"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: GERBANG KEHAMPAAN SOUTHERN BOUNDARY
"Hentikan serigalanya, Mo Xie!" seru Xue Qingyue setengah berbisik dari balik pundak pemuda itu.
Tangan kanannya yang terbungkus pelindung lengan berukir kristal es refleks mencengkeram bahu jubah hitam Mo Xie, memberikan tekanan kuat sebagai isyarat darurat yang tak bisa dibantah.
"Kita tidak bisa membawa Serigala Es lebih dekat lagi ke arah celah. Hawa keberadaan makhluk kehampaan akan membuat insting hewannya menjadi gila, dan ukurannya yang besar hanya akan menjadikan kita sasaran empuk!"
"Aku mengerti," sahut Mo Xie singkat.
Tanpa membantah sedikit pun, Mo Xie langsung mematuhi instruksi ksatria wanita itu. Ia menarik tali kekang kulit di tangannya dengan satu hentakan mantap yang terukur.
Serigala Es raksasa itu mendengus kasar, melambatkan laju lari jarinya hingga akhirnya berhenti sepenuhnya di balik gundukan es raksasa yang menonjol bagai dinding pertahanan alami. Mo Xie dan Xue Qingyue segera melompat turun dari atas pelana bulu tebal.
Begitu kaki mereka menapak pada lapisan salju tebal yang mulai menghitam akibat dampak korosif dari kegelapan, Xue Qingyue menepuk perlahan moncong serigala tersebut. Ia membisikkan sebuah perintah pendek dalam bahasa kuno Sekte Es Abadi agar hewan buas itu segera berbalik dan menunggu di batas aman hutan es.
Dengan patuh, Serigala Es raksasa itu mengibaskan ekornya, lalu melesat cepat menghilang ditelan kegelapan badai salju, meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekam.
Mo Xie melangkah pelan mendekati tepi gundukan es, merendahkan tubuhnya untuk mengintip ke arah dasar lembah di bawah mereka.
Qi Kegelapan yang mencekik kini terasa begitu pekat menyengat, membakar dinding tenggorokannya di setiap helaan napas. Di bawah sana, tanah bersalju murni dari benua utara telah terkoyak hebat, menyisakan retakan-retakan membara yang terus memuntahkan asap hitam pekat ke udara.
Di tengah-tengah kehancuran itu, sebuah celah dimensi melayang rendah di atas tanah—sebuah retakan ruang yang tidak stabil, berdenyut-denyut dengan pendar ungu kemerahan yang mengerikan bagai luka menganga di langit malam.
"Lihat itu..." Xue Qingyue berbisik tepat di samping Mo Xie.
Jemarinya perlahan mencengkeram erat gagang pedang kristalnya yang mulai memancarkan pendar biru dingin, bersiap untuk konfrontasi berdarah. "Mereka sudah mulai merayap keluar."
Mo Xie menatap lurus ke arah yang ditunjuk oleh Xue Qingyue.
Dari balik celah dimensi yang bergejolak, beberapa bayangan hitam dengan bentuk raga meliuk tak beraturan merangkak turun ke atas permukaan salju. Sepasang mata merah menyala milik entitas-entitas itu menatap lapar ke sekeliling, mencari keberadaan daging atau esensi jiwa fana di tanah ini.
Untuk pertama kalinya, di saat emosinya sedang stabil dan kepalanya dingin, Mo Xie bisa merasakan tekanan ancaman nyata dari atmosfer di sekitar mereka. Hawa keberadaan makhluk-makhluk itu begitu asing, korosif, dan dipenuhi Qi Kegelapan... namun terasa familier bagi Mo Xie.
Ia menatap sejenak lengan kanannya yang terbungkus balutan perban hitam, lalu beralih kembali menatap monster-monster tersebut.
Selama ini, Mo Xie hanya berfokus pada amarah, luka, dan dendam pribadinya atas kehancuran Lembah Yunlan. Namun kini, menyaksikan celah menganga yang memuntahkan pembusukan itu, ia mulai menyadari realitas kelam yang sedang melanda Benua Tianlan yang telah runtuh ini.
Berbagai faksi kuat—termasuk Sekte Es Abadi tempat Xue Qingyue mengabdi—telah bertarung habis-habisan di baris terdepan tanpa henti. Mereka berdiri bagai perisai kokoh yang menahan gempuran entitas-entitas mengerikan ini agar wilayah yang tersisa tidak sepenuhnya lenyap menjadi abu.
"Apa kau setiap hari berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti mereka?" tanya Mo Xie datar. Nada keseriusan mendalam tersirat di balik suaranya saat ia melirik ke arah profil samping wajah Xue Qingyue.
Xue Qingyue tidak langsung menjawab. Ia menarik pedang kristalnya secara perlahan dari dalam sarung kulitnya, menimbulkan denting halus yang nyaring di tengah keheningan malam. Cahaya biru es dari artefak senjatanya memantul indah di atas wajahnya yang tegas tanpa cela.
"Hampir setiap hari," jawab Xue Qingyue tanpa mengalihkan pandangan dari dasar lembah. "Dan yang kau lihat di bawah sana hanyalah monster tingkat rendah yang setara dengan ranah Mortal awal. Terkadang, sesuatu yang jauh lebih kuat di ranah Awakened tingkat menengah atau tinggi mencoba menerobos masuk. Jika kami di baris depan ini goyah bahkan hanya untuk satu detik saja... benteng utara dan seluruh sisa dunia fana ini akan bernasib sama persis seperti lembah asalmu, Mo Xie."
Ia melangkah setapak ke depan, bersiap untuk melompat turun dari gundukan es pertahanan mereka.
"Dendammu pada para Dewa tidak akan ada gunanya jika kau mati konyol di tangan makhluk-makhluk tanpa jiwa ini," lanjut Xue Qingyue dingin, melirik mata kiri Mo Xie yang bersinar biru redup. "Gunakan Inti Es Abadi di mata kirimu untuk membaca alur gerakan mereka. Dan bersiaplah... mereka telah menyadari keberadaan kita."
GROOOARRR!
Seolah merespons ucapan Xue Qingyue, salah satu makhluk kegelapan berkaki empat di dasar lembah mendadak mendongak kasar. Kepala tanpa wajah itu—yang hanya dipenuhi oleh deretan gigi tajam berlendir hitam—langsung menghadap presisi ke arah gundukan es tempat Mo Xie dan Xue Qingyue bersembunyi.
Dengan raungan melengking yang merusak gendang telinga, tiga entitas pertama langsung melesat menanjak tebing es dengan kecepatan luar biasa. Langkah-langkah mereka meninggalkan jejak pembusukan hitam korosif di atas lapisan salju suci Sekte Es Abadi.
Mo Xie berdiri tegak, membiarkan angin badai mengibarkan jubah hitamnya. Tangan kanannya yang terbungkus perban hitam bergerak meraba dadanya, bersiap memanggil kehendak Pedang Kehampaan yang terbelenggu di dalamnya.
Mata kirinya yang berwarna biru gletser berpendar semakin terang di dalam kegelapan malam, memproyeksikan alur qi merah milik Entitas Void yang kian mendekat.
Ini bukan lagi sekadar latihan atau pengujian di kawah es; ini adalah langkah pertama yang akan membuktikan apakah ia layak untuk berdiri menantang takhta para Dewa.