Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak di Bawah Ranjang

Charger laptopku mati Selasa malam, dua hari sebelum deadline tugas Algoritma dan Struktur Data yang bobotnya tiga puluh persen dari nilai akhir.

Aku tahu persis kapan itu terjadi karena aku sedang menyalin kode ketika layar tiba-tiba meredup, lalu indikator baterai berkedip merah, lalu mati total. Kabelnya tidak putus secara fisik — aku sudah periksa berkali-kali, ditekuk dari berbagai sudut, dicolok ulang dengan berbagai tingkat kesabaran — tapi entah bagian dalamnya yang rusak atau adaptornya yang menyerah setelah tiga tahun pemakaian tanpa jeda.

Rabu pagi aku bangun dengan satu masalah konkret: laptop dengan baterai sepuluh persen, tugas yang belum selesai, dan toko elektronik terdekat yang baru buka jam sepuluh sementara kelas pertamaku jam delapan.

"Pinjem charger kamu boleh?" Itu pesan pertama yang aku kirim ke Cahaya pagi itu, sebelum jam enam, sebelum kami bahkan berangkat bersama seperti biasa.

Balasannya datang lima menit kemudian, masih dengan typo khas orang yang baru bangun. "Charger appa? Laptop?"

"Iya. Punyaku rusak."

"Ada. Di kamar. Nanti ambil aja pas jemput aku, aku lagi siap-siap."

Jadi begitulah aku sampai di rumah Cahaya pagi itu, lebih awal dari biasanya, berdiri di depan pintu kamarnya yang setengah terbuka sementara suara shower masih terdengar dari kamar mandi di ujung koridor dan Tante Wulan — ibunya Cahaya — sudah sibuk di dapur dengan aroma nasi goreng yang menguar sampai ke lantai atas.

"Rendy udah dateng?" teriak Tante Wulan dari bawah.

"Udah, Tante!" balasku, karena kebiasaan memanggil orang tua Cahaya dengan sebutan itu sudah terlalu lama tertanam untuk diganti dengan formalitas apa pun.

"Sarapan dulu sana, nasi gorengnya udah mateng!"

"Nanti, Tante, lagi buru-buru!"

Aku mendorong pintu kamar Cahaya sedikit lebih lebar, melangkah masuk dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan pertama kalinya aku berada di sini sendirian — kamar ini sudah aku kunjungi ratusan kali sejak kami SD, cukup sering untuk aku hafal di mana letak lemari bukunya, di mana ia menyimpan action figure koleksi lama yang sudah tidak pernah disentuh lagi, dan di mana biasanya charger atau kabel-kabel kecil lain berakhir setelah dipakai.

"Katanya di laci meja," gumamku pada diri sendiri, membuka laci pertama.

Isinya: alat tulis, beberapa lembar stiker lucu yang belum ditempel, satu kotak permen karet yang setengah kosong, dan tiga buah charger — tapi tidak satu pun yang cocok dengan port laptopku. Satu untuk ponsel lama, satu untuk semacam speaker portabel, satu lagi yang aku bahkan tidak yakin fungsinya untuk apa.

Laci kedua: majalah lama, beberapa nota belanja yang sudah usang, dan map berisi sertifikat-sertifikat lomba yang tidak sempat dipajang.

Tidak ada di sana.

Aku berdiri, memindai ruangan sekali lagi. Meja belajar, rak buku, lemari pakaian besar di sudut kamar — dan ranjang, dengan seprai motif bunga-bunga kecil yang sudah dipakai Cahaya sejak SMP dan entah kenapa belum pernah diganti meski warnanya sudah agak pudar di beberapa bagian.

Ada di laci meja atau di bawah ranjang.

Aku berjongkok, mengangkat sedikit ujung seprai yang menjuntai ke lantai, dan mengintip ke bawah.

Gelap. Tapi ada beberapa bentuk yang bisa dikenali — kardus sepatu, tumpukan buku lama yang mungkin sudah tidak terpakai, dan satu kabel yang menjulur keluar dari balik salah satu kardus, ujungnya berwarna putih dengan bentuk yang familiar.

