Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Hari Pertama

Mansion besar itu berdiri megah di tengah kota New York. Gedungnya tinggi menjulang dengan cat putih bersih. Dari luar saja sudah terlihat betapa kayanya pemilik rumah ini.

Elena Rossi berdiri di depan gerbang besi yang tinggi. Tangannya memegang koper kecil yang sudah usang. Umurnya baru 21 tahun. Wajahnya cantik, rambutnya pirang panjang, tapi wajahnya terlihat sangat pucat dan lelah. Matanya sembab seperti habis menangis semalaman.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Seorang pria tua turun. Dia memakai jas hitam rapi.

"Kamu Elena Rossi?" tanya pria itu.

"Iya, saya Elena," jawab Elena dengan suara pelan.

"Saya Thomas, kepala pelayan di mansion ini. Ikut saya," kata Thomas.

Elena mengangguk dan mengikuti Thomas masuk ke dalam. Begitu gerbang terbuka, Elena benar-benar kaget. Tamannya sangat luas. Ada air mancur besar di tengahnya. Ada puluhan mobil mewah terparkir rapi.

Di dalam mansion jauh lebih mewah lagi. Lantainya dari marmer yang mengkilap. Lampu kristal besar menggantung di atas. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding.

Tapi suasananya sangat dingin dan sepi. Tidak ada yang berani bicara keras.

Thomas berhenti dan menatap Elena.

"Jadi kamu tahu kenapa kamu di sini?" tanya Thomas.

Elena menunduk. "Untuk melunasi hutang ayah saya."

"Benar. Hutang ayahmu 500 ribu dollar pada Tuan Muda. Itu jumlah yang sangat besar. Kalau kamu bekerja di sini selama dua tahun sebagai pembantu, hutang itu akan dianggap lunas," jelas Thomas.

Elena menggigit bibirnya. Ayahnya adalah seorang penjudi. Ayahnya meminjam uang pada orang yang salah. Dan sekarang Elena yang harus menanggung akibatnya. Ibunya sudah meninggal, jadi hanya Elena satu-satunya yang bisa membayar hutang itu.

"Saya mau, Tuan Thomas. Saya akan bekerja keras," kata Elena.

Thomas mengangguk. "Bagus. Tapi ingat, ada aturan di rumah ini. Aturan pertama, jangan pernah membuat Tuan Muda marah. Aturan kedua, jangan pernah naik ke lantai tiga. Mengerti?"

"Mengerti," jawab Elena, meskipun dia bingung kenapa tidak boleh naik ke lantai tiga.

"Jangan berisik! Tuan Muda mau turun!" tiba-tiba salah satu pelayan wanita berbisik dengan panik.

Semua pelayan yang ada di ruang tamu langsung berdiri tegak dan menundukkan kepala. Mereka semua terlihat sangat ketakutan.

Dari tangga marmer yang melingkar, terdengar suara langkah kaki.

Elena ikut menunduk, tapi dia penasaran dan sedikit mengintip.

Seorang pria turun dari tangga. Dia sangat tinggi, mungkin hampir 190 cm. Dia memakai kemeja hitam yang lengan bajunya digulung sampai siku. Otot lengannya terlihat jelas. Rambutnya hitam berantakan tapi tetap tampan. Wajahnya seperti patung Yunani, sangat tampan tapi sangat dingin. Di lehernya yang putih ada tato naga hitam yang besar. Tato itu terlihat sangat berbahaya.

Itu dia Lorenzo De Luca. Pewaris keluarga Mafia De Luca yang menguasai setengah kota New York. Umurnya 28 tahun, tapi sudah ditakuti semua orang. Orang bilang dia tidak punya hati.

Lorenzo berjalan melewati para pelayan tanpa melirik sedikit pun. Auranya sangat kuat dan menekan.

Langkahnya berhenti tepat di depan Elena.

"Pembantu baru?" tanya Lorenzo. Suaranya berat dan dingin. Bahasa Inggrisnya dengan sedikit aksen Italia.

Thomas langsung menjawab. "Iya Tuan Muda. Namanya Elena Rossi. Dia yang akan menggantikan Maria."

Lorenzo menatap Elena dari atas sampai bawah. Tatapannya tajam seperti sedang menilai barang.

"Kamu Elena Rossi?" tanya Lorenzo pada Elena.

Elena mengangkat kepalanya pelan. Begitu mata mereka bertemu, Elena merasa jantungnya berhenti berdetak. Mata Lorenzo berwarna abu-abu tajam seperti elang.

"Iya Tuan. Saya Elena," jawab Elena dengan suara gugup dan gemetar.

"Berapa umurmu?" tanya Lorenzo lagi.

"21 tahun, Tuan."

Lorenzo mendekat selangkah. Jarak mereka sangat dekat. Elena bisa mencium parfum Lorenzo yang mahal dan maskulin.

