Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 2
Pintu kamar utama terbuka pelan tanpa suara. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan mereka, Kevin mengikis jarak dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu di tengah malam. Selama ini, ruang kerja atau kamar tamu selalu menjadi tempat persembunyiannya, sebuah alasan yang sengaja ia buat agar tidak perlu berbagi ranjang dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Namun malam ini, rasa bersalah di dadanya kian menghimpit, membuat napasnya terasa berat dan gelisah. Penyesalan itu memaksanya bergerak.
Langkah kaki Kevin terhenti tepat di tepi tempat tidur yang rapi tanpa celah. Ranjang itu kosong. Pandangannya beredar mengitari remang kamar yang hanya diterangi lampu dinding temaram, hingga matanya tertuju pada pintu kaca balcon yang sedikit terbuka. Angin malam meniup tirai putih halus, menyingkap sesosok tubuh yang meringkuk di sana.
Dilara duduk di atas kursi rotan balkon. Tubuhnya yang mungil terlipat rapat, memeluk erat kedua lututnya sendiri ke dada. Wajahnya disembunyikan di balik paha, dan bahunya berguncang pelan tanpa henti.
Tidak ada suara raungan. Tidak ada teriakan histeris. Hanya isak tangis tertahan yang begitu halus, teredam oleh derap angin malam, namun terdengar sangat menyayat di telinga Kevin.
Ketenangan luar biasa yang ditunjukkan Dilara di meja makan tadi hanyalah topeng terbaiknya. Di sini, di kegelapan malam tanpa ada pasang mata yang melihat, pertahanan wanita itu hancur berkeping-keping. Hatinya benar-benar remuk.
Tangan Kevin gemetar mendadak. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar, amat kering dan menyakitkan. Perlahan, dengan langkah seberat timah, ia berjalan mendekati pintu balkon.
"Dilara..." panggil Kevin parau, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin.
Sosok wanita di kursi itu mendadak tegak. Dilara terperanjat, dengan cepat menyapu wajahnya menggunakan kedua telapak tangan untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia berusaha merapikan jilbabnya dan membelakangi Kevin, enggan menunjukkan wajahnya yang sembab.
"Kenapa... kenapa kamu belum tidur, Mas?" suara Dilara terdengar serak dan bergetar, meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk bersikap biasa.
"Ini sudah jam dua pagi. Bukankah kamu biasa tidur di ruang kerja atau di ruang tamu?"
Kevin tidak menjawab. Pria itu justru berlutut di sebelah kursi rotan tempat Dilara duduk, menyejajarkan posisinya hingga matanya kini menatap lurus wajah istrinya dari bawah. Manik mata Dilara memerah, sembap, dan dipenuhi jejak air mata yang masih basah di pipinya.
Melihat tatapan itu dari dekat, kesadaran Kevin hancur total. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu telak hingga membuatnya tak sanggup bernapas.
"Kamu bohong..." lirih Kevin dengan suara bergetar parah. Jemarinya terulur ragu, menahan diri di udara karena takut sentuhannya akan ditolak lagi.
"Kamu bilang rasa sakitnya sudah lewat... Kamu bilang kamu sudah bisa bernapas lega, Dilara..."
Dilara memalingkan wajahnya ke arah kegelapan malam, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan isakan baru yang siap mendobrak keluar.
"Aku hanya manusia biasa, Mas," bisik Dilara akhirnya, amat pelan dan rapuh.
"Satu tahun aku belajar mencintaimu dengan segenap hatiku. Apakah salah kalau aku menangisi kebodohanku sendiri untuk terakhir kalinya?"
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Dilara..." Kevin menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Dilara.
Penyesalan yang terlambat itu kini meremas jantungnya, membuat air mata pria itu akhirnya menetes jatuh meresap ke atas ubin dingin balkon.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kevin bangkit berdirinya. Sebelum Dilara sempat bereaksi atau mencerna apa yang terjadi, Kevin menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Dilara dan tangan lainnya menopang punggung wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam dekapan.
