Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihat Kekasihnya
POV Alya
Setelah mendapat jatah izin dua hari dari sekolah, hari ini aku kembali untuk mengajar. Mengerahkan segala kemampuan untuk mencerdaskan anak-anak yang akan menjadi generasi emas di kemudian hari.
“Ibu Guru Alya...” Beberapa anak menyapaku saat aku melewati lorong sekolah, melangkah menuju kantin tempat aku dan Zara bertemu untuk bertukar cerita.
Melangkah keluar karena jempol kakiku masih terasa sakit. Lukanya sudah mulai mengering karena mendapat perawatan intensif dari Kak Revan. Bahkan tadi pagi, pria itu membantu mengganti perban, bahkan ia kembali memberikan cairan obat agar lukaku cepat mengering.
Aneh sekali pria itu. Ia menyuruhku agar tidak berbuat baik padanya. Tapi ia tetap menebarkan kebaikan padaku. Hanya saja, tetap dengan rasa yang berbeda. Aku yang menyukainya, dan ia sudah bahagia memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Dr. Revan Aditya, kehadiranmu mampu menggoreskan luka batin, namun dengan cepat kamu mengobatinya. Tapi dengan cepat juga kamu menggoreskannya kembali.
Kamu begitu takut jika aku mengharap balasan perasaan darimu. Ketahuilah, aku tidak mengharapkan itu. Aku memang mengagumimu, tapi jika kamu ingin berbahagia dengan wanita pilihanmu, aku tidak akan memaksakan kehendakku dalam mencintaimu.
“Zara...”
“Loh... sudah masuk lagi? Katanya ketimpa keran shower.” Seperti biasa, Zara akan duduk ditemani jus jeruk.
“Nih, dah mulai kering lukanya. Mungkin lusa sudah bisa buka jahitan.”
“Alah... enak ya, Al, kalau punya dokter pribadi di rumah. Bisa mendapatkan perawatan eksklusif.”
Tumben sekali Zara menggoda kehidupan rumah tanggaku dengan Kak Revan. Biasanya dia kan sewot karena sebagian keluarga Kak Revan yang sering merendahkan profesiku.
Aku hanya mengangguk samar. “Kak Revan memang baik, Ra, tapi...”
“Paham kok, Ra... tapi aku berharap pernikahan kalian bisa langgeng,” ujar Zara. Sorot wajahnya begitu tertuju pada kuah bakso.
Aku memang telah menceritakan semua kebaikan Kak Revan pada Zara, kebaikan Kak Revan yang sering memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi orang yang tidak mampu. Kebaikan Kak Revan yang mendedikasikan kehidupannya untuk membantu kesulitan orang lain, dengan menyediakan beberapa fasilitas kesehatan gratis.
Zara langsung tertegun, pandangannya langsung berubah 180 derajat pada Kak Revan. Awalnya ia menganggap Revan adalah dokter yang sombong dan angkuh.
“Aku tidak berharap seperti itu, Ra. Karena jika aku berharap lebih dalam pada Kak Revan, itu sama saja aku menggali luka untukku.” Aku menatap nanar pada anak-anak yang tampak riang bermain di halaman.
Zara semakin mengerutkan alisnya. Aku bisa menangkap wajahnya yang penuh tanda tanya.
“Kak Revan memiliki seorang kekasih. Cintanya begitu besar pada kekasihnya. Wanita itu sudah lama menjalin hubungan dengan Kak Revan.”
Kini ekspresi wajah Zara berubah sendu. Apa dia menangkap kesedihan pada wajahku?
“Alya, aku sedih sekali. Sesak sekali dada ini. Aku merasa kalian cocok banget. Tapi sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik...”
Zara menangis tersedu. Aku memberinya beberapa helai tisu. Melihat Zara menangis membuat hati ini kembali terasa sesak.
“Alya... kamu berhak bahagia.”
“Aku bahagia, Zara... setiap hari aku bahagia dengan melihat senyuman tulus dari anak-anak. Kabar kesehatan ayah yang selalu mengabariku setiap paginya.”
“Bahagiaku sederhana, Ra. Tidak harus hidup bersama dengan pria yang aku harapkan jika pria itu memiliki cinta yang lain.”
Aku mengusap beberapa tetes air mata yang turun di pipi. Ikut terbawa perasaan oleh tangisan Zara.
“Jadi kapan saja Kak Revan melepasku, aku akan selalu siap. Yang aku lakukan kini hanyalah sebuah balas budi pada Bu Rahayu yang teramat baik untuk keluargaku.”
Zara semakin terisak. Aku yang menjalin rumah tangga, tapi entah mengapa Zara yang merasa paling sakit hati dengan kehidupan rumah tanggaku bersama Kak Revan.
“Kak Revan tidak jahat, Zara, bahkan ia selalu baik. Hanya saja cintanya bukan untukku.”
Brak...
“Ibu Guru Alya... ada yang jatuh dari ayunan...”
