Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 11: Baju Berlapis dan Penyesuaian Pertama

Selesai pembersihan diri yang cukup menyegarkan, dua orang pelayan melangkah mendekat sambil mengusung kain-kain sutra yang tertata rapi di atas nampan kayu.

Baju kurung dalam, gaun berlapis-lapis dengan warna merah muda pastel, sabuk pinggang bersulam benang perak, hingga selendang panjang yang menjuntai disodorkan ke hadapan Shen Yue.

Shen Yue menatap tumpukan kain itu dengan alis yang bertaut tajam. Matanya mengedar heran saat menghitung jumlah lapisan yang harus melekat di tubuhnya.

"Masa iya aku harus pakai baju sebanyak ini? Pasti sangat gerah," batin Shen Yue sambil meringis pelan.

Di dunia modern, pakaian latihannya hanya sebatas kaus dry-fit dan celana training yang fleksibel. Membayangkan harus bergerak dengan tumpukan kain seberat ini rasanya seperti memakai armor tanpa fungsi perlindungan.

"Mari Nona...," seru salah satu pelayan wanita dengan senyum ramah, seraya merentangkan kain lapisan pertama untuk dipasangkan ke tubuh Shen Yue.

Namun, sebelum jemari pelayan itu menyentuh bahunya, Shen Yue mengibaskan tangannya dengan pelan, dan menolak dengan gerakan refleks yang tegas.

"Tidak perlu, aku bisa pakai baju sendiri. Kalian keluarlah," ujar Shen Yue dengan nada datar namun tidak bisa dibantah.

Para pelayan seketika saling pandang dengan raut wajah yang panik.

"Tapi Nona, kami harus membantu dan melayani Anda. Jika tidak—"

"Aku tidak apa-apa, dan kalian tidak akan kena marah kok," potong Shen Yue. Ia memberikan senyuman tipis untuk menenangkan riak ketakutan di wajah para pelayan baru tersebut. "Aku hanya ingin sedikit ketenangan di kamar ini. Mengerti?"

Melihat tatapan mata sang Nona Sulung yang dingin dan penuh penekanan, mereka tidak berani menolak perintah sang majikan lagi. Para pelayan itu pun membungkuk dalam-dalam lalu berjalan mundur keluar kamar.

Klek.

Pintu kayu tertutup rapat. Di luar kamar sana, empat orang pelayan berdiri menanti dengan perasaan ragu-ragu. Mereka saling berbisik heran atas perubahan sikap Shen Yue yang sangat mengejutkan.

"Bukankah selama ini orang-orang bilang Nona Sulung itu gadis yang sangat lemah, penakut, dan bahkan tidak berani menatap mata orang saat bicara?" bisik pelayan berpakaian hijau.

"Benar, aku juga mendengar hal yang sama dari para pelayan senior di dapur," timpal pelayan di sebelahnya. "Tapi yang kita saksikan barusan sangat berbeda. Sorot matanya tajam sekali, dan auranya membuatku tidak berani membantah..."

"Mungkin benar kata orang-orang... pingsan dua hari kemarin membuat Nona mendapatkan keberanian baru."

Sementara itu, di dalam kamar yang luas dan hening, Shen Yue berdiri di depan tumpukan kain di atas ranjang. Ia meraih berbagai macam kain di depannya dan menatapnya heran.

"Bagaimana cara memakainya ya?" gumam Shen Yue sambil membolak-balik lapisan jubah sutra yang rumit tersebut.

Ia mencoba mengingat-ingat memori samar dari pemilik tubuh asli maupun adegan-adegan drama sejarah yang pernah lewat di media sosialnya.

Namun, mempraktikannya secara langsung ternyata jauh lebih membingungkan. Tali-tali pengikatnya melilit tidak beraturan, dan lapisan luarnya memiliki potongan yang asing bagi otaknya.

Frustrasi karena tidak mau membuang waktu, Shen Yue memutuskan untuk menggunakan logikanya sendiri. Ia memilih lapisan kain dasar yang paling nyaman, dan mengenakan gaun luar tanpa memasang korset pengetat yang menyiksa, lalu mengikat sabuk kainnya secara acak namun cukup kuat agar tidak terlepas.

Ia sengaja membuang dua lapisan kain paling tebal yang menurutnya hanya akan membuat tubuhnya berkeringat.

Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang kini terasa longgar dan sangat leluasa untuk dipakai melangkah.

"Nah, begini kan enak. Mau dipakai jalan atau memukul orang juga tidak bakal kesrimpet," cengir Shen Yue merasa puas.