"Dengar, Elena. Di rumah saya ada aturan. Kamu boleh membersihkan semua ruangan kecuali lantai tiga. Jangan pernah, saya bilang jangan pernah naik ke lantai tiga. Kalau kamu melanggar, kamu akan menyesal seumur hidupmu. Mengerti?" kata Lorenzo dengan nada mengancam.

Elena mengangguk cepat. "Mengerti, Tuan. Saya tidak akan naik ke sana."

"Bagus," kata Lorenzo. Lalu dia berjalan pergi meninggalkan Elena. Semua pelayan baru bisa bernapas lega setelah Lorenzo pergi.

Thomas membawa Elena ke kamar pelayan di lantai satu. Kamarnya kecil tapi bersih.

"Mulai besok kamu kerja jam 6 pagi. Sekarang istirahatlah," kata Thomas.

Elena merebahkan badannya di kasur. Dia lelah sekali. Hari pertama yang sangat menegangkan.

Malam harinya, sekitar jam 1 malam, Elena terbangun. Tenggorokannya sangat kering dan haus. Dia lupa tidak minum sebelum tidur.

Elena keluar kamar mau ke dapur. Rumah itu sangat gelap dan sepi. Hanya ada lampu kecil di lorong.

Elena berjalan pelan karena tidak hafal jalan. Mansion ini terlalu besar seperti labirin.

Dia belok kiri, belok kanan. Seharusnya dapur di sebelah kiri, tapi kenapa lorong ini semakin naik?

Elena baru sadar, dia sudah berada di tangga menuju lantai tiga. Lantai yang dilarang itu.

"Ah, salah jalan," gumam Elena. Dia mau turun lagi.

Tapi pintu besar di lantai tiga itu terbuka sedikit. Dari dalam ada cahaya remang-remang.

Elena jadi penasaran. Kenapa lantai ini dilarang? Apa yang ada di dalamnya?

Dengan jantung berdebar, Elena naik satu anak tangga lagi. Dia mengintip dari celah pintu.

Dan apa yang dia lihat membuat darahnya berhenti mengalir.

Di dalam ruangan itu, Lorenzo ada di sana. Dia tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang sekarang penuh dengan bercak darah merah. Di tangannya ada pistol hitam yang masih berasap. Di lantai ada dua pria besar tergeletak dengan darah di sekitar mereka. Mereka tidak bergerak.

Lorenzo menyeka darah di tangannya dengan tisu. Wajahnya sangat dingin tanpa ekspresi, seolah membunuh adalah hal biasa baginya.

Elena menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tangannya gemetar hebat sampai gelas kosong yang dia bawa dari kamarnya jatuh.

_PRANG!_

Suara pecahan kaca itu sangat keras di tengah kesunyian malam.

"Siapa di sana!" teriak Lorenzo.

Elena mau lari tapi kakinya lemas tidak bisa digerakkan.

Dalam sekejap mata, Lorenzo sudah ada di depan pintu. Dia menarik pintu dengan kasar dan melihat Elena berdiri di sana dengan wajah pucat pasi.

Mata Lorenzo yang tadi dingin kini berubah menjadi sangat berbahaya dan marah.

"KAMU!" bentak Lorenzo.

Dia menarik tangan Elena dengan sangat kasar dan mendorongnya masuk ke dalam ruangan lantai tiga itu.

"Apa yang kamu lihat tadi? Jawab!" tanya Lorenzo sambil mencengkeram dagu Elena.

"Tidak! Saya tidak lihat apa-apa Tuan! Sumpah saya tidak lihat apa-apa! Saya cuma haus mau ke dapur tapi salah jalan!" Elena menangis ketakutan. Air matanya mengalir deras.

Lorenzo tersenyum, tapi senyumnya dingin dan menakutkan.

"Bohong. Mata kamu sudah melihat semuanya, Elena. Kamu melihat rahasia saya."

"Maaf Tuan, maafkan saya! Saya tidak akan bilang siapa-siapa! Saya janji!" Elena memohon sambil berlutut.

Lorenzo berjongkok di depan Elena. Dia mengangkat dagu Elena agar menatapnya.

"Sudah terlambat, Elena sayang. Aturan saya jelas. Siapa pun yang naik ke lantai tiga tidak akan bisa keluar lagi."

Elena menggeleng dengan panik. "Jangan Tuan, jangan bunuh saya!"

Lorenzo tertawa kecil. "Siapa bilang saya akan membunuhmu? Kamu terlalu cantik untuk dibunuh."

Lalu Lorenzo mendekatkan wajahnya ke telinga Elena dan berbisik.

"Mulai malam ini, kamu bukan lagi pembantu. Kamu adalah tawanan saya. Kamu akan tinggal di kamar sebelah kamar saya. Hidupmu adalah milikku sekarang. Dan ingat, kalau kamu coba kabur, saya akan menemukanmu, di mana pun kamu berada."

Elena lemas. Tubuhnya gemetar hebat. Dia baru sadar, dia baru saja masuk ke dalam sangkar singa.

Dan singa itu bernama Lorenzo De Luca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!