( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 1}:{secret journey }
Mengisahkan beberapa kerajaan yang menyimpan rahasia Artefak Kuno, di mana setiap kerajaan memiliki sebuah batu sihirnya sendiri yang menjaga keseimbangan alam semesta. Setelah seratus tahun berlalu, bulan ilahi yang sangat indah dan bersinar terang kembali muncul di langit malam. Kemunculan bulan ilahi itu menandakan bahwa akan lahir anak-anak terpilih yang kelak menjadi penjaga Artefak Kuno, dianugerahi kekuatan elemen kuno untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Pada malam kemunculan bulan ilahi, terlahirlah empat orang anak yang ditakdirkan untuk menjaga Artefak Kuno. Malam yang indah, diselimuti cahaya bulan ilahi, perlahan berganti dengan pagi yang hangat.
Beberapa tahun pun berlalu setelah kemunculan bulan ilahi.
Terdengar sebuah teriakan dari Negeri Air.
“Ater, jangan berlarian, Nak!”
“Iya, Ibu, iya...”
Ibu Ater hanya tersenyum. Namun senyum itu tampak rapuh. Matanya berkaca-kaca saat menatap putranya yang masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal.
“Ater harus bisa tanpa Ibu ya, Nak.”
Ater mengerjapkan mata, bingung. “Kenapa, Ibu? Ibu mau pergi ke rumah nenek?”
Perempuan itu menggeleng pelan. Ada jeda sebelum ia menjawab, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
“Tidak, Nak. Saat usiamu sepuluh tahun, kamu akan mengikuti latihan sihir kuno. Itu berarti Ater akan pergi berlatih sangat lama... dan tidak akan pulang dalam waktu yang singkat.”
Suara itu terdengar lembut, tetapi bergetar. Setetes air mata jatuh di pipi ibu Ater.
Ater terdiam. Wajah kecilnya memandang sang ibu tanpa benar-benar mengerti. Tentang sihir kuno, tentang perpisahan, tentang kata-kata yang terasa asing di telinganya.
Siang pun berlalu menjadi malam yang sunyi.
Dalam keheningan itu, ibu Ater kembali teringat pada kejadian enam ratus lima puluh tahun yang lalu—kisah tragedi kehancuran Artefak Kuno di Lembah Para Jiwa Suci, tragedi yang bahkan telah merenggut suaminya. Kenangan itu datang seperti gelombang dingin yang menghantam dada.
Malam semakin larut.
Saat Ater telah tertidur lelap, ibu Ater memutuskan pergi. Langkahnya membawanya menuju sungai suci bernama Sungai Ruh, sungai yang tenang dan damai, seolah menyimpan bisikan para leluhur di setiap alirannya. Cahaya bulan memantul di permukaan air, berkilau lembut seperti serpihan doa yang hanyut.
Di tepi sungai itu, ibu Ater berdiri dalam diam. Jemarinya gemetar, napasnya berat, dadanya terasa sesak menahan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Para jiwa yang suci, para ruh leluhur...” “Mengapa ini semua terulang lagi kepadaku...
Air matanya menetes satu per satu, menyatu dengan dinginnya malam.
“Berapa banyak lagi yang akan diambil dariku? Berapa banyak lagi?” “Setelah suamiku yang alam ambil... apakah kini anakku juga, para jiwa yang suci? Aku belum sempat merasakan kebahagiaan dengan tenang bersama anakku... kini, apakah anakku yang akan alam renggut juga dariku?”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar pelan.
“Aku belum sembuh…”
Dengan kepergian suamiku.
Di saat tangisannya menggema di sungai suci, datanglah ruh sang ayah.
“Putriku, menangislah. Keluarkan semua duka dari dirimu.”
“Ayah...”
Ruh sang ayah tersenyum lembut, seakan membawa ketenangan bersama hembusan angin malam.
“Mengapa ayah yang menjadi penjaga Artefak Kuno, dan kini keluarga kita lagi?”
“Kesedihanmu sangat dapat dimengerti. Namun, kita harus paham bahwa kita tidak dapat memilih lahir ke alam semesta sesuai keinginan kita. Apa pun yang alam semesta takdirkan, kita harus menerima dan menjalaninya dengan baik.”
Setelah berkata demikian, ruh sang ayah perlahan menghilang, larut bersama sunyi malam.
Ibu Ater terdiam cukup lama. Dadanya masih terasa berat, tetapi perlahan napasnya menjadi lebih tenang.
Malam pun berganti dengan pagi. Ibu Ater kembali melangkah ke arah rumah dengan hati yang sedikit lebih damai.
Beralih pada Bangsa Bumi.
Di sebuah rumah yang hangat, terdengar suara lembut seorang ibu memanggil putrinya.
“Mala.”
“Iya, Ibu?”
“Bisa Mala panggilkan ayah untuk datang ke kamar ibu?”
“Iya, Ibu.”
