi, dibacakan di depan seluruh staf medis yang berkumpul untuk rapat rutin bulanan. "Sesuai hasil investigasi komite etik, per hari ini status kepegawaian yang bersangkutan dicabut."
Ruangan itu hening. Puluhan pasang mata menatapnya sebagian penuh keraguan, sebagian lagi jelas-jelas menghakimi. Alya ingin berteriak bahwa semua itu bohong, bahwa dia tidak pernah lalai, bahwa rekam medis yang jadi bukti sudah dimanipulasi. Tapi lidahnya kelu. Bukti-bukti sudah disiapkan terlalu rapi untuk dilawan dalam semenit dua menit.
Dan dia tahu persis siapa dalang di baliknya.
dr. Vania Kusuma. Dokter senior di bagian yang sama, yang belakangan ini terlalu sering tersenyum penuh arti setiap kali berpapasan dengannya di koridor. Alya baru menyadari alasannya ketika melihat siapa yang berdiri di samping Vania pagi itu, tangan mereka bertautan erat seolah sudah lama menjadi pasangan.
Bimo. Tunangannya sendiri, selama tiga tahun terakhir.
"Aku minta maaf, Al," kata Bimo setelah rapat bubar, suaranya datar, seolah sedang membicarakan jadwal meeting biasa, bukan mengakhiri hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun. "Tapi Vania... dia yang benar-benar cocok buatku. Kau terlalu sibuk kerja, terlalu keras kepala soal idealismemu tentang pasien-pasienmu itu. Aku butuh seseorang yang punya waktu untukku."
Vania hanya tersenyum tipis di belakang Bimo, tanpa sepatah kata pun, seolah kemenangan itu tidak perlu diucapkan lagi.
Alya tidak menangis di depan mereka. Dia menahan semuanya rasa marah, rasa dikhianati, rasa dipermalukan di depan orang-orang yang selama ini dia hormati sebagai rekan kerja sampai pintu kaca rumah sakit akhirnya tertutup rapat di belakang punggungnya.
Begitu langkahnya menyentuh trotoar, hujan yang deras seketika membasahi seluruh tubuhnya. Dia tidak peduli. Justru dia bersyukur, karena air hujan menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh juga, bercampur menjadi satu, tak terlihat oleh siapa pun.
Dia berjalan tanpa tujuan, kotak kardus dipeluk erat di dadanya, pikirannya kosong sepenuhnya. Klakson kendaraan yang lalu-lalang, suara hujan yang menghantam aspal, semuanya terdengar jauh, seperti dia sedang berjalan dalam mimpi buruk yang tidak kunjung usai.
Sampai
BRAK.
Sebuah mobil sedan hitam mengerem mendadak hanya beberapa senti dari tubuhnya. Ban yang berdecit di aspal basah bercampur suara klakson panjang membuat Alya tersentak kembali ke kenyataan. Payung yang dipegangnya tersenggol bumper mobil, terpental dan berputar-putar sebelum jatuh menggelinding ke selokan.
Untung refleksnya masih cukup cepat dia melompat mundur tepat sebelum mobil itu benar-benar menabraknya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kaget, tapi karena untuk sepersekian detik dia sempat berpikir: kalau saja mobil itu benar-benar menabraknya, mungkin semua rasa sakit hari ini akan berhenti begitu saja. Pikiran itu membuatnya sendiri terkejut, dan dia buru-buru menepisnya.
Pintu pengemudi terbuka perlahan. Seorang pria keluar dari dalam mobil, jas mahalnya langsung basah kuyup dalam hitungan detik begitu terkena guyuran hujan, namun wajahnya tetap tenang tidak ada raut panik, tidak ada permintaan maaf berlebihan seperti kebanyakan orang saat hampir menabrak seseorang.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya, singkat, nadanya nyaris datar, seolah sedang bertanya soal cuaca hari itu, bukan soal nyawa seseorang yang nyaris melayang.
Alya menatapnya, campuran antara kesal dan lelah yang teramat sangat. "Aku baik-baik saja," jawabnya ketus. "Tapi payung saya sepertinya tidak."
Sudut bibir pria itu sedikit terangkat bukan senyum penuh, hanya kilas ekspresi kecil yang nyaris tak terlihat di tengah hujan deras. Dia menatap Alya lama, terlalu lama untuk ukuran orang asing yang baru saja hampir menabraknya di jalan. Matanya tajam, teliti, seolah sedang menilai sesuatu yang bahkan Alya sendiri tidak pahami.
"Kau dokter?" tanyanya tiba-tiba, matanya melirik kartu identitas rumah sakit yang masih tergantung di leher Alya, basah dan sedikit kusut karena hujan.
Pertanyaan itu seperti menyentuh luka yang baru saja terbuka. Alya menunduk sejenak, menatap kartu identitas itu bukti terakhir dari karier yang baru saja hancur berkeping-keping dalam satu pagi.
"Sudah bukan," jawabnya pahit, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Alya berjalan pergi, meninggalkan pria itu berdiri di tengah guyuran hujan, mobilnya masih menyala dengan pintu terbuka.
Dia tidak menoleh ke belakang. Tidak tahu bahwa pria itu yang kelak akan mengubah seluruh jalan hidupnya masih berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Alya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik tikungan jalan, sebelum akhirnya dia mengambil ponselnya dan berkata pelan pada seseorang di seberang telepon.
"Cari tahu semua tentang dokter yang baru saja kutabrak payungnya. Sekarang."