Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
****
Kamar presidential suite di hotel berbintang lima itu diselimuti suasana kemewahan yang menyesakkan. Rangkaian bunga mawar putih dan seruni langka menghiasi setiap sudut, dipadu dengan furnitur berukir emas dan pendar lampu kristal yang hangat. Di atas ranjang berukuran king-size, kelopak mawar merah ditaburkan membentuk simbol hati—sebuah usaha estetik untuk menciptakan momen indah bagi pasangan pengantin baru. Namun, keindahan itu justru berubah menjadi atmosfer yang amat mencekam.
Alana Adhijaya duduk terpaku di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun pengantinnya yang megah, mahakarya desainer papan atas berbalut ribuan kristal Swarovski. Gaun itu terasa begitu berat di tubuhnya. Korset yang membebat ketat pinggangnya membuat setiap hembusan napas Alana terasa dangkal dan menyiksa. Jemari tangannya meremas kain gaun yang tebal, merasai kegelisahan yang memuncak.
Ia baru saja dipersunting oleh Kenzo Elard, pria berusia 30 tahun yang dikenal sebagai sosok CEO tanpa simpati, dingin, dan tak tersentuh. Pernikahan ini bukanlah impian indah, melainkan kesepakatan pahit. Perusahaan keluarga Adhijaya berada di jurang kebangkrutan total, dan satu-satunya jalan keluar adalah suntikan dana fantastis dari Keluarga Elard. Sebagai gantinya, Alana diserahkan untuk memenuhi syarat mutlak Kakek Elard: menghadirkan seorang putra sebagai pewaris tunggal.
Klek.
Bunyi engsel pintu yang terbuka memecah heheningan malam. Tubuh Alana menegak seketika, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Sosok Kenzo melangkah masuk. Penampilannya tampak sedikit kacau. Jas pernikahan mewahnya sudah dilepas dan disampirkan sembarangan di lengan, kemeja putihnya tak lagi rapi dengan dua kancing teratas tersingkap, memperlihatkan garis lehernya yang tegas. Di antara jemarinya, terselip sebatang rokok yang menyala.
Pria itu menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Tatapan matanya yang tajam dan sekelam malam menyapu seluruh sudut kamar, sebelum akhirnya tertuju pada Alana. Tatapan itu benar-benar dingin, kejam, dan sama sekali tidak menunjukkan simpati pada wanita yang kini sah menjadi istrinya.
Kenzo menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu membiarkan asap abu-abu tebal berhembus bebas ke udara, menginvasi aroma bunga-bunga mahal di sekeliling mereka.
"Uhuk! Uhuk... uhuk!"
Alana langsung tersedak. Asap rokok yang pekat dengan cepat menyengat tenggorokannya yang mengering. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya berkaca-kaca menahan perih. Korset yang mengikat ketat tubuhnya makin menyulitkannya untuk mengudara dengan bebas.
Kenzo tak sedikit pun menunjukkan niat untuk meminta maaf. Pria itu justru berjalan santai menghampiri meja marmer di dekat Window Bay yang memperlihatkan pemandangan gemerlap kota malam. Dengan gerakan acuh tak acuh, ia mematikan puntung rokok itu di atas asbak kristal, lalu berbalik membelakangi jendela, menatap Alana yang masih berusaha menguasai napasnya.
"Kamu terlalu sensitif," ujar Kenzo datar. Suaranya berat, dalam, dan dipenuhi dominasi yang menekan.
Alana menurunkan tangannya, mencoba memberanikan diri menatap pria di hadapannya. "Asap rokoknya... sangat pekat."
Kenzo terkekeh sinis, tawa hampa tanpa emosi. "Ini kamar hotel yang kubayar, Alana. Aku bisa melakukan apa pun yang kusukai di sini. Dan kurasa, kita tidak butuh basa-basi romantis yang tak berguna."
Alana menggigit bibir bawahnya. Rasa sesak di dadanya kian menjadi-jadi. "Aku tahu..."
Kenzo melangkah mendekati ranjang, menghentikan sepatunya tepat di depan Alana. Ia merogoh saku celananya dan melempar sebundel dokumen tebal ke atas kasur, tepat di samping paha Alana.
"Apa ini?" tanya Alana pelan, melirik berkas bersampul hitam itu.
"Kontrak pernikahan," jawab Kenzo tanpa ragu. Ia bersedekap dada, memandang Alana dari ketinggian posture tubuhnya yang menjulang. "Baca dan pahami."
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Alana mengambil dokumen tersebut dan membukanya. Halamannya berisi pasal-pasal rinci tentang hubungan hukum dan batasan kehidupan mereka.
"Poin-poin di dalamnya sangat jelas," lanjut Kenzo dengan nada dingin seperti sedang mempresentasikan kontrak bisnis di ruang rapat. "Pernikahan ini murni transaksi. Keluargamu mendapat dana untuk selamat dari kebangkrutan, dan sebagai imbalannya, kamu harus memenuhi tuntutan kakekku untuk melahirkan seorang pewaris tunggal."
Alana membaca setiap baris dengan pandangan membayang karena air mata yang mulai berkumpul. Tulisan di kertas itu seolah menegaskan betapa rendahnya harga dirinya di mata pria ini.
"Di depan media dan keluarga besar Elard, kita harus berakting sebagai pasangan yang harmonis," sambung Kenzo tegas. "Namun di belakang layar, kita adalah dua orang asing. Aku tak akan pernah mencampuri urusan pribadi milikmu, dan kamu dilarang keras ikut campur dalam kehidupanku. Jangan pernah bermimpi mendapatkan cinta, perhatian, atau hal semacamnya dariku. Karena bagiku, kamu tak lebih dari sekadar alat pencetak pewaris."
