Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Mereka
Sudut Pandang Rebecca
Jason pergi tanpa suara. Seperti biasa. Kehadiran yang bisa kaurasakan… tapi lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Aku tetap di sana. Sendirian di dapur. Cangkir kopi yang sudah dingin di tanganku.
Keheningan kembali. Tapi kali ini… tidak seberat tadi. Mungkin karena aku sudah mulai terbiasa. Atau mungkin karena yang terburuk masih akan datang.
Aku mengembuskan napas. Mengusap wajahku. Berusaha menata pikiran. Berusaha tetap tegar. Demi mereka. Selalu demi mereka.
Suara langkah di lorong membuatku mengangkat pandangan. Tak lama, keduanya muncul. Rambut berantakan. Wajah masih mengantuk. Persis seperti biasanya. Bahkan di tengah kekacauan seperti ini.
Henrique yang pertama tiba. Ia mendekat tanpa bicara. Lalu mengecup puncak kepalaku.
"Pagi." Suaranya keluar serak, berat oleh kantuk. Tapi… penuh sayang.
Dadaku terasa sesak. "Pagi."
Heitor menyusul kemudian. Lebih pendiam. Lebih terkendali. Tapi kehadirannya tak kalah terasa. Ia membungkuk dan mengecup pipiku. "Tidur nyenyak?" tanyanya.
Aku mengangguk kecil. "Lumayan."
Henrique membuka lemari es, langsung mengambil apa saja untuk dimakan. Seolah ini rumahnya sendiri. Seolah semua ini hal biasa.
"Terus?" tanyanya. "Gimana kemarin?"
Aku membeku sesaat. Karena… aku tak tahu harus menjawab apa. Sungguh.
Aku menatap keduanya. Kini mereka menatapku balik. Menunggu. Cemas.
"Kemarin…" aku mulai bicara. Tapi berhenti. Kuembuskan napas kecil. "Aku tidak tahu," akuku. "Dia mendengarkan. Tidak membentak. Tidak mengusir kita."
Heitor melipat tangan. Termenung. "Itu sudah pertanda bagus."
Henrique mengangkat bahu. "Atau pertanda buruk."
Aku melempar tatapan padanya. "Henrique."
"Apa?" balasnya. "Kita bahkan nggak kenal dia."
"Aku tahu." Aku menarik napas dalam. "Tapi dia bakal kembali hari ini."
Keduanya langsung lebih waspada. "Hari ini?"
"Dengan hasil tesnya," tambahku.
Keheningan jatuh selama beberapa detik. Berat. Penuh harap. Penuh takut.
Heitor yang pertama bicara. "Kamu pikir dia bisa dipercaya?"
Pertanyaan itu datang langsung. Tanpa berputar-putar. Tanpa dilembutkan. Dan itu… itu meruntuhkanku. Karena aku tak punya jawaban.
Aku menatapnya. Lalu menatap Henrique. Dan aku merasakannya. Semuanya sekaligus. Kelelahan. Rasa takut. Tekanan. Hari-hari tanpa tidur nyenyak. Pekerjaan yang berlipat ganda. Pengejaran-pengejaran itu. Ancaman-ancaman itu. Beban tanggung jawab. Semuanya.
Tanganku mulai gemetar tipis. Dan sebelum sempat kutahan… setetes air mata lolos. Diam-diam. Berkhianat.
"Aku tidak tahu…" Suaraku keluar pelan. Lemah. Lelah. "Aku cuma… tidak tahu."
Keduanya terdiam. Dan itu justru lebih menyakitkan. Karena mereka menunggu aku punya jawaban. Menunggu aku kuat. Menunggu aku tahu apa yang harus dilakukan. Tapi aku tak tahu. Aku hanya sedang berusaha.
"Aku capek…" akuku, nyaris berbisik. "Capek sekali."
Air mata lain menyusul. Kini tak terkendali.
"Aku cuma ingin semua ini berakhir…" Suaraku tersendat. "Ingin kalian baik-baik saja…"
Henrique yang pertama bereaksi. Seperti biasa. Ia bergerak cepat. Menarikku ke dalam pelukan. Erat. Melindungi.
"Hei…" Suaranya keluar pelan. Tapi mantap. "Semua bakal baik-baik saja."
Heitor mendekat sesaat kemudian, menaruh tangan di bahuku. "Kita pasti sanggup," katanya. Tenang. Yakin. "Kalau perlu… biar aku yang urus."
Henrique langsung mengangguk. "Iya. Siapa pun yang berani macam-macam… kita habisi."
Aku tertawa kecil di sela air mata. Menggeleng. "Tidak."
Aku sedikit melepaskan mereka. Kupegang wajah keduanya. "Itu bukan tugas kalian," ujarku tegas, meski suaraku masih tersendat. "Tidak pernah. Dan tidak akan pernah."
Mereka menatapku. Dalam diam.
"Aku sudah berjanji menjaga kalian," lanjutku. "Dan itulah yang akan kulakukan."
Aku menarik napas dalam. Berusaha menguasai diri. "Meski lelah. Meski takut. Meski tak tahu harus berbuat apa."
Tanganku menyusuri wajah mereka. Dengan sayang. Dengan cinta.
"Semua ini sepadan," bisikku. "Semuanya sepadan… demi kalian."
Keheningan kembali. Tapi kali ini… berbeda. Karena kini… kami bersama. Dan entah bagaimana… itu masih cukup.