Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Di tepi kolam renang yang tenang, pantulan cahaya lampu taman bergoyang pelan mengikuti kecipak air.
Malam semakin larut, menyisakan dingin yang mengusap kulit, namun Zavran masih duduk termenung di pinggir kolam.
Perkataan Bella tadi pagi masih terngiang jelas dipikirannya.
Abdullah melihat sang anak duduk termenung diluar, ia pun berjalan mendekat. Kemudian duduk di sebelah Zavran.
"Nggak dingin, Nak? Malam-malam begini masih diluar" tanyanya membuka percakapan.
"Nggak, Pa." Jawab Zavran singkat.
"Ada apa sebenarnya, Zav...Cerita sama papa?"
" Nggak ada apa-apa, Pa."
"Serius?! Jangan coba-coba bohong di depan Papa, Zav. Semuanya sudah jelas terlihat diwajahmu."
"Aku lagi bingung aja, Pa."
"Bingung, kenapa?"
"Bagaimana nasib Devan ke depannya. Dia sangat membutuhkan sosok ibu. Tapi...sampai saat ini Zav belum bisa memberinya sosok itu." lirih Zavran.
"Trus Bella, gimana? Kalian kan sudah tunangan, sebentar lagi nikah. Dimana letak bingungnya?" selidik papanya penasaran.
"Sebenarnya...Bella membatalkan semuanya, Pa. Pertunangan kami... batal."
Pria paruh baya itu terdiam sejenak. "Batal? Kenapa bisa begitu, Zav? Bukankah selama ini kalian terlihat baik-baik saja?"
" Iya Pa. Kami baik-baik saja....dan aku juga mikir dia baik-baik saja dengan keadaan keluarga kita" ujar Zavran.
"Tadi pagi dia minta ketemuan. Aku pikir kita bakal bahas soal konsep dan tanggal pernikahan. Tapi... ternyata dia cuma mau mengembalikan cincin tunangannya."
"Apa alasannya? Kalian ada berselisih paham?"
Zavran menggeleng perlahan. "Nggak ada pertengkaran, Pa. Sama sekali nggak ada. Bella cuma bilang... dia nggak sanggup."
"Untuk?"
"Menjaga Devan...Dia nggak sanggup menerima keadaan Devan. Dia belum siap jadi ibu sambung, apalagi untuk anak seperti Devan dengan keadaan saat ini."
Abdullah terdiam mendengar penjelasan Zavran.
"Dia bilang, dia memang cinta sama Aku, Pa," lanjut Zavra.
"Dia mau menikah sama Aku, tapi dia tidak bisa menerima kehadiran Devan. Devan hanya akan jadi beban dalam kehidupan rumah tangga kami nantinya. Dia nggak mau direpotkan untuk mengasuh Devan."
"Astaghfirullahal'adzim..." gumam Abdullah seraya mengelus dadanya.
"Rasa-rasanya jantungku berhenti detik itu juga. Bagaimana bisa tiba-tiba dia bilang seperti itu, padahal saat melangsungkan pertunangan, dia bilang akan berusaha sebaik mungkin menerima Devan."
"Lalu, kamu tidak meyakinkan Bella?"
"Nggak, Pa. Aku bilang ke dia, 'Kalau kamu nggak bisa menerima Devan, artinya kamu juga nggak pernah benar-benar menerima aku.' Devan itu nyawa aku, Pa. Dia bukan beban. Dia hadiah dari Allah!"
Abdullah tersenyum tipis, ada rasa bangga yang amat sangat memancar dari wajah tuanya. Ia merangkul bahu Zavran lebih erat, menepuk-nepuknya dengan lembut.
"Keputusanmu sudah sangat tepat, Zav. Papa bangga sama kamu,"
"Tapi rasanya sakit banget, Pa," Ucap Zavran jujur.
"Bukan cuma sakit karena ditolak, tapi sakit karena bayangin Devan. Anak sekecil itu... apa salahnya, Pa? Kenapa orang-orang selalu memandangnya sebelah mata cuma karena cara bicaranya tidak seperti anak seusianya? Dimana salah Devan...sampai calon ibunya sendiri menganggap dia sebagai pengganggu?"
"Devan nggak punya salah apa-apa, Nak. Sedikit pun tidak."
"Aku cuma ingin Devan punya figur seorang ibu, Pa. Aku mau dia merasakan kasih sayang yang utuh," lirih Zavran sambil mengusap wajahnya kasar.
"Aku kerja keras, Aku bangun karier, semuanya buat Devan. Tapi setiap kali Aku mencoba membuka hati, kenapa selalu saja terbentur di hal yang sama? Apa memang nggak ada wanita di dunia ini yang bisa tulus menyayangi Devan seperti anak kandungnya sendiri?"
Abdullah menghela napas panjang. Pria paruh baya itu menatap lurus ke depan, menerawang jauh ke langit malam yang bertabur bintang tipis sebelum akhirnya kembali memandang putra tunggalnya.
"Zavran, dengarkan Papa," ujarnya lembut.
"Kecewa itu wajar. Sakit hati itu manusiawi. Tapi jangan pernah kamu meragukan ketetapan Allah."
Zavran hanya terdiam, mendengarkan dengan seksama.
"Peristiwa hari ini bukan sebuah kegagalan, Zav. Ini adalah cara Allah melindungi kamu dan Devan," lanjut sang ayah.
"Bayangkan kalau Bella pura-pura menerima Devan hanya demi mendapatkan kamu, lalu setelah menikah dia menelantarkannya di belakangmu. Bukankah itu jauh lebih mengerikan?"
Zavran menundukkan kepalanya, menyadari kebenaran di balik ucapan papanya.
"Allah menunjukkan karakter aslinya sekarang, sebelum segalanya terlanjur jauh," tambah papanya lagi.
"Bella bukan wanita yang buruk, dia hanya bukan orang yang tepat untuk menjadi pelabuhan terakhirmu. Dia tidak memiliki ketabahan dan hati seluas yang kamu butuhkan."
"Tapi sampai kapan, Pa? Kasihan Devan..."
"Sabar, Nak. Jodoh itu bukan cuma soal menyatukan dua kepala, tapi menyatukan dua jiwa. Bagi kamu yang sudah merawat Devan selama ini, jodohmu adalah wanita pilihan yang Allah ciptakan dengan hati sejernih telaga dan seluas samudera. Wanita yang tidak hanya memandangmu sebagai pria yang dicintainya, tapi juga memandang Devan sebagai amanah yang ingin ia dekap erat."
"Apakah wanita seperti itu benar-benar ada, Pa?" tanya Zavran ragu.
Sang ayah tersenyum hangat, mengusap punggung Zavran dengan ketenangan.
"Pasti ada. Janji Allah itu nyata, Zav. Jika kamu menjaga amanah-Nya dengan tulus dan penuh kasih sayang, Allah pasti akan mengirimkan seseorang yang memiliki ketulusan yang sama. Seseorang yang tidak perlu kamu minta untuk menyayangi Devan, tapi dia sendiri yang akan secara alami jatuh cinta pada kepolosan anak itu." jelas Abdullah menenangkan putranya.
"Mungkin bukan hari ini, dan mungkin bukan dengan cara yang kamu bayangkan," lanjutnya.
"Bisa jadi wanita itu datang di saat yang paling tidak kamu sangka-sangka. Kadang takdir punya caranya sendiri yang sangat unik untuk mempertemukan dua insan. Tugasmu sekarang cuma satu...tetap jadi sosok ayah yang hebat untuk Devan. Jangan biarkan kesedihanmu malam ini membuat senyum Devan besok pagi terenggut."
"Terima kasih ya, Pa, sudah mendengarkan keluhanku" ucap Zavran.
"Sama-sama, Zav. Nah, sekarang angkat kakimu, keringkan, lalu masuk. Hari sudah makin malam."
"Iya, Pa."
Setelah mengeringkan kakinya, Zavran melangkah menuju kamar. Sebelum itu, ia menyempatkan diri mengintip ke dalam kamar Devan. Di bawah remang lampu tidur, anak laki-laki itu tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur, memeluk boneka beruang kesayangannya.
Zavran berjalan mendekat dan berlutut di tepi tempat tidur, lalu mengecup kening Devan dengan penuh kehangatan.
"Maafkan Papa ya, Devan," bisik Zavran.
"Tapi Papa janji, Papa cuma akan membawa pulang seorang ibu yang benar-benar mencintai kamu setulus hatinya. Sampai hari itu tiba, cuma ada Papa dan Kamu. Kita pasti bisa."
Devan bergumam kecil dalam tidurnya, seolah menjawab janji sang ayah.