Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Sidang di Balik Kabut

..."kami pergi untuk belajar dari 4 gunung, dan kami pulang untung menjadi gunung kelima yang menjaga rumah"...

Kabut di Gunung Emei pagi itu tidak turun seperti biasa. Kabut itu berdiri, tebal, putih, dan berat, seakan ikut menahan napas bersama seratus murid yang berbaris dari gerbang bawah sampai ke Balai Cahaya Bodhi. Tidak ada suara, tidak ada tawa, tidak ada bisik-bisik, karena hari ini bukan hari menyambut tamu, hari ini adalah hari seorang murid pulang membawa laporan hidup dan mati sekte.

Jing yue berjalan paling depan, jubah birunya sudah pudar warnanya, ujungnya robek, dan di punggungnya tergantung tas kain yang di dalamnya ada empat benda yang lebih berat dari batu. Di sampingnya Bai Ling menggenggam gulungan bambu setebal lengan, dan setiap langkahnya meninggalkan bekas di tangga batu yang basah oleh embun.

Seratus murid tidak memberi salam, mereka hanya menundukkan kepala sedikit dan meletakkan pedang di dada, itu adalah cara tertinggi Emei menghormati orang yang baru kembali dari medan. Langkah Jing yue tidak cepat, tidak lambat, karena dia tahu terburu-buru adalah tanda takut, dan hari ini dia tidak boleh takut.

Pintu besar Balai Cahaya Bodhi terbuka dengan bunyi berat, dan di dalamnya enam kursi Tetua sudah melingkar, di tengah ada satu kursi kosong yang lebih tinggi dari yang lain, dan di atasnya duduk Ni Suhu Jing xin. Rambut Ni Suhu Jing xin sudah seputih salju Kunlun, tapi punggungnya masih lurus seperti pedang mount hua, dan matanya masih setajam es yang bisa melihat sampai ke dasar hati orang.

Jing yue dan Bai Ling berjalan ke tengah aula, lalu berlutut dan menyentuhkan dahi ke lantai batu tiga kali, dan suara kepala menyentuh batu itu terdengar jelas di seluruh ruangan.

"Jing yue dari Emei, lapor," kata Bai Ling dengan suara yang ditahan agar tidak pecah. Ni Suhu Jing xin tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan, dan itu tanda bahwa sidang sudah dimulai.

Jing yue berdiri, membuka tas di punggungnya dengan tangan yang masih ada bekas lecet dari sapu bambu Shaolin, dan dia mengeluarkan benda pertama dengan hati-hati. Itu adalah lencana pedang mount hua, logamnya kusam tapi berat, dan ketika diletakkan di meja batu suaranya seperti denting bel peringatan.

"Ini dari Ketua Tetua mount hua," kata Jing yue, suaranya tidak tinggi tapi sampai ke telinga semua orang.

"Dia berkata Emei sudah terlalu lama mengajar murid untuk menghindar, dan sekarang saatnya Emei belajar berdiri, karena tanpa tulang punggung sekte akan roboh sendiri." Lalu dia mengeluarkan kantong kecil berisi biji teh Wudang, baunya masih samar, dan dia meletakkannya di sebelah lencana. "Ini dari Nyonya Yunshan dari Wudang," lanjut Jing yue.

"dia berkata Emei harus belajar menjadi air, lembut, masuk ke celah, dan memadamkan api tanpa harus memecahkan batu." Tangan Jing yue gemetar sedikit ketika mengambil benda ketiga, giok bunga salju dari Kunlun, warnanya biru muda seperti langit sebelum badai, dan dinginnya terasa sampai ke jari. "Ini dari Tetua Xuan Bing," katanya.

"Beliau berkata Emei harus jadi es, bersih, tidak bisa disuap, tidak bisa dibengkokkan, dan kalau harus pecah maka pecahlah dengan kehormatan." Terakhir dia mengeluarkan tasbih kayu 108 butir dari Shaolin, warnanya sudah gelap karena sering dipegang, dan dia meletakkannya paling akhir. "Ini dari Kepala Biara Zen Shi," ucap Jing yue.

"dia berkata Emei harus jadi tanah, dipijak, direndahkan, tapi dari situlah semua pohon besar tumbuh." Setelah keempat pusaka itu tertata rapi, Jing yue mengeluarkan satu benda lagi, sapu bambu yang gagangnya sudah halus karena genggaman. "Dan ini," katanya pelan.

"Ini untuk mengingatkan saya, bahwa seorang pemimpin juga harus mau kotor tangannya."

Enam Tetua tidak ada yang bicara, mereka hanya saling melirik, dan Ni Suhu Jing xin masih menutup mata, seakan sedang menimbang berat dari lima benda di atas meja.

Tetua Pertama akhirnya berdiri, tongkatnya mengetuk lantai sekali, dan suaranya menggema.

"Jing yue," katanya. "Tiga bulan lalu kau hanya murid tingkat tiga, kenapa kau berani membawa nama Emei berjalan ke empat sekte besar tanpa izin tertulis dari kami?"

Jing yue berlutut lagi, tapi punggungnya tetap tegak.

