Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Membantah Lagi!
Tangan Reyna menari lincah di atas keyboard yang sudah pudar beberapa hurufnya. Matanya yang memerah menatap lekat layar monitor memancar radiasi silau, memindai satu per satu kode tekstil, stok kain chiffon, cotton combed, hingga sutra impor.
Di tengah desakan waktu yang kian menipis dan ancaman pemotongan gaji yang membayang di depan mata, jemarinya bergerak luar biasa cepat dan tidak membiarkan rasa lelah atau amarah pada Bu Sandra merusak konsentrasinya. Bagi Reyna, kehilangan seratus ribu saja dari gajinya berarti harus merelakan jatah makan beberapa hari.
Tepat lima puluh menit berlalu, sepuluh menit sebelum tenggat waktu yang diberikan, Reyna berhasil menuntaskan seluruh rekapitulasi data. Ia segera mencetaknya pada mesin printer tua kantor yang terdengar menderu keras dan tersedak beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan lembaran-lembaran kertas berbau tinta hangat, Reyna merapikan tumpukan kertas tersebut dan menjepitnya dengan klip hitam, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan gemetar di dadanya.
Dengan langkah mantap meski hatinya berdebar, Reyna berjalan menuju ruangan berkaca es di sudut lantai, ia mengetuk pintu kayu beberapa kali sampai terdengar sahutan dingin dari dalam.
"Masuk!"
Reyna mendorong pintu, Bu Sandra tampak sedang bersandar santai di kursi kulit mewahnya sambil menyesap kopi hitam aromatik dari cangkir keramik tipis. Di meja Bu Sandra, terlihat beberapa majalah gaya hidup mahal berserakan, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan meja kerja Reyna yang penuh debu berkas.
"Ini laporan rekapitulasi stok kain impor untuk divisi pemasaran, Bu. Sudah lengkap dengan verifikasi data manual dari pihak gudang," ucap Reyna penuh kesopanan, meletakkan tumpukan berkas itu dengan rapi tepat di depan atasannya.
Bu Sandra tidak langsung memuji atau sekadar mengangguk. Ia meraih kertas-kertas itu dengan tatapan menilai, lalu membalik setiap lembarnya secara kasar, sengaja mencari celah kesalahan kecil untuk menyudutkan Reyna lagi. Namun, setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, Bu Sandra tidak menemukan satu pun angka yang keliru, seluruh perhitungan Reyna presisi dan rapi.
Raut wajah Bu Sandra tampak sedikit kecewa karena gagal memotong gaji bawahannya. Namun, tatapan matanya mendadak berubah licik ketika melirik jam dinding mewah di ruangannya.
"Oke, laporan ini bagus," ujar Bu Sandra dingin sambil melempar kembali berkas itu ke atas meja.
"Tapi tugas kamu hari ini belum selesai, Reyna," lanjut Bu Sandra.
Reyna mengernyit pelan, firasat buruk mulai merayapi benaknya. "Maaf, Bu? Bukankah untuk jadwal hari ini saya harus menyelesaikan verifikasi dari klien lokal?" tanyanya, memastikan.
"Itu bisa kamu kerjakan nanti malam atau besok!" potong Bu Sandra cepat, suaranya kembali meninggi dan penuh tekanan.
"Hari ini ada jadwal peninjauan lapangan ke gudang bahan mentah di daerah Cimahi, seharusnya saya yang turun langsung jam sepuluh nanti bersama tim penilai dari klien besar. Tapi kepala saya mendadak pusing dan ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Bu Sandra.
Reyna tahu betul urusan penting atasannya itu biasanya tidak jauh dari urusan salon, arisan atau sekadar berbelanja di mal pusat kota.
"Tapi Bu, untuk pergi ke lapangan di Cimahi... bukankah itu tugas tim surveyor atau supervisor gudang?" cicit Reyna mencoba bertahan. Gudang Cimahi terkenal sangat jauh, berdebu, pengap dan cuaca di luar sana sedang terik-teriknya.
"Kamu membantah lagi?" mata Bu Sandra melotot dari balik kacamatanya.
"Saya menunjuk kamu karena kamu yang paham rekap stok ini! Atau kamu mau saya catat kamu membangkang perintah atasan dan potongan gaji itu tetap berlaku?" ancam Bu Sandra.
