Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 2

"Mas... aku boleh bicara sebentar?"

Aidil menoleh penuh, menatap istrinya dengan sepasang mata cokelat gelap yang selalu tenang.

"Tentu. Ada apa? Apa ada keperluan rumah yang habis? Atau Amora dan Khaisar minta sesuatu?"

Pertanyaan itu membuat dada Zivana berdenyut nyeri secara samar. Bagi Aidil, topik perbincangan mereka selalu berkisar tentang anak-anak atau urusan rumah tangga.

"Bukan, Mas. Bukan soal anak-anak," Zivana memberanikan diri mendongak, mengunci tatapannya pada mata Aidil.

"Ini... tentang kita."

Atmosphere di kamar itu mendadak menjadi lebih berat. Aidil meletakkan kembali cangkir tehnya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, firasatnya menangkap sinyal kebingungan.

"Tentang kita? Ada yang salah, Ziva?"

Zivana menggigit bibir bawahnya pelan, mengumpulkan sisa keberaniannya.

"Mas... sudah tiga tahun kita menikah. Mas selalu baik padaku, sangat baik. Mas mencukupi segalanya, menghormatiku, dan membiarkanku menjadi ibu bagi Khaisar dan Amora. Aku sangat bersyukur untuk itu."

Ia jeda sejenak, menghela napas yang terasa berat. Udara dingin malam itu seolah kian membeku di tenggorokannya.

"Tapi Mas..." lanjut Zivana dengan suara bergetar tipis.

"Pernahkah sedikit saja... Mas melihatku sebagai seorang istri? Bukan sekadar ibu untuk anak-anak, atau wanita yang direkomendasikan oleh Ibu?"

Aidil terdiam paku. Ruangan itu mendadak menjadi begitu hening, hanya ada gemuruh angin dan hempasan hujan di luar. Pria itu menatap Zivana dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada rasa bersalah yang amat dalam berkilat di sana.

"Ziva..." panggil Aidil pelan, suaranya sarat akan penyesalan.

"Kamu istri yang sangat luar biasa. Aku menghormatimu, sungguh."

"Aku tahu Mas menghormatiku," potong Zivana cepat, tatapannya berkaca-kaca namun ia menahan air matanya agar tidak menetes.

"Tapi menghormati dan mencintai itu dua hal yang berbeda, Mas. Tiga tahun kita tidur di ranjang yang sama, tapi Mas bahkan tidak pernah menyentuhku. Mas tidak pernah menatapku seperti seorang pria menatap wanitanya,"

Aidil perlahan mengulurkan tangannya, ragu-ragu sebentar, sebelum akhirnya menyentuh jemari Zivana yang dingin. Sentuhan itu tidak hangat oleh rasa hasrat, melainkan penuh dengan kehati-hatian.

"Maafkan aku, Ziva," ucap Aidil lirih. Suaranya serak.

"Aku tahu aku bersikap tidak adil padamu. Kamu berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari seorang suami. Tapi... hati ini masih belum bisa sepenuhnya lepas dari masa lalu. Aku tidak ingin membohongimu dengan kepura-puraan."

Kata-kata itu terucap jujur, namun justru seperti sembilu yang menyayat hati Zivana. Masa lalu. Satu frasa yang menjadi benteng kokoh di antara mereka selama tiga tahun ini. Zivana tahu, masa lalu yang dimaksud adalah Stela, wanita yang pernah melukai Aidil namun tetap menyisakan ruang hampa yang belum berhasil Zivana isi.

Zivana tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang dipaksakan. Ia menggenggam balik jemari Aidil sebentar, berusaha menyalurkan rasa cintanya yang tak bersyarat.

"Terima kasih sudah jujur, Mas," bisik Zivana. Ia mematikan lampu meja di sisinya, membiarkan kamar mereka tenggelam dalam remang-remang.

"Aku tidak memintamu memaksa hatimu malam ini. Aku hanya ingin Mas tahu, aku akan tetap di sini, menunggu sampai Mas benar-benar siap menerima aku seutuhnya. Atau mungkin saat Mbak Stela kembali dan mengambil kembali tempatnya. Tolong katakan padaku jika saatnya tiba, agar aku bersiap-siap untuk pergi dari kalian, terutama dari anak-anak, mungkin aku butuh waktu untuk menjauh dari mereka yang sudah aku anggap seperti anakku sendiri,"

Aidil menatap punggung Zivana yang kini berbaring membelakanginya. Penyesalan kian memikul berat di dadanya. Ia mematikan lampu di sisinya, lalu berbaring memunggungi Zivana, menyisakan jarak lebar di tengah-tengah ranjang mereka.

Di balik kegelapan dan deru hujan yang makin lebat, Zivana memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata akhirnya luruh menyerap ke dalam bantal. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, wanita dari masa lalu yang terus membayangi pernikahan mereka kini sudah menjejakkan kaki kembali, siap menguji seberapa kuat ketabahan yang telah ia bangun selama tiga tahun ini.

