Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Mulai Menakutkan
Malam di rumah sakit selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil.
Di siang hari, koridor masih ramai oleh langkah kaki, suara perawat, percakapan keluarga pasien, dan bunyi roda troli yang bergerak cepat. Namun ketika malam datang, semua suara itu perlahan berkurang. Yang tersisa hanya cahaya lampu temaram, dengung pendingin ruangan, dan bunyi monitor medis dari kamar-kamar lain.
Alya terbangun beberapa kali malam itu.
Setiap kali membuka mata, ia melihat Arga masih berada di sana.
Kadang lelaki itu duduk di kursi dekat ranjang sambil menatap layar laptop. Kadang ia berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan. Kadang ia tertidur sebentar di sofa dengan lengan menutupi wajahnya.
Namun setiap kali Alya bergerak atau menarik napas terlalu cepat, Arga selalu langsung terbangun.
“Kamu sakit?” tanyanya pada suatu waktu.
Alya menggeleng.
“Pusing?”
“Sedikit.”
“Mau panggil perawat?”
“Tidak perlu.”
Arga berdiri, mengambil gelas air, lalu membantu Alya minum sedikit. Tangannya menopang kepala Alya dengan hati-hati. Gerakannya masih canggung, seperti lelaki yang tidak terbiasa merawat orang lain.
Tetapi ia berusaha.
Alya tahu itu.
Masalahnya, mengetahui bahwa Arga berusaha tidak otomatis membuat luka di hatinya sembuh.
Saat Arga kembali ke kursinya, Alya memandang punggung tangan lelaki itu yang berada di atas lutut. Jemari panjang yang biasa memegang dokumen perusahaan, kunci mobil, atau ponsel yang dipenuhi pesan dari Keisya, kini terlihat diam dan lelah.
“Mas,” panggil Alya pelan.
Arga langsung menoleh. “Iya?”
“Mas nggak tidur?”
“Nanti.”
“Mas bisa pulang kalau mau.”
“Aku di sini saja.”
“Kenapa?”
Arga tampak berpikir beberapa saat.
“Aku tidak mau kamu bangun dan merasa sendirian.”
Alya menatapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya terasa berat. Dulu, ia selalu tidur dengan rasa takut bahwa Arga tidak akan pulang. Ia sering terbangun tengah malam, melihat sisi ranjang kosong, lalu menatap langit-langit sambil bertanya apakah suaminya sedang baik-baik saja—atau sedang bahagia bersama orang lain.
Malam ini, Arga justru berkata ia tidak ingin Alya merasa sendirian.
Terlambat, pikir Alya.
Namun tetap menyentuh bagian hati yang selama ini ia coba tutup rapat-rapat.
“Aku sudah terbiasa sendirian,” katanya lirih.
Arga menunduk.
“Aku tahu,” jawabnya.
“Mas nggak tahu.”
“Kamu benar.” Ia menghela napas. “Aku tidak tahu seluruhnya.”
Alya memejamkan mata. “Aku dulu sering berharap Mas pulang sebelum aku tidur. Aku selalu pikir kalau Mas pulang dan lihat aku masih bangun, mungkin Mas akan duduk sebentar. Mungkin Mas akan tanya hariku. Mungkin Mas akan makan masakan yang aku buat.”
Suara Alya tenang, tetapi pelan-pelan mulai bergetar.
“Kadang aku ketiduran di sofa. Bangun-bangun, Mas sudah masuk kamar. Kadang Mas tidak pulang sama sekali. Paginya aku cuma dapat pesan singkat: ada urusan kerja.” Ia berhenti. “Aku tahu itu bukan selalu kerja.”
Arga tidak bergerak.
Alya tidak menatapnya. Ia takut jika melihat wajah lelaki itu, dirinya akan kehilangan keberanian untuk melanjutkan.
“Setiap kali Mas pulang dan ada wangi parfum lain di baju Mas, aku selalu pura-pura nggak tahu,” katanya. “Aku pikir kalau aku diam, mungkin Mas akan bosan. Mungkin Mas akan sadar kalau aku juga punya perasaan. Tapi ternyata diam cuma membuat Mas merasa semuanya baik-baik saja.”
“Alya…”
“Tidak apa-apa.” Alya tersenyum tipis, namun air mata jatuh dari sudut matanya. “Aku cuma ingin Mas tahu. Supaya nanti kalau suatu hari Mas benar-benar berubah, Mas tahu luka apa yang harus Mas perbaiki.”
Arga menatap istrinya.
Untuk beberapa detik, ia tidak sanggup berkata apa pun.
Dulu ia menganggap sikap Alya yang selalu tenang sebagai sesuatu yang memudahkan. Ia tidak perlu menjelaskan ke mana ia pergi. Tidak perlu membuat alasan yang meyakinkan. Tidak perlu menghadapi pertengkaran besar.
Alya selalu diam.
Alya selalu memaafkan.
Alya selalu menunggu.
