Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
Belvina tidak menjawab. Ia hanya mundur setengah langkah, kembali ke posisinya semula.
Namun kali ini, ia tidak menyentuh Alden lagi.
Senyum Seraphina memudar, tapi tidak benar-benar hilang.
“Aku hanya ingin menyapa dengan baik…”
Beberapa orang di sekitar mulai saling melirik.
"Ingin menyapa..." Belvina tersenyum sinis. "...atau ingin menjatuhkan diri ke pelukan suami orang?"
“Sudah cukup,” suara Alden tiba-tiba terdengar. Rendah. Dingin.
Belvina menoleh.
Tatapan pria itu tajam. Penuh peringatan.
“Kamu berlebihan.”
Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menegang di sisi tubuh.
“Dia yang—”
“Cukup, Belvina.”
Nada suaranya tidak naik. Namun tidak memberi ruang untuk membantah.
Beberapa orang berhenti bicara. Makin banyak tatapan yang mengarah ke mereka.
“Jadi kamu percaya dia?" Belvina menatap Alden tak percaya. " Lebih membela dia daripada istrimu sendiri?”
Alden tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar.
Belvina terdiam.
Alden berbalik pergi tanpa menunggu. Tanpa menoleh.
Belvina terpaku beberapa detik. Lalu—
“Al—!”
Ia mengejar pria itu. Tumit tinggi itu beradu cepat dengan lantai marmer. Langkahnya tergesa. Napasnya mulai tidak teratur.
“Al— tunggu!”
Namun pria itu tidak berhenti. Tidak juga melambat. Belvina terus mengejarnya hingga di lobby.
Langkahnya terlalu cepat. Tumitnya terpeleset.
“Ah—!”
BRUK!
Tubuhnya jatuh.
Benturan itu memantul di lantai marmer. Beberapa orang tersentak.
Namun Alden tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu keluar.
Belvina terbaring di lantai dingin. Pandangannya kabur. Lampu di atasnya berputar. Suara-suara mulai menjauh.
“Kenapa…”
Suaranya nyaris tidak terdengar. Dadanya terasa sesak.
Pandangan itu semakin gelap. Semakin jauh. Dan di detik terakhir kesadarannya, semuanya… berhenti.
Gelap.
“Ah—!”
Dina meringis, memegangi kepalanya. Tubuhnya goyah. Ingatan pemilik tubuh asli itu terasa menusuk hati.
Alden langsung menghentikan langkahnya. Alis pria itu berkerut, melihat ekspresi kesakitan yang tak dibuat-buat.
“Belvina?”
Hangat. Cairan mengalir dari pelipisnya. Dina menyentuhnya. Darah. Napasnya memburu.
Lalu—
Potongan ingatan menyerbu.
Suara-suara.
“Perjodohan keluarga.”
“Untuk bisnis.”
“Aku tidak bisa hidup tanpa dia—”
Darah di pergelangan tangan.
Tangisan.
Lalu— kamar gelap.
Gaun tipis.
Penolakan.
Berulang.
Dina terdiam. Napasnya tertahan.
“Segila itu…” bisiknya lirih.
Potongan itu terasa… familiar. Terlalu familiar. Matanya membesar.
“Tidak mungkin… Ini... gak masuk akal."
Suara Dina nyaris tak terdengar.
“Ini bukan cerita…” napasnya tersendat. “Ini jebakan.”
Ia menatap, tangannya. Kulit halus. Jari-jari ramping. Bukan miliknya.
Ia menatap tubuhnya yang dibalut gaun mewah. Lalu menatap pria di depannya. Semuanya terasa asing… sekaligus nyata.
Kesadaran itu menghantam tanpa ampun. Ia tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Ia adalah, Belvina Laurent.
Dan satu hal langsung terpatri dalam benaknya, ia tidak akan hidup seperti wanita itu.
Belum sempat ia mencerna semuanya—
“Tsk.”
Tanpa banyak bicara, Alden mengangkat tubuhnya.
Belvina tersentak. “Apa yang kau lakukan?”