Aku meraihnya, menariknya perlahan supaya tidak tersangkut apa pun. Kabel itu terhubung ke sesuatu yang lebih berat di dalam — mungkin adaptornya masih terlipat di sekitar sana.

Dan dalam proses menarik itulah tanganku menyentuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar, lebih kaku, dengan tekstur permukaan yang jelas bukan kardus sepatu atau tumpukan buku.

Aku menarik napas, sedikit penasaran, dan menggeser posisi tubuh supaya bisa melihat lebih jelas ke bawah ranjang.

Sebuah kotak kardus sedang. Bukan kotak sepatu — lebih besar, dengan proporsi yang lebih persegi. Lakbannya sudah menguning di beberapa bagian, mulai terkelupas di sudut kiri atas, dan tutupnya tidak lagi tertutup rapat karena perekatnya sudah kehilangan sebagian besar daya rekatnya.

Tidak ada label. Tidak ada tulisan apa pun di permukaannya.

Aku tidak berniat membukanya. Sungguh. Niat awalku murni mencari charger, dan begitu aku menemukan kabelnya, secara teknis misi sudah selesai.

Tapi celah kecil di tutup kotak itu memperlihatkan sesuatu — sepotong kain berwarna biru tua dengan detail keemasan di tepinya, terlipat rapi, dan di atasnya, mencuat sedikit dari lipatan, ada bentuk logam kecil yang butuh waktu beberapa detik bagi otakku untuk memproses kenapa bentuknya terasa sangat familiar.

Bros. Berbentuk lambang segitiga dengan lingkaran kecil di tengahnya.

Aku pernah melihat lambang itu. Bukan sekali, bukan dua kali — puluhan kali, di layar laptop, di poster digital yang pernah aku jadikan wallpaper selama berbulan-bulan waktu SMP.

Tanganku bergerak sebelum aku benar-benar memutuskan untuk menggerakkannya, menarik tutup kotak itu lebih lebar.

Isi kotak itu adalah kostum lengkap.

Jaket dengan potongan panjang selutut, warna dasar biru tua yang dalam, dengan bordir benang emas membentuk pola geometris di sepanjang kerah dan pergelangan lengan. Di bagian dada, ada emblem yang sama persis dengan bros yang tadi mencuat keluar — lambang segitiga dengan lingkaran di tengah, dijahit dengan presisi yang membuatku harus menatapnya dua kali untuk memastikan itu benar-benar hasil jahitan tangan dan bukan bordir mesin pabrik.

Di bawahnya, celana panjang dengan potongan serupa, sepasang sarung tangan kulit sintetis berwarna hitam dengan aksen biru di pergelangan, dan sebuah bandana kecil terlipat hati-hati di sudut kotak, motifnya menyerupai pola sayap yang aku kenali sebagai lambang organisasi fiksi dalam cerita yang sama.

Aku duduk di lantai kamar Cahaya, kotak terbuka di depanku, dan pikiranku bergerak lebih cepat dari yang bisa aku ikuti.

Ini kostum Kaito Amagi.

Protagonis dari Stellar Requiem — anime dua belas episode yang tayang enam tahun lalu, tidak pernah benar-benar populer secara mainstream, dengan basis penggemar yang cukup niche sampai-sampai aku ingat betapa sulitnya mencari merchandise resmi untuk judul ini waktu aku masih tergila-gila dengannya di kelas dua SMP.

Bukan jenis karakter yang biasanya jadi pilihan cosplay orang yang baru terjun ke dunia ini. Desainnya rumit — detail bordirnya saja butuh riset serius untuk direplikasi dengan akurat, mengingat referensi visual resminya terbatas dan beberapa detail kecil seperti bentuk bros ini hanya muncul jelas di satu adegan flashback di episode sembilan.

