Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setahun berlalu sejak hari pertama Alfa bekerja sebagai pekerja bangunan, dia menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan cara yang benar. Karena itu, dia menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh. Berangkat lebih awal daripada kebanyakan pekerja, lalu setelah pekerjaan selesai, terkadang dirinya tidak langsung pulang. Sesekali masih bertanya kepada pekerja yang lebih berpengalaman tentang cara memahami panduan kerja di lapangan, menghitung kebutuhan material, hingga tahapan alur pengerjaannya.
Semakin lama, kemampuannya pun semakin berkembang. Jika sebelumnya dia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, perlahan Alfa mulai dipercaya menangani pekerjaan yang membutuhkan ketelitian. Dia bisa memperkirakan jumlah material sesuai kebutuhan, bahkan beberapa kali membantu mencari jalan keluar ketika terjadi kendala di lapangan.
Sikap Alfa yang tenang dan tidak banyak bicara, akhirnya membuat orang-orang di proyek tersebut mulai menghargainya.
Beberapa bulan terakhir, Alfa bahkan kerap diminta membantu mengawasi pekerjaan beberapa orang ketika mandor sedang sibuk. Kendati demikian, dia tidak pernah menggunakan kesempatan itu untuk bersikap seenaknya. Sebaliknya, dia justru lebih berhati-hati menjaga amanah yang diberikan padanya.
“Alfa, bagian sana sudah selesai?” tanya salah seorang pekerja suatu siang.
Alfa yang sedang memeriksa susunan material menoleh ke arahnya. “Sudah. Tapi bagian belakang belum. Tolong selesaikan dulu yang itu sebelum pindah ke tempat lain,” jawabnya sambil menunjuk ke arah bangunan.
“Kalau ada material yang kurang, bilang. Jangan menunggu sampai pekerjaan berhenti,” lanjutnya.
“Siap,” Pekerja itu mengangguk lalu kembali bekerja.
Begitulah Alfa menjalani hari-harinya. Sedikit demi sedikit, dia juga mulai mengumpulkan uang hasil kerjanya. Hidupnya memang belum kembali seperti dahulu, tetapi setidaknya Alfa sudah tidak lagi merasa berada di titik paling rendah.
Yang paling penting, harga dirinya kembali tumbuh. Dia tidak lagi memikirkan apa yang telah dirampas Davina dan Ammar. Meski luka itu masih ada, tetapi kini tidak lagi menguasai pikirannya.
Alfa mulai belajar menerima bahwa hidupnya memang pernah dihancurkan. Namun, bukan berarti semuanya harus berakhir di sana.
***
Sore itu, ketika pekerjaan telah selesai, Alfa bersiap untuk pulang. tiba-tiba seorang staf menghampirinya.
“Mas Alfa, dipanggil Pak Danu di ruangannya,”
Alfa mengangkat wajah. “Sekarang?”
“Iya, segera," jawab staf tersebut lalu pergi.
Alfa segera melepas helmnya lalu bergegas berjalan menuju ruangan manager proyek.
Sesampainya di sana, Alfa mengetuk pintu, lalu terdengar suara dari dalam.
“Masuk.”
Alfa membuka pintu dan melihat Pak Danu sedang duduk di belakang meja. Pria itu lantas mempersilakan Alfa duduk.
“Duduk, Al,” ujarnya.
Alfa menarik kursi di hadapan meja, kemudian duduk. “Maaf, ada apa Bapak memanggil saya?” tanyanya.
Pak Danu tidak langsung menjawab. Dia justru memperhatikan Alfa beberapa saat kemudian tersenyum tipis. “Sudah berapa lama kamu bekerja di sini”
"Kurang lebih setahun, Pak," jawab Alfa.
“Selama itu, saya perhatikan kinerjamu.”
Mendengar ucapan tersebut, Alfa sedikit mengernyit. Dia langsung berpikir mungkin ada pekerjaannya yang dianggap kurang.
“Kalau ada pekerjaan saya yang kurang, saya siap memperbaikinya, Pak,” katanya.
Pak Danu tertawa kecil sambil menggeleng. “Bukan itu maksud saya. Justru saya puas dengan pekerjaanmu,”
Alfa terdiam. Dia tidak menyangka pembicaraan itu ternyata bukan tentang kesalahan dalam pekerjaannya.
“Kamu rajin, datang tepat waktu, dan bertanggung jawab,” lanjut pria paruh baya tersebut. “Yang paling saya suka, kamu tidak banyak omong, tapi tahu apa yang harus dilakukan.”
Alfa hanya mendengarkan. Dia merasa tidak perlu menanggapi pujian tersebut, karena selama ini dia memang hanya berusaha melakukan pekerjaannya sebaik mungkin.
“Bahkan beberapa kali saya melihat kamu membantu mengatur pekerjaan anak-anak di lapangan ketika mandor sedang tidak ada,” tambahnya.
Alfa tersenyum tipis. “Saya cuma membantu sebisanya, Pak.”
