Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Ketakutan akan luka lama
Suasana di dalam ruangan CEO mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Adrian duduk di balik meja kerjanya dengan garis wajah menegang kaku, sementara aura bad mood terpancar sangat jelas dari gerak-geriknya.
Nayla, yang duduk tak jauh dari sana, berusaha sekuat tenaga membuang semua ingatan menyakitkan tentang insiden di pantry tadi, serta mengabaikan ancaman serangan pertanyaan yang pasti akan dilancarkan Mira jika wanita itu menemukan waktu luang. Saat ini, fokus utama Nayla hanyalah berkas-berkas rapat penting yang harus dipersiapkannya. Rio sendiri yang berdiri di samping meja CEO memilih fokus pada tugasnya, pura-pura tidak melihat ekspresi kelam sang atasan demi keselamatan jiwanya.
Sial bagi Adrian, situasi formal kantor memaksa Nayla memanggilnya dengan sebutan resmi.
"Pak Adrian, ini semua berkas yang Bapak minta sudah siap," ucap Nayla santai seraya meletakkan map tebal di atas meja.
Mendengar panggilan 'Pak Adrian' yang keluar dari bibir istrinya, dada Adrian serasa makin dihantam sesak yang mengimpit. Semakin ke sini, pria itu terasa makin tidak suka dipanggil dengan sebutan formal nan kaku tersebut jika mereka sedang berada di ruang pribadi. Namun, ia tidak punya alasan untuk protes saat ini.
Rio dengan sigap melangkah mendekat. "Perwakilan klien dari Jepang juga sudah tiba di ruang rapat utama, Pak."
Adrian mengembuskan napas panjang, berdiri dari kursinya seraya merapikan kemeja birunya. "Ya, mari ke ruang rapat sekarang."
Mereka bertiga berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ruang rapat utama. Namun, saat melangkah masuk dan melintasi pintu kaca, mental Nayla kembali diuji tanpa ampun. Empat orang perwakilan klien dari perusahaan Jepang sudah duduk menunggu. Dua di antaranya adalah karyawati wanita yang tampil begitu sempurna. Berparas cantik, berkulit mulus, dan memiliki bentuk tubuh langsing ideal berbalut busana kerja yang sangat pas di tubuh mereka.
Seketika itu juga, bisikan beracun Bimo di pantry pagi tadi kembali bergaung di telinga Nayla, 'Masa sekretaris CEO kalah menarik dari staf biasa di bawahnya?'
Nayla menundukkan kepalanya sejenak, mengepalkan jemarinya erat-erat di balik map. Namun, ia berjuang keras untuk membendung rasa minder itu. Ia kembali mengingat pesan almarhum ayahnya sebelum berpulang, Nayla adalah gadis yang hebat, dan Nayla tidak boleh patah hanya karena satu perkataan buruk orang lain.
Nayla menarik napas dalam-dalam, mengumbar senyum profesional terbaiknya, lalu memulai sesi presentasi. Rapat berjalan dengan sangat lancar dan mengagumkan. Kemampuan bahasa asing, pemahaman materi, serta cara berkomunikasi Nayla yang sigap membuat pihak klien beberapa kali mengangguk kagum.
Hingga akhirnya, jam makan siang tiba. Sebagai bentuk penghormatan, hidangan disajikan di atas meja berputar. Selain makanan khas Indonesia, terdapat pula beberapa piring sushi demi memanjakan lidah para tamu dari Negeri Sakura tersebut.
Satu piring sushi roll goreng hangat bersaus gurih yang menggoda terletak tepat di depan pandangan Nayla. Sejujurnya, perut Nayla terasa bergejolak hebat karena tadi dirumah mertuanya dia hanya sarapan roti. Perutnya bergemuruh menagih haknya. Ia sangat ingin menyendok satu potong sushi menggoda itu.
Namun, akal sehat dan benteng pertahanannya mendadak berteriak histeris di dalam kepala. 'Jangan, Nayla! Kalorinya sangat tinggi! Itu digoreng berminyak, belum lagi nasinya, saus mayonesnya, isian kejunya... Minum air putih saja berat badanmu bisa gampang naik, gimana kalau makan itu?! Lagipula, kamu kan nggak bakalan cukup kalau cuma makan satu saja!'
Nayla menelan ludah yang terasa pahit. Dengan jemari yang gemetaran pelan, ia mengurungkan niatnya. Nayla meraih gelas kaca di sampingnya, memilih hanya meminum air putih dingin seraya terus memamerkan senyuman ramah kepada perwakilan klien yang berkali-kali mengisyaratkan padanya untuk ikut menyantap hidangan.
Adrian yang sejak tadi duduk berseberangan mulai menghentikan suapannya. Pria itu menyipitkan mata, melirik ke arah piring Nayla yang masih kosong melompong tanpa ada setitik pun makanan di atasnya.
Karena posisi duduk mereka terhalang oleh beberapa tamu sehingga tidak memungkinkan untuk bertanya langsung, Adrian memberikan kode halus pada Rio yang duduk di sebelah Nayla.
Rio yang peka segera memajukan badannya dan berbisik pelan. "Mbak Nayla... kenapa tidak makan? Apa kurang cocok dengan menu masakannya?"
Nayla memaksakan senyum tipisnya. "Tidak... bukan begitu, Mas Rio. Saya masih sangat kenyang kok."
