Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Utusan Bayangan
Di sebuah kedai teh tak bernama di sudut paling gelap Kota Perbatasan Utara, tempat yang hanya diketahui segelintir orang yang cukup berani atau cukup putus asa untuk mencarinya, Zhao Kang duduk sendirian di meja paling belakang, token hitam berlambang sayap gagak tergenggam erat di tangannya.
Tepat saat lonceng kuil kota berdentang sembilan kali menandai tengah malam, kursi di hadapannya tiba-tiba terisi—tanpa suara langkah, tanpa bayangan yang bergerak sebelumnya. Seorang pria berjubah abu-abu gelap, wajahnya tersembunyi di balik topeng logam sederhana tanpa ukiran, duduk santai seolah sudah lama berada di sana.
"Kepala Klan Zhao," suaranya datar, tak berwarna. "Sudah lama token itu tidak digunakan oleh klanmu. Kupikir keluargamu telah melupakan hutang lama pada Aula Bayangan."
"Ini bukan soal hutang lama," Zhao Kang berkata, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Ini soal ancaman baru yang menurutku layak mendapat perhatian organisasimu."
Ia menjelaskan semuanya—kekalahan memalukan putranya, teknik pengendalian qi kuno yang telah lama dianggap punah, dan nama yang disebut-sebut dalam desas-desus: Puncak Pedang Sembilan Langit.
Sosok bertopeng itu terdiam cukup lama setelah mendengar cerita itu, kepalanya sedikit miring seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tak terlihat oleh Zhao Kang.
"Menarik," katanya akhirnya, nada suaranya berubah sedikit—lebih waspada dari sebelumnya. "Permintaan ini bukan lagi sekadar pekerjaan bayaran biasa, Kepala Klan Zhao. Ini akan kulaporkan langsung pada atasanku."
"Berapa biayanya?" Zhao Kang bertanya cepat, siap menawar.
Sosok bertopeng itu tertawa pelan, suara dingin yang membuat bulu kuduk Zhao Kang berdiri. "Untuk informasi seperti ini, klanmu tidak perlu membayar sepeser pun. Justru kami yang berhutang budi padamu karena telah memberi tahu kami." Ia bangkit dari kursinya. "Duduk manis saja, Kepala Klan Zhao. Biarkan kami yang menangani sisanya."
Sosok itu menghilang secepat kedatangannya, meninggalkan Zhao Kang sendirian di kedai teh yang gelap, dengan perasaan yang campur aduk antara lega dan ketakutan samar yang tak bisa ia jelaskan—seolah ia baru saja membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia kendalikan.
Jauh di markas tersembunyi Aula Bayangan, di sebuah reruntuhan kuil tua di luar batas Kota Perbatasan Utara, sosok bertopeng logam itu berlutut di hadapan bayangan besar yang duduk di atas takhta batu, wajahnya tak pernah terlihat jelas oleh siapa pun yang pernah menghadapnya.
"Puncak Pedang Sembilan Langit," bayangan besar itu bergumam pelan setelah mendengar laporan, suaranya bergema aneh seolah berasal dari banyak arah sekaligus. "Nama yang sudah tiga abad tidak pernah kudengar disebut di luar catatan rahasia organisasi kita sendiri."
"Perintah Tuan?" sosok bertopeng itu bertanya.
Hening panjang sebelum jawaban itu datang. "Kirim Mo Yin. Jangan bunuh dulu—tangkap hidup-hidup jika memungkinkan, aku ingin tahu apa benar ada yang selamat dari malam itu, dan seberapa banyak yang ia ingat tentang siapa dalang sesungguhnya di balik kejatuhan Puncak Pedang. Jika situasi memaksa dan penangkapan mustahil dilakukan... maka bunuh saja, dan pastikan tidak ada jejak yang tersisa."
Kembali di kediaman Klan Lin, Lin Mu duduk berhadapan dengan Tetua Qing di ruang formasi bawah tanah, membahas nama yang baru saja ia dengar dari Zhao Yan malam sebelumnya.
"Aula Bayangan," Tetua Qing menghela napas panjang, wajahnya menegang. "Organisasi itu sudah ada jauh sebelum aku lahir, anak muda. Mereka beroperasi di luar hukum semua aliansi kota dan sekte, menerima bayaran dari siapa saja tanpa peduli tujuannya—mata-mata, pembunuhan, penculikan, semuanya. Tapi yang paling menakutkan bukan kekejaman mereka, melainkan kesetiaan mutlak anggotanya pada sosok misterius yang mereka sebut hanya sebagai 'Tuan Bayangan', identitasnya tak pernah diketahui siapa pun di luar organisasi itu sendiri."
Lin Mu menyipitkan mata, mengingat kembali fragmen ingatannya sendiri tentang malam pengkhianatan tiga abad lalu. Sosok-sosok berjubah gelap yang muncul tepat sebelum saudara seperguruannya menikamnya dari belakang—ia selalu mengira mereka hanyalah bawahan biasa saudaranya, bukan bagian dari organisasi yang lebih besar dan lebih terorganisir.
"Jika Aula Bayangan benar-benar terlibat malam itu," Lin Mu bergumam, lebih kepada dirinya sendiri, "maka pengkhianatan yang kualami bukan sekadar cemburu pribadi seorang saudara seperguruan. Ada dalang yang jauh lebih besar yang sejak awal merencanakan kejatuhan Puncak Pedang."
"Kemungkinan itu sangat mungkin," Tetua Qing menjawab berat. "Dan jika Zhao Kang benar-benar menghubungi mereka malam ini, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Aula Bayangan tidak mengirim pembunuh bayaran murahan seperti Hei San untuk urusan sepenting ini."
Seolah menjawab kekhawatiran itu, malam berikutnya, sesosok bayangan tunggal berdiri di atas atap rumah tertinggi di Kota Perbatasan Utara, memandangi kediaman Klan Lin dari kejauhan dengan mata yang berkilau dingin di balik kegelapan. Wanita itu—Mo Yin, salah satu pembunuh paling ditakuti di jajaran Aula Bayangan—tersenyum tipis sebelum menghilang dari pandangan, melompat turun tanpa suara menuju tembok Halaman Belakang tempat Lin Mu masih berlatih hingga larut malam, tanpa menyadari bahaya yang perlahan mendekat dalam diam.
semngat thor/Determined/