Ciara terjatuh dari ayunan besi. Bagian betisnya berdarah sangat banyak. Sebagai wali kelas, aku harus segera bertindak. Dengan ditemani Zara, aku pergi ke rumah sakit untuk membawa Ciara.
🌸🌸🌸
Dengan dibantu satpam, Ciara didorong menggunakan kursi roda. Darah yang mengalir semakin banyak. Aku panik bukan kepalang. Kedua orang tua Ciara sudah aku kabari.
“Saya langsung antar saja ke ruang dokter Revan ya, Bu. Anaknya bisa langsung ditangani.”
Deg.
Jadi ini adalah rumah sakit milik Kak Revan.
“Dokter, permisi. Ada anak kecelakaan, kakinya terluka. Kondisinya gawat...”
Samar-samar aku mendengar suara satpam yang telah memasuki ruangan milik Kak Revan. Aku hanya berdiri di ambang pintu, sementara Zara juga ikut masuk.
“Tenang ya, Dek. Dokter akan mengobatinya. Jangan takut.” Terdengar suara bariton itu. Suaranya sangat ramah.
“Ibu Guru Alya... aku takut...”
“Lah, mana Alya...”
Zara menarik tanganku pelan. “Kamu gimana, sih? Ciara mau ditemenin kamu.”
Aku menarik napas pelan, kemudian melangkah menuju ruangan kerja Kak Revan yang sangat luas dengan alat kesehatan yang memadai. Aku langsung menuju tempat Ciara ditangani.
Zara dan Pak Satpam malah keluar karena takut melihat kaki Ciara yang akan dijahit.
“Ibu Guru Alya... aku takut...”
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Seketika Kak Revan menoleh dan tatapan kami bertemu beberapa detik. Aku langsung mendekati Ciara dan menenangkan anak kelas satu itu.
“Dokternya baik kok, Ci. Jangan takut ya, biar cepat sembuh.”
Beberapa detik tangisan Ciara terhenti. Tubuhnya yang sedang bersandar melirik pada kaki ku yang masih memakai perban.
“Luka Ibu Guru juga, Pak Dokter yang sembuhkan?” tanya Ciara. Tatapannya tertuju pada Kak Revan.
Kak Revan yang sedang sibuk membersihkan lukanya sontak menoleh, kemudian memberikan senyum manis pada Ciara.
“Iya, Pak Dokter yang sudah menyembuhkan lukanya Ibu Guru.”
“Makasih, Pak Dokter, sudah menyembuhkan lukanya Ibu Guru Alya. Jadi Ibu Alya bisa cepat kembali ke sekolah...”
Kak Revan menghentikan kegiatannya sejenak, lantas ia mengangkat wajahnya dan tatapan kami kembali bertemu.
“Tahannya, ini sedikit perih. Tapi kalau sudah dibius, tidak akan terasa sakit.”
Aku cepat memalingkan wajah, memeluk tubuh Ciara yang kembali meringis.
Lima belas menit kemudian, setelah keadaan yang terlarut dalam keheningan, akhirnya luka di kaki Ciara sudah ditangani dengan baik.
“Makasih, pak Dokter. Dokter sudah keren baik banget lagi.”
Kak Revan tertawa saat dipuji oleh Ciara. Tawa yang begitu terlihat tulus.
“Makasih, Kak. Eh, Dok. Kalau begitu, di mana saya harus mengurus administrasi pembayarannya?”
Kak Revan belum juga menjawab. Ia sedang menuliskan sesuatu di atas secarik kertas. Kemudian melangkah ke arahku.
“Tidak ada yang harus dibayar. Tukar kertas ini dengan obat,” ujarnya dengan datar, tapi saat melirik Ciara, ekspresinya langsung berubah.
“Cepat sembuh ya, Ciara.” Ramah sekali sambil mengacak puncak rambut Ciara.
“Terima kasih banyak. Semoga kebaikan dokter mendapat balasan. Saya dan Ciara permisi.”
Aku langsung menuju tempat pengambilan obat. Bertepatan dengan orang tua Ciara yang datang dan langsung mengambil alih Ciara.
Aku duduk sambil menunggu panggilan obat. Tidak lama, Zara datang. Dan... pemandanganku siang ini sangat berwarna sekali.
Lihatlah, Kak Revan sedang berjalan bersama wanita berambut pirang itu. Jemarinya saling bertaut dengan senyum manis yang terukir pada wajahnya. Begitu pun dengan wanitanya, terlihat sangat cantik dengan pakaiannya yang modis.
“Dr. Revan lirik kamu sekilas, Al,” Zara berbisik di sampingku.
Aku mengangguk sekilas, lantas menarik napas pelan.
Dimulai dari obrolan romantis yang Kak Revan tunjukkan padaku, hingga hari ini. Pria itu mulai menunjukkan kekasihnya di hadapanku.
Aku harus siap menjadi penonton perjalanan cinta mereka yang sedang dimabuk cinta.
Bersambung.