"RENDY KENAPA KAMU—"

Suara itu datang dari arah pintu, cukup keras untuk membuatku tersentak.

Cahaya berdiri di sana, handuk masih terlilit di rambut basahnya, mengenakan kaus rumah dan celana pendek, wajahnya berubah warna dengan kecepatan yang secara objektif cukup mengesankan untuk diamati — dari pucat kaget menjadi merah padam dalam hitungan detik.

"Aku cari charger," jawabku, masih duduk di lantai dengan kotak terbuka di pangkuanku. "Terus aku nemu ini."

"ITU—" Ia melangkah cepat ke arahku, tangan terulur seolah hendak merebut kotak itu, tapi berhenti di tengah jalan, seperti ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa merebutnya sekarang justru akan membuat situasi ini terasa lebih besar dari yang seharusnya. Ia berdiri di sana, tangan masih setengah terangkat, air menetes dari ujung rambutnya yang basah ke lantai kayu, jatuh dalam titik-titik kecil yang membentuk pola tidak beraturan. "Itu... bukan apa-apa."

"Ini kostum Kaito Amagi."

Hening.

"Dari Stellar Requiem," lanjutku, karena entah kenapa aku merasa perlu mengonfirmasi bahwa aku tahu persis apa yang sedang aku pegang, seolah pengakuan itu penting untuk disampaikan sebelum percakapan ini bisa berjalan ke arah mana pun. "Anime yang aku tonton SMP kelas dua."

Cahaya tidak menjawab. Ia berdiri di sana, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — sejak belasan tahun aku mengenalnya, sejak taman kanak-kanak sampai sekarang — aku melihat Cahaya benar-benar kehabisan kata-kata. Bukan diam yang strategis, bukan diam yang dipakai untuk menyusun jawaban sarkastik seperti biasanya. Diam yang murni, yang tidak tahu harus dimulai dari mana.

"Kamu yang buat ini?" tanyaku, meski aku sudah cukup yakin dengan jawabannya berdasarkan kualitas jahitan yang aku lihat.

Ia mengangguk pelan. Sangat pelan, seolah setiap gerakan kecil itu butuh persetujuan khusus dari bagian otaknya yang masih berfungsi normal.

"Kapan?"

"...SMP." Suaranya kecil, jauh lebih kecil dari suara Cahaya yang biasa aku dengar berteriak di seberang lapangan atau menyahut candaanku dengan volume penuh. "Kelas tiga."

Aku menatap kembali kostum di pangkuanku. Jahitannya rapi — terlalu rapi untuk pekerjaan pertama seseorang, yang berarti kemungkinan besar sudah melalui beberapa kali percobaan sebelum sampai ke hasil akhir ini. Detail bordir di dada dikerjakan dengan tangan, bukan mesin — aku bisa melihat variasi kecil di ketegangan benang yang tidak akan muncul kalau dikerjakan otomatis — dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk menghasilkan presisi seperti itu tanpa pengalaman jahit-menjahit sebelumnya.

"Kenapa kamu enggak pernah cerita soal ini?"

Cahaya akhirnya bergerak, duduk di tepi ranjangnya sendiri, masih dengan handuk melilit kepala, menatap ke lantai alih-alih ke arahku. Ia menarik napas panjang, seperti sedang mengumpulkan tenaga untuk sesuatu yang lebih berat dari sekadar kalimat pembuka.

"Karena itu memalukan," katanya akhirnya.

"Kenapa memalukan?"

"Karena—" Ia berhenti. Menutup mata sebentar. "Karena kamu enggak pernah tau aku suka hal-hal kayak gini, Ren. Aku enggak pernah cerita ke siapa-siapa soal ini. Bahkan Sasa enggak tau soal yang ini."

"Yang mana? Soal kostumnya, atau soal alasannya?"

Cahaya menatapku sebentar sebelum membuang muka lagi. "Dua-duanya. Tapi lebih... alasannya."

Aku menunggu, tidak mendorong, hanya duduk di lantai dengan kotak masih terbuka di antara kami.

