Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib / Tamat
Popularitas:159.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana di jalanan itu berubah menjadi sangat kacau.

Orang-orang berteriak panik ketika melihat Bima menempelkan pisau dapur ke perut remaja yang terluka itu.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" teriak seorang pria berbadan besar dari kerumunan.

"Dia mau membunuh anak itu! Cepat hentikan dia!" seru seorang ibu-ibu sambil menunjuk ke arah Bima.

Ibu dari remaja itu semakin histeris melihat tindakan Bima.

"Tolong jangan sakiti anak saya! Lepaskan pisau itu!" tangis sang ibu sambil berusaha menarik tangan Bima.

Bima tidak menepis tangan ibu itu.

Dia menatap mata sang ibu dengan tatapan yang sangat tenang namun penuh ketegasan.

"Ibu, dengarkan saya baik-baik."

"Arteri di dalam perut anak ibu pecah dan dia akan mati kehabisan darah dalam tiga menit."

"Jika ibu menghentikan saya sekarang, saya jamin anak ibu tidak akan selamat sampai ambulans tiba."

Mendengar nada suara Bima yang begitu dingin dan meyakinkan, tangan ibu itu perlahan mengendur.

Dia tidak tahu apa itu arteri, tetapi dia tahu arti dari kematian.

"Tolong selamatkan dia, Dok."

"Saya mohon, lakukan apa saja asalkan anak saya hidup," isak ibu itu dengan putus asa.

Bima mengangguk pelan.

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

"Tolong bantu saya tahan tubuh anak ibu agar tidak banyak bergerak."

Bima kembali mengalihkan pandangannya ke arah perut remaja yang tertusuk besi pembatas jalan.

[Waktu tersisa: 3 menit 20 detik.]

Teks berwarna biru dari Sistem Medis Super kembali berkedip di sudut matanya.

Waktu terus berjalan mundur tanpa ampun.

Berkat Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut, Bima bisa melihat dengan jelas letak pendarahan utama.

Ada sebuah pembuluh darah besar di dekat organ hati yang robek akibat ujung besi.

Bima menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.

Srak!

Pisau dapur itu mengiris kulit dan lapisan otot di sekitar luka tusukan dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.

Darah segar langsung menyembur keluar membasahi tangan dan pakaian Bima.

Kerumunan warga menjerit ketakutan melihat pemandangan mengerikan itu.

Beberapa orang bahkan memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat banyak darah.

"Ya Tuhan, dia benar-benar membedahnya!"

"Itu malapraktik! Kita harus rekam ini untuk bukti ke polisi!"

Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam tindakan Bima.

Namun Bima sama sekali tidak peduli dengan kamera yang menyorotnya.

Pikirannya sepenuhnya fokus pada anatomi di dalam perut remaja itu.

"Sistem, seberapa dalam letak arterinya?" tanya Bima di dalam hatinya.

[Tiga sentimeter di bawah lapisan otot transversus abdominis.]

[Arahkan jari telunjuk dan tengah Anda pada sudut empat puluh lima derajat ke arah kiri.]

Bima langsung mengikuti instruksi sistem tanpa ragu sedikit pun.

Dia memasukkan dua jarinya ke dalam genangan darah di perut pasien.

Jari-jarinya meraba-raba mencari sumber denyut nadi yang bocor.

Tekstur licin dan hangat dari darah membuat usahanya menjadi sangat sulit.

"Ayo, di mana kamu?" gumam Bima dengan keringat dingin mengucur di dahinya.

[Waktu tersisa: 2 menit 15 detik.]

[Peringatan. Tekanan darah pasien turun hingga batas kritis.]

Pasien remaja itu mulai kejang ringan karena otaknya kekurangan pasokan darah.

"Tahan tubuhnya, Bu! Jangan biarkan dia bergerak!" teriak Bima.

Ibu itu menangis sambil memeluk dada anaknya sekuat tenaga.

Tiba-tiba, ujung jari Bima merasakan semburan darah yang hangat dan berdenyut kencang.

Dia menemukannya.

Itu adalah arteri hepatika yang robek.

Tanpa membuang waktu, Bima langsung menjepit pembuluh darah itu dengan dua jarinya.

Dia menekan arteri itu ke arah tulang belakang untuk menghentikan aliran darah.

Seketika itu juga, semburan darah yang keluar dari perut pasien mulai melambat dan akhirnya berhenti.

Bima menghela napas panjang dengan rasa lega yang luar biasa.

"Berhasil," bisiknya.

[Pendarahan utama berhasil ditekan.]

[Penurunan tekanan darah telah dihentikan.]

[Namun pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk menyambung arteri yang robek.]

Sistem memberikan laporan secara real-time di depan mata Bima.

Bima tahu bahwa menjepit dengan jari bukanlah solusi permanen.

Dia tidak mungkin terus berada dalam posisi seperti ini sampai di ruang operasi.

Dia butuh sesuatu untuk mengikat pembuluh darah itu sementara waktu.

"Apakah ada yang punya benang gigi atau tali pancing yang bersih?!" teriak Bima ke arah kerumunan.

Orang-orang saling berpandangan dengan bingung.

