Indonesia
NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mendisiplinkan Militer

Tiga hari berturut-turut, lapangan latihan berdebu di belakang kastil menjadi saksi rutinitas baru Arya.

Setelah hari pertama di mana ia menguji coba kepadatan auranya, Arya memutuskan untuk menyembunyikan kekuatan barunya rapat-rapat. Ia mengunci aura merah pekat itu di ulu hatinya dan sama sekali tidak mengalirkannya saat berlatih.

Selama tiga hari ini, ia hanya melakukan latihan fisik murni.

Pagi ini tidak ada bedanya. Matahari baru naik sepenggalah, dan tubuh Arya sudah basah oleh keringat. Ia berlari mengelilingi perimeter lapangan berulang kali hingga napasnya tersengal, lalu melanjutkan dengan gerakan pemanasan dasar untuk membangun kembali massa otot tubuhnya yang terlalu kurus.

Setelah merasa tubuhnya cukup panas, ia mengambil sebilah pedang berkarat dari rak lapuk.

Tanpa bantuan aliran aura yang meringankan beban, pedang baja seberat satu setengah kilogram itu terasa membebani persendiannya. Ia harus membiasakan diri.

Arya mulai melatih ayunannya. Ia menggunakan dasar seni pedang dari kehidupannya yang lama.

La Verdadera Destreza. Seni pedang dari Spanyol yang bertumpu pada geometri dan rasio ruang.

Arya melangkah dalam pola lingkaran imajiner. Ia merendahkan titik berat tubuhnya, menjaga postur tubuh tetap tegak menyamping. Tangannya menjulur lurus ke depan, menjaga ujung pedang selalu berada di garis tengah yang mengancam leher atau dada lawan.

Namun, bagi mata orang awam di dunia ini, gerakannya pasti terlihat sangat janggal.

Alih-alih memegang pedang dengan dua tangan dan menebas kuat dari bahu layaknya ksatria kerajaan pada umumnya, Arya tampak seperti orang yang sedang menari kaku. Langkah kakinya menyilang dan memutar, bukan maju dan mundur.

Hans berdiri di tepi lapangan, setia memegang kendi air minum dan kain bersih.

Pria tua itu sesekali menghela napas panjang. Ia tampak khawatir melihat tuan mudanya yang masih pucat terus memaksakan diri. Namun Hans tidak berani menyela. Ia hanya diam mengawasi.

Saat Arya sedang fokus mengatur tempo pijakan kakinya, suara tawa keras dan langkah kaki kasar memecah konsentrasinya.

Dari arah gerbang samping lapangan, lima orang prajurit berjalan beriringan.

Arya melirik mereka dari sudut matanya. Penampilan mereka jauh dari standar militer mana pun. Zirah kulit mereka terpasang miring. Beberapa hanya mengenakan kemeja kotor tanpa pelindung dada. Mereka berjalan dengan langkah gontai, saling mendorong dan bercanda dengan suara bising layaknya kelompok pemabuk di kedai murah.

Di posisi terdepan, memimpin kelompok itu, adalah seorang pemuda berbadan besar. Usianya sekitar dua puluh satu tahun.

Otot lengannya menonjol jelas, menandakan bahwa ia terbiasa menggunakan tenaga fisik. Namun postur tubuhnya yang condong ke depan dan senyum arogannya memperlihatkan bahwa ia tidak mengenal arti disiplin.

Pria itu, Max, menghentikan langkahnya.

Ia melipat tangan di depan dada. Matanya menatap Arya yang sedang menahan pedang dengan sebelah tangan terentang ke depan.

Max mendengus. Detik berikutnya, ia meledak dalam tawa yang merendahkan. Keempat rekannya di belakang segera ikut tertawa terbahak-bahak. Suara mereka menggema memecah keheningan pagi di area kastil.

"Tuan Muda, bukan begitu cara mengayunkan pedang!" seru Max di sela tawanya. Ia menyeka ujung matanya seolah baru saja melihat lelucon terbaik tahun ini.

"Apa yang sedang Anda lakukan? Mengusir lalat rawa dengan besi berkarat? Kalau Anda melangkah aneh seperti itu di medan perang, musuh akan memotong kaki Anda sebelum Anda sempat berkedip!" tambah Max dengan nada mengejek.

Arya menurunkan pedangnya perlahan.

Ia berdiri tegak, mengatur napasnya yang terengah-engah. Matanya menatap kelima prajurit itu dengan ekspresi datar. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya sebuah penilaian taktis.

'Ternyata benar,' batin Arya dingin. 'Mereka bahkan tidak memiliki rasa hormat sedikit pun pada garis keturunan yang menggaji mereka.'

