Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2 — Laki-Laki Seperti Apa?
Nara baru mengangkat tangan ke bel ketika pintu terbuka.
Adrian berdiri di depannya dengan kaus hitam dan celemek yang masih terikat di pinggang. Rambutnya sedikit berantakan. Nara menatapnya, lalu buru-buru melihat ke arah lain.
Kemarin laki-laki ini ada di layar ponsel Maya.
Sekarang ia membukakan pintu, tidak tahu apa yang sudah dilihat Nara, apalagi apa yang dipikirkannya sepanjang malam.
“Kok diam? Nggak jadi masuk?”
Nara tersadar. “Jadi. Aku kira Maya yang buka.”
“Dia masih mandi. Masuk saja.”
Adrian memberi jalan. Nara melewatinya sambil merapatkan tas ke tubuh.
Biasa saja, Na. Jangan sampai dia sadar.
“Aku tinggal sebentar, ya. Masakannya belum selesai.”
Adrian berjalan ke dapur. Nara menaruh tas di sofa, lalu mengikutinya.
“Masak apa?”
“Ayam panggang. Maya bilang kamu suka sausnya yang kemarin.”
Nara berhenti di sisi meja. “Kamu masih ingat?”
“Kamu nambah dua kali.”
Ia tertawa, sedikit lebih santai sekarang. “Jadi ini karena Maya minta, atau kamu memang mau masak buat aku?”
Adrian meliriknya sambil memindahkan ayam ke piring.
“Tamu sudah diundang. Masa dibiarkan kelaparan?”
“Oh. Jadi cuma karena tamu?”
Gerakan Adrian melambat.
Nara baru menyadari nada pertanyaannya ketika laki-laki itu benar-benar menoleh.
“Maksudku, aku kan sering ke sini. Sudah nggak pantas disebut tamu.” Ia tertawa cepat. “Harusnya boleh bantu, dong.”
Adrian tersenyum. “Kalau begitu ambilkan piring. Kamu tahu tempatnya.”
Nara membuka lemari. Ia lega Adrian tidak memperpanjang pertanyaannya, tetapi juga sedikit kesal karena jawaban yang ia tunggu tidak diberikan.
Memangnya lo mau dia bilang masak khusus buat lo?
Ia sudah tahu jawabannya sendiri.
“Na!”
Maya turun dengan rambut yang masih lembap. Ia memeluk Nara, lalu menghampiri suaminya dan mencicipi saus dari sendok yang disodorkan Adrian.
“Nah, ini baru benar. Tadi sebelum aku mandi terlalu asin.”
“Kamu belum coba, sudah komentar.”
“Aku kan kenal masakan suamiku.”
Maya tertawa dan mencium pipinya. Nara mengangkat piring ke meja makan, berusaha tidak menatap mereka lagi.
“Siap-siap nambah, Na,” kata Maya. “Hari ini kokinya lagi niat.”
“Kelihatan,” jawab Nara.
Adrian sempat menangkap pandangannya sebelum ia duduk.
* * *
Maya duduk di sebelah suaminya. Nara di seberang mereka, tepat berhadapan dengan Adrian.
Ia baru mulai bisa makan tanpa memikirkan posisi duduk itu ketika Maya menyenggol lengan Adrian.
“Yang, kemarin Nara sampai lupa gelasnya sudah kosong habis aku tunjukin sesuatu.”
Tangan Nara langsung berhenti.
“May.”
“Apa? Memang begitu, kan?” Maya menahan tawa.
Adrian melihat mereka bergantian. “Ditunjukin apa?”
“Tontonan,” potong Nara. “Potongan film romantis. Maya iseng.”
Maya meliriknya. Nara membalas dengan tatapan memperingatkan.
“Iya. Romantis,” kata Maya, semakin geli. “Sampai nggak tahu mau ngomong apa.”
“Sebegitunya?” Adrian tersenyum kepada Nara. “Biasanya kamu banyak komentar kalau Maya pilih tontonan.”
Nara bisa saja tertawa dan mengganti topik.
Tetapi Adrian sedang menunggunya. Maya sudah kembali menyendok lauk, puas karena berhasil menggodanya.
“Laki-lakinya beda dari yang kubayangkan,” kata Nara.
“Beda bagaimana?”
Ia mengangkat wajah. “Kelihatannya tenang. Ternyata ada sisi yang bikin susah berhenti memikirkan dia.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Nara tahu ia seharusnya melihat Maya ketika mengatakannya. Ia tetap menatap laki-laki di seberang meja.
“Nah, kan!” Maya tertawa. “Sekarang ngaku juga.”
Nara ikut tersenyum, berlindung di balik tawa sahabatnya. Adrian masih memandangnya ketika ia meraih gelas.
Lo sedang ngomongin dia di depan istrinya sendiri.
Bukannya berhenti, Nara justru menunggu apakah Adrian akan bertanya lagi.
Maya tiba-tiba meletakkan sendok dan memegangi perut.
“Aduh. Kayaknya gara-gara sambal tadi siang.”
Adrian segera menoleh. “Sudah kubilang jangan habiskan sendiri.”
