Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Perjanjian Dengan Iblis

Namanya Naya. Hanya Naya. Tanpa nama belakang mentereng, tanpa riwayat asmara yang rumit dengan petinggi perusahaan, dan yang paling penting ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.

Arka tidak langsung merespons bisikan Doni. Matanya masih menatap dingin jemari Naya yang berdarah akibat luka goresan kaca, lalu beralih pada raut keputusasaan yang terpancar jelas di wajah perempuan itu.

Bagi Arka, keputusasaan adalah jaminan terbaik. Orang yang putus asa tidak akan memiliki daya untuk bermain api.

“Pak, tolong... saya siap potong gaji tiap bulan buat ganti rugi gelasnya, tapi tolong jangan pecat—”

“Diam,” potong Arka singkat. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membungkam Naya dan manajer lounge seketika.

Arka berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia melirik manajer lounge yang masih berdiri gelisah dengan peluh dingin di dahi.

“Ganti rugi gelas dan celana saya, potong dari rekening saya,” ujar Arka datar. “Perempuan ini, ikut saya sekarang.”

“T-tapi Pak Arka, dia—”

“Masalah kamu selesai,” potong Arka lagi, tanpa memberi ruang untuk negosiasi. Ia menatap Doni. “Urus administrasi dia malam ini juga. Bawa dia ke mobil.”

Tanpa menunggu tanggapan Naya yang masih membeku dalam kebingungan, Arka melangkah pergi meninggalkan ruang lounge.

Di dalam mobil mewah yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Naya duduk kaku di kursi belakang, menyilangkan kedua tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Luka di jarinya sudah dibalut tisu oleh Doni, tetapi rasa takut di dadanya jauh lebih menyiksa daripada rasa perih di tangannya.

Di sampingnya, Arka duduk menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan tanpa minat sedikit pun untuk menoleh ke arah Naya.

“K-kita mau ke mana, Pak? Kalau Bapak mau minta ganti rugi, saya betul-betul tidak punya uang sekarang...” suara Naya memecah keheningan, begitu pelan dan penuh keraguan.

Arka tidak menjawab. Ia meraih sebuah dokumen tebal dari dalam tas kerja yang berada di sampingnya, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Naya.

“Buka,” perintah Arka dingin.

Naya memandangi berkas berisikan puluhan lembar kertas berstempel hukum itu. Dengan tangan yang masih agak gemetar, ia membuka lembar demi lembar. Matanya membelalak saat membaca judul besar di halaman utama: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.

“Dua miliar rupiah,” suara Arka kembali terdengar, datar tanpa emosi. “Uang tunai malam ini juga untuk biaya operasi dan perawatan ibumu di rumah sakit terbaik. Plus, seluruh biaya hidupmu ditanggung selama perjanjian ini berlaku.”

Naya menahan napas. Angka yang disebutkan Arka seperti mimpi di siang bolong atau justru cengkeraman nasib buruk yang baru.

“T-tugas saya... apa?” tanya Naya pelan.

Arka akhirnya memutar kepala, menatap Naya dengan manik mata hitamnya yang tajam dan tak tersentuh.

“Menjadi istri saya di mata hukum dan publik selama satu tahun. Hadir di setiap acara keluarga dan korporasi. Berperan sebagai istri yang setia di depan media.”

Arka maju sedikit, mendekatkan wajahnya hingga Naya bisa merasakan aura dingin yang mengintimidasi dari pria itu.

“Tugasmu hanya akting. Jangan pernah campuri urusan pribadi saya, jangan pernah menyentuh barang-barang saya, dan yang paling penting...” Arka memberikan jeda yang cukup panjang.

“...jangan pernah berharap saya akan menyentuhmu atau jatuh cinta padamu. Bagi saya, kamu hanya pajangan.”

Naya menelan ludah. Hatinya mencelos mendengar nada bicara pria di hadapannya yang begitu merendahkan, namun bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit mendadak melintas di pikirannya.

Dokternya bilang, jika uang muka operasi tidak dibayar besok pagi, nyawa ibunya tidak akan tertolong.

Ia tidak punya pilihan. Harga dirinya tidak ada harganya dibanding nyawa sang ibu.

“Di mana saya harus tanda tangan, Pak?” tanya Naya dengan suara tegar, meski matanya berkaca-kaca.

Arka menyunggingkan senyum tipis, senyuman dingin tanpa kehangatan. Ia menyodorkan sebuah pena mahal ke tangan Naya.

Perjanjian dengan iblis baru saja dimulai.

Lampu penyeberangan jalan menyinari interior mobil yang gelap saat Naya membubuhkan tanda tangannya di lembar terakhir. Setiap goresan tinta terasa bagai rantai yang mengikat lehernya.

Pria di sampingnya tidak membuang waktu. Dia merebut kembali dokumen itu, memeriksa sepintas sepintas, lalu melemparnya ke arah Doni di kursi depan.

“Transfer uang mukanya sekarang. Pastikan rumah sakit memproses operasinya malam ini,” perintah Arka tanpa menoleh.

Doni dengan sigap mengetik sesuatu di tabletnya. Hanya dalam hitungan detik, ponsel Naya yang retak di dalam saku bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari pihak rumah sakit. Pembayaran biaya operasi telah diterima.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes, membasahi ibu jarinya yang terbalut tisu berdarah. Satu-satunya alasan ia menjual kebebasannya baru saja terbayar tuntas. Ibunya akan selamat.

