Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Pos 8 Sekte

..."orang boleh lupa, tapi selama masih ada satu orang yang ingat... maka emei belum mati"...

Hujan turun sejak subuh membasahi daun-daun dan se isi hutan.

jing Yue jalan kaki dari langshan, jubah biru nya basah terkena hujan serta sepatu kain nya penuh dengan lumpur.

Dia tidak punya tujuan dan arah yang pasti.

guru Hui guang cuma pernah bilang, "ke tempat di mana ada orang"

jadi dia mengikuti jalan setapak yang di penuhi langkah kaki.

Terus berjalan hingga matahari bersinar terang.

Di tengah hutan, jing Yue melihat jembatan kayu tua yang sudah lapuk di atas sungai.

di ujung jembatan duduk seorang pengemis tua, rambut nya putih dan berpakaian acak-acakan.

Jing Yue melihat pengemis itu dengan aneh, dia mempunyai tangan yang kapalan dan di telapak tangan nya ada bekas luka melingkar seperti bekas gagang pedang.

Pengemis itu melirik jing Yue dari atas ke bawah, mata nya berhenti di lambang bunga emei yang sudah pudar di dada nya.

"heh, emei?" suara nya bergetar dan serak.

Jing Yue berhenti dan membungkuk hormat, "ya"

Pengemis itu tertawa hingga batuk-batuk "emei... sekte biarawati yang kata nya sudah mati semua, mengapa kau masih memakai itu? membuat malu saja"

Jing Yue diam dan tidak menjawab, dia berjalan menuju ujung jembatan dan duduk satu pedang dari pengemis itu.

Jing Yue segera mengeluarkan buntalan nya dan mengambil roti terakhir yang mengeras karena hujan.

Dia membagi roti itu menjadi dua, satu buat diri nya dan satu lagi dia sodorkan ke pengemis itu.

Pengemis itu diam begitu lama dan akhir nya mengambil roti itu.

Hujan semakin deras membuat lampu minyak jing Yue padam terkena angin.

hari mulai berganti, malam yang di tutupi awan gelap pun tiba.

Jing Yue menyala kan api unggun kecil dari ranting kayu yang basah, asap nya mengepul memenuhi hutan.

Pengemis itu tiba-tiba bicara "20 tahun lalu... aku juga bagian dari emei"

Jing Yue menoleh dan mendengar kan.

"aku murid generasi sebelum guru mu, nama ku Hui Ming, waktu sekte di serang aku lari ketakutan, aku takut mati dan membuang jubah ini ke sungai" dia nunjuk dada nya yang kosong "sejak hari itu, aku menjadi pengemis karena malu"

Jing Yue menatap api, lama.

lalu dia berucap pelan,

"guru pernah bilang, emei tidak pernah menuntut yang lari, emei hanya menunggu yang kembali"

Hui Ming tertegun, tangan nya gemetar dengan roti yang masih dia pegang.

"aku sudah tidak bisa kembali, nona" bisik nya pelan "kini aku hanya menunggu kematian"

Jing Yue menggeleng dengan tegas dan dia berdiri, mengambil ranting basah dan mencoret di tanah berlumpur.

Jing Yue membuat lingkaran dengan bunga emei yang berada di tengah.

"selama ada yang ingat cara menggambar nya... emei belum mati"

Jing Yue menatap pengemis itu sebentar, lalu dia berdiri pamit untuk jalan lagi saat hujan mulai reda, tanpa menoleh ke belakang dia terus berjalan lurus ke depan.

dari belakang, Hui Ming berucap pelan, "Hati-hati di depan, ada pos 8 sekte"

Jing Yue mengangguk tanpa menoleh.

dan di tanah penuh lumpur itu, gambar bunga emei perlahan terhapus air hujan...

tapi sudah sempat di lihat oleh satu orang pengemis.

Setelah berpisah dari pengemis itu, jing Yue terus berjalan sepanjang hari,.

hujan sudah berhenti, tapi jalanan menjadi becek dan kabut turun dari gunung.

Menjelang sore, jing Yue sampai di pertigaan jalan.

Jing Yue melihat gapura besar dengan 8 bendera yang berbeda warna berkibar di atas nya.

Lambang dari 8 sekte besar Jianghu.

Di bawah nya, ada 4 orang penjaga yang duduk di meja dengan minum arak dan bermain dadu.

Salah satu penjaga melihat jing Yue "berhenti"

Penjaga pertama, berasal dari Shaolin dengan baju merah nya, menatap jubah jing Yue,

"emei?" dia meludah "aku pikir, mereka semua sudah tidak ada"

Penjaga kedua, berasal dari sekte wudang dia tertawa keras "kata nya sudah bubar 5 tahun lalu, nyasar kau nona?"

Jing Yue berdiri lurus dan membungkuk hormat, "murid emei, jing Yue, izin mau lewat"

Penjaga ketiga, berasal dari sekte Kunlun menendang meja nya "lewat? bayar dulu pajak jalan sebesar 20 tael"

Jing Yue membuka buntalan nya yang kosong dan cuma ada lampu minyak, "aku tidak bawa uang"

Keempat penjaga berdiri.

suasana nya kini berubah.

Pria botak dari sekte huashan sekaligus pemimpin mereka maju dengan membawa tombak.

"begini saja nona, kalau kau mau lewat? maka tahan lah 3 jurus dari ku, dan kalau kau tidak bisa? maka lepas jubah emei itu, dan biar kan kami membakar nya di sini, agar semua orang tahu emei sudah mati"

Jing Yue diam, tangan nya merapat di gagang pedang kayu di punggung nya.

"kalau aku menang" tanya nya pelan.

"menang?" mereka semua tertawa "kau boleh lewat, dan kami akan mengumumkan kalau emei masih hidup"

Jing Yue menatap pria botak itu dan mengangguk setuju.

pria botak itu menyeringai dan maju menyerang dengan juru pertama nya.

Tombak menyapu ke bawah, jing Yue memiringkan tubuh nya dan membuat ujung tombak menghantam tanah.

Pria botak itu mundur dan siap dengan jurus ke dua nya, pukulan telapak datang dari samping, membuat jing Yue langsung memutar tubuh nya ke belakang hingga sebagian jubah nya sobek.

Pria botak itu marah dan menggunakan juru ke tiga nya, dia maju ke depan menusuk lurus ke dada jing Yue dengan cepat.

Jing Yue tidak menghindar, dia maju setengah langkah.

"sret" gagang pedang kayu nya mengetuk pergelangan tangan si botak dan membuat tombak itu jatuh.

Sunyi.

Cuma ada suara dadu yang jatuh dari meja.

Pemimpin itu menatap tangan nya yang merah dan kemudian menatap jing Yue.

"kenapa tidak kau tusuk balik?" geram nya.

Jing Yue memungut tombak itu, dan mengembalikan nya dengan dua tangan.

"karena emei tidak membunuh untuk lewat"

Dia berjalan melewati gapura dengan 8 bendera berkibar di atas kepala nya.

Penjaga wudang berteriak dari belakang.

"nama kau siapa!"

Jing Yue tidak berhenti jalan.

"jing Yue murid emei"

Di luar pis pada malam hari, jing Yue duduk di bawah pohon, jauh dari pos dia sedang menjahit sobekan jubah nya dengan benang.

meskipun terdapat luka pada bahu kiri nya dan kelaparan, tapi dia tetap tersenyum kecil.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!