Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: tamat
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

🏆🥇 Juara 1, Yaww 2026 Periode 1, Kategori 2 💞 dan Juara Tema Kreatif.



Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Subuh itu, Tasya terbangun dengan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Langit di balik tirai masih gelap. Lampu kamar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Ia menoleh ke sampingnya, kosong dan tak ada siapa pun di sana.

Seprai berantakan menjadi satu-satunya bukti bahwa semalam bukan mimpi. Namun, tak ada sosok pria itu.

Jantung Tasya berdetak lebih cepat.

"Apakah dia sudah pergi?"

Pertanyaan itu belum sempat terjawab terjawab, ketika suara air mengalir terdengar dari kamar mandi.

Tasya membeku, "pria itu masih di dalam."

Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya. Ia bangkit tergesa dari ranjang, tetapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir terjatuh kembali. Lututnya lemas, tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri.

Ia menahan napas, menahan nyeri, memaksa dirinya berdiri.

“Aku harus pergi…” bisiknya pelan.

Matanya mencari pakaiannya. Gaun tipis yang ia kenakan malam tadi tergeletak di lantai, sobek di beberapa bagian. Tak mungkin dipakai keluar hotel tanpa mengundang perhatian.

Tanpa pilihan lain, Tasya meraih kemeja pria itu yang tersampir di kursi. Ia mengenakannya dengan tangan gemetar. Kemeja putih itu kebesaran, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha. Setidaknya cukup untuk membawanya keluar dari kamar ini.

Suara air masih terdengar, waktunya tidak banyak. Tasya melangkah menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti. Dia baru sadar satu hal yang lebih menyakitkan dari tubuhnya sendiri.

Ia tidak punya uang, tak punya sepeser pun. Ia tak mungkin pergi jauh tanpa uang, bahkan untuk naik taksi pun tidak cukup. Dengan napas tertahan, Tasya menoleh kembali ke dalam kamar. Pandangannya menyapu meja kecil di dekat sofa. Di sana tergeletak sebuah dompet hitam.

Dia berjalan cepat ke sana, tangannya sedikit ragu sebelum membukanya. Di dalamnya terdapat kartu-kartu tanpa nama dan beberapa lembar uang euro.

Ia menghitung cepat, hanya ada dua lembar. Tasya mendengus pelan, kesal di tengah kepanikan.

“Tinggal di kamar hotel semewah ini, tapi cuma simpan dua lembar uang…” gumamnya lirih.

Kesal, tetapi tetap mengambil uang itu untuk ongkosnya. Ia tak berani mengambil kartu apa pun. Ia tak ingin meninggalkan jejak lebih banyak dari yang sudah terjadi.

Suara air di kamar mandi tiba-tiba mengecil. Tanpa menoleh lagi, Tasya membuka pintu perlahan. Lorong hotel masih sunyi dalam dingin subuh Berlin. Dengan langkah tertahan oleh rasa sakit dan dada yang dipenuhi campuran takut serta tekad, Tasya berjalan pergi.

Dia tidak mengucapkan apa-apa, dia tidak meninggalkan pesan. Ia hanya membawa dua lembar uang, luka yang tak terlihat, dan keputusan untuk menghilang sejauh mungkin dari malam itu.

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Begitu Tasya melangkah ke lobi hotel, udara hangat menyambutnya, berbanding terbalik dengan dingin yang terasa di dalam dadanya.

Beberapa pasang mata langsung menoleh.

Penampilannya tak biasa. Kemeja putih kebesaran dengan langkah yang sedikit tertatih jelas menarik perhatian. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat.

Namun, Tasya tak peduli. Dia tak punya tenaga untuk merasa malu. Tasya hanya ingin pergi. Dengan langkah cepat, ia melirik ke kanan dan kiri mencari akses keluar. Meja resepsionis. Sofa tamu, pintu putar besar yang mengarah ke jalan.

Ia menuju pintu tanpa berhenti.

Udara subuh Berlin menyentuh kulitnya begitu ia keluar. Dingin, menusuk, tetapi entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada kamar hotel tadi. Beberapa taksi terparkir di depan hotel. Tanpa berpikir panjang, Tasya membuka pintu salah satunya dan masuk ke kursi belakang.

“Wohin?” tanya sopir itu singkat.

Tasya menyebutkan alamat rumah pamannya. Suaranya pelan, tetapi tegas.

Mobil mulai melaju. Jalanan masih gelap, lampu-lampu kota redup, sebagian toko belum buka. Berlin pukul tiga lewat, kota itu belum benar-benar hidup.

Di dalam mobil yang bergerak pelan, Tasya menatap ke luar jendela.

Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tak pernah menyangka orang yang ia anggap keluarga, orang yang membesarkannya sejak orang tuanya meninggal, bisa menjualnya seperti barang.

Tangisnya pecah pelan, dia menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Kenapa hidupku harus seperti ini?"

Beberapa menit berlalu dalam diam. Sopir taksi tak banyak bertanya. Hanya sesekali melirik dari kaca spion, mungkin bertanya-tanya, tetapi memilih tak ikut campur.

Tasya menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dia harus kembali ke rumah pamannya.

Semua barangnya ada di sana. Paspor cadangan. Dokumen, sisa tabungan kecil yang ia sembunyikan. Jika ingin benar-benar pergi dari Jerman dan mungkin kembali ke Indonesia, ia harus mengambil semuanya malam ini juga.

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan yang lebih sepi. Tangis Tasya mereda, berganti tekad yang perlahan mengeras di dalam dada. Ia mungkin tak bisa mengubah apa yang terjadi malam ini. Namun, ia masih bisa memilih apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mobil taksi berhenti di depan rumah besar milik pamannya.

Lampu taman masih menyala redup, tetapi suasana terlihat sepi. Tak ada mobil di halaman. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tasya membayar dengan dua lembar uang yang ia ambil dari kamar hotel tadi. Tangannya masih gemetar, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena tekad yang mulai mengeras.

Ia turun dari mobil.

Gerbang rumah terbuka sedikit. Satpam yang berjaga menatapnya terkejut.

“Nona Tasya?” tanyanya, heran melihat penampilannya yang tak biasa. “Anda baru pulang?”

Tasya sedikit tersentak, lalu memaksakan diri untuk tetap tenang.

“Paman dan Bibi sudah bangun?” tanyanya pelan.

Satpam itu menggeleng.

“Belum pulang, Nona. Sejak sore tadi kalian pergi bersama. Sampai sekarang belum kembali.”

Tasya terdiam beberapa detik, lalu ia mendengus pelan.

Tentu saja, mereka pasti sedang merayakan keberhasilan transaksi itu. Berfoya-foya dengan uang yang mereka dapatkan dari menjual dirinya.

Ia yang hampir kehilangan segalanya, sementara mereka mungkin sedang tertawa di restoran mahal.

“Baik,” jawab Tasya singkat.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lebih lama. Rumah itu terasa asing meski ia telah tinggal di sana bertahun-tahun. Dinding-dinding yang dulu ia anggap tempat berlindung kini terasa seperti kandang.

Ia menuju kamarnya, pintu dibuka cepat. Semua barangnya masih di sana. Lemari, meja belajar. Koper kecil di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, Tasya menarik koper itu dan mulai memasukkan pakaian seperlunya.

Ia membuka laci meja dan mengambil tabungan yang selama ini ia sembunyikan, uang hasil kerja sambilan dan sisa pemberian almarhum orang tuanya yang tak pernah ia sentuh.

Setelah semuanya siap, Tasya duduk sejenak di tepi ranjang. Ia menyalakan ponselnya dan memesan tiket penerbangan pertama menuju Indonesia. Penerbangan subuh menuju Jakarta masih tersedia.

Ia memesan tanpa ragu.

Begitu sampai di bandara, ia hanya perlu mencetak boarding pass dan langsung berangkat. Tak ada lagi ruang untuk berpikir ulang.

Beberapa menit kemudian, Tasya menarik koper keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah untuk terakhir kalinya.

Saat ia melewati pos jaga, satpam kembali menegurnya.

“Nona Tasya mau ke mana pagi-pagi begini?”

Tasya berhenti sejenak.

“Aku akan pergi dari sini,” katanya tenang.

Satpam itu terlihat bingung. “Pergi? Maksudnya…”

“Kalau Paman dan Bibi tanya apakah aku pulang,” lanjut Tasya, menatap lurus ke depan, “tolong jangan katakan apa pun.”

Satpam itu terdiam, dia hanya mengangguk pelan.

Tasya tidak menoleh lagi.

Ia melangkah keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia sebut tempat tinggal.

