Emillya Vozera seorang gadis bar-bar, cegil, heboh, dan berisik. dia adalah kekasih dari Arshka Ravindra_ pemuda dengan hobi tawuran serta balapan liar. Emillya tau apa saja yang di lakukan oleh pacarnya, tapi dia tak pernah komplain apapun yang dilakukan nya. menurutnya asalkan pria itu bahagia maka tidak apa, meskipun sesekali dia harus marah-marah jika pacarnya itu sudah melewati batas.
sedangkan Arshka, dia hanya bisa tersenyum melihat pacarnya yang cerewet ini berbicara tanpa putus, dia bahagia memiliki gadis ini dalam hidupnya.
namun semuanya berubah sejak Arshka di pindahkan ke desa oleh orang tuanya, bertemu dengan orang baru, dengan kejadian yang tidak terduga.
akankah cinta Arshka dan Emilliya akan berakhir indah, atau justru keduanya mengambil jalan yang berbeda. Dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi.
berlanjut...🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
incident in the canteen
...🎵 Sugar Rush Ride by Tomorrow X Together...
...Lagu ini up-beat banget tapi makannya tentang godaan, kehilangan kendali. Di balik semua yang kelihatan manis....
Happy reading...
...Akan aku usahakan sesuatu yang telah menjadi milikku agar tetap menjadi milikku....
.......
..........
.........
.......
Arshka menatap bangunan dua tingkat di hadapannya dengan datar. Tak lama seorang wanita tua dengan beberapa keriput di bagian wajahnya keluar dari pintu utama.
Tatapannya lurus menatap Arshka dengan tegas, tatapan yang mengingatkan pemuda itu kala ia tengah di bawah tekanan sang Ayah.
Mang Asep langsung berpamitan beberapa saat setelah Nek Ramila keluar, tatapannya kembali jatuh pada Arshka yang masih berdiri mematung di gerbang masuk.
"Apakah kamu hanya akan berdiri di sama sampai malam?" katanya dengan intonasi berat lalu masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Arshka di belakangnya mengikuti langkah sang Nenek. Kini ia duduk si kursi kayu ruang tamu yang sedikit luas itu. Ia duduk dengan kepala menunduk, bukanya takut akan kemarahan sang Nenek Arshka hanya menghormati Neneknya.
Nek Ramila duduk di kursi single sebelah kanan Arshka. Ia menghembuskan nafasnya pelan, ingin memarahi cucunya tapi rasa sayangnya jauh lebih besar. Mungkin kedepannya cucunya akan berubah. Semoga saja. "Istirahatlah, kamu pasti lelah. Itu bukan perjalanan yang singkat."
Arshka perlahan mengangkat kepalanya, masih tak ada senyum di wajah pemuda itu. Hanya tatapan mata yang datar namun menyimpan begitu banyak misteri. "Terimakasih, Nek."
Arshka lantas pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Fara putra mu sungguh sangat kehilangan kamu." gumam Nek Ramila menata pintu kayu yang sudah di tutup oleh pemiliknya.
Di dalam kamar Arshka menyandarkan tubuhnya pada pintu, tubuhnya luruh ke lantai. Kenapa?! Kenapa ia harus kembali lagi kesini? Ia benci ada di sini, dia sangat tidak suka!.
Bahkan tadi pagi ia tidak sempat kembali ke makam ibunya untuk sekedar berpamitan. Sekarang Arshka sangat membutuhkan ibunya ada di sini lalu mengatakan 'Semuanya pasti akan baik-baik saja.'
Arshka merogoh saku celana nya mengeluarkan sebuah mawar putih yang ia petik tadi di genggam nya bunga itu dengan erat, hingga kelopaknya hancur di tangan Arshka. Sama seperti Arshka yang hancur dalam kekangan sang Ayah.
Drttt.. drttt...
Ponselnya berdering, panggilan dari Emiliya. Haruskah Arshka mengangkat panggilan itu? Kalau boleh jujur dirinya sudah sangat merindukan suara gadis itu. Kecerewetan nya, lalu bagaimana jika dia sedang memarahinya saat tawuran dan mendapatkan luka di wajah. Dan hansaplast my melody yang selalu gadis itu tempelkan di setiap lukanya.
'Hansaplast ini sebagai tanda kalau kamu itu milik Emiliya seorang.'
Itulah katanya. Awalnya Arshka sempat menolak, apa yang akan orang katakan jika bad boy macam dirinya memakai hansaplast my melody. Tapi seiring berjalanya waktu Arshka tak peduli dengan pendapat orang lain, dia hanya memikirkan apa yang membuat gadis itu bahagia.
Tapi sekarang... Gadis itu justru banyak terluka karenanya.
Dering ponselnya akhirnya berhenti, Arshka hanya menatap kembali ponselnya yang kini menunjukkan layar hitam. Meletakkannya di lantai lalu menyentuh pipinya yang terluka.
Tak ada hansaplast di sana, sebuah kerinduan yang menggantung di udara tanpa kata yang berani terucap sedikitpun.
...🐝~~...
Seperti semula Arshka kembali masuk ke sekolah, dia dengan gaya khas nya yang pendiam namun aura bad boy nya tetap menyala.