Mala pun berlari kecil memanggil ayahnya.
“Ayah, ibu memanggil ayah untuk ke kamar ibu.”
“Iya, mala. Ayah akan ke kamar menemui ibu.”
Di luar kamar, suasana rumah terasa damai dan tenang, dipenuhi tawa seorang anak. Hari itu adalah ulang tahun Mala yang ke-10. Sang ayah menyuruh Mala bermain dan menari bersama teman-teman sebayanya untuk merayakan hari istimewa itu.
ayah Mala berjalan ke kamar.
“Mengapa memanggilku?”
“Aku sedang sedikit merasakan kepanikan,” “Putri kita adalah salah satu yang terpilih, yang ditakdirkan untuk menjaga Artefak Kuno. Aku sangat khawatir. Bukan hanya karena putri kita adalah yang terpilih, melainkan karena ada hal lain yang aku takuti.”
Belum sempat sang ayah menjawab, tiba-tiba terdengar suara Mala dari luar.
“Ibu!”
“Iya, Mala. Ada apa, putri Mala ?”
“Aku ingin seperti kakak, bisa membuat tanaman dan bunga mekar indah.”
Sang ayah tersenyum, lalu berjongkok di hadapan putrinya.
“Mala, ayah bisa mengajarkanmu memakai sihir bumi, putri ayah.”
“Benarkah, Ayah?”
“Benar. Tapi ingat, Mala, gunakan ketenangan jiwa Mala .”
Mala mengangguk pelan. “Aku coba ya, Ayah?”
“Iya, Mala ayah. Coba saja.”
Mala pun mengangkat kedua tangannya perlahan. Ia memejamkan mata, menarik napas, lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan. Tanah di hadapannya bergetar lembut. Dari permukaannya, tumbuh tunas kecil yang perlahan merekah menjadi bunga yang sangat indah.
“Mala berhasil!”
Mala menoleh cepat pada ayahnya. “Ayah, lihat!”
Sang ayah tersenyum bangga. “Iya, Mala. Apa Mala masih ingat yang ayah katakan kepada Mala?”
“Iya, Ayah…”
“ Mala,ingat. tidak akan lama lagi kamu bersama ayah dan ibu, karena kamu harus ikut pelatihan,”
Air mata menetes di pipi Mala. Ayah Mala hanya tersenyum, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Sudah, ayo masuk, Mala .”
Malam pun tiba.
Di dalam kamar, ayah Mala yang tadi sore tampak kuat dan tersenyum, kini menangis dalam pelukan istrinya.
“Suamiku, cukup,” aku mengerti aku pun merasa kan hal yang sama .
“Kita harus kuat di depan Mala, demi kebaikannya.”
Malam pun berganti dengan cahaya pagi yang hangat.
“Mala, apa kamu sudah mandi, Nak?”
“Sudah, Ibu.”
“Bagaimana dengan kakakmu?”
“Sudah siap. Kakak dan Mala siap.”
“Ayo, cepat. Kita ke hutan suci. Waktu berdoa akan dimulai.”
“Iya, Ibu.”
ayo cepat kita ke tempat doa.
Setelah berdoa, saat mereka hendak pulang, ledakan dahsyat menghantam. Tanah bergetar, dan kabut tebal menutupi pandangan.
Setelah kabut itu menghilang, tampaklah Sora salah satu penjahat yang dahulu menghancurkan Artefak Kuno.
Sora.
Belum sempat siapa pun berkata apa-apa, Sora langsung melesat ke arah Mala. Ia berniat menangkap dan menghabisinya agar lebih mudah menguasai Artefak Kuno.
Namun tepat saat Sora hendak membawa Mala, sang kakak muncul menghadang.
“Akulah yang kau cari! Aku yang terpilih, bukan adikku! Kalau begitu, hadapi aku!”
Sora bergerak cepat, menukar posisinya dan justru menangkap sang kakak.
Sora lawan aku anak jangan anak anak ku . Mereka langsung menyerang Sora. Pertarungan pun tak dapat dihindarkan.
Sora terbang tinggi, berniat membawa kakak Mala pergi.
“Sora, tunggu!” berhenti lawan aku sora.
Mala yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa berlari sambil menangis.
“Ibu! Ayah! Tunggu Mala! Ibu! Ayah!”
Namun di tengah kepanikan itu, Mala terjatuh dan tak sadarkan diri.
Saat membuka kesadarannya, Mala sudah berada di rumah kakeknya. Ia hanya terdiam, menunggu ayah, ibu, dan kakaknya pulang.
Namun hari demi hari berlalu, dan tak ada tanda-tanda mereka kembali.
Mala terus teringat kejadian itu, seolah melihatnya berulang-ulang di dalam benaknya, hingga ia tak henti menangis.
Sang kakek, dengan hati yang hancur, memeluk Mala erat dan berusaha menenangkannya dan menutup mata nya dengan kain.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya