Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02 - Hembusan nafas terakhir

Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung yang memakan waktu hampir tiga jam terasa bagaikan siksaan panjang tanpa akhir. Di dalam mobil milik Adrian yang melaju membelah jalan tol dengan kecepatan tinggi, tak ada percakapan yang terjalin. Hanya suara isakan tanpa henti dari Nayla yang memenuhi kabin, berpadu dengan bunyi deru mesin yang meraung.

Begitu mobil berhenti di area parkir Rumah Sakit Umum Bandung, Nayla tak lagi memedulikan hal lain. Tanpa menunggu Adrian mematikan mesin, ia langsung tergesa-gesa keluar.

Nayla berlari. Dengan bobot tubuhnya yang mencapai delapan puluh kilogram, setiap langkah terasa berat dan menyiksa. Napasnya memburu, terengah-engah, dan dadanya berdenyut perih akibat paru-parunya yang dipaksa bekerja ekstra keras. Namun, rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut yang mencengkeram jiwanya. Ia tak peduli betapa canggung dan lucunya ia berlari di koridor rumah sakit, yang ada di pikirannya hanyalah satu nama, Bapak.

"Dokter! Dokter!" jerit Nayla histeris saat melihat seorang dokter berjas putih berdiri di ambang pintu unit perawatan intensif, sedang berbicara dengan sepasang suami istri paruh baya.

Nayla memasung langkahnya tepat di hadapan dokter tersebut. Napasnya tersengal-sengal, peluh bercucuran membasahi pelipis dan blusnya.

"B-bagaimana... bagaimana keadaan Bapak saya? Saya mau ketemu beliau, Dok!" tuntut Nayla dengan suara bergetar dan mata sembap yang merebak air mata.

Dokter tersebut menatap Nayla dengan pandangan prihatin. "Anda siapanya Pak Danu?"

"Saya Nayla, Dok! Saya anaknya Pak Danu!"

Dokter itu menghela napas berat, menepuk pelan pundak Nayla untuk menangkis kepanikan yang terpancar dari wajah gadis itu. "Mbak Nayla, mohon tenang dulu. Pak Danu saat ini dalam kondisi kritis dan berada dalam penanganan intensif kami. Beliau mengalami luka bakar di bagian bahu dan dada akibat terkena kobaran api."

Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan tangis.

"Tapi, bukan luka bakar itu yang paling membahayakan," lanjut sang dokter dengan nada kian berhati-hati. "Saat terjadi ledakan, hempasan gelombang panas membuat tubuh Pak Danu terpental keras. Kepala belakangnya membentur aspal jalanan dengan sangat berat, menyebabkan pendarahan dalam di otak. Saat ini, hanya doa dan keajaiban yang bisa membantu proses pemulihannya."

Deg!

Lutut Nayla seketika bergetar hebat. Air matanya menetes makin deras, membasahi tangannya yang menutupi wajah. 'Bapak... kenapa harus Bapak?' Nayla baru saja meraih puncak impiannya, baru saja ingin memanjakan dan membahagiakan ayahnya setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan. Mengapa takdir begitu kejam merenggut kebahagiaan itu tepat sebelum ia sempat memulainya?

Tiba-tiba, sebuah usapan lembut mendarat di bahunya.

Nayla menoleh pelan. Di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun meski bajunya terdapat beberapa noda. Hanya ada plester kecil di pelipis dan beberapa goresan ringan di lengannya. Wanita itu adalah Bu Ratih, ibu dari Adrian. Di sebelahnya, Pak Hilman berdiri dengan wajah sarat akan duka dan rasa bersalah. Luka mereka memang tidak parah dan cukup diberi perawatan rawat jalan, tetapi guncangan jiwa mereka jelas terlihat.

