Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
POV Lorena
Dia benar-benar diam beberapa saat, lalu mulai menariknya keluar perlahan. Sensasi terasa terbuka lebar itu terlalu aneh, terutama karena perihnya. Ravi meraih tanganku dan membawaku kembali ke bawah pancuran, menyabuni punggungku lalu memutar tubuhku menghadapnya. Dia benar-benar memandikanku, seolah aku ini anak kecil.
"Ayo ke ranjang kita, kurasa di sana akan lebih nyaman untukmu. Nanti setelah permatamu lebih terbiasa dengan ukuranku, kita kembali ke kamar mandi ini."
"Permata?" tanyaku tak mengerti.
"Ya, kewanitaanmu adalah permata langkaku, kehancuranku. Kau tak akan membayangkan betapa besar kuasa yang dimilikinya, dan yang kaumiliki, atas diriku." Dia menggenggam tanganku dan menyerahkan sehelai handuk padaku. Kami mengeringkan tubuh bersama lalu menuju ranjang. Dia memutar tubuhku menghadapnya dan mulai mencium bibirku, awalnya pelan, tapi lekas menguat iramanya.
Ravi sedikit membungkuk untuk menggendongku dan melempar kami ke ranjang, jatuh menindihku. Ciumannya turun ke leherku, dan terus turun sampai payudaraku. Dengan erangan "hmm" dia menikmati dan membuatku semakin terbuai. Dia terus turun, tapi salah satu tangannya tetap meremas salah satu payudaraku, dan menjilati perutku sampai mendekati kewanitaanku.
"Di sini lebih enak untuk kuisap." Dia meraih kedua kakiku dan mengangkat keduanya. Dia menarik bagian bawah tubuhku ke atas, membuat kewanitaanku rapat di depan wajahnya. Satu-satunya bagian tubuhku yang menyentuh kasur hanyalah kepala, bahu, dan lenganku.
Sambil menatap mataku, dengan pandangan lapar, Ravi mulai mengisapku. Dan sama sekali tak pelan, dia mengisap klitorisku seolah ingin menyedotnya lepas dari tubuhku. Aku tak sanggup menahan desahan, semuanya keluar begitu saja, seakan punya nyawa sendiri. Dia pun mengisap sambil mengerang, yang membuat semuanya terasa semakin nikmat. Siapa pun yang belum pernah mendengar seorang lelaki mengerang seperti itu, dalam posisi seperti ini, tak akan membayangkan betapa besar nikmat yang mereka lewatkan.
"Ravi, aku tak sanggup... ah..." Sekujur tubuhku mulai berkejang. Nikmat yang tak nyata, sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya seumur hidupku.
Ravi menurunkan tubuhku ke ranjang lalu segera naik menindihku, dan, masih diselimuti sisa-sisa orgasme, kurasakan dia menerobos masuk, terasa seperti mengoyak tubuhku. Tapi kali ini, tanpa rasa sakit, hanya perih penetrasinya saja.
"Masih sakit, mia bella?" Aku menggeleng. "Bagus, karena kita akan menikmati betul persetubuhan pertama kita." Dia keluar perlahan, dan ketika kepala miliknya berada di mulut kewanitaanku, dia menghunjamkan semuanya sekaligus.
Tubuhku melengkung, dan kedua tangannya mencengkeram pinggangku. Dia berlutut di ranjang dan menarik tubuhku lebih dekat ke tubuhnya. Lalu dia mulai memompa, nikmat, seperti pakar seni bercinta. Dia menunduk, menatap kewanitaanku sambil terus menghunjam. Sungguh menakjubkan betapa tampannya dia, dan betapa pemandangan ini serasa surga.
Dia mengangkat pandangan ke mataku dan memberikan senyum yang membuatku basah kuyup. Akan jauh lebih mudah menolaknya seandainya dia buruk rupa dan ompong. Dia mengulurkan tangan kirinya ke wajahku, meletakkan telunjuknya di mulutku dan aku mengisapnya. Dia memutar bola matanya dan mendongakkan kepala ke belakang lalu mulai memompa lebih keras.