Sikap Max dan kelompoknya adalah cerminan dari kehancuran wibawa keluarga Denwick. Mereka tahu baroni ini miskin. Ayahnya cacat, dan tidak ada uang untuk merekrut prajurit bayaran yang layak. Para milisi desa ini merasa di atas angin. Mereka merasa bisa bertindak sesuka hati tanpa konsekuensi hukum.

"Jika bukan seperti ini..." suara Arya akhirnya terdengar.

Nada suaranya tenang, namun ketegasannya cukup untuk memotong sisa-sisa tawa di lapangan itu.

"...maka ajari aku cara yang benar, Max."

Max terdiam sejenak. Senyum mengejek masih menempel di wajahnya.

"Mengajari Anda, Tuan Muda?" Max memiringkan kepalanya. "Saya takut tulang Anda akan patah hanya dengan menangkis satu pukulan saja."

Arya menyeringai tipis.

"Banyak bicara. Ambil pedangmu." Arya mengangkat ujung pedang kusamnya, mengarahkannya lurus ke dada Max. "Ayo kita berduel."

Keheningan seketika menyelimuti lapangan.

Kelima prajurit itu saling pandang. Mereka mengira tuan muda yang terkenal penyakitan ini sedang melantur.

Namun, yang bereaksi paling cepat adalah Hans. Pelayan tua itu menjatuhkan kain di tangannya dan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Arya. Wajahnya pucat pasi ketakutan.

"T-Tuan Muda, tolong jangan gegabah!" bisik Hans panik. Ia berdiri menghalangi pandangan Arya dari para prajurit. "Anda baru berlatih beberapa hari! Tubuh Anda belum pulih. Max... meskipun dia tidak disiplin, dia adalah prajurit terkuat di desa ini. Tenaganya sangat besar. Ini berbahaya!"

Arya menatap mata Hans yang memohon. Ia menepuk pelan bahu pelayan setia itu.

"Tidak apa-apa, Hans. Menyingkirlah sebentar. Aku bisa mengatasi ini," kata Arya.

Ada keyakinan yang begitu padat dalam sorot mata Arya, membuat Hans tertegun. Mulut pelayan itu sempat terbuka untuk memprotes lagi, namun entah mengapa keberaniannya menciut melihat ketenangan di wajah tuan mudanya. Dengan langkah berat, Hans mundur menepi.

Max tertawa kecil melihat adegan itu.

Ia melangkah maju. Tangannya menarik pedang panjang dari sarung kulit di pinggangnya dengan bunyi gesekan kasar.

"Jika itu kemauan Anda, Tuan Muda," ucap Max meremehkan. "Jangan salahkan saya kalau besok Anda harus kembali berbaring di ranjang karena memar. Saya akan mencoba menahan diri agar tidak membunuh Anda."

Sementara ketegangan mulai terbangun di lapangan berdebu itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari sebuah kehadiran di atas.

Di lantai dua kastil, di balik jendela kayu yang sedikit terbuka, Baron Aran Denwick berdiri dalam bayang-bayang.

Matanya yang tajam menatap lurus ke arah lapangan latihan. Sebenarnya, ia telah diam-diam mengamati rutinitas pagi Arya selama tiga hari terakhir. Ia melihat gerakan-gerakan aneh putranya. Langkah-langkah melingkar yang tidak pernah ia temui di buku taktik militer mana pun di Kerajaan Mossgate.

Mendengar tantangan duel tersebut, Aran tidak bergerak sedikit pun untuk menghentikannya.

Wajahnya tetap sedingin es. Ia hanya menyilangkan tangan tunggalnya di belakang punggung. Ia memilih diam mengamati, membiarkan pertarungan itu terjadi. Ia ingin melihat sejauh mana putranya bisa membuktikan kata-katanya.

Di lapangan bawah, Max sudah mengambil kuda-kuda.

Kuda-kudanya terlalu lebar. Titik beratnya terpusat di depan. Pedangnya diangkat tinggi di atas bahu kanan.

'Penuh celah,' analisis Arya dalam hitungan detik. 'Tenaga murni tanpa teknik.'

Arya tidak menggunakan kuda-kuda konvensional. Ia mengangkat pedangnya, merentangkan lengan kanannya lurus ke depan hingga ujung bilahnya mengarah sejajar dengan mata Max. Kakinya berdiri menyamping.

"Maju," tantang Arya.

Tanpa peringatan, Max menerjang maju.

Tanah berdebu terinjak kasar. Pria bertubuh besar itu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah dengan tenaga penuh. Sebuah tebasan vertikal yang dirancang untuk membelah kayu atau menghancurkan pertahanan lawan seketika.

Suara angin berdesing dari tebasan itu.