"Nayla... Saya Ratih, ibunya Adrian, saya tidak menyangka yang menolong saya adalah ayah dari karyawan Dewangga grup." ucap Bu Ratih dengan suara yang ikut bergetar. Wanita itu menatap Nayla dengan tatapan penuh penyesalan, lalu merengkuh bahu lebar Nayla. "Saya amat sangat paham perasaan kamu, Nak... Maafkan kami... Maafkan kami karena semua ini terjadi akibat ayahmu berusaha menyelamatkan saya dan suami saya..."

Pak Hilman melangkah mendekat, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan putri pahlawannya.

"Pak Danu... beliau menahan pintu mobil yang ringsek dengan sisa tenaganya hanya untuk membuka jalan agar kami berdua bisa keluar," tutur Pak Hilman dengan nada berat yang dipenuhi isakan. "Beliau sangat berjasa pada keluarga kami. Sungguh, saya dan istri saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada kamu, Nayla..."

Nayla menyapu air matanya dengan punggung tangan. Meski dadanya serasa dihantam godam yang amat berat, ia memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman yang sangat perih namun penuh ketulusan.

"Ini bukan salah Anda, Pak... Bu..." bisik Nayla lirih, berusaha menguasai suaranya. "Ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Bapak menolong atas dasar kebaikan hatinya sendiri. Semoga... semoga Bapak bisa cepat sadar."

Adrian yang berdiri tak jauh di belakang orang tuanya memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Matanya menatap sekretarisnya dengan sudut pandang yang sama sekali baru. Di balik tubuh besarnya dan sikap mindernya yang sering ia perhatikan di kantor, Nayla memiliki kebesaran hati yang luar biasa. Tak ada sedikit pun rasa benci atau umpatan yang keluar dari bibir gadis itu, meski ia berhak marah pada situasi ini.

Adrian melangkah maju, memecah keheningan di antara mereka.

"Nayla," panggil Adrian tegas namun lembut. "Saya yang akan menanggung seluruh biaya perawatan Pak Danu sampai beliau sembuh total, tanpa terkecuali. Dan mulai hari ini, kamu mendapatkan hak cuti bebas. Kamu bisa fokus menjaga ayah kamu di sini, dan gaji kamu akan tetap dibayarkan secara utuh."

Nayla menatap bosnya yang berdiri tegap di hadapannya. Dalam hati, Nayla bergumam lirih, Meskipun Pak Adrian terkenal sangat dingin dan kaku di kantor... ternyata dia memiliki hati yang sangat baik.

****

Waktu berjalan dengan sangat lambat. Satu bulan berlalu bagaikan sebuah mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Selama satu bulan penuh, Pak Danu terbaring kaku tak berdaya di balik kaca tebal ruang ICU. Selama itu pula, Nayla setia menjaga di luar ruangan, tak pernah absen mendoakan sang ayah. Begitu pula dengan keluarga Dewangga. Pak Hilman, Bu Ratih, dan Adrian bergantian menjenguk serta memastikan semua fasilitas pengobatan terbaik diberikan tanpa kurang satu apa pun.

Hingga pada suatu petang yang sunyi, keajaiban yang dinanti akhirnya tiba.

Kelopak mata Pak Danu bergerak pelan. Pria paruh baya itu perlahan membuka matanya.

Nayla yang diizinkan masuk ke ruang perawatan langsung menggenggam erat jemari ayahnya yang terasa dingin dan kurus. Air mata kebahagiaan seketika mengalir di pipinya. "Bapak... Bapak bisa dengar suara Nayla, kan?"

Di belakangan Nayla, keluarga Dewangga Pak Hilman, Bu Ratih, dan Adrian turut berdiri mengelilingi ranjang dengan wajah penuh haru dan lega.

Pak Danu menatap putri tunggalnya dengan mata yang redup dan sayu. Napasnya terdengar sangat lemah melalui masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Jemari Pak Danu yang gemetaran berusaha bergerak menepuk pelan punggung tangan Nayla.

"N-Nayla... anak Bapak..." suara Pak Danu terdengar sangat tipis, bagaikan bisikan angin.

"Iya, Pak. Ini Nayla. Bapak sudah sadar... Bapak pasti sembuh..." bisik Nayla seraya mencium jemari ayahnya berulang kali.

