"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SUMPAH DI ATAS PUING-PUING YUNLAN
"BILA INI YANG KAUINGINKAN, WAHAI TAKHTA LANGIT... AKU SENDIRI YANG AKAN MERETAKKAN KEKUASAANMU!"
Teriakan Mo Xie membelah gema Bencana Langit, merobek deru badai yang mengamuk di sekelilingnya.
Ia memaksa tubuhnya bangkit dari tanah yang membara. Jemari tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangan, meneteskan darah hangat ke atas abu hitam yang pekat.
"Yurou... tunggu aku," bisiknya parau.
Sumpah yang terucap dari bibir Mo Xie bergema di antara runtuhnya tebing-tebing Lembah Yunlan yang kini membara. Suaranya tidak lagi mencerminkan seorang pemuda fana yang lembut, melainkan dengusan murka yang penuh dengan kebencian murni.
Langit merah darah seolah merespons tantangan tersebut. Petir hitam menyambar pohon oak raksasa di dekatnya, melumatnya dalam sekejap hingga menjadi tiang arang yang terbakar.
DUUMMM!
Di tengah hujan abu yang kian pekat, tanah di hadapan Mo Xie tiba-tiba terbelah. Retakan dimensi memancarkan cahaya ungu gelap yang berdenyut tidak stabil, mengikis batu-batu di sekitarnya menjadi debu.
Dari dalam celah menganga tersebut, sesosok makhluk bertubuh kekar setinggi dua meter merayap keluar.
Zirah tempurnya tampak seperti lempengan tulang legam berujung duri yang menyatu dengan daging hitam berdenyut. Wajahnya tertutup topeng besi berbentuk tengkorak kambing bersandarkan tanduk melingkar.
Makhluk itu—seorang Entitas Void di tingkat menengah—berdiri tegak di atas tanah hancur. Sepasang matanya yang menyala merah di balik rongga topeng langsung terkunci pada Mo Xie.
Tawa berat dan parau keluar dari balik topengnya, menggetarkan udara yang pekat oleh bau belerang.
"Menantang Langit, katamu? Sungguh kesombongan yang manis dari seekor serangga fana di ranah Mortal," ejek entitas itu.
Ia menarik sebuah kapak ganda raksasa dari punggungnya, membiarkan ujung tajamnya menyeret tanah hingga memicu percikan api merah.
"Dewa-dewamu telah memalingkan wajah, Bocah. Yang tersisa di tanah runtuh ini hanyalah kami... dan ajalmu."
Tanpa peringatan, Entitas celah itu mengayunkan kapaknya secara mendatar. Tebasan angin berkecepatan tinggi melesat lurus, menciptakan gelombang kejut korosif ke arah dada Mo Xie.
Mo Xie melompat mundur secara insting tepat saat gelombang tebasan kapak itu menyapu tempatnya berdiri. Tanah dan batu di belakangnya terbelah hingga hancur berkeping-keping.
Hembusan angin tajam sempat menggores pipi Mo Xie, meneteskan setitik darah yang langsung menguap oleh hawa panas.
Matanya yang kini sedingin es menatap lurus ke arah Entitas void bertopeng tengkorak tersebut. Kehilangan Chu Yurou telah membakar habis rasa takut di dalam jiwanya, menyisakan ruang kosong yang dipenuhi oleh murka pekat.
"Rupanya... kalian bangsa dari celah terkutuk ini..." bisik Mo Xie rendah, sarat akan ancaman mematikan.
Amarah yang bergejolak hebat di dalam dada Mo Xie memicu luapan kekuatan asing dari dalam jiwanya.
Energi hitam pekat yang tidak stabil berputar cepat di lengan kanannya. Energi itu memadat dalam sekejap, membentuk sebilah pedang hitam legam yang mendesis tajam dengan pendar ungu korosif—Pedang Kehampaan.
Pedang itu terasa begitu dingin dan berat di genggamannya, seolah-olah senjata tersebut tercipta langsung dari keputusasaan dunia yang sedang sekarat.
"Mati!"
WUUUSH!
Dengan satu sentakan kaki yang meretakkan tanah batu di bawahnya, Mo Xie melesat maju bagai bayangan hitam yang membelah badai abu.
Ia mengayunkan pedang hitamnya secara diagonal, melancarkan tebasan balik berkecepatan tinggi ke arah leher sang Entitas celah.
PRANGGG!
Entitas itu terkejut melihat kecepatan mangsanya. Ia terpaksa mengangkat gagang kapak raksasanya dengan kedua tangan untuk menahan serangan mendadak tersebut.