“Justru itu.” Manager tersebut menyandarkan punggungnya pada kursi. “Orang yang bisa memimpin biasanya tidak akan sibuk menunjukkan bahwa dirinya pemimpin.”
Alfa yang tak mengerti arah pembicaraan atasannya lantas bertanya. “Maksud Bapak?”
Sebelum menjelaskan, Pak Danu menatap Alfa, “Saya punya satu penawaran untuk kamu.”
“Kami akan mulai pembangunan sebuah mall. Proyeknya cukup besar dan membutuhkan orang yang bisa mengawasi pekerjaan di lapangan sekaligus mengatur tim agar semuanya berjalan sesuai rencana.”
Kini Alfa semakin memahami maksud atasannya. “Bapak ingin saya ikut proyek tersebut?” tanyanya memastikan.
“Bukan sekadar ikut.” Tatapan Pak Danu manager berubah serius. “Saya ingin kamu menangani proyek itu.”
Alfa spontan menggeleng kecil. Tawaran tersebut terasa terlalu besar untuk seseorang yang selama ini hanya bekerja sebagai pekerja lapangan.
“Saya?” tanyanya tak percaya.
“Iya...” jawab Pak Danu yakin.
Alfa terdiam beberapa saat. Dia menimbang tawaran itu hingga akhirnya mengungkapkan keraguannya.
“Maaf, Pak. Tapi saya rasa... saya belum mampu.”
Pak Danu sedikit mengernyit. “Kenapa?”
Alfa menarik napas panjang. “Proyek sebesar mall bukan pekerjaan kecil, Pak. Selama ini saya hanya pekerja biasa. Saya belum pernah memimpin tim atau bertanggungjawab atas jalannya sebuah proyek.”
Pak Danu mengangguk, seolah sudah memperkirakan jawaban tersebut.
“Memang belum,” katanya tenang. “Tapi melihat kinerjamu selama setahun ini, saya yakin kamu mampu."
Alfa masih diam. Keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
“Saya tidak berharap kamu langsung bisa menguasai semuanya,” lanjut manager itu. “Tapi kamu bisa belajar dan saya akan tetap memberikan arahan. Anggap saja ini kesempatan untuk mengembangkan kemampuanmu.”
Alfa menatap atasannya tersebut. Tawaran itu masih terasa berat. Akan tetapi, setelah berpikir dan menimbang, akhirnya dia mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan mencoba.”
Pak Danu tersenyum puas. “Bagus. Saya percaya kamu orang yang tepat memegang proyek ini.”
Alfa berdiri setelah pembicaraan mereka selesai lalu berjabat tangan. Kemudian berpamitan dan keluar dari ruangan manager. Ada rasa bangga karena akhirnya usahanya selama setahun mulai mendapat kepercayaan. Namun, di sisi lain, tanggungjawab baru itu juga membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Bisakah dia benar-benar memimpin proyek sebesar itu?
Selama ini dia memang sudah memahami banyak hal di lapangan. Akan tetapi, mengawasi pekerjaan dan bertanggung jawab atas jalannya sebuah proyek tentu berbeda.
Meski begitu, Alfa tidak ingin mundur hanya karena takut gagal. Bukankah selama ini dia juga sudah belajar bangkit dari keadaan yang jauh lebih sulit?
Dia mempercepat langkahnya menuju tempat motornya terparkir. Tak sabar rasanya ingin segera sampai rumah, memberitahu kedua orangtuanya.
***
Malam harinya setelah selesai makan malam bersama, Alfa langsung menyampaikan kabar tersebut pada ayah dan ibunya.
"Ayah, Ibu...aku ingin memberitahu sesuatu."
Pak Ikhsan dan Bu Mala langsung menatap putra sulungnya. "Tentang apa, Nak?" tanya mereka hampir bersamaan.
“Tadi aku dipanggil Pak Danu, atasanku. Aku dipercaya menangani proyek pembangunan mall.”
“Benarkah?” tanya Pak Ikhsan begitu antusias.
Alfa mengangguk. “Iya, Yah. Tapi sebenarnya aku masih ragu, karena belum pernah memimpin proyek besar.”
“Kesempatan tak datang dua kali, Nak," kata Pak Ikhsan. "Selama kamu mau belajar dan bertanggung jawab, ayah yakin kamu pasti bisa.”
Bu Mala ikut menyela, “Ayahmu benar, Alfa. Gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, untuk membuktikan bahwa dirimu mampu bangkit dari keterpurukan."
Alfa menatap kedua orang tuanya. Kata-kata mereka membangkitnya semangat di dalam dadanya.
“Aku akan berusaha, Yah Bu. Terima kasih, kalian selalu mendukungku,"
Malam itu, Alfa merasa langkahnya untuk membangun hidupnya kembali telah terbuka. Walaupun dia sadar jalan ke depannya tidak mudah. Namun, dia tak akan menyerah.