"Kelas tiga SMP," katanya akhirnya, suara masih pelan tapi mulai menemukan ritmenya, "kamu lagi demam banget sama anime itu. Stellar Requiem. Kamu cerita ke aku hampir tiap hari — pas jalan pulang, pas nunggu jemputan, bahkan pas makan siang kadang kamu masih sempet-sempetin cerita. Soal ceritanya, soal karakternya, soal—" Ia berhenti sebentar, mencoba mengingat dengan lebih presisi. "Soal gimana Kaito itu karakter yang paling relate buat kamu. Introvert, susah nunjukin perasaan, tapi diam-diam peduli banget sama orang-orang di sekitarnya. Kamu bilang itu kayak liat diri kamu sendiri di layar."

Aku tidak ingat persis mengucapkan kalimat itu, tapi terdengar seperti sesuatu yang mungkin aku katakan waktu itu, dalam fase hidup ketika aku belum belajar menjaga jarak antara antusiasme dan rasa malu untuk menunjukkannya.

"Dan aku enggak ngerti apa-apa soal anime itu waktu itu," lanjut Cahaya. "Aku cuma dengerin kamu cerita karena—" Ia berhenti lagi, kali ini lebih lama, cukup lama sampai aku mulai bertanya-tanya apakah ia akan melanjutkan kalimat itu sama sekali. "Karena aku suka dengerin kamu cerita. Kamu jarang banget segitu semangat soal sesuatu, Ren. Biasanya kamu tenang-tenang aja, datar, kadang aku enggak tau kamu lagi seneng atau enggak. Tapi pas cerita soal itu, matamu beda. Kamu jadi... hidup banget."

Sesuatu di dadaku bergerak dengan cara yang tidak bisa aku beri nama dengan tepat.

"Terus aku mikir," lanjutnya, mulai memainkan ujung handuk di kepalanya dengan jari-jari yang gelisah, "kalau aku bisa masuk ke dunia yang kamu suka itu — enggak cuma dengerin doang, tapi beneran ngerti isinya — mungkin kita bisa punya sesuatu yang sama-sama kita suka. Bukan cuma aku dengerin kamu cerita satu arah, tapi aku juga bisa cerita balik. Diskusi bareng. Kayak... setara."

"Jadi kamu belajar jahit."

"Aku belajar dari YouTube. Modal jarum sama benang dari kotak jahit mama, yang jujur aja mama enggak pernah pakai lagi sejak aku SD, jadi aku pinjem diam-diam." Ada sedikit tawa kecil, getir, keluar dari mulutnya. "Butuh tiga bulan buat nyelesain yang ini. Aku salah potong pola dua kali. Bagian bordir pertama hasilnya miring parah, aku bongkar ulang, hampir nangis waktu benangnya kusut dan aku enggak bisa lepas simpulnya."

Aku menatap kostum itu lagi, kali ini dengan mata yang berbeda — bukan lagi sekadar mengamati kualitas jahitan, tapi mencoba membayangkan proses tiga bulan yang tersembunyi di balik setiap jahitan itu. Malam-malam yang mungkin dihabiskan Cahaya sendirian dengan jarum dan benang, sementara aku sedang sibuk dengan duniaku sendiri, sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang diam-diam berusaha memahami dunia itu lebih dalam.

"Terus kenapa enggak pernah kamu kasih tau aku? Setelah selesai, maksudku."

Cahaya menatapku dengan ekspresi yang campur aduk — ada kesal, ada malu, dan sesuatu yang lebih lembut yang bersembunyi di baliknya, sesuatu yang aku belum sepenuhnya bisa baca. "Karena waktu udah jadi, aku... enggak berani, Ren. Takut kamu mikir aku aneh. Atau takut kamu mikir aku cuma ikut-ikutan doang, enggak beneran suka, cuma pengen deket-deket sama kamu doang."

"Kamu habisin tiga bulan buat itu. Itu bukan sesuatu yang dikerjain orang yang cuma ikut-ikutan."

