Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Tak Pernah Kubayangkan Kuambil
POV Maria Cecília
Aku tak pernah menyangka satu panggilan telepon bisa mengubah arah suatu hari sebegitu besar.
Sebenarnya… arah seluruh hidup.
Hari masih malam ketika Luna meneleponku sehari sebelumnya, bicara begitu cepat sampai awalnya aku nyaris tak paham.
"Cissa, kalian dapat kesempatan wawancara! Di perusahaan keluargaku! Bagian administrasi!"
Aku terdiam.
"Cissa? Kau masih di situ?!"
"Masih…" jawabku, masih berusaha mencerna. "Tapi… bagaimana bisa?"
Ia menjelaskan semuanya.
Resmi. CV. Wawancara.
Bukan "bantuan".
Bukan "belas kasihan".
Hal itu… membuat segalanya berbeda bagiku.
Ketika kuputuskan sambungan, aku menatap ponsel beberapa detik.
Lalu kupandang Ana Paula.
"Kita dapat kesempatan wawancara."
Matanya membelalak.
"Apa?!"
Lalu kami mulai tertawa.
Tawa gugup.
Tak percaya.
Bercampur harapan.
Keesokan paginya, aku terbangun sebelum alarm berbunyi.
Gelisah.
Jantungku berdegup kencang.
Kulakukan semuanya lebih cermat dari biasanya. Kupilih pakaian yang sederhana, tapi rapi. Gaun yang tak mencolok, sepatu bertumit rendah — setelah trauma dengan hak tinggi, aku tak mau ambil risiko lagi.
Ketika kupandang diriku di cermin, sesaat, aku nyaris tak mengenali diri sendiri.
Bukan karena penampilan.
Melainkan karena perasaannya.
Aku sedang… mengejar sesuatu yang selalu kudambakan.
Sesuatu yang tampak terlalu jauh.
"Kau cantik," kata Ana Paula, keluar dari kamar.
"Kau juga."
Ia tersenyum.
"Berangkat?"
"Ayo."
Kami naik bus.
Tapi itu bukan hari yang biasa.
Aku memandang ke luar jendela, merasakan campuran gugup dan harapan yang tak bisa kujelaskan.
"Bagaimana kalau kita tak lolos?" tanyanya.
"Kita coba lagi."
"Bagaimana kalau kita kaku pas wawancara?"
"Kita tarik napas dan lanjut."
"Bagaimana kalau—"
"Ana Paula," aku memotong, sambil tersenyum. "Kita akan berusaha sebaik mungkin. Itu saja sudah banyak."
Ia menarik napas dalam.
"Ya sudah."
Ketika kami tiba di gedung perusahaan…
Aku terpaku.
Besar.
Megah.
Kaca-kaca berpantul.
Hilir mudik yang anggun.
Orang-orang yang tampak tahu persis apa yang mereka lakukan.
Sesaat… aku sempat berpikir untuk pergi saja.
"Cissa…"
Kupandang Ana Paula.
"Kita bisa."
Aku mengangguk.
"Kita bisa."
Kami masuk.
Kami diarahkan ke meja resepsionis.
Semuanya tertata.
Sunyi.
Profesional.
Hal itu membuatku ciut… tapi juga memacu semangatku.
"Maria Cecília Santana dan Ana Paula?" seorang gadis memanggil.
"Ya," jawab kami bersamaan.
"Silakan ikut saya."
Kami naik ke atas.
Setiap langkah terasa lebih berat dari langkah sebelumnya.
Sampai akhirnya kami tiba.
"Tunggu sebentar."
Kami duduk.
Tanganku terasa dingin.
Kutautkan jari-jariku.
Kutarik napas dalam.
Lalu…
Pintu terbuka.
"Silakan masuk."
Aku bangkit.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Dia.
Paolo.
Jantungku… berdegup liar.
Seketika.
Aku tak siap untuk itu.
Ia ada di sana.
Duduk.
Berwibawa.
Tatapan tajam.
Intens.
Seperti biasa.
Sesaat, aku mengira kakiku tak akan sanggup melangkah.
Tapi aku tetap maju.
Aku memberi salam.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi," jawabnya.
Suaranya… berat.
Terkendali.
Hal itu menggetarkanku dengan cara yang aneh.
Kami duduk.
Wawancara dimulai.