Setelah merasa siap, ia melangkah ke arah pintu dan memanggil para pelayan kembali.

"Apa ada orang di luar?" tanyanya dengan suara agak keras.

"Iya, Nona!"

Pintu kamar langsung terdorong terbuka. Para pelayan bergegas masuk dengan sikap siap melayani. Namun, begitu pandangan mereka jatuh pada penampilan Shen Yue, langkah kaki mereka terhenti seketika.

Mereka spontan tercengang ketika melihat cara berpakaian Shen Yue. Jubah sutra yang seharusnya menjuntai rapi kini terikat secara asal-asalan di pinggang, sabuk perak terpasang terbalik, dan dua lapisan jubah penting justru tergeletak begitu saja di atas ranjang.

Para pelayan merasa tidak enak hati dan saling pandang dengan ragu, mereka bingung apakah harus tertawa, panik, atau merasa bersalah karena membiarkan majikan mereka berpakaian seperti itu.

Melihat reaksi serba salah dari para pelayan tersebut, Shen Yue menyilangkan dadanya dan merasa heran.

"Ada apa? Katakan saja kalau kalian mau bicara."

Salah satu pelayan yang berusia sedikit lebih tua menelan ludahnya, lalu melangkah sedikit maju tanpa mengurangi rasa hormatnya.

"Maafkan hamba, Nona... Tapi... apakah kami boleh membetulkan pakaian Anda?" bisiknya takut-takut sambil menunjuk tata letak kain yang berantakan di tubuh Shen Yue.

Shen Yue memperhatikan baju yang dikenakannya dari atas ke bawah, lalu beranjak menuju cermin tembaga besar di sudut ruangan untuk mematut diri.

Ia melihat pantulan dirinya yang memang terlihat agak aneh. Pakaian itu tampak gombrang di beberapa bagian dan lipatannya terlihat tidak simetris sama sekali khas buatan orang awam.

"Apa aku salah? Tapi kalau semua dipakai kan ribet," batin Shen Yue sambil menghela napas panjang.

Namun, ia teringat posisinya saat ini. Ia berada di era kerajaan kuno yang penuh dengan aturan ketat dan mata-mata yang mengintai.

Jika ia keluar kamar dengan pakaian acak-acakan seperti ini, Jiang Xiuwei pasti akan menggunakan alasan "gila" atau "tidak bertata krama" untuk kembali menindasnya atau mempermalukan posisinya di depan Jenderal Shen Longwei.

Untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru dan zaman dahulu ini, akhirnya Shen Yue pun menurut untuk didandani.

"Baiklah, rapikan sesuai aturan di sini. Tapi ingat, jangan diikat terlalu kencang," pesan Shen Yue sebelum duduk di depan meja rias.

"Baik, Nona Muda!" seru para pelayan dengan nada lega.

Dengan gerakan jemari yang sangat lincah dan terampil, para pelayan mulai membenahi pakaian Shen Yue.

Lapisan demi lapisan kain sutra dipasangkan dengan presisi. Sabuk pinggang diikat rapi tanpa menjepit jalan napasnya, dan selendang transparan disampirkan anggun di kedua lengannya.

Setelah urusan pakaian selesai, mereka beralih ke riasan wajah dan rambut. Berbeda dengan paksaan Pelayan Bi dua hari lalu, pelayan baru ini memoleskan bedak tipis-tipis saja, hingga menegaskan kecantikan alami wajah Shen Yue.

Rambut hitamnya yang panjang disanggul sebagian dengan gaya yang lebih ringan, sementara sisa rambutnya dibiarkan terurai lembut di punggung, dihiasi dua buah tusuk konde perak bermotif bunga teratai yang terkesan anggun namun tidak berat.

Setelah hampir setengah jam, para pelayan pun melangkah mundur.

"Selesai, Nona. Silakan diperiksa," ujar pelayan tersebut.

Shen Yue pun berdiri dan kembali menatap cermin tembaga. Kali ini, sosok di dalam cermin itu benar-benar memukau. Ia tampak seperti seorang putri klan bangsawan tinggi yang sangat anggun, terpelajar, dan mempesona.

Namun di balik keindahan riasan dan pakaian sutra itu, tatapan matanya tetap tajam, dingin, dan penuh dengan aura ketangguhan seorang petarung.

Shen Yue tersenyum cukup lebar pada pantulan gambarnya sendiri di cermin.

"Tidak buruk," gumam Shen Yue. "Sekarang, mari kita lihat apa rencana dapur utama untuk sarapanku pagi ini."

Bersambung...

1
Dewi Habibah
😍😍😍
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!