Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina

Belvina tidak menjawab. Ia hanya mundur setengah langkah, kembali ke posisinya semula.

Namun kali ini, ia tidak menyentuh Alden lagi.

Senyum Seraphina memudar, tapi tidak benar-benar hilang.

“Aku hanya ingin menyapa dengan baik…”

Beberapa orang di sekitar mulai saling melirik.

"Ingin menyapa..." Belvina tersenyum sinis. "...atau ingin menjatuhkan diri ke pelukan suami orang?"

“Sudah cukup,” suara Alden tiba-tiba terdengar. Rendah. Dingin.

Belvina menoleh.

Tatapan pria itu tajam. Penuh peringatan.

“Kamu berlebihan.”

Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menegang di sisi tubuh.

“Dia yang—”

“Cukup, Belvina.”

Nada suaranya tidak naik. Namun tidak memberi ruang untuk membantah.

Beberapa orang berhenti bicara. Makin banyak tatapan yang mengarah ke mereka.

“Jadi kamu percaya dia?" Belvina menatap Alden tak percaya. " Lebih membela dia daripada istrimu sendiri?”

Alden tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar.

Belvina terdiam.

Alden berbalik pergi tanpa menunggu. Tanpa menoleh.

Belvina terpaku beberapa detik. Lalu—

“Al—!”

Ia mengejar pria itu. Tumit tinggi itu beradu cepat dengan lantai marmer. Langkahnya tergesa. Napasnya mulai tidak teratur.

“Al— tunggu!”

Namun pria itu tidak berhenti. Tidak juga melambat. Belvina terus mengejarnya hingga di lobby.

Langkahnya terlalu cepat. Tumitnya terpeleset.

“Ah—!”

BRUK!

Tubuhnya jatuh.

Benturan itu memantul di lantai marmer. Beberapa orang tersentak.

Namun Alden tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu keluar.

Belvina terbaring di lantai dingin. Pandangannya kabur. Lampu di atasnya berputar. Suara-suara mulai menjauh.

“Kenapa…”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Dadanya terasa sesak.

Pandangan itu semakin gelap. Semakin jauh. Dan di detik terakhir kesadarannya, semuanya… berhenti.

Gelap.

“Ah—!”

Dina meringis, memegangi kepalanya. Tubuhnya goyah. Ingatan pemilik tubuh asli itu terasa menusuk hati.

Alden langsung menghentikan langkahnya. Alis pria itu berkerut, melihat ekspresi kesakitan yang tak dibuat-buat.

“Belvina?”

Hangat. Cairan mengalir dari pelipisnya. Dina menyentuhnya. Darah. Napasnya memburu.

Lalu—

Potongan ingatan menyerbu.

Suara-suara.

“Perjodohan keluarga.”

“Untuk bisnis.”

“Aku tidak bisa hidup tanpa dia—”

Darah di pergelangan tangan.

Tangisan.

Lalu— kamar gelap.

Gaun tipis.

Penolakan.

Berulang.

Dina terdiam. Napasnya tertahan.

“Segila itu…” bisiknya lirih.

Potongan itu terasa… familiar. Terlalu familiar. Matanya membesar.

“Tidak mungkin… Ini... gak masuk akal."

Suara Dina nyaris tak terdengar.

“Ini bukan cerita…” napasnya tersendat. “Ini jebakan.”

Ia menatap, tangannya. Kulit halus. Jari-jari ramping. Bukan miliknya.

Ia menatap tubuhnya yang dibalut gaun mewah. Lalu menatap pria di depannya. Semuanya terasa asing… sekaligus nyata.

Kesadaran itu menghantam tanpa ampun. Ia tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Ia adalah, Belvina Laurent.

Dan satu hal langsung terpatri dalam benaknya, ia tidak akan hidup seperti wanita itu.

Belum sempat ia mencerna semuanya—

“Tsk.”

Tanpa banyak bicara, Alden mengangkat tubuhnya.

Belvina tersentak. “Apa yang kau lakukan?”

Alden mengabaikannya. Genggamannya justru semakin kuat.

“Kalau kau ingin berpura-pura berubah…” bisiknya dingin, “pastikan kau bisa mempertahankannya.”