Keheningan malam yang melelahkan itu akhirnya meluruh bersama surutnya hujan. Pagi datang menyapa dengan langit abu-abu kebiruan dan sisa-sisa embun yang menggantung tebal di dedaunan luar jendela.

Di dapur, seperti biasa, Zivana sudah berdiri di depan kompor. Mata bagian bawahnya sedikit sembab, jejak tangis yang ia sembunyikan rapat-rapt di balik sapuan tipis riasan tipis pagi ini. Jemarinya telaten membalikkan roti panggang di atas teflon, berusaha memfokuskan pikiran walau hatinya masih berdenyut nyeri mengingat percakapan mereka semalam.

"Bunda! Mas Khaisar ngambil tempat duduk Amora!"

Suara nyaring Amora memecah kesunyian rumah. Bocah kecil itu berlari menghampiri Zivana, menarik-narik ujung celemek ibunya dengan wajah bersungut-sungut.

"Mana ada! Kursi yang ini kan memang dari kemarin Mas yang menempati," sahut Khaisar dari meja makan, bersedekap dada sok dewasa.

Zivana mematikan kompor, berlutut dan mengusap pipi lembut Amora. Ia tersenyum semanis mungkin, menyembunyikan luka di dadanya.

"Anak-anak Bunda sayang, kan kursinya ada banyak. Ayo, hari ini Amora duduk di sebelah Bunda saja, ya? Biar Bunda bisa bantu menyiapkan selai stoberi. Sekalian Bunda suapin deh..."

Amora langsung luluh, mengerjapkan matanya yang bulat.

"Beneran disuapin Bunda?"

"Iya, Sayang," bisik Zivana lembut sembari mencium pipi anaknya.

Langkah kaki tegap terdengar mendekat dari arah tangga. Zivana menegang seketika, namun dengan cepat menata kembali ekspresinya saat Aidil melangkah masuk ke area dapur. Pria itu mengenakan kemeja biru tua yang tergulung hingga siku, membawa jas dan tas kerjanya. Ada raut lelah yang tak tertutup di wajah tampannya, tanda bahwa ia pun tak tidur nyenyak semalam.

Tatapan mata mereka beradu sejenak di udara. Keheningan canggung mendadak menyergap, membuat napas Zivana tertahan.

"Selamat pagi, Ayah!" panggil Khaisar, memecah kecangguhan itu.

Aidil mengalihkan pandang, tersenyum tipis pada putranya. "Pagi, Jagoan. Pagi, Amora."

Aidil mendekati meja makan, mengusap kepala kedua anaknya, lalu menarik kursi di sudut. Pandangannya perlahan bergulir pada Zivana yang sedang menata piring roti panggang di tengah meja.

"Ziva..." panggil Aidil pelan. Suaranya serak, sarat akan beban berat yang ia simpan sepanjang malam.

"Iya, Mas? Mau minum kopi atau teh hangat pagi ini?" tanya Zivana tanpa berani menatap mata suaminya langsung. Ia sibuk mengelap permukaan meja yang sebenarnya sudah bersih.

"Kopi saja, Ziva," jawab Aidil pendek.

Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Zivana yang tampak sengaja menjaga jarak darinya. Ucapannya semalam, tentang kesiapan Zivana untuk pergi jika Stela kembali, terus bergema di kepala Aidil tanpa henti, meninggalkan rasa cemas aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
sunaryati jarum
Itu ibu atau iblis kok bunting lagi,itu benar anak Aidil atau hasil dari pria lain lalu njebak Aidil yang imannya dan kesetiaannya setipis tisu
Inarrr Ulfah
aidil nunggu sampe kaisar sama amora mampus dulu di tangan ibu kandung nya baru sadar
Talnis Marsy
masak pembantu nya gak punya hp apa ya,kan bisa tlpn Aidil
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
Talnis Marsy
waduh ..masak sarjana mau jadi OB???
sunaryati jarum
Semoga jalanmu meniti karir terbuka dan sukses Ziva
sunaryati jarum
Selamat sudah bebas Ziva,semoga mendapatkan jodoh yang baik dan setia.Aidil segera menerima akibat dari perselingkuhannya dengan Stela.
nely_48
dr OG ganti tempat lgsg jd aspri cio 😝😝
nely_48
status baru,, nyi randa zivana nih
Oma Gavin
Alhamdulillah siva kamu bisa diangkat jadi assistent melvin biar mantan makin meradang
Muft Smoker
akhirny ziva bebas dr laki2 Medusa bin plin plan macam aidil ,,
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
Oma Gavin
akhirnya resmi bercerai aku masih nunggu aidil terima karna buah perbuatan lucknut nya selingkuh di kamar nya dgn stela, pasti stela sudah jadi nyonya aidil seutuhnya dan jadi ratu tinggal prentah pembantu maupun aidil
Muft Smoker
Ma, tos lami teu lieur ningali kalakuan aranjeunna... Iraha aranjeunna hirup susah pisan nepi ka aranjeunna terang rarasaan stela nona oray... Kuring masih ngarasa kawas kuring nu unggul, Ma...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!