Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pukul satu siang tepat, terik matahari membakar pelataran rumah kayu.
Rimba sudah bersiap di teras, mengenakan kemeja kain pudar peninggalan almarhum ayah Dayang yang sedikit sempit di bagian bahu tegapnya, dipadu celana longgar yang tak kalah lusuhnya.
Dayang keluar dari dalam rumah, melemparkan kunci motor sport hitamnya tepat ke arah Rimba.
Dengan refleks cepat yang luwes, Rimba menyambar kunci tersebut di udara.
"Mas Bima yang bonceng aku ya. Biar Mas sekalian tahu jalan menuju pelabuhan pelelangan ikan," ujar Dayang seraya menyodorkan helm.
Rimba mengangguk mantap. Namun, baru saja ia hendak menaiki jok motor, derak roda sepeda ontel yang dikayuh terburu-buru memecah ketenangan gang.
Bayu datang dengan napas terengah-engah dan wajah yang memerah padam oleh terbakar cemburu.
"Dayang! Tunggu!" teriak Bayu sembari membanting sepedanya di pelataran.
Ia melangkah lebar, mencoba menyela di antara Dayang dan Rimba.
"Aku ikut!"
Dayang menyipitkan mata, menggelengkan kepalanya tegas.
"Nggak usah, Bayu. Aku mau kulakan ikan sama Mas Bima, bukan mau senang-senang atau jalan-jalan."
"Iya, Dayang, aku mengerti!" seru Bayu dengan nada tinggi yang memburu, matanya menatap tajam dan penuh permusuhan ke arah Rimba.
"Tapi aku tidak percaya sama lelaki ini! Bagaimana kalau dia memperkosa kamu saat di tengah jalan?! Kita, kan nggak tahu dia ini siapa!"
Mata Rimba seketika membelalak lebar mendengar tuduhan liar yang keluar dari mulut pria lokal itu.
Urat-urat di rahang sang CEO seketika menegang hebat, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang nyaris meledak.
Seorang Rimba Suryo—pemimpin konglomerasi raksasa yang disegani—dituduh dengan kalimat sekeji dan serendah itu oleh seorang pemuda desa?
Belum sempat Rimba membuka suara demi membela harga dirinya, Dayang sudah melangkah maju satu pukulan ke depan, berdiri tepat di hadapan Bayu dengan tatapan membekukan yang sanggup merontokkan nyali siapa saja.
"Jaga mulutmu, Bayu!" bentak Dayang dengan nada rendah yang sarat ancaman, matanya menyala tajam menatap pria di hadapannya.
"Mas Bima ini orang yang butuh pertolongan, bukan penjahat! Kalau kamu cuma datang ke rumahku buat melempar fitnah murahan dan tuduhan kotor kayak gitu, mending kamu angkat kaki dari sini sekarang juga!"
Bayu terperanjat, mundur setengah langkah melihat amarah gadis yang dikejarnya itu meluap.
Sebelum Bayu sempat membela diri, Rimba melangkah maju.
Sosoknya yang tegap berdiri tegap mengikis kesan 'pria miskin yang ringkih'.
Dengan sorot mata dingin bak belati yang biasa ia gunakan untuk membungkam lawan bisnisnya di ruang rapat, Rimba menatap lurus ke bola mata Bayu.
Aura dominasi alaminya keluar begitu pekat hingga membuat udara di teras itu mendadak mencekam.
"Mas," ucap Rimba, suaranya berat, tenang, namun penuh penekanan yang sanggup meremukkan nyali.
"Saya memang orang asing yang ndak punya apa-apa saat ini. Tapi saya masih punya kehormatan dan tahu cara menghormati wanita yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Mbak Dayang punya kepalan tangan yang sanggup merobohkan preman pasar—kalau saya punya niat jahat, saya yang bakal mampus duluan di tangannya sebelum melangkah sejengkal pun."
Rimba mencondongkan tubuhnya sedikit, tatapannya mengunci Bayu yang mendadak gagap.
"Jadi, simpan tuduhan sampah Mas itu baik-baik. Jangan ukur moral saya pakai pikiran kotor Mas sendiri."
Bayu bungkam seribu bahasa. Tenggorokannya terasa tercekat, tak mampu membalas ketegasan dan wibawa dingin yang memancar dari pria berkaos lusuh di depannya.
Dayang sempat tertegun sejenak. Ia menatap sisi wajah 'Bima' dari samping—terkesima oleh cara pria itu membela harga diri tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik.
Tatapan penuh wibawa itu terasa terlalu berkelas untuk ukuran pria perantau biasa.
Tanpa membuang waktu lagi, Dayang menyambar helmnya dan naik ke jok belakang motor sport hitamnya.
"Ayo berangkat, Mas Bima," perintah Dayang, tak lagi melirik ke arah Bayu yang berdiri membeku penuh rasa malu dan cemburu.
"Baik, Mbak Dayang," sahut Rimba. Ia menaiki jok depan, memutar kunci kontak, lalu menarik gas.
Mesin motor meraung halus saat kuda besi itu melesat cepat membelah jalanan gang, meninggalkan Bayu yang mengepalkan tangan menahan kekalahan telak di pelataran rumah.
Di sepanjang perjalanan menuju pelabuhan pelelangan ikan, angin laut bertiup makin kencang membawa aroma amis yang khas.
Namun, pikiran Dayang justru melayang jauh. Kata-kata tegas yang dilontarkan pria di depannya tadi terus bergema di kepalanya.
Cara 'Bima' menatap Bayu, wibawanya yang mendominasi, dan ucapan spesifiknya tentang kepalan tangan Dayang...
Dayang sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menembus deru angin dan raungan mesin motor sport yang dikendarai Rimba.
"Mas," panggil Dayang, suaranya setengah berseru di balik helm.
"Tahu, dari mana kalau aku pernah merobohkan preman pasar?"
Deg!
Jantung Rimba seketika berdesir hebat. Pegangannya pada stang motor mendadak menegang.
Sang CEO raksasa itu merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.
Karena terlalu emosi mendengarkan fitnah kotor dari Bayu tadi, ia sampai melupakan satu detail penting—ia mengetahui fakta bahwa Dayang seorang preman pasar yang tangguh bukan dari desas-desus warga hari ini, melainkan karena ia sendiri yang menyaksikan Dayang menghajar anak buahnya dan menyiram air amis ke uangnya kemarin!
Rimba menelan salivanya, otaknya yang biasa menyusun strategi bisnis miliaran rupiah kini harus bekerja ekstra cepat dalam hitungan detik agar penyamarannya tak berantakan di tengah jalan.
"O-oh, itu, Mbak," sahut Rimba dengan nada tenang yang dipaksakan.
Ia memperlambat laju motornya sedikit agar suaranya terdengar jelas.
"Pas saya sudah sadar di dalam bedak belakang tadi pagi, setelah Mbak Dayang masuk bawa teh hangat, saya dengar Pak Mat sama Mas Jamal lagi ngobrol di depan."
Rimba menghela napas pelan, merangkai kebohongan dengan begitu halus.
"Mas Jamal tadi sempat cerita sama Pak Mat, katanya bersyukur Mbak Dayang yang jaga pasar. Mas Jamal bilang, pernah ada preman pasar yang macam-macam sama Mbak Dayang, tapi malah roboh dihajar sama Mbak sendiri. Makanya pas si Bayu tadi asal bicara, saya langsung teringat cerita Mas Jamal itu, Mbak."
Dayang terdiam sejenak di jok belakang. Pengakuan jujur yang terdengar masuk akal itu perlahan mengikis rasa curiganya.
Mengingat kelakuan Jamal yang memang terkenal ceriwis dan hobi memamerkan ketangguhan 'Mbak-nya' ke setiap orang, cerita Rimba terasa sangat masuk akal bagi Dayang.
"Oalah,.dasar si Jamal, bibirnya tidak bisa diam," gumam Dayang seraya terkekeh tipis di balik kaca helmnya. Ketegangannya mencair sepenuhnya.
"Tapi reaksi Mas Bima tadi beneran tegas banget. Saya sampai kaget."
Rimba menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan di bibirnya, bernapas lega karena berhasil lolos dari lubang jarum.
"Saya cuma tidak suka ada orang yang merendahkan kehormatan Mbak Dayang, apalagi Mbak sudah baik banget mau penampung saya." ucap Rimba.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