Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Canna berjalan mengelilingi ruangan Delano. Duduk di kursi yang ditempati oleh Delano sebelumnya, memutarnya kekanan dan kekiri.
"Ternyata menyenangkan juga bekerja di kursi seperti ini," Gumam Canna sambil terkekeh sendiri.
Sementara itu, diruang meeting, Delano membuka mailbook miliknya, menatap Canna yang berada di ruangannya. Mailbook tersebut terhubung langsung dengan rekaman CCTV yang ada di perusahaan miliknya.
Wajahnya sesekali tersenyum samar menatap tingkah Canna yang dianggapnya konyol dan lucu. Beberapa karyawan menatapnya heran. Biasanya saat berhadapan dengan Delano, rasanya keadaan begitu mencekik mereka dan sangat menakutkan setiap kali mendapati Delano marah. Ia berdehem sebentar saat menyadari situasi yang terasa aneh, membuat mereka kembali gugup.
"Kita mulai saja meetingnya. Silahkan kalian berikan laporan tentang proyek yang sedang kalian ajukan," pimpin Delano, tapi matanya sesekali menatap kearah Mailbook miliknya.
Kembali membuat semua mata yang ada di ruang meeting terheran-heran. Tidak biasanya seorang Delano bertingkah seperti itu saat meeting. Biasanya pembawaannya sangat dingin dan terkesan sangat kaku. Tapi kali ini ia terkesan lebih santai sehingga membuat semua penghuni ruang meeting sedikit rileks dan bernapas lega.
Delano menutup mailbook miliknya setelah dirasanya cukup. Kembali fokus dengan pertemuan kali ini.
Canna masih duduk di kursi milik Delano. Memutarnya hingga 360°. Pintu ruangan terbuka, dengan cepat Canna berpindah posisi. Ia pikir itu adalah Delano.
"Key. Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kenapa pintunya bisa dibuka?" Canna terkejut ternyata Key lah yang masuk keruangan Delano.
"Kaka ipar. Apa yang kakak ipar lakukan disini? Apakah kakak ipar baru saja tertidur?"
Canna tampak jengah mendengarnya.
"Seharusnya kamu jawab dulu pertanyaanku, baru kamu mengajukan pertanyaanmu. Dan lagi, sudah aku katakan kalau aku bukan kakak iparmu!"
Key tampak tidak perduli, ia duduk berselonjoran di sofa milik Delano. Mengambil ponsel miliknya, menatapnya sejenak. Kembali menatap Canna sekilas.
"Kakak ipar kelihatannya sangat bosan berada di ruangan ini. Bagaimana kalau kakak ipar pergi beli cemilan saja?" tawar Key setelah memperhatikan Canna lekat-lekat.
Dengan cepat Canna mengangguk, ia memang sangat bosan berada sendirian di ruangan sebesar ini.
"Tapi aku tidak punya uang!" Canna kembali cemberut. Padahal ia benar-benar ingin memakan sesuatu.
"Ini ambillah!" Key menyerahkan kartu miliknya.
"Tapi...."
"Pakailah seperlunya, nanti kembalikan lagi padaku, kalau kamu sungkan menggunakannya dan anggap saja sebagai bonusmu!"
Dengan cepat Canna meraihnya dan bergegas keluar ruangan tanpa menghiraukan teriakan Key. Ia juga tidak perduli kalau Delano nanti marah padanya.
Ia sudah berada di lobi perusahaan. Menatap sekitarnya mencari keberadaan kantin perusahaan.
"Canna? Kita bertemu lagi."
Canna menoleh, Pinus sudah berdiri di belakangnya dengan senyum yang menawan. Lelaki itu benar-benar tampan di matanya. Tidak salah ia menjadikan Pinus sebagai idolanya.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apakah kamu ingin pulang?" tanya Pinus melihat kebingungan Canna.
"Aku ingin membeli beberapa cemilan, tetapi tidak tahu letak kantin perusahaan!" sahut Canna canggung.
"Biar aku yang antar!"
"Tapi, bagaimana dengan meetingmu?" tanya Canna ragu.
"Tenang saja. Meeting sudah selesai!"
***
Beberapa menit sebelumnya, Delano bergegas menuju ke ruangannya. membuka pintu dengan tidak sabar, matanya mencari keberadaan Canna.
"Kakak ipar sedang keluar," ucap Key tanpa menatap Delano.
"kenapa kamu membiarkannya keluar?" Delano tampak kesal.