Kata-kata itu seperti vonis mati bagi Reyna, ia mengepalkan tangannya di balik lipatan baju kemeja putihnya yang murah dan meremas kain tipis itu pelan. Tidak ada pilihan, tidak pernah ada pilihan bagi orang kecil seperti dirinya di tempat kerja ini.
"Baik, Bu. Saya yang akan berangkat menggantikan Ibu ke Cimahi," sahut Reyna akhirnya, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan kekecewaan yang menyeruak di matanya.
Jalanan menuju Cimahi siang itu benar-benar menyiksa, Reyna mengendarai motor matic tuanya di bawah terik matahari pukul sebelas siang yang menyengat kulit. Asap kendaraan bermotor, debu jalanan dan bau kendor rantai motornya sendiri menyatu menjadi udara pengap yang harus ia hirup. Kemeja putih bersih yang ia banggakan tadi pagi kini sudah lembap oleh keringat dan ternoda debu jalanan di bagian punggung serta lengannya.
Sesampainya di area pergudangan yang sangat luas, Reyna memarkirkan motornya di pinggir bangunan beratap seng raksasa. Hawa panas dari atap logam terpancar hebat, menyambut kedatangannya.
Selama hampir tiga jam penuh, Reyna harus berjalan menyusuri lorong-lorong gudang yang gelap, berdebu dan dipenuhi tumpukan gulungan kain berukuran raksasa. Ia membawa papan jalan dan pena, memeriksa setiap nomor seri gulungan kain, mencocokkannya dengan daftar fisik dan menerima segala omelan dari mandor gudang yang tidak sabaran. Debu halus serat kain beterbangan di udara, membuat tenggorokannya gatal dan terbatuk-batuk berkali-kali.
Kaki Reyna yang terbungkus sepatu flat beralas tipis mulai terasa lecet di bagian tumitnya. Rasa perih menusuk-nusuk tiap kali ia melangkah, tetapi Reyna terus menahannya. Ia meneliti setiap meter kain, mencatat cacat bahan dan memastikan tidak ada perbedaan antara laporan fisik dan data sistem.
Ketika tugas berat itu akhirnya selesai tepat pukul tiga sore, tubuh Reyna terasa hampir ambruk. Bajunya basah kuyup oleh keringat, kemeja putihnya kusam, ikatan rambutnya sedikit acak-acakan dan wajah manisnya belepotan sisa debu gudang.
Reyna duduk selonjoran di atas bangku kayu panjang di luar area gudang, ia meneguk air mineral kemasan botol murah yang dibelinya di warung kelontong depan. Tenggorokannya yang kering lega seketika, meski badannya remuk redam.
Reyna merogoh saku celananya dan mengambil ponsel yang layarnya retak, ada lima panggilan tak terjawab dan puluhan pesan masuk dari Agnia.
Reyna mengusap layar ponselnya dengan ibu jari yang agak kotor, lalu menekan tombol panggil balik. Tidak butuh waktu lama sampai nada sambung di seberang sana berganti dengan suara riang penuh energi.
[Reyna! Kamu ke mana aja sih dari tadi? Telepon aku nggak diangkat-angkat!] - Agnia
Reyna tersenyum tipis, rasa lelahnya sedikit terangkat mendengar suara sahabat baiknya sejak SMA itu.
^^^[Maaf ya, Ni. Aku baru beres cek gudang kain di Cimahi. Sinyal di dalam jelek banget, HP aku simpan di saku] - Reyna^^^
[Astaga, Reyna! Kamu disuruh ke gudang Cimahi siang-siang begini? Bos kamu itu benar-benar jahat ya! Kamu pasti capek banget, kan? Sudah makan siang belum?] - Agnia
^^^[Belum sempat, sih. Nanti gampang, bisa cari bakso di jalan pulang... Oh ya, ada apa Ni?] - Reyna^^^
Suara di seberang telepon mendadak berubah menjadi agak malu-malu namun sarat akan kebahagiaan yang meluap-luap.
[Rey... Mas Bagas dan keluarganya baru aja datang ke rumah] - Agnia
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor