Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mobil SUV hitam mengkilap itu merayap pelan bagai predator raksasa yang tersesat di habitat yang salah. Ban besarnya yang didesain untuk melibas medan ekstrem kini harus berjuang menghindari lubang-lubang aspal di gang sempit kawasan padat penduduk.
Di kursi penumpang, Alea mendengkur halus. Kepalanya sesekali terangguk ke depan, namun kedua lengannya tetap mendekap erat kotak croissant berlapis emas di dadanya seolah benda itu adalah reaktor nuklir yang harus dijaga dari perang dunia.
Arka menghentikan mobil tepat di depan sebuah bangunan petak beratap seng berkarat. Lampu jalan yang berkedip-kedip nyaris mati menyoroti dinding kontrakan yang catnya sudah mengelupas, menampilkan lapisan lumut di bagian bawahnya.
Bagi Arka, tempat ini bahkan lebih buruk dari gudang penyimpanan senjata klannya di pelabuhan. Merasa laju kendaraan berhenti, Alea mengerjap bangun. Ia mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap ke luar jendela.
"Udah sampai, ya?" gumamnya serak, setengah menguap. Ia memeriksa kotak rotinya dengan panik, memastikan tidak ada penyok sedikit pun, lalu menghela napas lega.
Gadis itu menoleh pada Arka yang sedang menatap lekat bangunan reyot di depan mereka. Sorot mata pemuda itu tidak memancarkan rasa jijik atau iba yang klise, melainkan observasi tajam yang dingin, seolah ia sedang menghitung seberapa mudah dinding rapuh itu dirobohkan dengan satu tendangan.
"Ini istana gue, Bos," ucap Alea tanpa rasa malu sedikit pun, membuka sabuk pengamannya.
"Nggak usah mampir, kursi di dalam cuma ada satu, itu pun kakinya pincang dan diganjal pakai buku TTS. Lo mending langsung balik aja deh! Sebelum velg mobil lo yang harganya bisa buat naik haji sekeluarga ini dipreteli sama bocil-bocil kematian di gang depan."
Arka mematikan mesin mobilnya. Hening seketika menyergap kabin mewah tersebut. Alih-alih merespons peringatan Alea, ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Matanya yang gelap memindai wajah lelah Alea yang diterangi pendar lampu jalanan yang remang-remang.
"Berapa harga sewa tempat ini?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya berat dan menuntut.
Alea mengernyit curiga, memeluk kotak rotinya makin protektif.
"Kenapa lo nanya-nanya? Lo mau gusur tempat ini buat dibikin mal?! Wah, nggak bisa gitu, Bos! Gue udah lunasin kontrak gue yang nunggak sekalian untuk tiga bulan ke depan dari hasil kerja keras gue kemarin! Kalau lo mau gusur, lo harus bayar ganti rugi relokasi, biaya packing, sama kompensasi stres emosional!"
Sudut bibir Arka berkedut. Urat kesabarannya yang baru saja pulih kembali diuji oleh insting kapitalis tingkat dewa gadis ini.
"Gue tidak berbisnis properti kumuh," balas Arka sedatar papan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat. Aroma mint dan musk maskulin yang mahal seketika menguar, membuat Alea tanpa sadar menahan napas dan menekan punggungnya ke sandaran jok.
"Gue hanya sedang mengalkulasi nilai aset gue. Tinggal di tempat yang tingkat keamanannya di bawah standar sangat berisiko. Mulai besok, gue akan memindahkan lo ke apartemen yang—"
"Stop! Stop right there, Bos!" potong Alea cepat, mengangkat telapak tangannya tepat di depan wajah Arka. Matanya melotot horor seolah Arka baru saja menawarkan racun sianida mematikan.
"Lo mau mindahin gue ke apartemen?! Lo pikir gue nggak tau trik orang kaya?! Awalnya ngasih fasilitas gratis, ujung-ujungnya gue ditagih service charge, biaya parkir, iuran maintenance kolam renang yang airnya nggak pernah gue celup, sampe biaya kebersihan lobi! Nggak, makasih! Gue nggak mau terjebak utang gaya hidup orang kaya!"