"Aku yang minta. aku hanya kasian melihatnya merasa kebosanan karena di kurung sendirian," sindir Key menatap Delano.
Delano membuka mailbook miliknya melihat lorong perusahaan dan juga lobi kantor. Matanya terbelalak, bergegas ia berlari keluar ruangannya.
"Ada apa dengannya, kenapa harus terburu-buru?" heran Key.
Derris hanya mengedikkan bahunya, namun ia juga tetap mengikuti langkah Delano.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kamu tidak menuruti perkataanku!!?"
Suara Delano terdengar menggelegar, membuat karyawan yang ada disana menunduk dengan sedikit takut. Ia meraih tangan Canna yang di gandeng oleh Pinus dan menariknya kearah mobilnya. Membuat Canna terkejut dibuatnya. Tadinya ia bermaksud untuk mengikuti ajakan Pinus yang akan membawanya ke Supermarket. tetapi Delano sudah lebih dulu menariknya.
Delano membuka pintu mobilnya dengan tidak sabar, mendorong Canna hingga terhempas dikursi penumpang. Canna merasakan sedikit nyeri karena punggungnya membentur kursi.
"Delano. Apa yang kamu lakukan padanya. Jangan kasar terhadap perempuan!" teriak Pinus.
Delano menatap tajam Pinus. Ia tidak menggubrisnya. Ia masuk kedalam mobilnya. Menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Ini bukan urusanmu. Dia adalah pelayanku dan sudah sewajarnya ia menerima apa saja perlakuanku. Menyingkir dari mobilku!"
Delano menaikkan kaca mobilnya, meninggalkan Pinus yang terpaku menatapnya. begitu juga dengan Derris yang berdiri tidak juah darinya.
"Kenapa kamu selalu membantah perintahku? Apakah itu menyenangkan untukmu? Bukankah kamu bekerja untukku!"
Canna terkejut mendengarnya, menatap sekilas kearah Delano. ia menunduk takut sambil meremas jari-jemarinya. Kali ini ia bersalah karena sudah melanggar perintah Delano. Seharusnya ia tidak keluar tadinya dan menuruti ucapan Key.
"Aku hanya ingin membeli cemilan." cicitnya takut-takut. Aura didalam mobil terasa mencekam dan menakutkan. Lebih menakutkan dari keberadaan Canna di tempat angker. Entah apa yang akan dilakukan Delano padanya nanti sebagai hukuman.
Delano langsung membelokkan mobilnya kearah Supermarket yang ada dihadapan mereka. Canna masih menunduk takut, berharap Delano tidak menghukumnya.
"Seharusnya kamu bilang padaku. Aku bisa menyuruh orang lain untuk membelikannya untukmu."
Delano tampak melunak. Canna hanya diam saja, tidak berani membantah lagi ucapan Delano.
Tangan Delano bergerak menyelipkan rambut Canna kebelakang telinga, rambut yang berantakan dan membingkai wajahnya karena Canna menunduk.
Kali ini perlakuan Delano padanya membuatnya gugup dan terperangah. Baru kali ini Delano bersikap lembut padanya.
"Kita sudah sampai! Turunlah!"
Canna mengangkat kepalanya dan menatap pemandangan luar, mereka sudah berada di sebuah supermarket.
"Untuk apa kita kesini?" cicit Canna gugup.
Delano terkekeh mendengarnya, "Tentu saja untuk membeli beberapa cemilan yang kamu inginkan. Bukankah kamu merasa bosan sendirian," sahut Delano.
"Tapi... itu... tidak perlu," bisik Canna.
"Kamu tunggu disini, aku yang akan keluar dan membelikannya untukmu!"
Canna hanya menatap kepergian Delano. Ia meraba dadanya yang berdebar hebat. Sungguh, kali ini ia sangat takut berhadapan dengan Delano yang semarah itu.
"Tapi, bagaimana dengan Kak Pinus? Ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya setelah terpisah dari sekolah," Canna merasa kecewa karena keadaan yang tidak mendukungnya.
Mata Canna kembali bergerak saat mendapati Delano yang berjalan kearahnya. Lelaki itu sungguh gagah dan tampan, tapi sayang kalau sikapnya tidak mendukung sama sekali. Jika saja ia sedikit lebih lembut, mungkin Delano adalah idola Canna yang berikutnya.
Ia menggeleng samar saat pikirannya justru tertuju pada Delano. Tetapi, ia tidak menampik kalau Delano adalah mahakarya Tuhan yang nyaris sangat sempurna.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?