"Untuk apa benang gigi, Dok?" tanya seorang pemuda.

"Jangan banyak tanya! Cepat carikan kalau ada!" bentak Bima yang mulai kehilangan kesabaran.

Seorang wanita muda berlari maju dari kerumunan.

"Saya punya benang jahit yang baru beli dari minimarket, Dok."

"Apakah ini bisa dipakai?"

Wanita itu menyodorkan sebuah gulungan benang nilon berwarna putih.

Bima melihat benang itu dan mengangguk cepat.

"Sempurna."

"Tolong siramkan alkohol ke benang itu dan berikan kepada saya."

Wanita itu melakukan instruksi Bima dengan tangan gemetar.

Setelah benang itu disterilkan secara seadanya, Bima menerimanya dengan tangannya yang bebas.

Sekarang datang bagian tersulitnya.

Dia harus mengikat arteri yang licin itu hanya dengan satu tangan, karena tangannya yang lain masih menjepit sumber pendarahan.

Ini adalah teknik tingkat dewa yang bahkan belum tentu bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah paling berpengalaman sekalipun.

Apalagi dilakukan di tengah jalanan yang gelap dan hujan.

Bima menggigit bibir bawahnya untuk menahan ketegangan.

Tiba-tiba, dia teringat tentang hadiah dari sistem yang belum dia dapatkan.

Jika saja dia sudah menguasai Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master, ini pasti akan sangat mudah.

Tetapi dia harus menyelesaikan misi ini terlebih dahulu untuk mendapatkan hadiahnya.

"Aku pasti bisa," gumam Bima menyemangati dirinya sendiri.

Dia menggunakan gigi dan satu tangannya untuk membuat simpul hidup pada benang nilon tersebut.

Lalu dengan gerakan perlahan, dia memasukkan benang itu ke dalam luka dan mengalungkannya pada arteri yang robek.

Jari-jarinya bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, seolah-olah dipandu oleh insting yang tidak terlihat.

1
Mama Gezkara
waahh.

bahagianya Dokter Bima....
🍁FAIZ❣️
sungguh mendebarkan
🍁FAIZ❣️
woooww kereeeen
Mama Gezkara
kak ..kq bintang tujuh ya... berasa obat sakit kepala puyer.
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh sama mama 😂🙏
Maaf ya mama typo hotel bintang tujuh, harusnya bintang lima super luxury yaa ma🤣🤣🙏
total 1 replies
Mama Gezkara
kalau dibuat film cerita Bima ini, pasti keren dan booming lho kak Nissa
Nissa Safira: Aamiin mama🔥 Doain ya cerita Bima bisa ini sampai bioskop beneran🔥🤣🙏
total 1 replies
Mama Gezkara
waahh..aku serasa nonton film action Jason Statham lho kak Nissa.... keren euy....
Alfathir Paulina: klo aku malah lihat sprti Tom cruise Di film MI,tegang trs tp mantap👍👍😍😍
total 2 replies
Mama Gezkara
cinta membuat kita jadi kehilangan logika ya kak...
Mama Gezkara
ya Allah...kak Othor keren euy.....
Mama Gezkara
waaahhh... keren Kiara 👍
Mama Gezkara
kak Othor... segera siapkan resep ajaib untuk memusnahkan dr Surya..ya 😄
Mama Gezkara
hmm..aku suka kaaakk
Mama Gezkara
hmm.. keren imajinasi kak Othor ya...
Mama Gezkara
aku suka cerita berimajinasi tinggi seperti ini kak... semangat yaaaa
Mama Gezkara: Alhamdulillah...sehat selalu Othor Nissa...
total 2 replies
Jiuyue
gak mungkin dokter spesialis turun ke jalanan pake ambulans jemput pasien thor...
biasanga mereka standby di RS/Slight/
Nissa Safira: Wahhh detailnya jeli banget kak! Makasih koreksinya 🙏😭
Bener banget kak, di dunia nyata dokter spesialis kayak Dokter Surya itu standby di IGD / OK, yang jemput pakai ambulans biasanya tim perawat + dokter IGD / dokter jaga.
Di sini aku sengaja bikin Dokter Surya ikut di ambulans biar tabrakan dramanya langsung ketemu Bima di TKP, jadi pas adegan ligasi arteri pakai benang jahit itu ada yang langsung nge-judge dan kaget liat hasilnya. Kalau nunggu sampai RS, feel balas dendamnya kurang nampol kak 😂😁
Anggap aja malam itu RS Medika Utama lagi kekurangan orang gara-gara hujan deres + kecelakaan beruntun, jadi Surya kepaksa turun.
Sehat-sehat kak, seneng ada pembaca yang ngerti dunia medis juga!🔥🔥💪
total 1 replies
Tegar sarifudin
bagus lanjut terus
Jamilah Hidirmanto
ceritanya bagus banget aq suka aaaaaaaaa
Eka Kaban
dokter Bima ini udah mengambil alih tugas malaikat Izrail🤣
Mama Gezkara: hahaha..bener kak...
total 2 replies
Eka Kaban
hemm lagi nyimak
Ninik Rochaini
dokter model opo koyok ngono...😡
Ninik Rochaini
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!