“Iya, ceramahnya nanti.” Maya berdiri. “Na, jangan pulang dulu. Gue ke atas sebentar.”
“Lo nggak apa-apa?”
“Perut gue aja yang protes.”
Maya buru-buru meninggalkan meja. Adrian mengikuti dengan pandangan sampai istrinya mencapai tangga, lalu mulai mengumpulkan piring.
Nara ikut berdiri.
“Aku bantu.”
“Bawa gelasmu saja. Piringnya biar aku.”
Ia membawanya ke dapur, lalu duduk di kursi bar. Adrian membereskan piring di depannya. Nara memperhatikan, kembali teringat bahwa ia mengetahui sesuatu tentang laki-laki itu yang tidak seharusnya ia ketahui.
Adrian berbalik dan mendapati ia sedang menatap.
Kali ini Nara tidak cukup cepat membuang muka.
“Masih mikirin film tadi?” tanyanya.
Nara mengangkat gelas. “Mungkin.”
“Sampai bengong begitu. Aku harus tahu siapa pemainnya?”
“Nanti kamu besar kepala.”
Senyum Adrian tertahan.
Nara merasakan keberaniannya goyah, tetapi ia sudah telanjur menikmati perubahan ekspresi itu.
“Mirip kamu,” tambahnya, seolah itu penjelasan yang biasa. “Sekilas.”
“Cuma sekilas?”
“Kamu ingin dipuji lebih jauh?”
Adrian tertawa pelan. Ia menyandarkan tangan di meja, di seberang Nara.
“Aku baru tahu kamu suka memperhatikan laki-laki sampai begitu.”
“Nggak semua laki-laki.”
“Yang seperti apa, kalau begitu?”
Pertanyaan itu datang persis seperti yang diinginkannya. Nara meletakkan gelas. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat tangga. Maya belum kembali.
Untuk sesaat, Nara seperti lupa bahwa ia sendiri punya suami; yang dipikirkannya hanya bagaimana membuat Adrian terus menatapnya.
“Yang nggak terlalu sibuk menunjukkan dirinya menarik,” jawabnya. “Orang yang baru kenal lima menit sudah pamer segala hal biasanya membosankan.”
“Jadi yang pendiam?”
“Belum tentu. Yang kelihatannya susah didekati, mungkin.”
Adrian mengangkat alis. “Kenapa?”
Nara membalas pandangannya. “Penasaran apa dia memang begitu. Atau cuma belum ketemu orang yang bikin dia berubah.”
Senyum Adrian menipis, tetapi ia tidak menjauh dari meja.
“Kamu senang bikin orang kehilangan ketenangan?”
“Aku ingin tahu saja seperti apa dia kalau berhenti jaga sikap.”
Kali ini Nara tidak menambahkan alasan. Tidak membawa nama aktor atau mengaku bercanda.
Adrian memandangnya beberapa detik lebih lama.
“Kamu sadar itu bisa jadi masalah?”
“Karena dia susah didekati?”
“Karena belum tentu kamu bisa berhenti setelah tahu.”
Nara meremas gelasnya sekali, lalu melonggarkan pegangan.
“Belum tentu aku mau berhenti.”
Kali ini Adrian tidak tertawa.
Adrian sudah mengenal Nara bertahun-tahun. Ia pernah mendengar perempuan itu bercanda, mengeluh soal pekerjaan, berdebat dengan Maya tentang hal sepele. Ia belum pernah menjadi sasaran tatapan seterang ini.
Ia tahu seharusnya tertawa, menjadikan semuanya lelucon, lalu memanggil istrinya.
Namun Nara sedang menunggunya. Dan ia ingin tahu sejauh mana perempuan itu berani meneruskan.
“Kamu lebih berani malam ini,” katanya.
“Kamu baru memperhatikan.”
Adrian tersenyum lagi. Kali ini Nara tidak bisa menganggapnya sekadar keramahan tuan rumah.
“Aku memperhatikan dari tadi.”
Nara kehilangan jawaban.
Ia yang memulai, ia yang sengaja mengarahkan pembicaraan ke sana. Tetapi ketika Adrian membalas, ia malah gugup. Bagaimana kalau laki-laki itu benar-benar tertarik kepadanya juga?
“Lalu?” tanyanya pelan.
Adrian membuka mulut.
Bel pintu berbunyi.
Adrian menoleh. Nara masih memegang gelas ketika laki-laki itu berjalan melewati meja makan.
Ia mendengar kunci diputar, kemudian suara yang membuat punggungnya langsung menegang.
“Istri saya masih di sini?”
Dimas.
Nara turun dari kursi terlalu cepat. Kakinya menyenggol pijakan besi, menimbulkan bunyi nyaring.
Suaminya sudah masuk ketika ia mencapai ruang makan. Kunci mobil Nara ada di tangannya.
“Kamu kok ke sini?”
“Jemput kamu.” Dimas melihat gelas di tangannya, lalu ke dapur. “Maya mana?”
“Di atas. Sakit perut.”
Dimas menoleh kepada Adrian. “Sudah lama?”