Arka terdiam, mengerjapkan matanya lambat. Di dunia bawah tanah, apartemen mewah adalah fasilitas standar yang ia berikan kepada informan atau bawahan tingkat tingginya. Namun, menawarkannya pada gadis ini ternyata sama saja dengan memicu krisis ekonomi makro di kepalanya.
"Lagian," Alea mendengus bangga, merapikan kerah kemejanya.
"Di sini aman, Bos. Preman gang sebelah aja kalau mau malak, gue suruh bantuin angkat galon dulu baru gue kasih dua ribu perak. Gue ini penguasa teritorial blok ini."
Mengingat bagaimana Alea melumpuhkan tujuh pria berotot menggunakan pipa besi beberapa menit yang lalu, Arka tidak bisa membantah klaim tersebut. Gadis mungil di sebelahnya ini memang bukan mangsa; dia adalah puncak rantai makanan dengan cara yang sangat absurd.
"Terserah lo aja deh," gumam Arka pasrah, kembali bersandar ke jok kemudinya. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya dan menyodorkannya pada Alea.
"Ganti gembok baru. Pintu kayu lo itu terliat bisa dibongkar hanya dengan tusuk gigi. Ganti besok."
Mata Alea langsung berbinar-binar memindai lembaran merah muda tersebut. Tanpa basa-basi, tangannya menyambar uang itu dengan kecepatan ninja.
"Pelayanan after-sales yang luar biasa, Bos Arka! Lo memang klien VIP kebanggaan gue!" seru Alea semringah, menyelipkan uang itu ke saku roknya.
"Tenang aja, besok gue beli gembok besi paling tebal di pasar loak. Sisanya buat beli telur ayam sekilo."
Alea membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menghirup udara malam yang lembap. Sebelum menutup pintu, ia menunduk dan menatap Arka dari balik jendela.
"Hati-hati bawa mobilnya, Bos. Jangan ngebut, asuransi nggak cover kebodohan di jalan raya," pesan Alea galak. Lalu, suaranya sedikit melunak, sebuah anomali langka dari bibir gadis itu.
"Dan... thanks buat tumpangan gratis serta rotinya ya."
Tanpa menunggu balasan, Alea menutup pintu mobil pelan-pelan, takut merusak engsel mobil mahal itu, lalu berjalan santai menuju pintu kontrakannya. Ia sibuk merogoh kunci dari dalam tasnya sambil mengomel mengusir kucing oren liar yang mencoba mengendus kotak croissant-nya.
Dari dalam mobil, Arka tidak langsung pergi. Ia menyalakan mesin dalam diam, matanya tak pernah lepas dari siluet punggung mungil itu hingga Alea masuk dan bunyi gembok karatan dikunci dari dalam terdengar nyaring.
Baru setelah memastikan gadis itu aman, tangan kiri Arka merogoh ponsel hitam khusus dengan jaringan enkripsi tingkat tinggi dari saku jasnya. Ia menekan satu nomor. Panggilan itu dijawab pada dering pertama.
"Tuan Muda," sapa suara berat dari seberang sana, sarat akan rasa hormat mutlak.
"Kirim dua regu bayangan ke titik koordinat gue saat ini," perintah Arka dingin, seluruh nada geli dan pasrahnya menguap, digantikan oleh otoritas seorang eksekutor mafia.
"Jaga radius dua ratus meter dari rumah petak ini. Jangan sampai target menyadari keberadaan kalian. Jika ada satu saja preman atau serangga yang mengusik pintu rumah ini..."
Arka menatap lekat pintu kayu rapuh milik Alea, membayangkan gadis cerewet itu tertidur lelap di dalamnya dengan sisa-sisa tenaga setelah bertarung dan bekerja seharian.
"...bereskan tanpa jejak!"
"Dimengerti, Tuan Muda."
Sambungan diputus sepihak. SUV hitam itu perlahan mundur, membelah kesunyian malam dan kembali ke dunia kelamnya, meninggalkan penjagaan tak kasat mata untuk satu-satunya anomali yang berhasil menghidupkan kembali detak jantungnya.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