Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Prang!

Sebuah asbak kaca tebal melayang dan hancur berkeping-keping menghantam dinding ruangan.

Pecahan kaca itu berserakan hanya beberapa sentimeter dari wajah Dion yang kini pucat pasi.

Dion menelan ludah dengan susah payah sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Bodoh! Kau dan peretas sewaanmu itu sama-sama tidak berguna!" teriak Pak Surya dengan wajah memerah karena marah.

Manajer eksekutif label Mega Bintang Sejahtera itu berdiri dari kursi kebesarannya dengan napas memburu.

Natasha yang duduk di sebelah Dion meremas ujung roknya karena ketakutan.

Ia belum pernah melihat bos besarnya semarah ini sebelumnya.

"Dia bukan peretas biasa, Pak," ucap Dion mencoba membela diri dengan suara bergetar.

"Sistem pertahanan Zero ini setara dengan keamanan tingkat militer."

"Bahkan komputer peretasku dihancurkan dari jarak jauh dalam hitungan menit."

Mendengar alasan itu, Pak Surya justru tertawa sinis dan menggebrak meja kerjanya.

Brak!

"Aku tidak mau dengar alasan konyol tentang keamanan militer atau semacamnya!" bentak Pak Surya.

"Kalian tahu apa dampaknya sekarang?"

Pak Surya melempar sebuah tablet digital ke pangkuan Dion dengan kasar.

"Lagu Bayangan Bisu itu sekarang menduduki peringkat satu di semua tangga lagu nasional!"

"Lagu promosi debut kalian bahkan sudah terlempar dari posisi sepuluh besar pagi ini!"

Mata Dion dan Natasha terbelalak lebar melihat grafik statistik di layar tablet tersebut.

Angka pendengar lagu indie itu melonjak gila-gilaan menembus jutaan pemutaran hanya dalam semalam.

Ini benar-benar sebuah tamparan keras bagi label raksasa yang telah menggelontorkan dana pemasaran miliaran rupiah.

"Kalian berdua adalah wajah masa depan label ini, dan kalian sedang dipermalukan oleh musisi tanpa nama," desis Pak Surya tajam.

"Jika saat debut resmi nanti kalian gagal menarik perhatian publik, aku akan membatalkan kontrak kalian secara sepihak."

Natasha tersentak kaget dan langsung menatap Pak Surya dengan mata berkaca-kaca.

"Tolong jangan lakukan itu, Pak Surya," mohon Natasha dengan nada memelas.

"Kami berjanji akan berlatih lebih keras lagi untuk penampilan debut nanti."

Pak Surya mendengus kasar lalu kembali duduk di kursi kulitnya yang mewah.

Ia memijat keningnya yang berkerut, mencoba menenangkan emosinya yang meledak-ledak.

"Berlatih keras saja tidak akan cukup untuk mengalahkan tren yang sedang viral ini," ucap Pak Surya dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.

"Kita harus menggunakan cara yang lebih terjamin untuk memastikan kalian menang."

Dion mendongakkan kepalanya perlahan, menatap bosnya dengan pandangan penuh harap.

"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Dion hati-hati.

Pak Surya tersenyum licik, sebuah senyuman yang penuh dengan kelicikan dunia hiburan.

"Aku sudah mendengar rumor bahwa Zero kemungkinan besar akan mendaftar ke Festival Musik Nusantara bulan depan."

"Festival itu adalah satu-satunya panggung besar yang bisa menampung musisi independen tanpa label."

"Jika dia benar-benar ikut, kita akan menghancurkannya di sana sebelum dia sempat mencapai babak final."

Dion mengerutkan keningnya karena tidak mengerti arah pembicaraan manajernya itu.

"Tapi festival itu dinilai langsung oleh dewan juri profesional yang ketat, Pak," ucap Dion meragu.

Pak Surya kembali tertawa meremehkan kepolosan anak didiknya itu.

"Di dunia ini, tidak ada profesionalisme yang tidak bisa dibeli dengan uang, Dion."

"Ketua dewan juri festival tahun ini adalah teman lamaku, Pak Barata."

"Aku sudah menyiapkan dana khusus untuk memastikan Barata akan menyingkirkan siapa pun yang menjadi saingan berat kalian di tahap audisi nanti."

Mata Dion langsung berbinar terang mendengar rencana kotor namun sangat efektif tersebut.

Natasha pun ikut menghembuskan napas lega dan tersenyum lebar.

"Jadi kita hanya perlu fokus pada penampilan kita, dan dewan juri akan mengurus sisanya?" tanya Natasha memastikan.

Pak Surya menganggukkan kepalanya dengan angkuh.

"Tepat sekali, biarkan Zero bersenang-senang dengan lagunya di internet sekarang."

"Karena saat dia menginjakkan kakinya di panggung audisi, kita akan mematahkan kakinya tanpa ampun."

Sementara itu, di sebuah studio kumuh di sayap barat Institut Musik Nusantara.

Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat sibuk namun dipenuhi oleh semangat yang menyala-nyala.

Stevan sedang duduk di depan laptopnya, menatap layar yang menampilkan puluhan baris trek audio yang rumit.

Di sebelahnya, Clara sedang membaca selembar kertas lirik baru dengan mata yang membulat sempurna.

"Kak Stevan... ini serius?" tanya Clara dengan nada tidak percaya.

"Liriknya sangat tajam dan agresif, sama sekali berbeda dengan lagu pertama kita."

Stevan menoleh ke arah Clara dan mengetik balasan di layar ponselnya dengan santai.

"Bayangan Bisu adalah lagu tentang rasa sakit karena dikhianati."

"Tapi lagu kedua ini adalah lagu tentang kemarahan dan pembalasan dendam."

Clara menelan ludah membaca pesan dari seniornya itu.

Ia membaca ulang lirik berjudul Mahkota Kepalsuan yang ada di tangannya.

Kata-kata di dalamnya berisi sindiran keras tentang orang-orang yang merebut tahta dengan cara kotor.

Lirik itu benar-benar terasa seperti tamparan langsung yang ditujukan untuk orang tertentu.

"Genrenya rock-orkestra, Kak? Tapi kita tidak punya gitaris atau pemain biola," ucap Clara yang masih kebingungan melihat konsep lagu tersebut.

Stevan hanya tersenyum tipis di balik maskernya.

Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sudut ruangan yang penuh dengan tumpukan barang rongsokan kampus.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!