Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Atas Nama
...#...
...Dimas bangun paling siang. Bima sudah duduk di kursi makan sejak subuh, dengan selembar fotokopi formulir di depannya. Ia melipatnya dua kali, membukanya lagi, lalu melipatnya lagi, seperti orang yang berharap lipatannya bisa berubah sendiri....
..."Mas udah makan?" tanya Dimas dari pintu kamar. Rambutnya masih berantakan, dan pipinya yang memar sekarang berwarna ungu kehijauan....
..."Belum."...
..."Ibu udah?"...
..."Ibu dari tadi nyuci piring."...
...Dimas menoleh ke dapur. Wartini memang masih di sana, berdiri di depan bak dengan punggung membungkuk. Piring yang sama sudah dicuci dua kali, dan sekarang ia mencuci sendok satu per satu....
..."Itu kenapa, sih?" bisik Dimas....
..."Biarin."...
..."Kan kasihan."...
...Bima tidak menjawab. Ia menggeser fotokopi itu ke tepi meja, lalu menggesernya lagi ke tengah, seolah ada tempat yang benar untuk diletakkan....
...Dimas menarik kursi di seberangnya dan duduk tanpa diminta. Ia membaca kertas itu terbalik, bibirnya bergerak pelan mengeja kata-kata yang tidak ia kenal. *Pendataan. Penerima kuasa. Lokasi usaha.*...
..."Ini punya siapa?"...
..."Punya aku."...
..."Kok tulisannya bukan tulisan Mas?"...
...Bima menoleh. Ia tidak sadar tangannya sendiri sudah menunjuk kolom tanda tangan, lalu kolom itu ditutup oleh jarinya sendiri....
..."Ini tanda tangan aku," katanya....
..."Kan kelihatan kayak tulisan bapak."...
..."Makanya aku lagi mikir."...
...Dimas diam. Ia tahu kakaknya sedang tidak ingin diajak bercanda, dan ia tahu juga bahwa sebentar lagi kakaknya akan marah pada sesuatu yang tidak bisa dipukul....
... ...
...Perempuan itu keluar dari kamar belakang sekitar pukul sembilan. Kali ini ia sudah rapi. Mantelnya tidak dipakai, hanya kaus hitam lengan panjang yang tidak menutupi bekas perban di pergelangan tangan kanannya. Ia melihat Bima, lalu melihat kertas di meja, lalu berhenti sebentar sebelum berjalan ke dapur....
..."Kamu sudah minum?" tanyanya....
..."Belum."...
..."Kenapa tidak?"...
..."Ibu belum selesai nyuci."...
...Perempuan itu berdiri di samping Wartini. Ia tidak menyentuh apa-apa. Hanya berdiri, menatap piring yang sedang dibilas, dan Wartini tidak menoleh....
..."Bu," katanya pelan....
..."Iya?"...
..."Ibu boleh berhenti."...
...Wartini mematikan keran. Ia mengeringkan tangannya di kain, sangat lama, jari demi jari, lalu berkata tanpa melihat siapa pun, "Ibu kalau berhenti, mikirnya jadi ke mana-mana."...
...Perempuan itu tidak membantah. Ia hanya mengambil kain itu dari tangan Wartini dan melipatnya, dan Bima melihat itu dari meja makan. Gerakannya kaku, seperti orang yang jarang melakukan pekerjaan rumah....
...Wartini menatap tangan perempuan itu. Lalu, tanpa sepatah kata, ia duduk di bangku kecil di dekat kompor dan menutup wajahnya sebentar dengan kedua telapak tangan....
...Bima berdiri. Ia ingin mendekat, tapi kakinya berhenti sendiri di ambang dapur....
..."Bu," katanya....
..."Duduk, Mas. Ibu lagi capek."...
..."Saya cuma mau tanya tentang formulir itu."...
...Wartini membuka tangannya dan menatap Bima. Matanya merah, tapi tidak basah. "Kamu tanya ke Ibu, Ibu jawab apa? Ibu yang nyuruh kamu tanda tangan. Itu aja. Ibu nggak baca juga."...
..."Ibu kenal orang yang bawa?"...
..."Ibu lihat mukanya aja. Pakai jas abu-abu. Bawa map biru. Ibu pikir dia dari kelurahan, karena dia bilang kelurahan sudah tahu." Wartini menghela napas. "Terus dia senyum. Ibu inget dia senyum kayak orang yang udah makan enak."...
...Perempuan itu meletakkan kain yang sudah terlipat di atas meja. Ia tidak duduk....
..."Kapan dia datang?" tanyanya....
..."Bulan lalu. Dua hari sebelum tanggal dua."...
..."Dia datang sendiri?"...
..."Sendiri. Tapi di luar ada mobil. Ibu lihat dari jendela."...
..."Mobil apa?"...
...Wartini menggeleng. "Ibu nggak ngerti mobil. Yang Ibu ingat cuma pintunya dibuka sama orang yang nggak pakai jas."...
...Perempuan itu mengangguk pelan, seperti sedang menyusun sesuatu di kepalanya dengan rapi. Bima memperhatikan bahunya. Pundak itu tidak turun seperti semalam, tapi juga tidak terangkat. Hanya diam, menunggu....
... ...
...Siang itu Bima pergi sendiri....
...Ia tidak bilang ke siapa-siapa. Ia hanya mengambil fotokopi formulir itu, melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke saku dalam jaket. Di pintu ia berhenti sebentar, menoleh ke ruang tengah, dan melihat Dimas duduk di lantai dengan punggung bersandar sofa, memandangi layar ponsel yang kosong....
..."Mas mau ke mana?"...
..."Ke kantor pasar."...
..."Aku ikut."...
..."Nggak."...