Langkahnya tak berhenti.

Dan entah kenapa, ucapan itu terdengar seperti ancaman.

Belvina refleks menegang, namun tidak melawan. Rahangnya mengatup.

"Ini pria yang dikejar-kejar sampai segitunya?" batinnya.

Dari jarak sedekat ini, tatapannya menyapu wajah Alden tanpa ragu. Terlalu sempurna. Dan terlalu dingin.

Tapi bagi Belvina yang sekarang, sikapnya menjijikkan. Tatapannya dingin. Tidak berubah.

Sudut bibir Belvina bergerak tipis, nyaris tak terlihat.

"Belvina yang lama… benar-benar tidak waras. Kalau harus mengemis cinta pria seperti ini… lebih baik aku mati lagi," gerutu Belvina dalam hati.

Langkah Alden yang semula mantap… sedikit melambat. Alisnya berkerut samar. Wanita di pelukannya— diam.

Terlalu diam.

Tidak meronta. Tidak menangis. Tidak memohon. Tidak seperti biasanya.

Tatapannya turun sedikit. Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dingin.

Bukan tatapan penuh harap yang biasa ia lihat. Bukan juga tatapan putus asa.

Tapi…

Tatapan datar. Kosong. Seolah-olah, ia tidak lagi peduli.

Rahang Alden mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa lagi yang sedang ia rencanakan sekarang?" pikirnya.

Pintu mobil sudah terbuka. Sopir berdiri kaku di sampingnya.

Tanpa berkata apa-apa, Alden menurunkan tubuh Belvina. Tidak ada kelembutan.

Kaki Belvina hampir goyah saat menyentuh tanah, namun ia segera menyeimbangkan diri.

"Masuk.”

Satu kata perintah dari Alden. Dingin. Tegas.

Belvina menatapnya sekilas. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Lalu ia masuk ke dalam mobil. Tanpa bantahan.

Pintu mobil tertutup. Suasana langsung hening.

Belvina menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. Namun di dalam kepalanya, satu pikiran berputar jelas.

“Aku tidak akan hidup seperti ini lagi.”

Di sampingnya, tanpa ia sadari, Alden masih menatapnya.

Lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya perlahan berubah. Bukan lagi sekadar dingin.

Tapi… mengamati.

“Dia berubah. Sejak jatuh tadi. Jangan-jangan—”

Kalimat itu terputus. Alisnya berkerut tipis. Tatapannya turun ke pelipis wanita itu. Jejak darah masih terlihat samar di sana.

Alden mendecak pelan.

“Bersihkan lukanya.” Perintah singkat. Tanpa emosi.

Sopir di depan langsung menjawab, “Baik, Tuan.”

Belvina mengernyit.

"Apa maksudnya? Dia menyuruh sopir membersihkan lukaku?"

Pintu di sampingnya terbuka.

Sopir itu sudah berdiri di luar, kotak P3K di tangannya.

“Nyonya… izinkan saya.”

Belvina menatap Alden sekilas. Tatapannya tipis. Tidak senang. Tangannya mengepal. Lalu ia menoleh ke arah sopir.

“Tidak perlu.” Suaranya datar.

Ia mengambil kotak P3K dari tangan sopir, lalu meraih tisu di sampingnya. Dengan gerakan rapi, ia membersihkan darah di pelipisnya sendiri.

Tanpa meringis. Tanpa keluhan. Seolah luka itu… tidak berarti apa-apa.

Alden memerhatikan. Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan.

Aneh.

"Sejak kapan dia… setenang ini?"

 

...✨“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tidak pernah dipilih sejak awal.”...

...“Mengemis cinta dari pria yang tidak menginginkanmu bukan cinta. Itu penghinaan.”...

...“Wanita yang mencintainya sudah mati. Yang tersisa… tidak akan memohon lagi.”✨...

.

To be continued

1
aliifa afida
luar biasa/Heart//Heart//Heart//Heart/
evana gusani
baru mampir 👍
anonim
Akhirnya tuntas sudah membaca cerita yang sangat bagus. Bisa diambil hikmahnya.
Author memang The Best. Terima kasih Author dengan karya yang bagus-bagus. Semoga sehat selalu, BerkatNya melimpah 🙏🏻🥰💖
anonim
Belvina telah melahirkan bayi laki-laki.