Aran di atas jendela menyipitkan mata. Ia tahu Arya tidak akan sanggup menahan tebasan seberat itu dengan lengannya yang kurus. Jika putranya mencoba memblokirnya secara langsung, pedangnya akan terlempar atau lengannya akan patah.

Tapi Arya tidak menangkis.

Di sepersekian detik sebelum bilah baja itu menghantamnya, Arya mengambil langkah melingkar ke arah serong kanan depan. Ia keluar dari garis tengah serangan Max.

Tebasan mematikan Max hanya membelah udara kosong, menghantam ruang di mana Arya berdiri sedetik yang lalu.

Max kehilangan targetnya. Momentum tebasannya yang terlalu besar menarik tubuhnya sendiri ke depan, merusak keseimbangannya.

Saat Max terhuyung melewati sisinya, Arya tidak membuang waktu.

Prinsip Destreza adalah menguasai bilah lawan.

Arya menempelkan bagian tengah pedangnya ke bagian ujung pedang Max yang sedang turun. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang presisi, Arya menggunakan prinsip tuas (leverage) untuk membelokkan sekaligus menekan senjata Max ke tanah.

Bruk! Ujung pedang Max menghantam tanah berdebu. Tangan pria itu terasa kesemutan akibat tekanan tuas yang efisien.

Sebelum Max sempat menarik napas atau menarik kembali senjatanya, Arya melangkah masuk lebih dekat.

Pangkal pedang Arya menghantam keras pergelangan tangan kanan Max.

"Akh!" Max mengerang. Cengkeramannya terlepas. Pedang bajanya jatuh ke tanah berdenting keras.

Di saat yang bersamaan, Arya menyapukan kaki kirinya ke belakang lutut Max.

Tubuh besar yang sudah kehilangan keseimbangan itu ambruk seketika. Max jatuh berlutut di tanah berdebu dengan bunyi debuk yang kasar.

Kejadian itu berlangsung hanya dalam dua napas.

Ketika debu di lapangan mulai menipis, keempat rekan Max dan Hans berdiri mematung dengan mulut terbuka. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Max, prajurit paling ditakuti di desa, sedang berlutut tak berdaya.

Arya berdiri dengan postur tegak di sampingnya. Ujung pedang kusam milik sang tuan muda kini bertengger dingin tepat di sisi leher Max, menyentuh urat nadinya.

"Kau kalah," ucap Arya datar. Suaranya tidak terengah-engah, apalagi penuh kemenangan. Itu adalah pernyataan fakta.

Max menelan ludah kasar. Keringat dingin mengucur di dahinya. Matanya melirik ngeri pada bilah pedang di lehernya. Ia bahkan tidak paham bagaimana ia bisa dijatuhkan secepat itu. Tenaganya sama sekali tidak berguna.

"A-Ampun... Tuan Muda," gagap Max. Nyalinya menguap seketika.

Arya menarik kembali pedangnya.

Ia membalikkan badan, menatap keempat prajurit lain yang kini pucat pasi dan menundukkan pandangan. Kesombongan mereka hancur dalam hitungan detik.

"Ambil pedangmu dan berbaris," perintah Arya dingin pada Max. "Kalian semua, dengarkan baik-baik. Aku tidak butuh gerombolan pemabuk di wilayah ini. Jika kalian ingin memegang senjata di bawah panji Denwick, kalian akan mengikuti aturanku."

Tidak ada yang berani membantah. Mereka berlima segera berbaris kaku.

Di lantai dua kastil, Aran Denwick mencengkeram kusen jendela dengan kuat. Matanya terbelalak lebar.

'Gerakan apa itu?' batin Aran, dipenuhi keterkejutan.

Sebagai seorang veteran perang yang telah melintasi berbagai medan tempur di Mossgate, Aran telah melihat ratusan teknik pedang. Namun, apa yang baru saja dilakukan putranya berada di luar pemahamannya.

Itu bukan sekadar langkah menghindar. Itu adalah perhitungan geometri yang presisi. Putranya tidak melawan tenaga Max dengan tenaga. Arya membelokkannya, mengunci bilahnya, dan mengeksploitasi titik buta lawan dengan efisiensi bedah.

Seni berpedang itu mengalir tanpa amarah, tanpa gerakan berlebih. Murni untuk membunuh atau melumpuhkan.

'Sejak kapan anak itu belajar teknik mematikan seperti itu?'

Aran melepaskan cengkeramannya dari kusen jendela. Wajahnya yang biasa dingin kini memancarkan sesuatu yang lain. Keterkejutan itu perlahan bercampur dengan secercah harapan tajam.

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
PrinceArslan: ada di bab 11
total 2 replies
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
palupi: suka banget. tp gk bisa baca lebih dari 1 cerita, bikin bingung pahaminya. ttp semangat ya...💪👍
total 2 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!