Alden mengabaikannya. Genggamannya justru semakin kuat.
“Kalau kau ingin berpura-pura berubah…” bisiknya dingin, “pastikan kau bisa mempertahankannya.”
Langkahnya tak berhenti.
Dan entah kenapa, ucapan itu terdengar seperti ancaman.
Belvina refleks menegang, namun tidak melawan. Rahangnya mengatup.
"Ini pria yang dikejar-kejar sampai segitunya?" batinnya.
Dari jarak sedekat ini, tatapannya menyapu wajah Alden tanpa ragu. Terlalu sempurna. Dan terlalu dingin.
Tapi bagi Belvina yang sekarang, sikapnya menjijikkan. Tatapannya dingin. Tidak berubah.
Sudut bibir Belvina bergerak tipis, nyaris tak terlihat.
"Belvina yang lama… benar-benar tidak waras. Kalau harus mengemis cinta pria seperti ini… lebih baik aku mati lagi," gerutu Belvina dalam hati.
Langkah Alden yang semula mantap… sedikit melambat. Alisnya berkerut samar. Wanita di pelukannya— diam.
Terlalu diam.
Tidak meronta. Tidak menangis. Tidak memohon. Tidak seperti biasanya.
Tatapannya turun sedikit. Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Dingin.
Bukan tatapan penuh harap yang biasa ia lihat. Bukan juga tatapan putus asa.
Tapi…
Tatapan datar. Kosong. Seolah-olah, ia tidak lagi peduli.
Rahang Alden mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa lagi yang sedang ia rencanakan sekarang?" pikirnya.
Pintu mobil sudah terbuka. Sopir berdiri kaku di sampingnya.
Tanpa berkata apa-apa, Alden menurunkan tubuh Belvina. Tidak ada kelembutan.
Kaki Belvina hampir goyah saat menyentuh tanah, namun ia segera menyeimbangkan diri.
"Masuk.”
Satu kata perintah dari Alden. Dingin. Tegas.
Belvina menatapnya sekilas. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Lalu ia masuk ke dalam mobil. Tanpa bantahan.
Pintu mobil tertutup. Suasana langsung hening.
Belvina menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. Namun di dalam kepalanya, satu pikiran berputar jelas.
“Aku tidak akan hidup seperti ini lagi.”
Di sampingnya, tanpa ia sadari, Alden masih menatapnya.
Lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya perlahan berubah. Bukan lagi sekadar dingin.
Tapi… mengamati.
“Dia berubah. Sejak jatuh tadi. Jangan-jangan—”
Kalimat itu terputus. Alisnya berkerut tipis. Tatapannya turun ke pelipis wanita itu. Jejak darah masih terlihat samar di sana.
Alden mendecak pelan.
“Bersihkan lukanya.” Perintah singkat. Tanpa emosi.
Sopir di depan langsung menjawab, “Baik, Tuan.”
Belvina mengernyit.
"Apa maksudnya? Dia menyuruh sopir membersihkan lukaku?"
Pintu di sampingnya terbuka.
Sopir itu sudah berdiri di luar, kotak P3K di tangannya.
“Nyonya… izinkan saya.”
Belvina menatap Alden sekilas. Tatapannya tipis. Tidak senang. Tangannya mengepal. Lalu ia menoleh ke arah sopir.
“Tidak perlu.” Suaranya datar.
Ia mengambil kotak P3K dari tangan sopir, lalu meraih tisu di sampingnya. Dengan gerakan rapi, ia membersihkan darah di pelipisnya sendiri.
Tanpa meringis. Tanpa keluhan. Seolah luka itu… tidak berarti apa-apa.
Alden memerhatikan. Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan.
Aneh.
"Sejak kapan dia… setenang ini?"
...✨“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tidak pernah dipilih sejak awal.”...
...“Mengemis cinta dari pria yang tidak menginginkanmu bukan cinta. Itu penghinaan.”...
...“Wanita yang mencintainya sudah mati. Yang tersisa… tidak akan memohon lagi.”✨...
.