Alden berjanji akan menjaga istri dan anaknya selama sisa hidupnya.

Kini bayi laki-laki itu berusia sekitar tiga tahun.

Bocah kecil itu tertawa riang sedang main kejar-kejaran bersama Om-nya. Arsen.

Bocah kecil itu berlari cepat minta tolong sama tante Alena dari kejaran Omnya.

Andreas dan Fransisca tak kalah bahagianya memiliki cucu yang ganteng dan gembul.
anonim
Alden sudah mendapat lampu hijau dari Belvina.
anonim
Kalau dekat jual mahal tidak mau memberi jatah Alden.

Giliran Alden lama di luar kota untuk menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan, Belvina mulai merindukan kehadiran Alden.
anonim
Sidang terakhir Seraphina sebagai terdakwa telah dibuka.

Hakim membacakan pertimbangan hukum secara jelas, sah, dan meyakinkan bahwa Seraphina melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan penuntut umum.

Seraphina terbukti melakukan perbuatan secara terencana demi keuntungan pribadi yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain, serta merencanakan penculikan terhadap korban Belvina yang disertai ancaman mengunakan senjata tajam hingga mengakibatkan korban mengalami luka.

Wow...vonis Hakim menjatuhkan pidana penjara selama delapan belas tahun untuk Seraphina.

Seluruh aset yang terbukti berkaitan dengan hasil tindak pidana dirampas sesuai ketentuan hukum.
anonim
Yang penting Alden sudah menyadari kebodohannya. Harapannya untuk membahagiakan istri dan anaknya semoga terwujud.
anonim
Belvina menggeser tubuhnya ke arah Alden yang masih memunggunginya.

Alden yang belum tidur merasakan Belvina mendekat. Ia sengaja tidak bergerak, takut Belvina salah paham lagi.

Sampai segitunya Alden menjaga perasaan Belvina.

Belvina bisa tidur nyenyak dalam pelukan Alden.

Alden berusaha menahan gejolak yang sebenarnya sulit dia kendalikan. Alden tidak memaksakan keinginannya itu.
anonim
Berbeda dengan Belvina yang tidak kunjung bisa tidur.

Alden tertidur di sofa yang ada di ruang kerjanya. Belvina membangunkan Alden. Menyuruh Alden kembali ke kamar.

Memang bumil bikin repot sendiri. Suaminya tidur membelakanginya, dadanya jadi terasa sesak. Menginginkan usapan tangan suami di perutnya sebelum tidur.
anonim
Buka hatimu Belvina, kasihan suamimu yang sudah berusaha mengerti dengan penolakanmu.

Belvina tidak bisa tidur merindukan elusan tangan Alden di perutnya.
imoe nawar
👍
anonim
Belvina periksa di dokter kandungan diantar rombongan keluarga Astera.

Dokter memeriksa kandungan Belvina, layar monitor memperlihatkan kondisi janinnya.

Arsen senang, dokter menunjuk layar monitor memperlihatkan jenis kelamin bayi. Laki-laki.
anonim
Wow...permintaan Alden di tolak. Belum layak mendapatkan hadiah karena Alden masih dalam masa percobaan. Belum lulus sudah minta bonus wkwkwk.

Jalani ujiannya dulu biar lulus Al.

Iya Bel, kamu sangat keterlaluan membiarkan suamimu tersiksa.
anonim
Alden ngga pernah mendapatkan jatahnya dari Belvina.

Setelah kejadian membuka kamar mandi, Alden jadi menginginkan jatahnya wkwkwk
anonim
Seraphina ini tetap tidak sadar-sadar juga. Masih mengharapkan Alden.
anonim
Semua anggota keluarga Alden sangat mengkhawatirkan Belvina.

Belvina menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.

Arsen ini kalau bicara bikin Alden mengeras rahangnya.
Ryan Dynaz
👍💜💜💜
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Erens Esrom Merani
motifasi yang mendambakan
VaNiLaLuLaBo
itu sebaiknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!