"Cazzo, aku sudah mau klimaks, sialan." Belum selesai dia bicara, kurasakan miliknya berdenyut di dalamku. Dia menunduk menindih tubuhku dan memelukku sangat erat. "Kau lebih dari yang kukira. Kau melampaui semua ekspektasiku, Lorena. Kau cantik, harum, dan menggairahkan. Dan yang terbaik dari semuanya, sepenuhnya milikku." Kata-katanya menyadarkanku pada kenyataan, dan aku mencoba keluar dari bawah tubuhnya. "Jangan berpikir begitu, tak ada penyesalan."
"Kita tak seharusnya melakukan ini. Suka atau tidak, aku masih berstatus menikah."
"Kita memang seharusnya melakukannya, dan kau sudah berpisah, sedang dalam proses perceraian. Aku sudah bicara dengan para pengacaraku dan besok mereka akan datang kemari untuk kautandatangani. Istirahatlah sebentar, saat kau bangun, kita akan mengambil dokumen-dokumenmu, sebab begitu perceraian keluar, kita akan menikah. Apalagi sekarang aku sudah memenuhimu dengan benihku, sebentar lagi bayi kita akan tumbuh di dalam sini."
"Tidak akan, aku pakai implan, Ravi. Aku belum mau punya anak sekarang."
"Bisa kita negosiasikan nanti?" Aku mengangkat bahu, karena aku belum yakin sekarang.
Sebenarnya, aku tak pernah punya keinginan memiliki anak, dunia ini tak cukup baik untuk membesarkan seorang anak. Selain itu, bukan cuma soal biaya, tapi ini soal sebuah nyawa, tanggung jawab yang teramat besar. Mereka bergantung pada kita bahkan setelah dewasa, bahkan setelah membangun keluarga sendiri, akan selalu kita, para ibu, yang menahan bebannya.
"Soal hasil USG yang kaubawa, aku sungguh bukan ayahnya. Supaya kau paham, perempuan itu bahkan tak boleh mendekatiku, tidak juga ke rumahku, dan tidak ke kasino-kasinoku. Dia pasti tahu soal dirimu dan datang ke rumah sakit hanya untuk menakut-nakutimu, tapi akan kukirim peringatan supaya dia menjauh darimu juga."
"Jorge juga tak boleh lagi masuk ke kasinomu, tapi dia tetap masuk. Siapa yang bisa menjamin bahwa bukan perempuan itu yang memasukkan kertas-kertas ke mesin-mesinmu?"
"Karena aku sudah mendatangi rumahnya dan dia mengaku. Dia menawarkan mengembalikan uangnya dan bersedia bekerja untukku selama sepuluh tahun demi mengembalikanmu padanya. Tapi, seperti kubilang, kau tak ternilai harganya, kau permataku, ratuku, dan calon istriku."
"Kurasa aku ingin segera mengambil dokumen-dokumenku, baru setelah itu aku istirahat, bisakah kita pergi sekarang?" Dia mengangguk dan kami bangkit dari ranjang. Jorge tak mungkin sebodoh itu untuk menantang Ravi, ada sesuatu yang sangat janggal telah terjadi dan aku perlu tahu kebenarannya.
Setelah berpakaian, kami menuju rumah lamaku. Kupanggil Jorge dan dia muncul di ambang pintu. Ravi berdiri tepat di belakangku, dan mereka berdua saling menatap, tampak seperti dua rival.
"Lorena, bisakah kita bicara berdua saja?"
"Tentu saja tidak. Tunanganku cuma datang untuk mengambil dokumen, dan kalau kau masih ingin jari-jarimu yang tersisa tetap utuh di tanganmu, sebaiknya jangan mendekatinya sama sekali."
"Kau menjebakku, Dumont, aku tak akan pernah masuk ke kasinomu atas kemauanku sendiri. Lorena, percayalah padaku, dia merencanakan semuanya." Aku menoleh ke Ravi, takut akan reaksinya, karena dia sedang melempar tatapan membunuh pada Jorge. "Kau psikopat, dan aku akan menghancurkan hidupmu."