To be continued
Seraphina meronta sekuat tenaga, minta dilepaskan.
Seraphina sudah hilang kewarasannya, teriak-teriak menyumpahi Belvina.
Seraphina henar-benar tergila-gila pada Alden, bisa jadi gila benar dia.
Perhatian Seraphina terpecah dengan pengkhianatan anak buahnya yang memilih menyerah.
Itu yang ditunggu Daren, lalu memberi perintah - sekarang.
Gerakan serentak menuju kearah Seraphina.
Daren berlari secepat kilat.
Alden dan dua anggota tim keamanan Astera Group juga bergerak dari sisi lain
Belvina menjatuhkan diri, tubuhnya merosot dari cengkeraman Seraphina.
Seraphina yang kehilangan pegangan, langsung diterjang tubuhnya oleh Daren. Keduanya jauh berguling.
Beberapa polisi membantu melumpuhkan Seraphina.
Sungguh Menyedihkan kau Seraphina, seperti jata Belvina.
Tak jauh dari Daren yang berdiri di balik mobil taktis, beberapa mobil hitam milik Astera Group berhenti.
Daren melarang Alden masuk ke gudang. Daren mengatakan keselamatan Belvina bisa terancam kalau Alden gegabah.
Seraphina mulai panik. Rencananya tersusun rapi, nyatanya polisi dengan cepat menemukannya.
Polisi sudah masuk ke gudang dengan mendobrak pintu.
Seraphina sadis juga. Dengan pisau yang diambil dari pinggang salah satu anak buahnya, mata pisau langsung menempel di leher Belvina.
Seraphina sudah tidak waras. Apa yang dikatakan pada Belvina, ditanggapi oleh Belvina dengan tertawa.
Tanpa rasa takut Belvina mengeluarkan kata-kata yang membuat rahang Seraphina mengeras.
Apa yang selanjutnya dikatakan oleh Belvina, membuat mata Seraphina melebar.
Bahkan tidak percaya. Bohong - kata Seraphina.
Daren menghubungi nomor layanan Astera Group. Terhubung dan di suruh menunggu.
Alden berulang kali menghubungi ponsel Belvina, nomor tetap sibuk.
Alden menerima sambungan telepon. Ia mendengar apa yang dikatakan Daren tentang istrinya yang diduga diculik. Belum tahu Belvina di bawa ke mana.
Daren menyalakan pengeras suara, terdengar suara dari ponsel Belvina. Suara pria, juga suara Belvina.
Daren dan rekan-rekan yang ada mendengarkan.
Daren mencatat yang dia dengar.
Belvina didorong masuk ke dalam mobil para penculik.
Tangan Belvina di borgol. Sempat mengeluarkan ponsel dari saku lalu menyelipkan ke bawah jok.
Tahu panggilan masih tersambung, berarti Daren masih mendengar. Belvina memberi petunjuk.
Petunjuk dari Belvina ditindak lanjuti Daren dengan menginstruksikan kepada rekannya dalam pencarian.
Belvina masih sempat menghubungi Daren teman SMA yang jadi polisi. Mengirim lokasi terkini, lalu menekan tombol panggil.
Kaca samping pecah berhamburan.
Sopir berusaha melindungi Belvina, malah dihajar kena mukanya hingga terhuyung. Kembali di hajar oleh dua pria lain.
Belvina melarang, jangan pukul dia.
Belvina ditarik paksa keluar dari mobil.
Dihubungi bekali-kali nomor Alden tidak aktif.
Ponsel Dimas yang dihubungi, Alden yang mengangkat.
Alden menyuruh pengawal menghubungi telepon Belvina.
Ponsel Belvinavaktif tapi tidak diangkat.
Kelamaan tuh pengawal ngomongnya Belvina panik minta diantar ke rumah sakit.
Alden jadi tahu kenapa Belvina keluar.
Seraphina tinggal menunggu saja kemarahan Alden atas ulahnya.
Belvina kena jebakannya Seraphina.
Semoga Belvina dan bayi dalam kandungannya selamat