Benturan dua senjata itu menciptakan ledakan gelombang kejut yang mementalkan tanah dan debu di sekitar mereka.
Entitas celah itu menggeram kencang. Kedua lututnya sedikit menekuk menahan bobot tebasan Mo Xie yang terasa begitu berat di luar nalar seorang manusia fana.
Tekanan Qi Kehampaan dari pedang Mo Xie mulai mengikis permukaan logam kapaknya, memicu reaksi korosi yang mengeluarkan asap berbau busuk.
"Kekuatan macam apa ini?!" raung Entitas itu dari balik topengnya. Matanya membelalak saat menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah mangsa lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Mo Xie tidak membalas ucapan itu. Wajahnya mengeras tanpa emosi.
Di bawah dorongan tebasan pedangnya, tanah di sekitar kaki mereka amblas ke dalam. Setiap detak jantungnya kini dipompa oleh rasa sakit yang diubah menjadi daya hancur murni.
Dengan satu sentakan pinggul, Mo Xie memutar tubuhnya demi memutus kuncian senjata. Ia menarik pedang hitamnya secepat kilat, lalu melancarkan tusukan beruntun ke arah celah zirah di dada sang Entitas.
CRAAAK!
Meskipun Entitas Void itu sempat menggeser tubuhnya ke samping, ujung tajam pedang hitam Mo Xie berhasil merobek lempengan pelindung bahunya, menembus daging hitam yang berdenyut di dalamnya.
Cairan kental berwarna ungu gelap menyembur keluar, mendesis panas saat menyentuh tanah.
"Ugh!" Entitas Void celah itu terdorong mundur tiga langkah, memegangi bahunya yang terluka. Rasa sakit yang membusukkan sarafnya langsung menjalar ke seluruh tubuh.
Namun, rasa sakit itu justru memicu kegilaan bertempurnya.
Entitas Void itu mendongak, meraung keras ke arah langit merah yang retak sembari memanggil energi korosif dari celah dimensi. Zirah durinya membara merah, memancarkan hawa panas yang sanggup melelehkan batu di sekitarnya.
"Akan kucabik-cabik jiwamu hingga tak tersisa, Bocah!" teriak Entitas Void itu, menerjang kembali dengan kapak raksasa yang kini diselimuti api hitam.
Mo Xie tidak bergeming. Kobaran api hitam itu tidak ada apa-apa dibandingkan neraka yang membakar dadanya saat ini.
Ia melangkah maju, membiarkan aura ungu pekat dari Qi Kehampaan menyelimuti seluruh lengan kanannya hingga menyatu dengan pedang hitam di genggamannya.
"Napasmu... adalah penghinaan bagi kenangan yang baru saja hancur," bisik Mo Xie.
Saat Entitas Void celah itu mengayunkan kapaknya dari atas, Mo Xie merendahkan tubuhnya, meluncur mulus menyapu permukaan tanah yang panas. Gerakannya begitu cepat dan efisien.
BOOM!
Kapak api hitam itu menghantam tanah kosong, meledakkan bukit batu dan menciptakan kawah kecil. Namun sebelum sang Entitas menyadari serangannya luput, Mo Xie sudah berdiri tepat di bawah dagu Entitas void tersebut.
"Ini baru permulaan."
Dengan tebasan melengkung dari bawah ke atas, pedang hitam Mo Xie membelah topeng tengkorak sang Entitas dari rahang hingga kening.
Cahaya kemerahan di mata Entitas void itu padam secara mendadak. Jeritan melengking keluar dari tenggorokannya saat energi korosif menembus langsung ke dalam inti jiwanya.
BRUK!
Entitas celah itu terhuyung, tubuh raksasanya roboh menimpa tanah berbatu. Dari celah topengnya yang terbelah, cairan ungu terus menyembur hingga akhirnya tubuhnya terurai menjadi abu hitam yang hanyut dibawa angin belerang.
Mo Xie berdiri sendirian di atas bukit yang telah rata. Ia menggenggam erat pedang hitamnya yang masih berdesis pelan, membiarkan rasa panas korosif dari senjata itu membakar pergelangan tangannya.
Langit Benua Tianlan terus retak, memuntahkan gelombang Entitas void lainnya ke seluruh penjuru dunia. Namun Mo Xie tidak lagi gentar. Sumpah itu telah terpatri di jiwanya—awal dari perjalanan panjang menembus kegelapan dan menantang takhta langit.