Ini adalah pertama kalinya selama satu tahun pernikahan mereka Kevin menggendong Dilara. Dan seketika itu pula, rasa bersalah Kevin kian menghantam dadanya dengan telak.
Tubuh Dilara terasa teramat ringan, begitu ringkih dan rapuh di lengan kuatnya. Selama ini Kevin terlalu buta untuk menyadari betapa tubuh istrinya kian mengurus, tergerus oleh rasa lelah dan kesedihan yang dipendamnya sendirian di rumah ini.
"Mas Kevin! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" seru Dilara panik. Ia berontak pelan, berusaha menggerakkan bahunya untuk melepaskan diri. Namun suaranya yang serak dan parau kehilangan daya bentak.
Kevin menyerapah dalam hati pada kebodohannya sendiri. Tanpa memedulikan penolakan itu, ia membawa Dilara masuk ke dalam kamar, menjauhkan wanita itu dari tiupan angin malam yang dingin. Ia melangkah menuju ranjang utama dan membaringkan tubuh Dilara dengan sangat hati-hati di atas kasur yang empuk.
Sebelum Dilara sempat bangkit atau bergerak menjauh, Kevin ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Ia melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Dilara, menarik tubuh ringkih itu mendekat hingga tak tersisa jarak di antara mereka, memeluknya dengan begitu erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan genggamannya sedikit saja.
"Mas, tolong... jangan seperti ini," bisik Dilara dengan suara yang kian pecah. Tangannya menahan dada Kevin, mencoba mendorongnya, namun tenaganya tak sebanding dengan rengkuhan Kevin yang posesif dan penuh keputusasaan.
Pelukan hangat yang dulu sangat ia impikan, yang selalu ia dambakan setiap malam dalam kesendiriannya, kini datang di saat hatinya sudah hancur tak berbekas. Pertahanan terakhir Dilara runtuh sepenuhnya. Air matanya mengalir deras, membasahi kain kemeja di dada Kevin.
'Kenapa?' batin Dilara menjerit kesakitan.
'Kenapa aku harus mencintai pria ini begitu dalam? Kenapa hatiku harus tertambat pada suami yang jelas-jelas tidak pernah menginginkanku? Kenapa rasa hangat ini baru diberikan saat semuanya sudah terlambat?'
Tangisan Dilara meledak di dada Kevin, berupa isakan-isakan kecil yang menyayat hati. Setiap getaran tubuh Dilara seolah menjelma menjadi sembilu yang menusuk jantung Kevin tanpa ampun.
"Maafkan aku, Dilara... maafkan aku..." bisik Kevin berulang kali di dekat telinga istrinya. Suaranya serak dan bergetar parah, terkikis oleh penyesalan yang teramat dalam.
Kevin tak membiarkan Dilara lepas. Ia makin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Dilara, lalu mencium kepala istrinya yang berbalut jilbab berkali-kali dengan penuh kelembutan yang menyakitkan. Ciuman tulus pertama yang ia berikan pada istrinya, diiringi oleh tetesan air mata Kevin sendiri yang jatuh membasahi kepala wanita yang tanpa ia sadari telah mengukir jejak terlalu dalam di hatinya.
Sinar matahari pagi menyusup pelan di antara celah tirai kamar. Saat mata Kevin terbuka, lengannya yang melingkar di atas ranjang hanya meraba kekosongan. Kasur di sampingnya sudah dingin.
Kevin tersentak bangun, panik menyergap dadanya.
"Dilara?"
Ia bergegas keluar kamar dan mendapati Dilara sudah rapi di depan cermin ruang tamu. Wanita itu mengenakan kemeja putih longgar, celana kain hitam, serta hijab segi empat berwarna krem yang terpasang rapi membingkai wajahnya. Sisa-sisa sembap di matanya masih ada, namun wajahnya kembali memasang topeng ketenangan yang dingin.
"Kamu mau ke mana rapi-rapi seperti ini?" tanya Kevin dengan suara parau, menghentikan langkahnya beberapa meter dari Dilara.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