"Makanya aku takut kamu pikir aku maksa-maksain sesuatu yang bukan aku."

Aku menggeleng pelan, kembali menatap detail bordir di dada kostum itu. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas bahwa itu bukan sekadar bordir asal-asalan, tapi replika presisi dari lambang yang muncul di seri itu, lengkap dengan gradasi warna yang aku tahu susah dicapai kecuali benar-benar memperhatikan referensinya frame demi frame, mem-pause di detik yang tepat untuk menangkap detail yang mungkin hanya terlihat sepersekian detik di layar.

"Ini enggak aneh," kataku akhirnya.

Cahaya mendongak, menatapku dengan ekspresi yang setengah berharap, setengah masih waspada.

"Ini—" Aku berhenti sebentar, mencari kata yang tepat, yang tidak berlebihan tapi juga tidak meremehkan apa yang baru saja aku ketahui. "Ini butuh usaha yang enggak main-main. Dan detail-detail kecil kayak bentuk bros ini—" Aku menunjuk ke logam kecil yang tadi mencuat keluar. "—itu bahkan enggak jelas kelihatan di poster resmi. Cuma muncul jelas di episode sembilan, pas adegan flashback yang durasinya paling lama tiga detik. Kamu perhatiin sampai segitunya?"

"Aku nonton ulang episode itu kayak lima belas kali buat liat detailnya. Pause, zoom, pause lagi."

"Kenapa?"

"Karena aku pengen bikin yang bener, Ren." Suaranya sedikit lebih keras sekarang, sedikit lebih dekat ke Cahaya yang biasa aku kenal — versi yang tidak takut bicara dengan volume penuh. "Aku enggak mau bikin yang asal-asalan terus nanti kamu liat dan mikir, oh, ini enggak akurat, karakternya bukan begini, dia enggak ngerti."

"Kamu peduli banget soal keakuratan karakter dari anime yang bahkan awalnya enggak pernah kamu tonton."

"Aku nonton kok. Akhirnya."

Aku menoleh cepat. "Kamu nonton Stellar Requiem? Semuanya?"

Cahaya mengangguk, sedikit defensif, seperti mengantisipasi aku akan meragukannya. "Diam-diam. Waktu kamu lagi enggak ada, atau pas kamu lagi sibuk sama tugas sekolah. Biar bisa ngerti karakternya lebih dalem sebelum bikin kostumnya. Aku bahkan bikin catatan kecil soal detail kostumnya di tiap episode, kapan mana yang keliatan, biar enggak salah."

"Kamu bikin catatan riset buat kostum cosplay."

"Kedengerannya obsesif kalau diomongin gini."

"Enggak," kataku cepat, mungkin lebih cepat dari yang aku rencanakan. "Enggak obsesif. Itu—" Aku mencari kata yang tepat lagi. "Itu perhatian. Yang serius."

Ada jeda panjang setelah itu, bukan jeda canggung, tapi jeda yang terasa seperti aku sedang mengunyah sesuatu yang butuh waktu untuk benar-benar dicerna, dan mungkin Cahaya juga merasakan hal yang sama dari sisi lain percakapan ini.

Selama ini aku pikir dunia kami memang berbeda. Aku yang menghabiskan waktu luang dengan anime dan manga di kamar sendirian, Cahaya yang menghabiskan waktu luang dengan lingkaran sosial yang lebih besar dan lebih beragam dari yang bisa aku ikuti tanpa merasa kewalahan. Dua dunia yang bersinggungan karena kebetulan bertetangga sejak kecil, bukan karena benar-benar tumpang tindih secara substansial.

Tapi ternyata ada bagian dari dunia Cahaya yang selama ini diam-diam dibangun khusus untuk bisa masuk ke duniaku. Dan aku sama sekali tidak tahu itu ada, meski aku pikir aku sudah tahu hampir semua tentang dirinya.