Dan Arga memanfaatkan ketulusan itu tanpa sadar—atau mungkin, ia sadar tetapi memilih menikmati kenyamanan yang diberikannya.
“Aku jahat,” katanya akhirnya.
Alya membuka mata.
Arga menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. “Aku tahu aku jahat sama kamu.”
Alya menatapnya lama.
“Mas baru sadar sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu membuat Arga kembali terdiam.
Mengapa baru sekarang?
Karena Alya sakit?
Karena perempuan itu mulai menarik diri?
Karena untuk pertama kalinya ia membayangkan rumah tanpa Alya?
“Aku tidak punya alasan yang bisa membuat semuanya benar,” jawabnya. “Aku cuma… baru benar-benar lihat kamu sekarang.”
Alya tersenyum sedih.
“Aku selalu ada di depan Mas.”
“Aku tahu.”
“Tidak.” Alya menggeleng. “Mas baru tahu sekarang.”
Arga tidak membantah.
***
Pukul tiga pagi, perawat datang membawa hasil pemeriksaan tambahan.
Alya sudah hampir tertidur ketika pintu terbuka. Arga langsung bangun dari sofa dan mendekat ke pintu.
“Maaf, Pak, Bu,” kata perawat itu pelan. “Dokter jaga ingin bertemu keluarga pasien sebentar.”
Arga menoleh ke Alya. “Aku ikut.”
“Aku juga,” kata Alya cepat.
“Tidak usah. Kamu istirahat.”
“Aku mau dengar sendiri.”
Arga ingin menolak, tetapi melihat tatapan Alya, ia mengangguk. “Baik.”
Dokter jaga datang beberapa menit kemudian. Seorang dokter muda dengan ekspresi serius membawa tablet berisi hasil laboratorium terbaru. Ia duduk di kursi dekat ranjang agar tidak membuat Alya merasa terintimidasi.
“Bu Alya, kami sudah menerima beberapa hasil pemeriksaan tambahan,” katanya. “Ada beberapa hal yang perlu kami jelaskan.”
Alya langsung mencengkeram selimut.
Arga duduk di sisi ranjang.
“Kondisi darah Ibu menunjukkan adanya penurunan pada beberapa jenis sel darah. Hemoglobin, trombosit, dan sel darah putih semuanya berada di bawah batas normal. Ini yang menjelaskan mengapa Ibu mudah lelah, pusing, sering demam, dan mengalami penurunan berat badan.”
Alya menelan ludah.
“Kenapa bisa begitu, Dok?” tanya Arga.
“Penyebabnya masih harus dipastikan. Namun berdasarkan pola hasilnya, dokter spesialis hematologi perlu mengevaluasi kemungkinan gangguan pada sumsum tulang, karena di sanalah sel darah dibuat.”
Alya memejamkan mata.
Ruangan terasa lebih dingin.
“Apakah itu kanker?” tanya Arga tiba-tiba.
Alya membuka mata dan menoleh cepat.
Dokter jaga tampak berhati-hati. “Kami belum bisa menyebutkan diagnosis tersebut. Ada beberapa kemungkinan lain yang juga dapat menyebabkan kondisi seperti ini. Karena itu, pemeriksaan lanjutan sangat penting.”
“Apa yang akan dilakukan besok?” tanya Arga.
“Pagi hari, dokter hematologi akan datang. Beliau kemungkinan menyarankan pemeriksaan aspirasi sumsum tulang atau biopsi untuk mendapatkan kepastian.”
Kata itu lagi.
Biopsi.
Sumsum tulang.
Alya merasa telapak tangannya semakin dingin.
Dokter memperhatikan perubahan wajahnya. “Ibu tidak perlu takut dulu. Prosedur dilakukan dengan anestesi lokal dan tim kami akan menjelaskan semuanya. Yang penting, kita dapat informasi secepat mungkin supaya penanganannya tepat.”
Setelah dokter selesai menjelaskan dan meninggalkan ruangan, keheningan kembali memenuhi kamar.
Namun kali ini, sunyi itu terasa seperti sesuatu yang menekan paru-paru.
Alya menatap langit-langit.
Arga tidak berkata apa-apa.
Beberapa menit berlalu.
Lalu Alya berkata pelan, “Mas tadi tanya apakah itu kanker.”
Arga menunduk. “Aku cuma mau tahu kemungkinan terburuknya.”
“Kenapa?”
“Agar aku siap.”
Alya mengalihkan wajah ke arah jendela yang gelap. “Kalau ternyata itu benar, Mas mau siap untuk apa?”
Arga menatapnya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak.
Siap menemani Alya?
Siap menjalani pengobatan bersamanya?
Siap menghadapi keluarga mereka?
Atau siap kehilangan seseorang yang selama ini ia pikir akan selalu ada?
“Aku mau siap menjaga kamu,” kata Arga.
Alya menutup mata.
“Aku nggak minta Mas berjanji lagi.”
“Aku tidak sedang berjanji.”