Pertanyaan-pertanyaan teknis.
Soal kuliah.
Soal pengalaman.
Soal bagaimana kami menghadapi masalah.
Aku berusaha fokus.
Menjawab dengan jelas.
Tapi itu sulit.
Karena, sesekali…
Aku merasakannya.
Tatapannya padaku.
Berat.
Penuh perhatian.
Seakan ia menganalisis setiap detail.
Dan hal itu membuatku… gelisah.
Bukan rasa tak nyaman.
Bukan itu tepatnya.
Melainkan intensitas.
Sensasi bahwa diriku sedang dilihat, melampaui apa yang kutampakkan.
Dan, pada saat yang sama…
Aku tak bisa menahan diri untuk membalas menatapnya.
Dan ketika tatapan kami bertemu…
Rasanya seakan waktu membeku sesaat.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Tanganku semakin dingin.
Dan aku harus mengingatkan diri untuk bernapas.
Aku tak memahami itu.
Tapi aku merasakannya.
Kuat sekali.
Wawancara berlanjut.
Pietro juga hadir, lebih santai, mengajukan beberapa pertanyaan yang lebih ringan. Ana Paula tampil bagus, seperti biasa. Ia punya kemudahan alami dalam berhubungan dengan orang lain.
Aku berusaha menjaga sikap.
Ketenangan.
Tapi dalam hati…
Ada kekacauan yang senyap.
Ketika wawancara usai, kami diminta menunggu.
Kami keluar dari ruangan.
Duduk kembali.
"Aku bisa pingsan," gumam Ana Paula.
"Tidak akan."
"Apa aku banyak ngomong yang bodoh?"
"Tidak."
"Kau bicaranya sempurna."
"Aku cuma bicara seadanya."
"Itu sempurna."
Ia menggenggam tanganku.
"Apa pun hasilnya… aku bangga pada kita."
Aku tersenyum.
"Aku juga."
Menit-menit terasa seperti berjam-jam.
Sampai akhirnya gadis yang sama muncul lagi.
"Silakan masuk."
Jantungku kembali berdegup kencang.
Kami masuk.
Aku memandang ke depan.
Lalu…
"Selamat."
Aku mengerjap.
"Kalian diterima."
Hening.
Aku tak bereaksi.
Sesaat, kukira aku salah dengar.
"Maksudnya…?" Ana Paula yang bicara lebih dulu.
Pietro tersenyum.
"Kalian mulai minggu depan."
Kubawa tanganku ke mulut.
"Serius?"
"Serius," jawabnya.
Aku memandang Paolo.
Ia menatapku.
Tapi, kali ini…
Ada yang berbeda.
Sesuatu yang lebih lembut.
Nyaris tak kentara.
Tapi ada di sana.
"Terima kasih," ucapku, dengan suara sedikit bergetar.
Dan itu terlalu sedikit.
Terlalu sedikit… dibanding apa yang kurasakan.
Kami keluar dari ruangan.
Lalu…
"AAAAAAAH!"
Ana Paula memelukku.
Sambil melompat-lompat.
"Kita berhasil!"
Aku tertawa.
Kurasakan sesuatu yang ringan.
Kebahagiaan.
Sungguhan.
Ketika kami keluar dari gedung…
Ia sudah ada di sana.
Luna.
Bersandar di mobil.
Tersenyum.
"Bagaimana?!"
Kami berlari menghampirinya.
"Kita lolos!"
Ia berteriak.
"SUDAH KUDUGA!"
Ia memeluk kami.
Bertiga.
Erat.
"Sudah kubilang!"
"Terima kasih," ucapku.
Ia melepaskan pelukan, sambil menangkup wajahku.
"Kau pantas mendapatkannya, Cissa. Sangat pantas."
Mataku terasa panas.
Tapi kutahan.
"Ayo rayakan," kata Ana Paula.
"Sudah dari tadi kutunggu," jawab Luna.
"Ke mana?" tanyaku.
Ia tersenyum.
"Rahasia."
Kami masuk ke mobil.
Dan, saat mobil mulai menjauh…
Aku memandang ke luar jendela.
Berpikir.
Tentang momen itu.
Tentang hari itu.
Tentang lelaki itu.
Paolo.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Tapi aku tahu satu hal…
Hidupku…
Baru saja berubah.