“Jangan menangis di depan saya,” suara Arka memecah hening, dingin dan menusuk. “Mulai detik ini, kamu bukan lagi pelayan bar yang patut dikasihani. Kamu adalah calon istri Arka Dirgantara. Hapus air matamu dan perbaiki sikapmu.”

“B-baik, Pak,” bisik Naya pelan, mengusap pipinya seraya menunduk.

“Dan panggil saya Arka jika kita sedang tidak di depan umum, atau ‘Mas’ kalau ada media dan keluarga saya. Panggilan ‘Pak’ membuatmu terdengar seperti sekretaris saya,” tambahnya, kembali menatap lurus ke luar jendela.

Mobil melaju membelah gemerlap kota Jakarta hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kondominium mewah berlantai tinggi di kawasan elit.

Doni membukakan pintu. Naya melangkah keluar dengan canggung, menyandarkan kesadarannya pada sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Sepatu hak tingginya yang murah dan gaun seragam lounge yang kotor menyajikan pemandangan yang teramat kontras dengan kemewahan lobi gedung tersebut.

Arka berjalan di depan dengan langkah lebar dan tegap, membuat Naya harus setengah berlari untuk menyamakan langkahnya.

Begitu pintu apartemen di lantai paling atas terbuka, Arka langsung melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke sofa kulit. Ia berbalik, menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang teramat dingin.

“Kamar kamu di ujung lorong sebelah kiri,” ujar Arka. “Di dalam sudah ada pakaian bersih yang disiapkan Doni. Mandi, bersihkan lukamu, dan tidur. Besok jam tujuh pagi, tim penata busana dan pengacara keluarga saya akan datang.”

Naya memegang erat tali tas kainnya yang kusam. “Terima kasih, Pak, maksud saya, Arka.”

Arka tak merespons. Ia sudah berbalik menuju ruang kerjanya tanpa menoleh lagi, seolah Naya hanyalah sepotong perabot baru yang baru saja ia beli untuk melengkapi rumahnya.

Naya melangkah pelan menuju kamar yang ditunjuk. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, tubuhnya meluruh ke lantai. Ruangan itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumah sewaannya dan sang ibu, namun udaranya terasa begitu dingin dan asing.

Di atas tempat tidur, tergeletak sebuah kotak perhiasan beludru merah yang terbuka. Di dalamnya, sebuah cincin berlian bermata satu berkilau di bawah lampu kamar. Cincin pengikat, atau lebih tepatnya, label harga atas dirinya.

Naya menatap jemarinya yang terbalut perban, lalu menyentuh permukaan dingin cincin tersebut. Ia tahu, kehidupannya yang tenang telah berakhir malam ini.

Namun saat membayangkan ibunya yang besok pagi akan masuk ke ruang operasi, Naya menghembuskan napas panjang dan mengepalkan tangannya.

Ia siap memainkan peran ini, betapa pun tingginya harga diri yang harus ia korbankan.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Tak usah gengsi permintaan Oma Soraya,memberi jalan untukmu memiliki Naya seutuhnya dan selamanya sampai maut memisahkan kalian
Maseni Maseni: yeah betul itu kak
peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba....sebenarnya arka mau bilang cinta ke naya tapi gengsi sekarang dibukakan jalan tuh sama permintaan oma soraya

sekarang saatnya saling mengungkapkan rasa... ga usah buru buru nikmati saja alurnya biar muncul kemistry di antara kalian

lanjut kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah ,Arka mengikuti nprovokasi Deni, semoga kalian jadi suami istri beneran, karena Arka mulai jatuh hati dan selalu kepikiran Naya.
sunaryati jarum
Mulai mengkhawatirkan istri dan memberi.perhatian
sunaryati jarum
Bener Naya kamu tak perlu itu, karena ada guling yang lebih hangat,yaitu suami kontrakmu yang hampir runtuh mempertahankan komitmen tentang pernikahan kalian😂😂🥰🥰
sunaryati jarum
Jika Naya bekerja ada celah bagi Redy dan kroninya untuk mengulik pernikahan Arka dan Naya
sunaryati jarum
Terus provokator Rendy , pernikahan yang awalnya kontrak jadi permanen, yang awalnya sandiwara jadi sesungguhnya,Arka yang tadinya gengsi jadi biasa
sunaryati jarum
Makin bucin ,ya
sunaryati jarum
Mulai posesif ,Nak Arka
Maseni Maseni
sepertinya makin seru kalau naya bekerja bareng andrea.... arka protes ga? cemburu ga saat istrinya sukses ditempat kerjanya?
semoga saja jangan sampai memicu trauma arka yg sdh lama ditutup rapat

lanjut double up ya kak🙏😍
sunaryati jarum
Di tempat tidur ada yang sah saja tidak disentuh apalagi ondel+ ondel mungkin jadi toilet umum
sunaryati jarum
Perasaan yang hadir di hati kamu tidak salah,Nak Arka.Hanya kamu berusaha menolak dan menyangkalnya
sunaryati jarum
, Jantungmu berdiscon hanya bersentuhan tangan dan mencium wangi.harum sabun mandi di tubuh Naya.Itu tanda kamu telah tertarik pada Naya.
Maseni Maseni
berawal dari hinaan dan ancaman rendy.....arka mengajak naya untuk benar benar melakukan peran suami istri sungguhan

lanjut kak
Wien Ibunya Fathur
inget paha lagi 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): emang paha merusak otak ya kak🤭🤭
total 1 replies
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!