Alana meremas ujung lembaran kertas itu hingga kusut. Hatinya teriris begitu dalam, namun akal sehatnya mengingatkan bahwa ia tak punya daya untuk melawan. Nasib ayahnya yang sakit dan kelangsungan hidup keluarganya dipertaruhkan malam ini.
"Bagaimana, Alana Adhijaya?" tanya Kenzo, menuntut keputusan pasti. "Kamu menyetujui kontrak sialan ini?"
Alana menarik napas panjang, berusaha keras menahan selapis air mata agar tidak jatuh di depan pria tak berperasaan ini. Ia mendongak, menatap mata hitam Kenzo yang tanpa celah empati.
"Ya. Aku setuju," bisik Alana dengan suara bergetar namun tegas.
"Bagus," sahut Kenzo singkat.
Pria itu berbalik menuju pintu utama, memutar kunci kait untuk menguncinya rapat-rapat. Setelah itu, dengan langkah tenang, ia berjalan mematikan lampu sorot utama ruangan. Seketika, kamar megah itu tenggelam dalam remangnya cahaya lampu tidur keemasan dan pendar samar gedung-gedung bertingkat dari luar jendela.
Kenzo kembali ke tepi ranjang, melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas dengan bunyi dentang yang halus.
"Sekarang," Kenzo berbisik dingin, menatap Alana yang masih mematung. "Kita selesaikan tugas paling utama dalam kesepakatan ini."
Detak jantung Alana berpacu sangat kencang, diselimuti rasa takut luar biasa. "Maksudmu... sekarang?"
"Kakek memberi tenggat waktu satu tahun untuk melihat hasilnya," balas Kenzo tanpa ragu. "Makin cepat kamu hamil, makin cepat pula tugasmu di rumah ini selesai."
Kenzo mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan terasa dingin menyentuh pundak terbuka Alana, lalu bergerak menyusuri bagian belakang gaun pengantin wanita itu untuk menemukan deretan kancing dan resleting utama.
Alana terperanjat pelan saat kulit dingin Kenzo bersentuhan langsung dengan punggungnya. "T-tunggu... biarkan aku membuka gaun ini sendiri di kamar mandi—"
"Terlalu membuang waktu," potong Kenzo tanpa kompromi.
Dengan satu tarikan napas, Kenzo menurunkan resleting utama dan melepas kancing gaun itu dengan terampil. Gaun pengantin yang berat itu meluncur turun, menyingkap bahu dan bagian atas tubuh Alana yang mulus. Udara dingin kamar ber-AC langsung menerpa kulitnya, membuat Alana merinding hebat. Refleks, ia menyilangkan kedua tangannya di dada untuk menutupi diri.
Kenzo tak membuang waktu. Ia membuka kemeja putihnya sendiri dan membuangnya ke lantai, menampilkan dada bidang serta bahu kokoh yang terbentuk sempurna. Pria itu mengikis jarak, menindih tubuh kecil Alana hingga wanita itu terdorong berbaring di atas hamparan kelopak mawar merah.
Gaun pengantin yang menumpuk disingkirkan dengan kasar. Alana memejamkan matanya erat-erat saat merasakan bobot tubuh Kenzo mengurungnya. Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur samar aroma tembakau menyerbu indra penciumannya. Tidak ada kecupan lembut untuk menenangkan jiwa yang ketakutan, tidak ada belaian halus untuk mencairkan suasana. Yang ada hanyalah dominasi mutlak dan pelaksanaan kewajiban biologis yang dingin.
Kenzo menunduk, mendaratkan sentuhan-sentuhan kasar pada leher dan perpotongan bahu Alana. Setiap usapan dan kecupan dari pria itu terasa bagaikan tuntutan yang mengintimidasi. Alana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meremas sprei kain sutra di bawah tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pelipis, membasahi bantal di bawah kepalanya.
Ketika Kenzo melangkah lebih jauh dan memulai penyatuan itu untuk pertama kalinya, rasa sakit yang tajam dan menusuk mendadak menjalar di sekujur tubuh Alana.
"Nghh...!" Alana merintih menahan perih, tubuhnya menegang hebat secara refleks.
Penyatuan tanpa rasa kasih sayang, tanpa foreplay yang memadai, dan murni didorong oleh tuntutan kewajiban itu terasa bagai eksekusi yang meremukkan harga dirinya. Alana merasakannya—sebuah ketidaknyamanan dan rasa sakit fisik yang begitu nyata karena ini adalah kali pertama baginya.
Kenzo sempat tertegun sesaat merasakan betapa ketat dan tegangnya tubuh wanita di bawahnya. Ia sadar betul bahwa Alana masih suci dan ini adalah pengalaman pertamanya. Namun, benteng keangkuhan dan sikap dingin yang ia bangun membendung rasa kasihan itu untuk muncul. Kenzo enggan menurunkan egonya demi menghibur wanita yang dianggapnya sekadar 'istri kontrak'.
"Tahan," gumam Kenzo pendek di dekat telinga Alana. Suaranya terdengar berat dan terengah, murni dikuasai oleh pelepasan naluri.
Tanpa menghentikan proses itu, Kenzo melanjutkan gerakannya, menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam perjanjian malam ini tanpa peduli betapa dalam air mata yang diam-diam mengalir dari sudut mata istrinya.
Di bawah temaramnya lampu tidur dan kepungan keharuman mawar yang kini terasa menyesakkan, Alana memalingkan wajahnya ke samping. Ia menatap hampa ke arah jendela kaca yang gelap, membiarkan keheningan malam menampung seluruh rintihan napas dan kepedihan hatinya. Malam pertama yang seharusnya suci dan penuh cinta, kini resmi menjadi awal dari penderitaannya sebagai tawanan di dalam sangkar emas yang amat dingin.
Bersambung...