..."Kenapa?"...
..."Karena kamu bakal ribut di jalan."...
...Dimas mendengus. "Aku nggak ribut."...
..."Kamu ribut dari kecil."...
..."Mas juga ribut. Waktu SD Mas nangis gara-gara kalah main kelereng."...
..."Itu karena curang."...
...Dimas tersenyum sedikit, lalu cepat-cepat menghapusnya dari wajahnya. "Hati-hati, Mas."...
...Bima tidak menjawab. Ia menutup pintu pelan, dan saat turun tangga kayu ia mendengar suara langkah dari atas. Perempuan itu berdiri di pagar balkon, memperhatikannya dari jauh. Tidak memanggil. Tidak bertanya. Hanya memperhatikan sampai Bima hilang di tikungan....
... ...
...Ruko PT Samudra Lintas Sentosa masih di tempat yang sama, dengan papan nama pudar dan shutter besi yang kali ini tertutup separuh. Di teras ada kursi plastik kosong, dan seseorang sudah meninggalkan dua gelas kopi di atas meja kecil, sudah dingin dan berlapis buih tipis....
...Bima berdiri di seberang jalan cukup lama. Ia melihat pintu kaca yang ada tulisan kecil di pojok. *Buka 08.00 — 16.00.* Jam di tangannya menunjukkan pukul dua lewat....
...Ia menyeberang....
...Di dalam, lantai ruko sudah dipel, dan baunya seperti sabun lantai bercampur kertas tua. Ada meja resepsionis dari kayu yang sudah lecet, di belakangnya seorang perempuan muda berkacamata sedang mengetik. Ia mendongak, dan wajahnya langsung berubah ramah yang dibuat-buat, seperti sudah dilatih untuk itu....
..."Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?"...
..."Saya mau tanya soal formulir."...
..."Formulir apa, Pak?"...
...Bima mengeluarkan fotokopi itu dan menaruhnya di meja. Perempuan muda itu membacanya sekilas, lalu membaca lagi lebih lambat. Jarinya berhenti di kolom bawah....
..."Oh, Pak Bima." Ia tersenyum lebih lebar. "Ini sudah kami proses minggu lalu. Sudah disetujui."...
..."Disetujui apa?"...
..."Pengalihan kuasa lokasi usaha, Pak. Atas nama Bapak sebagai ahli waris." Ia membalik kertas itu dan menunjuk satu baris di halaman dua. "Ini sudah ditandatangani di depan notaris. Ada tanggalnya."...
...Bima menatap kertas itu. Ada tanda tangan di sana, di kolom yang tadi ia tidak lihat. Tanda tangan yang sama dengan yang ia buat di warung, tapi kali ini sudah dilengkapi cap basah berwarna biru....
..."Saya nggak pernah tanda tangan ini," kata Bima....
...Perempuan muda itu berhenti tersenyum. Hanya sebentar, seperti ada sesuatu yang bergeser di wajahnya. Ia melirik ke belakang, ke arah pintu kecil di sudut ruangan yang tertutup....
..."Pak, sebentar saya panggilkan Pak Hendar. Beliau yang urus berkasnya."...
..."Saya nggak mau ketemu siapa-siapa."...
..."Ini cuma sebentar, Pak."...
..."Saya mau tahu gudang mana yang ada di sini."...
...Perempuan muda itu membuka laci di bawah meja, mengeluarkan map tipis, lalu membukanya. Ia membaca sekilas dan mengangkat wajah....
..."Gudang Empat, Pak. Dermaga Timur."...
...Bima merasakan dadanya menyempit. Ia menatap perempuan itu lama, dan perempuan itu menatap balik, tidak takut, tapi juga tidak nyaman....
..."Dan sekarang atas nama siapa?"...
..."Atas nama Bapak, Pak Bima."...
..."Sejak kapan?"...
..."Sejak tanggal yang tertulis di sana."...
..."Tanggal empat belas?"...
...Perempuan muda itu membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi....
...Dari pintu kecil di sudut ruangan, terdengar suara kursi ditarik. Seseorang berjalan pelan mendekat. Bima tidak menoleh, tapi ia mendengar langkah sepatu kulit yang berhenti di belakangnya, cukup dekat untuk ia mencium aroma tembakau yang tipis....
..."Pak Bima," kata suara di belakangnya. Ramah, pelan, dan sangat sabar. "Akhirnya datang juga."...
...Bima menoleh perlahan....
...Laki-laki berjas abu-abu itu berdiri di sana. Bukan Om Gio, bukan juga orang yang datang ke warung. Ini laki-laki lain, lebih muda, rambutnya rapi dan kacamatanya bening. Di tangannya ada map biru yang sama dengan yang dulu dibawa ke warung....
..."Saya Hendar," katanya. "Dan kamu, Bima, sekarang pemilik sah dari Gudang Empat. Selamat."...
...Bima tidak mengulurkan tangan....
...Hendar tersenyum kecil, seperti sudah menduga itu. Ia membuka map biru di atas meja, lalu menggeser selembar kertas ke arah Bima....
..."Ini surat kuasa tambahan," katanya. "Bukan untuk ditanda tangani hari ini. Hanya untuk dibaca."...
...Bima menatap kertas itu. Di bagian paling atas tertulis satu nama yang tidak ia duga, dan jantungnya berdetak sekali, keras, seperti dipukul dari dalam....
...*Matteo Vieri.*...
...Di bawahnya, di kolom pemberi kuasa, ada tanggal yang sama dengan telepon yang diterima ibunya bulan lalu....
...Hendar menatapnya tanpa berkedip....
..."Ayahmu bukan hanya menjual sate, Bima," katanya pelan. "Dan sekarang kamu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali."...