Adrian yang mengamati interaksi kecil itu dari kejauhan tahu persis bahwa istrinya sedang berbohong. Ia sudah menghafal setiap gestur Nayla selama satu tahun ini. Wajah Nayla memang selalu dipenuhi rasa minder dan malu-malu, tetapi jika berhadapan dengan makanan lezat, Nayla tidak pernah sekali pun absen menyantapnya. Mata Nayla jelas-jelas memancarkan binar kehausan tatkala menatap sushi goreng itu tadi. Ada sesuatu yang tidak beres pada diri istrinya hari ini.
Usai acara makan siang dan diskusi santai, pertemuan bisnis sukses itu akhirnya resmi ditutup. Sebelum berpamitan, perwakilan klien menyerahkan tiga kotak bingkisan berisikan pakaian tradisional Jepang, yukata sebagai bentuk kenang-kenangan khusus untuk Adrian, Nayla, dan Rio.
"Ini hadiah kecil untuk Anda bertiga," tutur salah satu perwakilan Jepang melalui penerjemahnya. "Pakaian ini bisa dipakai untuk berfoto jika nanti kalian berkunjung ke Jepang saat proyek ini berjalan."
Nayla dan Rio menerima kotak tersebut dengan senyum gembira dan ucapan terima kasih tulus, disusul oleh ucapan terima kasih dari Adrian. "Terimakasih banyak, kami sangat menyukainya."
Namun, sekretaris wanita dari pihak Jepang itu mendadak mengumbar senyum canggung seraya menatap ke arah Nayla. "Ah... maaf ya, mungkin untuk pakaian tradisional yang wanita, ukurannya agak kekecilan... Kami tidak tahu ukuran persisnya, jadi kami hanya membeli ukuran standar." Ucapnya dengan logat bahasa indonesia yang tidak terlalu lancar.
Meski wanita itu tidak mengeja kata gemuk atau kelebihan berat badan, makna dari kalimat tersebut menghantam dada Nayla bagaikan godam berat. Rasa percaya diri yang baru saja ia bangun susah payah sepanjang rapat seketika runtuh berkeping-keping. Nayla merasa benar-benar tenggelam dalam lautan kekecewaan pada dirinya sendiri.
Namun, sebagai profesional, Nayla menahan diri. Ia membungkukkan badannya dengan senyum manis yang dipaksakan. "Ah, tidak apa-apa... Terima kasih banyak atas hadiahnya."
Begitu rombongan klien meninggalkan ruangan, kekesalan Adrian yang tadinya terpicu akibat tidak diakui sebagai suami tadi mendadak sirna seratus persen. Pria tampan itu merasa cemas dan bersalah. Ia ingin sekali mendekati Nayla, merengkuh jemarinya, dan menghibur istrinya agar tidak dimasukkan ke dalam hati ucapan klien tadi.
Namun, sebelum Adrian sempat melangkah mendekat, Nayla sudah lebih dulu berpamitan dengan suara bergetar pelan. "Pak Adrian, Mas Rio... saya pamit ke kamar mandi sebentar."
Nayla berbalik cepat dan setengah berlari meninggalkan ruangan rapat.
Cklek.
Pintu kamar mandi terkunci rapat.
Nayla menyandarkan punggung tebalnya pada dinding keramik yang dingin, menarik napasnya yang terasa putus-putus dan amat sesak. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes membasahi pipinya yang berisi.
'Sekarang... orang-orang baru tahu kalau aku hanyalah seorang sekretaris dari CEO Adrian Dewangga, dan mereka sudah dengan sangat lantang mengatai fisikku...' batin Nayla terisak tanpa suara. 'Bagaimana jika suatu hari nanti mereka semua tahu kalau kami berdua sudah menikah?! Aku... aku pasti hanya akan membuat Mas Adrian malu setengah mati punya istri seperti aku...'
Di dalam keheningan toilet yang dingin itu, ingatan masa lalu Nayla mendadak terlempar mundur jauh ke belakang, saat usianya masih tiga belas tahun.
Kenangan pahit kala duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama merayapi pikirannya. Dulu, Nayla adalah gadis yang paling gemuk di antara teman-teman sekelasnya, berpenampilan dekil, berkacamata tebal, dan sangat canggung bergaul. Namun, seperti gadis remaja pada umumnya, Nayla pernah menaruh hati pada seorang anak laki-laki populer yang menjadi bintang kelas saat itu.
Kala itu, teman-teman sekelasnya yang jahil secara licik mencuri buku harian milik Nayla, lalu membacakan isi hatinya di depan umum dan menyerahkan buku harian itu tepat ke tangan si bintang kelas.
Dampaknya sungguh merusak jiwa remaja Nayla. Anak laki-laki populer yang tadinya selalu bersikap ramah padanya mendadak menjauh sepenuhnya, memandang Nayla dengan tatapan risih dan jijik, lantaran merasa amat malu diejek oleh teman-teman lain hanya karena disukai oleh gadis gemuk nan lusuh seperti Nayla.
Nayla menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Air mata membasahi wajahnya yang sudah berpoleskan riasan rapi.
"Ketakutan itu... kenyataan pahit itu... rasanya akan terulang lagi," bisik Nayla pilu pada pantulan dirinya sendiri. "Aku sudah belajar merias diri dengan baik... wajahku sudah dipoles cantik... jabatanku sudah tinggi di perusahaan besar ini... Tapi ternyata, semua orang di luar sana tetap hanya melihat berat badanku..."
Nayla mengusap air matanya dengan tisu dengan perlahan, berusaha menata kembali kepingan hatinya yang hancur dalam diam.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️