1
frida
good job Thor terus lah berkarya
echa purin
👍
Ari Sawitri
bukannya sdh 9bulan ya di bab sebelumnya kok prematur ?🤔🤔
Ari Sawitri
team keamanan tp bukan buat istri dan anak anaknya. begitu kejadian br ada team keamanan. ini orang kaya bener bukan sebenarnya 🤔🤭😅
Sri Wulandari
akhirnya karma sdh menantimu kini giliran qm & istrimu yg akan menanggung smua perbuatan mu d masa lalu Arlond siap² sj qm mendapatkan hukuman yg setimpal dg apa yg telah qm lakukan pd kakakmu sendiri Arland
Sri Wulandari
gara² ingin hidup lebih baik qm rela kehilangan cinta pertama mu & menikah dg Merlin & qm lebih memilih mencintainya dlm diam tp lihat sprti apa hidupmu skrng hanya d manfaatkan sj sm klrg istrimu bahkan anak yg d kandung istrimu bkn anakmu & keserakahan tlh menghancurkan hidup kalian smua
Sri Wulandari
senjata makan tuan karma lngsng d byr lewat putri mu dulu qm membunuh Arlan & istrinya skrng qm akan mengulangi lg perbuatan kalian itu & putrimu & calon bayinya jg merasakan akibat dr k jahatan kalian bahkan akibatnya bakal lebih fatal
Sri Wulandari
knp qm g mencoba mencari tau apa yg sbnrnya terjadi dg klrg mu Tasya karna smua saling berhubungan termasuk tentang k matian k dua orang tuamu jg dendam 2klrg hingga saat ini
Sri Wulandari
harusnya qm jg curiga & waspada dg sikap Arlond kakek Rockhi karna selama ini dia yg sllu berusaha keras menyakiti Tasya siapa tau dia jg terlibat dg Jessy
Sri Wulandari
semakin qm berusaha menjauhkan Alex dr Tasya hubungan mereka akan semakin dlm & terikat... Jessy
Sri Wulandari
harusnya kakek buyut takut dg keturunannya yg ini mereka bs sj menghancur perusahaan mu jg bs menstabilkan kembal begitu jg dg mommynya
Sri Wulandari
menghadapi orang sprti tuan Vasillo qm mmng harus bersikap tegas & berani klu tdk qm akan d tindas & d remehkan apalagi dendam antara klrg kalian yg blm bs d lupakan oleh sm² k dua klrg & qm skrng ibaratnya masuk k sarang harimau kembali g bs maju pun mati
Sri Wulandari
kasian Tasya g punya tempat yg aman utknya & twins....kakek Vasillo bs menerima twins tp tdk dg Tasya apalagi klu tau Tasya cucu kakek Rockhi
Sri Wulandari
seandainya dr awal kakek Rockhi mau menceritakan smua sm Tasya pasti g akan ada k salah pahaman sprti ini sedangkan Arlond dia sprti kompor meleduk yg siap membakar apa sj supaya smua lebih membara
Sri Wulandari
Alex sdh menduga klu kakek Rockhi pasti tdk akan tinggal diam membiarkan cucunya Tasya menikah dgnya....
mslh Alex semakin rumit yg satu perjodohan yg d tentukan kakek Vasillo yg satu pernikahannya dg Tasya akan d pisahkan oleh kakek Rockhi d tambah k datangan Arlond yg akan membawa mslh buat Tasya & twins😔
Sri Wulandari
kakek Vasilo datang makanya Tasya & twins d pulangkan k rumah kakek Rocki tp d sana justru tdk aman ada pamannya yg jahat dtng utk bls dendam smoga Alex bs melindungi Tasya & twins dr pamannya yg jahat & serakah itu....
klu kakek Vasilo aq rasa g akan mslh dg kehadiran Tasya & twins mungkin dia akan sangat bahagia karna ternyata dia memiliki 2 penerus .... marahnya mungkin hanya sementara karna penerusnya itu ternyata msh k turunan musuh bebuyutannya jd rumit tp.... kedatangan Arlond mungkin akan membuka rahasia penyebab dendam antara 2 klrg Vasilo & kakek Rockhi
Sri Wulandari
untung Tasya & twins sdh pindah k rumahnya Alex klu tdk dia pasti ketakutan lg melihat kedatangan pamannya yg hampir menjualnya dulu waktu d Berlin
Sri Wulandari
membuka hati utk daddy twins beri dia kesempatan sebenarnya Alex tdk sejahat seperti yg qm pikirkan dia hanya sedikit sombong & keras kepala sm sprti Kenzo....Alex bersikap keras karna dia punya banyak musuh yg siap menghancurkannya kpn sj makanya hidupnya g suka d usik siapapun apalagi dia pernah mengalami trauma kehilangan orang tua sprti qm makanya instingnya utk melindungi diri & klrg sangat kuat
Sri Wulandari
qm khan seorang peretas Tasya harusnya qm bs melacak Dion lewat perangkat elektronik yg dia gunakan atau melacak keberadaan mobilnya atau apalah yg bs d lacak lewat internet....lha ini qm sprti kehilangan kecerdasan mu....panik boleh tp bodoh jngn😔
Sri Wulandari
apakah itu suara Dion 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!