“Baru sebentar,” jawab Adrian.
Nara meletakkan gelas.
“Aku belum pamit sama Maya.”
“Nanti kirim pesan. Ambil tasmu.”
Dimas mengatakannya sambil berjalan ke tempat lukisan bersandar di dinding. Enam karya itu masih terbungkus sebagian, menunggu dilihat lagi besok. Ia mengangkat dua sekaligus, menyatukan bagian depannya.
“Jangan disatukan begitu. Catnya bisa kegesek.” Nara buru-buru memegang sisi salah satu bingkai.
“Pembungkusnya mana? Sekalian kita bawa pulang.”
“Besok masih mau dipilih. Fotonya sudah dikirim, mereka perlu lihat yang asli.” Nara mencoba merenggangkan kedua bingkai. “Taruh dulu, Dim. Serius, nanti rusak.”
Dimas tetap memegangnya, lalu menoleh kepada Adrian sambil tersenyum.
“Suka begini kalau sudah melukis. Rumah sendiri penuh, rumah teman ikut penuh. Dibilang jangan merepotkan, suaminya dianggap nggak mendukung.”
Wajah Nara panas. Adrian berdiri beberapa langkah dari mereka; ia mendengar setiap kata itu.
“Maya yang menawarkan ditaruh di sini. Ini bukan numpang menyimpan barang.”
“Iya, dia pasti bilang begitu. Namanya juga teman.” Dimas mengembalikan pandangannya kepada Nara. “Ambil pembungkusnya. Jangan bikin orang nggak enak karena kita ribut soal barangmu.”
Dimas tidak meninggikan suara. Justru itu yang membuat Nara tahu ia harus berhati-hati. Jari suaminya menjepit bingkai lebih kuat ketika ia berusaha menariknya.
Adrian bergerak dari dekat pintu.
“Besok karya ini masih perlu dilihat, Dim. Biar di sini dulu.”
“Nggak merepotkan?”
“Nggak.”
Dimas memandangnya sebentar. Senyumnya belum hilang.
“Saya bicara sama istri saya.”
Ruangan mendadak sunyi. Dari lantai atas terdengar pintu kamar mandi ditutup, lalu langkah yang menjauh.
Nara menurunkan lukisan itu perlahan hingga menyentuh lantai.
“Lepas, Dimas.”
Suaminya memandang tangan Nara yang masih memegang bingkai.
“Jangan mulai. Orangnya masih berdiri di situ.”
“Aku tahu.” Nara menahan bingkai yang hampir miring. “Makanya dari tadi aku minta kamu taruh baik-baik. Ini mau dijual. Kalau rusak, kamu yang mau beli?”
Suaranya mulai bergetar. Ia malu Adrian mendengarnya, tetapi lebih malu lagi jika sekarang ia melepaskan bingkai itu dan membiarkan suaminya membawa pulang seluruh pekerjaannya.
Dimas melepaskan bingkai dengan sentakan kecil.
“Perlu banget uangnya?”
Nara tidak menjawab.
“Kalau kurang, bilang. Nggak perlu sampai—”
“Aku ingin jual lukisanku.”
Adrian menatap Dimas. “Ini pembelian untuk kantor. Ada prosesnya, bukan bantuan pribadi.”
Dimas memasukkan kunci mobil ke saku.
“Bagus kalau begitu.”
Ia berbalik kepada Nara.
“Sekarang ambil tas.”
“Aku masih mau—”
“Nara.”
Satu kata. Nara sudah mengenal tekanan di akhir namanya itu.
Ia melihat tangga. Ia bisa memanggil Maya, membuat sahabatnya turun, membiarkan semua orang menyaksikan bagaimana Dimas akan merangkul pinggangnya sambil mengatakan istrinya sedang lelah. Lalu mereka tetap pulang berdua.
Nara membetulkan posisi keenam lukisan sebelum mengambil tas.
“Lukisannya tinggal.”
Dimas mengangkat bahu. “Terserah.”
Seolah sejak tadi ia tidak pernah melarang.
Nara melewati Adrian tanpa sanggup menatap wajahnya.
“Tolong bilang Maya aku pulang.”
“Besok tetap jam sepuluh,” kata Adrian.
Nara mengangguk.
Dimas sudah berdiri di pintu. Ketika istrinya mendekat, ia menaruh telapak tangan di punggung Nara dan mengarahkannya keluar.
Di halaman, tangan itu turun ke siku, menggenggam cukup erat untuk membuatnya menoleh.
“Senang bikin aku kelihatan pelit?”
“Aku cuma mau lukisanku tinggal.”
“Nanti kita bicara di rumah.”
Dimas membukakan pintu mobil Nara, lalu menunggu istrinya masuk.
Ia masuk dan meletakkan tas di pangkuan. Dari balik kaca, ia masih melihat Adrian di ambang pintu, di bawah lampu teras.
Beberapa menit lalu ia berharap laki-laki itu melihatnya lebih lama.
Sekarang ia menunduk sebelum mobil mulai bergerak, malu karena Adrian telah menyaksikan suaminya memperlakukannya seperti itu.