Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
JUDUL: MEMBIARKAN DIRI TERBAWA.
"Apa lagi yang kau tunggu? Kau masih berutang padaku," kata Burian.
"Saya permisi dulu, Tuan," ujar Sonya.
Burian
Sonya pergi dan tinggal kami berdua. Si anak serigala kecil bercakar tajam itu mendadak jinak; tak ada kata-kata untuk membantah atau memprotes apa pun.
"Kemari, kau ikut denganku, dan aku tak mau ada rengekan bocah manja."
"Tidak, aku tak akan ikut denganmu, bajingan keparat," bentak Fiorella.
"Kenapa sih segala hal harus dilakukan dengan paksaan?" kataku dengan alis berkerut.
Setelah percakapan itu berakhir, kudekati ia dan kuangkat ke dalam pelukanku. Matanya menatapku lekat penuh tuntutan, tapi entah bagaimana bibir kami tiba-tiba saling melumat.
Ia melingkarkan kakinya di pinggulku, bibirnya menggigit bibirku, dan tubuhku mulai bereaksi. Kulepaskan diriku darinya dan kuamati ia dengan penasaran.
"Ada apa?" tanya Fiorella. "Bukankah kau ingin aku bekerja? Aku akan membayarmu."
"Tidak, jangan sekarang. Kau ikut denganku, dan tenanglah. Jangan memancingku, atau kutiduri kau sampai kau kehabisan napas."
Fiorella
Setelah perdebatan itu, entah bagaimana aku berakhir dalam pelukan si bajingan keparat. Saat bibirnya begitu dekat denganku, tanpa berpikir kucium ia. Kami larut dalam ciuman penuh berahi. Kugigit bibir bawahnya, dan seluruh tubuhku mulai memanas saat merasakan ereksinya begitu dekat dengan kewanitaanku.
Sesaat pikiranku melayang ke hari-hari sebelumnya, bayangan tubuh telanjangnya muncul, dan itu membuatku semakin panas.
Aku tak tahu kapan atau kenapa semua ini bermula. Yang kurasakan hanyalah hasrat tak terkendali akan tubuhnya.
Tapi si bajingan itu harus merusak segalanya. Ia melepaskan bibirku, meninggalkanku dalam keinginan yang menuntut lebih. Ia bilang aku harus ikut dengannya dan tidak memancingnya.
Namun mataku kembali tertuju pada bibirnya, dan aku menciumnya lagi.
Aku mulai menggerakkan tubuhku. Merasakan kejantanannya yang tegang membangkitkan hasrat-hasratku yang paling gelap.
"Sudah kuperingatkan agar kau jangan memancingku," bisik Burian di atas bibirku, tanpa memisahkan diri.
Ia ikut menyusuri gerakanku, lalu kami berdua terjatuh ke ranjang. Pakaianku dirobek hingga aku tinggal berbalut pakaian dalam, yang tak lama kemudian juga meninggalkan tubuhku.
Wajahnya turun, turun ke bawah sana, dan sengatan listrik menjalar ke sekujur tubuhku. Lidahnya bergerak, menimbulkan gelombang kejang hebat dalam diriku. Kutarik rambutnya dan kutekan kepalanya ke sela pahaku, tubuhku bergerak maju-mundur, dan makian-makian meluncur dari mulutku.
Aku hanya meminta lebih. Aku sedang mengalami sesuatu yang baru, aku merasakan kenikmatan. Erangan yang kulepaskan terdengar begitu keras, terlebih saat lidahnya mengulum klitorisku lalu masuk ke dalam diriku.
Kulepaskan rambutnya dan dengan kedua tangan kuraih wajahnya, kuangkat hingga sejajar denganku. Kucium bibirnya, lalu tanganku menanggalkan jasnya, kemudian kutarik kemejanya sekali sentak hingga kancing-kancingnya beterbangan di udara. Dadanya kini telanjang. Aku menyelinap ke bawah tubuhnya, kutarik celananya, dan ereksinya terlihat jelas menyembul di balik pakaian dalamnya.
Burian
Semua terjadi begitu cepat. Ia sudah berada di bawah tubuhku setelah kuselesaikan seks oral dan kubuat ia mengerang bak betina yang berahi. Aku bangkit dan menata posisinya hingga ia menungging. Kulepas sisa terakhir pakaian yang menempel di tubuhku, lalu dari belakang kubenamkan diriku ke dalam dirinya, membuatnya menjerit. Kedua tanganku mencengkeram pinggulnya dan membantunya bergerak. Awalnya lambat, kugerakkan pelan-pelan hingga aku menyesuaikan diri dengan bagian dalamnya yang mencengkeramku erat, membuatku hampir gila.
"Ah, ah," geramku sambil mempercepat gerakan. Dadanya berayun mengikuti setiap hunjamanku. Aku menyetubuhinya dan kami berdua menikmati setiap detiknya.
"Burian, Burian, Burian!"
Suaranya meneriakkan namaku berulang kali. Kutengadahkan kepala ke belakang, dan setelah beberapa hunjaman lagi, tubuhnya bergetar, menandakan ia telah mencapai apa yang dicarinya. Kuberikan satu hunjaman terakhir dan menggeram sambil menggertakkan gigi, lalu ambruk di atas punggungnya. Punggung itu kuciumi sementara tanganku terus menjelajahi kulitnya yang panas dan berkeringat.
"Sudah puas?" tanyaku.
"Kau bajingan tolol," ujar Fiorella dengan suara terengah.
Aku tersenyum di dekat telinganya dan menggigit lehernya, tapi sebuah ketukan di pintu mengacaukan momen itu.
"Siapa itu, sialan?" teriakku kesal.
"Ini aku, Miya. Vladimir menyuruhku memberitahu bahwa klub sudah tutup dan orang-orangmu menunggu di mobil."
Mendengar suaranya, aku melompat bangun dari ranjang, merasa seolah istriku memergokiku sedang berselingkuh.
Kututupi tubuhku dengan seprai dan keluar dari kamar.
"Kenapa ia mengirimmu?" tanyaku.
"Kau bersenang-senang?" balas Miya.
"Kenapa ia mengirimmu? Jawab."
"Aku kau tinggalkan di sini dan kau bawa dua betina itu. Sekarang apa lagi? Kau juga akan membawa si sok suci ini?"
"Tidak, ia tak akan ikut denganku. Tapi apa urusanmu? Sejak kapan kau peduli pada apa yang kulakukan atau tidak kulakukan?"
"Aku ingin pulang," kata Miya.