"Kenapa kamu enggak pernah pakai ini di suatu acara?" tanyaku. "Sayang banget kalau cuma disimpen di kotak di bawah ranjang selama ini."

Cahaya menghela napas, mengambil kembali kotak itu dari depanku dengan gerakan yang lebih hati-hati sekarang, tidak lagi panik seperti tadi, lebih seperti seseorang yang sedang mengumpulkan sesuatu yang rapuh. "Karena aku enggak pernah nemu momen yang pas. Dan—" Ia berhenti sebentar, menatap ke dalam kotak, ke arah lipatan kain biru tua itu. "Dan aku enggak yakin kamu bakal suka ide itu."

"Kenapa enggak?"

"Karena ini duniamu, Ren. Bukan duniaku. Rasanya kayak aku nyerobot sesuatu yang seharusnya cuma milik kamu, terus kamu bakal risih liat aku maksa-maksain masuk ke sana."

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan kotak ini, aku merasa perlu mengucapkan sesuatu dengan hati-hati — bukan karena aku tidak tahu apa yang ingin aku katakan, tapi karena aku ingin memastikan itu terdengar tepat seperti yang aku maksud, tidak kurang, tidak berlebihan.

"Dunia itu lebih seru kalau dibagi," kataku akhirnya. "Bukan disimpen sendirian sampai berdebu di bawah ranjang."

Cahaya menatapku lama. Cukup lama sampai aku mulai bertanya-tanya apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah, atau sesuatu yang terlalu berlebihan untuk konteks pagi hari yang seharusnya hanya soal meminjam charger.

Tapi kemudian ia tersenyum — bukan senyum lebar yang biasa ia tunjukkan ke teman-teman barunya di kampus, tapi senyum kecil yang lebih tenang, yang biasanya hanya muncul dalam momen-momen tertentu yang jarang terjadi, momen yang aku sadari selama ini hanya pernah aku lihat dalam situasi-situasi yang benar-benar personal antara kami berdua.

"Charger kamu di laci," katanya, mengalihkan topik dengan cara yang sangat khas Cahaya — memotong momen yang mulai terasa terlalu berat dengan sesuatu yang lebih praktis. "Bukan di bawah ranjang."

Aku menatapnya. "Kamu tahu dari tadi charger-nya di laci?"

"Iya."

"Kenapa enggak bilang dari awal? Aku bisa aja langsung ambil terus pergi tanpa perlu geledah bawah ranjang."

"Karena kalau aku bilang dari awal, kamu enggak bakal ke bawah ranjang, terus kamu enggak bakal nemu ini." Ia menepuk pelan permukaan kotak di pangkuannya. "Dan aku... enggak tahu, Ren. Mungkin memang udah waktunya kamu tahu soal ini. Aku capek nyimpen sendirian."

Aku tidak langsung menjawab itu. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa lebih besar dari sekadar penjelasan soal charger yang salah tempat, sesuatu yang mengambang di antara kami tanpa benar-benar terucap sepenuhnya, tapi aku belum bisa mengurai persis apa itu — hanya tahu bahwa itu ada, mengambang, menunggu untuk dipahami di lain waktu.

"Ambil chargernya," kata Cahaya lagi, berdiri dan berjalan ke arah lemari besar di sudut kamar untuk menyimpan kembali kotak itu. Kali ini bukan di bawah ranjang, tapi di rak paling atas lemarinya — tempat yang lebih sulit dijangkau, butuh menaiki kursi kecil yang biasa ia gunakan, tapi juga lebih terlihat kalau seseorang benar-benar mencari, tidak lagi tersembunyi dalam gelap kolong ranjang. "Tugas kamu deadline besok kan?"

"Iya."

"Ya udah, cepetan. Jangan buang waktu ngobrolin kostum lama, nanti telat masuk kelas."

Tapi ketika aku berdiri dan berjalan ke arah laci meja untuk mengambil charger yang sebenarnya, aku menoleh sekali lagi ke arah lemari — ke rak paling atas, tempat kotak itu sekarang tersimpan, dengan pintu lemari yang Cahaya tutup pelan-pelan, seperti menutup sesuatu yang butuh dijaga tapi tidak lagi disembunyikan.