Lusiana menghadang jalan Arshka yang hendak ke kantin. "Kamu nggak tertarik sama aku?" kayanya dengan nada manja.
Arshka meliriknya sekilas, "Minggir!" desisnya, namun sepertinya Lusi tetap tak peduli dengan desisan Arshka barusan.
Lusi merentangkan kipas lipat yang ia bawa Deng centil mulai menggoda Arshka, bahkan berani menyentuh lengan pemuda itu. "Kamu tau kan aku anak juragan teh, kalau kamu mau jadi pacar aku. Aku bakal beliin apapun yang kamu mau."
"Gue nggak butuh duit Lo!"
"Tapi aku mau kamu, Lagipula keluarga aku sama nek Ramila punya bisnis bareng, Nenek kamu pasti nggak keberatan kalau kamu pacaran sama Aku." katanya dengan percaya diri jika Arshka pasti tak akan menolaknya.
Karena terlalu muak dengan bualan gadis aneh di hadapannya Arshka menyentak tangannya yang sedari tadi di grepe-grepe oleh Lusi. Setelah berhasil terlepas ia lantas melenggang pergi dari sana menuju ke kantin.
Lusi menggeraam kesal, baru kali ini ada seseorang yang berani menolaknya secara terang-terangan. Apalagi jika ia sudah mengeluarkan kartu andalannya yaitu membelikan apa saja yang mereka mau, pasti tak akan ada yang mampu menolaknya.
Tapi kali ini Lusi sepertinya salah sasaran, yang dia goda saat ini adalah Arshka pemuda berhati es.
Tindakannya tadi jika Emiliya tau huhh... Habislah dia akan di cabik-cabik oleh gadis itu.
"Aku pasti in kamu bakal jadi milik aku Arshka."
Di kantin Arshka duduk sendirian di pojok dekat dengan jendela, di hadapannya terdapat batagor yang tengah ia makan dengan tenang.
"Boleh aku duduk di sini? Udah penuh semua di sana." kata gadis yang datang dengan satu piring nasi goreng di tangannya.
Arahka melirik lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui kalau dia bisa duduk di hadapannya.
"Terimakasih." keduanya diam, tak ada yang memulai untuk membuka obrolan justru sibuk dengan makanannya masing-masing.
Hingga salah satu dari mereka membuka mulutnya. "Kamu kemarin kemana? Nenek kamu khawatir banget sama kamu." kata Senja menatap Arshka yang sedari tadi diam.
"Bukan urusan Lo."
"Tapi Nek Ramila khawatir banget. Penyakit jantungnya bahkan hampir kambuh."
Arshka menatap Senja dengan tajam, "Kalo Lo nggak bisa diem mending Lo pergi dari sini." usir nya dengan kejam.
Senja menundukan kepalanya, sepertinya dia salah karena terlalu banyak berbicara dam mengatakan hal yang sensitif untuk pemuda itu. "M-maaf, tadi aku beliin ini buat luka kamu." katanya lirih sembari meletakan hansaplast dengan karakter Doraemon di dekat piring Arshka.
Senja lantas bangun dari sana untuk pergi namun baru beberapa langkah kakinya di jegal oleh Lusi dan kawan-kawannya. "Ups sory nggak sengaja." kata Lusi dengan nada melas yang di buat-buat.
Sarah dan Mila ikut membully Senja. Sedangkan Senja hanya bisa diam pasrah dirinya di caci maki serta di hina.
"Dasar cewek murahan! Berani-beraninya deketin Arshka!" kata Lusi berdiri di hadapan Senja yang masih terduduk.
Senja tetep kelu, bukanya tidak mau melawan ataupun membela diri. Karena Senja penuh dengan pemikiran kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya, jika dia melawan Lusi maka hidupnya dan hidup ibunya tidak akan tenang. "M-maaf... '
Arshka masih memperhatikan kejadian itu dari tempatnya duduk. Kenapa gadis itu lemah sekali? Apakah hanya untuk sekedar membela dirinya sendiri dia tidak bisa? Merepotkan! Pikirannya.
Byurrr!
Arshka langsung berdiri dari duduknya menghampiri keributan itu terjadi, tangannya refleks menahan tangan Lusi yang hampir mendaratkan tamparan di pipi Senja.
"Awshh. Arshka dia pantas dapetin itu karena deketin kamu. Kamu itu milik aku!" kata Lusi, tangannya masih memberontak melepaskan diri dari cengkraman tangan Arshka.
Arshka melepaskan cengkraman itu dengan kasar. "Pede banget Lo. Emang gue mau sama Lo?" Arshka berkat sembari memindai dandanan Lusin dari atas sampai bawah.
Lusi yang merasa di rendahkan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Arshka aku suka sama kamu, dan kamu harus suka sama aku!"
"Gak peduli." katanya lalu pergi dari sana, tak lupa ia juga memapah Senja yang kakinya terkilir.
Plakk! Plakk!
Lusi menyalurkan kekesalannya dengan menampar Mila dan Sarah. Seperti yang Senja lakukan tadi keduanya juga hanya bisa diam, meskipun terkadang keduanya juga ikut membully tapi jika Lusi kesal merekalah yang menjadi samsak hidup gadis itu.
...🌸~To be continued~🍀...