Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 11
Setiap pergerakan otot di wajah Leo, gestur tubuhnya yang tenang, hingga irama langkah kakinya memancarkan kesiapan tempur tingkat tinggi. Ia memosisikan dirinya dalam sudut pandang ideal untuk mengawasi seluruh titik buta di ruang rapat raksasa itu memantau pintu masuk samping, pergerakan para pengawal pribadi komisaris lain, hingga proyeksi bayangan di balik pintu kaca tembus pandang.
Maya berjalan mantap menuju kursi utama di ujung meja konferensi. Ia membiarkan keheningan menguasai ruangan selama beberapa detik, menikmati bagaimana tatapan skeptis para komisaris perlahan berubah menjadi kegelisahan.
"Selamat pagi, Dewan Komisaris dan Pemegang Saham sekalian," suara Maya membelah keheningan. Jernih, tegas, tanpa ada sedikit pun getaran ragu. "Saya tahu agenda RUPS hari ini dihadiri oleh banyak harapan atau mungkin, bagi sebagian orang, harapan untuk melihat Maheswari Group berlutut."
Pandangan Maya melirik lurus ke arah Hendra yang duduk tepat di sisi kiri meja.
Hendra menyeringai tipis, mencoba mempertahankan wibawanya di depan para pemegang saham asing. Ia mengetukkan jarinya ke atas meja kayu tebal. "Jangan berbelit-belit, Maya. Kita semua di sini adalah orang bisnis. Kamu belum genap setahun memegang kendali penuh, tapi sudah membuat keputusan ekspansi berisiko tinggi tanpa persetujuan mayoritas dewan. Hari ini, mosi tidak percaya akan dibacakan."
Beberapa komisaris pro-Hendra berdeham serentak, mencoba memberi penekanan pada gertakan tersebut.
Namun, Maya tidak menunjukkan keterkejutan. Ia justru mengulas senyum tipis yang amat dingin senyuman yang membuat raut wajah Hendra mendadak mengeras.
"Mosi tidak percaya?" Maya terkekeh pelan, sebuah kekehan penuh sindiran. "Paman Hendra, mosi itu hanya berlaku jika orang yang mengajukannya masih memiliki hak hukum dan integritas di perusahaan ini."
Apa maksudmu?!" seru Hendra seraya menepuk meja rapat. "Jaga bicaramu! Saya adalah komisaris utama yang sah!"
Maya menoleh pelan ke arah sudut ruangan. "Leo."
Tanpa perlu instruksi panjang, Leo melangkah satu tindak ke depan. Dari saku dalam jas hitamnya yang rapi, ia mengeluarkan sebuah kendali jarak jauh kecil dan menekan satu tombol. Seketika, layar proyektor raksasa di belakang Maya menyala.
Layar itu tidak menampilkan presentasi bisnis biasa. Di sana terpampang rincian dokumen hukum dari lembaga kehakiman Singapura, analisis forensik aliran dana kripto, hingga rekaman audio percakapan rahasia berdurasi sepuluh menit.
"Sistem transaksi lepas pantai Kepulauan Cayman, dialirkan melalui tiga perusahaan cangkang di Singapura, lalu bermuara pada rekening pribadi atas nama Hendra Maheswari dan perwakilan Konsorsium Helios," suara Leo bergema tegap di seluruh penjuru ruangan. "Total lima puluh miliar rupiah modal kerja Maheswari Group sengaja dimanipulasi untuk menciptakan krisis likuiditas buatan."
Keheningan mencengkeram ruang rapat secara mutlak. Wajah para komisaris yang tadinya congkak berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Mereka menatap layar proyektor dengan mata membelalak, membaca rincian nomor rekening, stempel verifikasi bank internasional, hingga tanggal transaksi yang tertera sangat mendetail.
A-apa-apaan ini?! Ini rekayasa!" teriak Hendra histeris. Wajahnya yang semula angkuh kini bersimbah keringat dingin. Ia melonjak berdiri, menunjuk wajah Leo dengan jari gemetar. "Dokumen dari mana ini?! Dia cuma pengawal tidak berguna! Kamu memasukkan peretas ke dalam rapat resmi ini, Maya?!"
Hendra memberi isyarat mata secara panik kepada dua pengawal pribadinya yang berdiri di dekat pintu samping. Kedua pria berbadan tegap itu langsung melangkah maju, mencoba menerobos ke arah podium tempat Maya dan Leo berdiri.
Namun, sebelum kedua pengawal itu sempat melangkah tiga offset, Leo sudah berpindah posisi.