Tidak lagi tersembunyi rapat-rapat di bawah ranjang, dalam kegelapan yang tidak akan pernah tersentuh kecuali oleh kebetulan seperti pagi ini.

Hanya disimpan lebih tinggi. Tapi tetap ada di sana. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku tahu itu ada.

Aku mengejar kelas pagi itu dengan waktu yang sangat mepet — charger sudah di tas, tugas Algoritma dan Struktur Data akhirnya bisa diselesaikan di sela-sela jeda antara kelas kedua dan ketiga, dan sepanjang hari itu berjalan dengan ritme normal yang biasa: kuliah, catatan, obrolan singkat dengan Bimo soal materi yang tidak sepenuhnya kami pahami, makan siang di meja pojok kantin bersama Cahaya dan Sasa yang sepanjang waktu tidak menyinggung sama sekali soal kejadian pagi tadi.

Aku tidak menceritakannya ke Sasa. Bukan karena aku diminta untuk merahasiakannya secara eksplisit — Cahaya tidak pernah bilang "jangan bilang siapa-siapa" — tapi karena rasanya, setelah semua yang Cahaya jelaskan pagi itu, keputusan untuk bercerita atau tidak seharusnya tetap ada di tangannya, bukan tanganku.

Jadi aku makan siang seperti biasa, mendengarkan Sasa yang mengomentari dosen killer di mata kuliah Statistik dengan detail yang berlebihan, sesekali melirik ke arah Cahaya yang tertawa di momen-momen yang tepat, terlihat sepenuhnya seperti Cahaya yang biasa — bukan Cahaya yang tadi pagi duduk di tepi ranjangnya dengan handuk masih di kepala, menatap lantai, mengaku sesuatu yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun.

Tapi aku tahu sekarang. Dan pengetahuan itu duduk di suatu tempat di kepalaku sepanjang hari, tidak mengganggu, hanya... ada.

Malam itu, di kamarku sendiri dengan laptop yang akhirnya terisi penuh berkat charger yang aku pinjam, aku tidak langsung mengerjakan revisi tugas yang sudah aku kumpulkan tadi siang.

Aku duduk diam sebentar di kursi meja belajar, menatap layar kosong dokumen baru yang belum aku isi apa-apa, pikiran masih berputar di sekitar kotak kardus dan kostum biru tua dengan detail emas itu.

Tiga bulan pengerjaan. Lima belas kali menonton ulang satu episode demi memperhatikan satu detail kecil. Menonton seluruh serialnya diam-diam tanpa pernah sekali pun menyebutkannya, bahkan ketika ada banyak kesempatan yang seharusnya cukup natural untuk melakukannya — waktu aku cerita soal rencana rewatch, waktu ada diskon merchandise anime yang aku sebut sambil lalu, waktu-waktu kecil lain yang sekarang, dengan pengetahuan baru ini, terasa seperti titik-titik yang seharusnya bisa menyambung tapi tidak pernah aku sadari.

Aku mengenal Cahaya sejak kami berdua masih terlalu kecil untuk mengingat detail-detail awal pertemanan kami. Aku pikir aku tahu hampir semua tentang dirinya — makanan favoritnya, cara dia tertawa waktu benar-benar geli dibanding tertawa sopan basa-basi, kebiasaannya menggigit bibir bawah waktu berpikir keras, cara dia selalu tahu kapan harus mendorong dan kapan harus diam saja di sampingku tanpa bicara apa-apa.

Tapi ternyata ada ruang di dalam dirinya yang selama ini tidak pernah aku lihat. Bukan karena ia menyembunyikannya dengan sengaja untuk membuat jarak antara kami. Tapi karena — dan ini yang paling aku pikirkan sepanjang malam itu, duduk sendirian dengan laptop menyala di depanku tanpa benar-benar terpakai — ruang itu dibangun khusus untuk aku, dan justru karena itulah ia paling takut menunjukkannya. Ada logika yang aneh di situ, tapi entah kenapa terasa masuk akal juga: semakin personal sesuatu, semakin besar risikonya kalau ditolak atau disalahpahami.