Pak Danu mengukir senyum sangat tipis di balik masker oksigennya, menggelengkan kepalanya perlahan. "Waktu Bapak... mungkin sudah tidak lama lagi, Nak..."

"Bapak! Jangan bicara seperti itu!" potong Nayla cepat dengan suara serak. Dinding pertahanan dirinya runtuh kembali. "Bapak janji mau lihat Nayla sukses, kan? Nayla sudah jadi sekretaris CEO, Pak! Nayla sudah bisa bangunkan bengkel yang lebih besar!"

Pak Danu tak menjawab pernyataan itu. Matanya yang sayu mengalihkan pandangan pada Pak Hilman dan Bu Ratih yang berdiri di sebelah Adrian. Dengan sisa kekuatan terakhir yang dimilikinya, Pak Danu memberi isyarat agar mereka mendekat.

Pak Hilman dan Bu Ratih memajukan langkah mereka, membungkuk di dekat telinga Pak Danu.

"Pak Hilman... Bu Ratih..." desis Pak Danu terengah-engah. "Saya... saya cuma punya Nayla. Dia anak yang baik... tapi dia sering kesepian... Tolong... tolong jaga putri saya... seperti anak kalian sendiri..."

Bu Ratih menggenggam tangan Pak Danu yang lain dengan air mata yang menetes deras. "Pasti, Pak Danu! Kami berjanji atas nama Allah, kami akan menjaga Nayla dan tidak akan pernah membiarkan dia terluka atau merasa kesepian!"

Pak Danu mengangguk tipis, mengumbar senyum lega yang amat tulus. Tatapannya kembali bergeser pada Nayla, menatap wajah putri kesayangannya untuk yang terakhir kali dengan penuh kasih sayang.

"Bapak... bangga sama kamu, Nayla..."

Tepat setelah kalimat itu terucap, helaan napas panjang mengalir keluar dari dada Pak Danu. Matanya perlahan terpejam, dan genggaman tangannya di jemari Nayla melorot lemas tanpa tenaga.

Suara dengung panjang yang menyayat hati seketika bergema dari monitor detak jantung di samping tempat tidur.

Biiiiiiiiiiipppp...

Garis merah di layar itu mendatar sempurna.

"Bapak?" Nayla membelalakkan matanya. Ia mengguncang pelan lengan ayahnya. "Bapak, bangun! Jangan becanda, Pak! BAPAK!"

Dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan, melakukan tindakan penyelamatan darurat. Namun, takdir Tuhan telah digariskan dengan mutlak. Dokter akhirnya melepaskan stetoskopnya dan menundukkan kepala.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Pak Danu telah dinyatakan meninggal dunia pada pukul lima lewat dua puluh menit."

Kata-kata dokter itu bagaikan kilat yang menghantam kepala Nayla. Dunia di sekitarnya runtuh seketika. Pandangannya menjadi gelap gulita, pernapasannya terhenti, dan tubuhnya yang berat ambruk ke belakang tanpa daya.

"Nayla!"

Sebelum tubuh Nayla menyentuh lantai dingin rumah sakit, sebuah lengan kekar dengan refleks secepat kilat merengkuh pinggangnya dari belakang.

Adrian menahan seluruh bobot tubuh Nayla yang telah pingsan sepenuhnya di dalam pelukannya. Pria itu mendekap erat tubuh sekretarisnya, merasakan dinginnya kulit Nayla dan kepedihan yang teramat sangat dari nafas gadis itu yang kini tak sadarkan diri.

Adrian menatap wajah pucat Nayla yang dipenuhi bekas air mata. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Adrian Dewangga, dadanya berdenyut sangat nyeri. Rasa bersalah yang teramat dalam mencengkeram jiwanya tanpa ampun.

'Orang tuaku selamat...' batin Adrian dengan rahang yang mengeras kaku, '...tapi sebagai gantinya, kami telah merenggut satu-satunya alasan wanita ini untuk hidup.'

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!