"Karena Emei sedang sekarat, Suhu," jawabnya jujur. "Dua bulan lalu cabang kami di Chengdu ditutup karena tidak ada yang berani membela, bulan lalu murid kami dilempari batu di pasar karena disebut sekte perempuan lemah, dan kalau kami menunggu surat izin maka mungkin bulan depan nama Emei sudah dihapus dari peta persilatan."

"Jadi kau pergi untuk menyelamatkan nama?" tanya Tetua Kedua.

"Tidak," jawab Jing yue, dan dia mengangkat kepala menatap lurus.

"Saya pergi untuk menyelamatkan cara kami berdiri, karena nama bisa dipulihkan, tapi kalau cara berdiri kami salah maka kami akan jatuh lagi dan lagi."

Tetua Ketiga mengambil lencana mount hua, menimbangnya di tangan.

"Kau bawa tulang, mau kau ajak kami perang?"

"Bukan," kata Jing yue.

"Tulang bukan untuk memukul orang, tulang untuk menopang diri sendiri agar tidak jatuh saat dihina."

Tetua Keempat mengambil biji teh.

"Kau bawa air, mau kau jadi pengecut yang selalu mengalah?"

"Air bukan pengecut," jawab Jing yue.

"Air masuk ke tempat yang pedang tidak bisa masuk, air berunding dengan desa, dengan pedagang, dengan pejabat, agar mereka tidak takut lagi pada jubah biru kami."

Tetua Kelima memegang giok Kunlun ke arah cahaya.

"Kau bawa es, mau kau jadi kejam dan dingin pada semua orang?"

"Es bisa mencair," kata Jing yue.

"Tapi sebelum mencair dia tidak kotor, itu cara kami menjaga agar nama Emei tetap bersih di tengah lumpur politik."

Tetua Keenam mengambil tasbih Shaolin dan memutarnya pelan.

"Kau bawa tanah, mau kau suruh kami semua merendah sampai diinjak?"

"Tanah memang dipijak," kata Jing yue.

"Tapi dari tanah tumbuh makanan, tumbuh obat, tumbuh pohon, itu cara kami mengingat bahwa semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin dekat kakinya harus ke tanah."

Setelah jawaban terakhir itu tidak ada suara selama waktu yang terasa sangat lama, hanya napas seratus murid dan suara angin di luar jendela.

Ni Suhu Jing xin membuka mata, berdiri, dan berjalan pelan ke tengah aula dengan langkah yang tidak menimbulkan suara sama sekali.

Beliau mengambil tasbih 108, dan mengalungkannya ke leher Jing yue, butir kayunya dingin menyentuh kulit. Lalu beliau mengambil lencana Hua Shan, dan menyematkannya di dada jubah Jing yue tepat di atas jantung. Kemudian beliau mengambil giok Kunlun, dan mengikatnya di pinggang Jing yue dengan tali merah.

Setelah itu beliau menuang air panas dari teko ke dalam cangkir, memasukkan satu biji teh Wudang, dan menyerahkan cangkir itu ke tangan Jing yue. Terakhir beliau mengambil sapu bambu, dan meletakkannya di tangan kanan Jing yue.

"Tur Jalan Emei dinyatakan selesai," kata Ni Suhu Jing xin dengan suara yang tidak keras tapi membuat seluruh aula bergetar.

"Kau tidak pulang membawa kemenangan, kau pulang membawa jalan, dan itu lebih sulit."

"Mulai hari ini, kau bukan lagi murid tingkat tiga, mulai hari ini kau adalah Penjaga Gerbang Emei."

Begitu kata-kata itu selesai, seratus murid di belakang serentak berlutut dan menundukkan kepala sampai dahi menyentuh lantai.

"Hormat kepada Penjaga Gerbang!" suara mereka bersatu menjadi satu gema yang memantul di dinding batu. Bai Ling menangis, tapi dia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terdengar.

Jing yue berdiri di tengah, dengan empat pusaka di badan dan sapu di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak 17 hari dia merasa kakinya benar-benar menapak. Ni Suhu Jing xin mendekat dan berbisik hanya agar Jing yue yang dengar.

"Ingat, anakku, gunung tertinggi bukan Hua Shan, bukan Kunlun, bukan Shaolin, gunung tertinggi adalah rumah sendiri, dan sekarang kau harus jadi gunung itu."

Malamnya Jing yue duduk sendirian di kamarnya, lilin menyala kecil, dan di depannya terbuka buku catatannya yang sudah penuh. Tangannya masih diperban, tapi dia tetap menulis dengan hati-hati, satu kalimat, satu halaman terakhir untuk bab ini.

"hari ini saya tidak menerima pedang baru, hari ini saya menerima tanggung jawab, dan ternyata tanggung jawab itu lebih berat daripada seribu anak tangga, lebih dingin daripada salju Kunlun, dan lebih tajam daripada pedang Hua Shan."

Dia menutup bukunya, memadamkan lilin, dan berbaring, dengan tasbih di leher dan giok di pinggang, dan di luar jendela kabut Emei mulai menghilang sedikit demi sedikit.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!