“Lalu?”
“Aku sedang bilang apa yang ingin aku lakukan.”
Alya tidak menjawab.
Arga menggeser kursinya lebih dekat. Ia tidak langsung menyentuh Alya. Ia hanya duduk di sana, membiarkan kehadirannya menjadi jawaban yang belum lengkap.
Beberapa saat kemudian, suara Alya terdengar nyaris seperti bisikan.
“Aku takut mati, Mas.”
Kalimat itu membuat tubuh Arga membeku.
“Jangan bicara begitu.”
“Aku cuma takut.”
“Kita belum tahu kamu sakit apa.”
“Aku tahu.” Air mata mengalir dari mata Alya. “Tapi tubuh aku rasanya sudah lama bilang ada yang salah. Aku cuma terlalu sibuk bertahan di pernikahan ini sampai lupa menjaga diri sendiri.”
Arga mengatupkan rahangnya. Rasa bersalah yang tadi hanya mengendap kini seperti menghantamnya penuh.
Alya sakit.
Mungkin tubuhnya sudah memberi tanda sejak lama.
Dan ia, sebagai suami, tidak pernah benar-benar melihatnya.
“Aku seharusnya—”
“Jangan,” potong Alya pelan. “Jangan bilang seharusnya. Aku capek dengar hal-hal yang seharusnya terjadi tapi nggak pernah terjadi.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba membela diri.
***
Menjelang Subuh, Alya akhirnya tertidur.
Tidak nyenyak. Tidurnya gelisah, beberapa kali alisnya berkerut dan napasnya terdengar cepat. Arga tidak meninggalkan kursi di sisi ranjang. Ia hanya duduk, menatap wajah istrinya yang semakin pucat di bawah cahaya lampu kecil.
Di meja sebelahnya, ponselnya bergetar.
Nama Keisya muncul lagi.
Arga menatap layar.
Ada tiga pesan.
**Keisya:** *Kamu belum pulang?*
**Keisya:** *Aku tahu kamu sedang khawatir, tapi jangan menghilang begitu saja.*
**Keisya:** *Tolong jawab. Aku juga butuh kamu.*
Dulu, pesan seperti itu akan membuat Arga segera membalas.
Ia akan menjelaskan. Meminta maaf. Meyakinkan Keisya bahwa ia tetap ada.
Namun pagi itu, ia hanya memandangi layar ponselnya tanpa bergerak.
Di depannya, Alya tidur dengan selang infus di tangan.
Perempuan itu tidak pernah mengatakan, *Aku juga butuh kamu,* dengan cara yang menuntut. Ia hanya menunggu. Menyediakan makan malam. Menyimpan obat untuk dirinya sendiri. Menutupi kecewa dengan senyum kecil. Membiarkan Arga pergi berulang kali agar lelaki itu tidak merasa dikekang.
Dan karena Alya tidak pernah memaksa, Arga mengira ia tidak membutuhkan apa-apa.
Baru sekarang ia sadar: diam bukan berarti tidak terluka.
Arga membuka layar ponselnya.
Ia mengetik pesan kepada Keisya.
**Arga:** *Aku tidak bisa terus jadi orang yang kamu andalkan sambil membiarkan istriku sendirian. Untuk sekarang, aku harus fokus pada Alya.*
Ia berhenti.
Jari-jarinya menggantung di atas tombol kirim.
Kalimat itu terasa seperti pintu yang jika ditutup, mungkin tidak akan mudah dibuka lagi.
Namun kemudian Alya bergerak dalam tidurnya. Wajahnya mengernyit, seolah sedang menahan rasa sakit. Tanpa berpikir, Arga langsung meletakkan ponsel dan meraih tangan Alya.
“Aku di sini,” bisiknya.
Alya tidak bangun.
Tetapi jemarinya bergerak lemah, seolah mencari sesuatu.
Arga menggenggamnya lebih erat.
Saat itulah ponselnya kembali bergetar.
Keisya menelepon.
Arga menatap layar beberapa detik.
Lalu ia mematikan ponselnya.
Benar-benar mematikannya.
Bukan menolak panggilan.
Bukan membisukan nada dering.
Ia mematikan ponsel itu dan meletakkannya terbalik di atas meja.
Tangan Arga kembali pada tangan Alya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memilih tidak pergi ketika seseorang memanggilnya.
Namun tepat ketika langit di luar mulai berubah pucat, Alya membuka mata.
Ia menatap Arga yang masih duduk di sampingnya.
“Mas belum pulang?” tanyanya, suaranya sangat lemah.
Arga menggeleng.
“Aku di sini.”
Alya menatap wajahnya beberapa saat.
Lalu ia tersenyum kecil.
Senyum itu begitu tipis, begitu lelah, tetapi cukup membuat dada Arga terasa hancur.
“Jangan tinggalin aku hari ini,” bisiknya.
Arga menggenggam tangannya.
“Tidak,” jawabnya. “Hari ini, aku tidak akan pergi.”