Aku membuka aplikasi pesan. Nama Cahaya di urutan teratas, seperti selalu.

"Makasih udah cerita soal kostumnya tadi pagi," ketikku, menghapusnya, mengetik ulang. "Itu keren banget. Serius, bukan basa-basi."

Balasannya datang setelah sekitar satu menit — jeda yang cukup lama untuk seseorang seperti Cahaya yang biasanya membalas hampir instan.

"Jangan lebay, Ren."

"Aku enggak lebay. Detail bordirnya bahkan lebih akurat dari beberapa cosplay yang pernah aku liat online, dan itu dikerjain orang yang katanya baru belajar jahit."

"Kamu suka riset cosplay orang lain di internet?"

"Kadang. Buat referensi doang."

"Wibu."

"Terima kasih."

"Masih bukan pujian, Ren."

"Aku tahu. Tapi kali ini aku terima aja sebagai pujian."

Ada jeda beberapa detik sebelum pesan berikutnya masuk, lebih lama dari biasanya, cukup lama sampai aku mulai bertanya-tanya apakah aku mengatakan sesuatu yang salah.

"Ren."

"Hm?"

"Makasih juga. Buat enggak ngeledekin aku soal ini. Aku kira kamu bakal ketawa, atau minimal mikir aku aneh."

Aku menatap layar itu cukup lama sebelum membalas, mencoba memastikan kalimat berikutnya benar-benar mewakili apa yang ingin aku sampaikan.

"Kenapa aku harus ngeledekin sesuatu yang kamu kerjain sepenuh hati selama tiga bulan?"

Tidak ada balasan langsung setelah itu. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi, hilang lagi — pola yang sudah aku kenal sebagai tanda Cahaya sedang menimbang-nimbang kalimat yang tepat, mengetik dan menghapus berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan.

Akhirnya, satu stiker masuk. Bukan kucing cemberut yang biasa ia kirim.

Kali ini karakter yang berbeda — seseorang yang tersenyum kecil, dengan latar belakang warna hangat, dari pack stiker yang sepertinya baru ia unduh.

Aku menyimpan stiker itu ke folder favorit tanpa benar-benar berpikir kenapa aku melakukannya, hanya merasa bahwa momen ini — meski kecil, meski hanya berupa satu gambar digital yang dikirim lewat aplikasi pesan — pantas untuk disimpan dengan cara tertentu.

Kemudian aku menutup aplikasi pesan, kembali menatap dokumen kosong yang seharusnya berisi revisi kecil untuk tugas yang sudah dikumpulkan, dan mulai mengetik hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting — meski sebagian pikiranku masih ada di kotak kardus lecek yang sekarang tersimpan di rak paling atas lemari Cahaya, dan pada satu pertanyaan yang belum sepenuhnya bisa aku jawab.

Berapa banyak lagi ruang seperti itu yang mungkin ada di dalam diri Cahaya — ruang-ruang kecil yang dibangun diam-diam, disembunyikan bukan karena tidak berharga, tapi justru karena terlalu berharga untuk dipertaruhkan — yang selama ini tidak pernah aku lihat karena aku tidak pernah benar-benar mencarinya?

Aku tidak tahu jawabannya malam itu.

Yang aku tahu hanya satu hal kecil, yang entah kenapa terasa penting untuk dipegang: kotak itu sekarang tersimpan lebih tinggi dari sebelumnya. Tidak lagi di bawah ranjang, dalam gelap, menunggu ditemukan secara tidak sengaja.

Dan mungkin — meski aku belum tahu kapan atau bagaimana — pada suatu titik, kotak itu tidak akan perlu disembunyikan sama sekali.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!