Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Fiorella
Kami selesai dalam keadaan letih. Untuk sesuatu yang baru kedua kalinya kualami, tubuhku bertahan cukup baik. Bedanya, kali ini aku menikmatinya. Ia lebih perhatian, lebih pelan, lebih lembut.
Aku terbaring di ranjang, ia di atasku. Dadaku berdegup kencang saat merasakan detak jantungnya menempel di tubuhku.
Tapi tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Burian bertanya dengan nada kesal siapa yang datang, dan terdengarlah nama Miya.
Sesaat aku hanyut. Pikiranku berputar-putar. Aku teringat kisah yang pernah Sonya ceritakan tentang apa yang dulu terjadi di antara mereka berdua.
Ada apa denganku?
Apa aku cemburu?
Ayolah, Fiorella, kamu baru saja mengenalnya.
Terlalu banyak hal terjadi. Aku bingung.
Ia bangkit cepat lalu keluar, dan reaksinya itu membuatku sangat kesal.
Aku bangun dan mendekati pintu. Aku perlu mendengar apa yang mereka bicarakan.
Kudengar keluhan-keluhan Miya, kudengar juga ia berkata ingin ikut pergi bersama Burian. Tapi yang tersangkut di telingaku adalah kata-kata Burian yang mengatakan bahwa ia tak akan membawaku serta.
Aku menjauh dari pintu, lalu menjatuhkan diri ke ranjang. Aku tak tahu harus merasa apa atau memikirkan apa.
Pintu terbuka. Ia mulai berpakaian. Tak sepatah kata pun. Bahkan tak sekali pun ia melihatku. Setelah selesai berpakaian, ia langsung pergi.
Tak ada apa pun lagi. Tak ada kata, tak ada ciuman, tak ada belaian.
Ia tak punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku tak akan ikut dengannya. Ia tak punya keberanian untuk mengakhiri semua harapanku.
Harapan yang sudah kuanggap mati.
Wajahku perlahan basah. Aku tak tahu sebabnya. Aku tak mengerti mengapa air mata jatuh tanpa henti dari mataku, mata yang mulai meredup.
Beberapa saat kemudian aku tertidur. Aku terlalu lelah dan terlalu sedih.
Mungkin lebih baik aku tak pernah terbangun lagi.
Burian
Setelah selesai bicara dengan Miya, aku jadi kacau. Perasaan yang dulu kupendam untuknya bangkit kembali dari lubuk jiwaku yang paling dalam. Kukira aku sudah berhenti mencintainya. Ia telah melukaiku terlalu dalam.
Dari sekian banyak lelaki yang bisa ia pilih untuk mengkhianatiku, ia justru memilih adikku sendiri. Darah dagingku sendirilah yang menghancurkan hidupku, yang merenggut perempuan impianku.
Dan sekarang apa? Haruskah aku memaafkannya?
Haruskah aku mencobanya?
Bisakah aku membangun keluarga yang sempurna bersamanya?
Bisakah aku mengakui Alfred sebagai anakku?
Haruskah aku melupakan masa lalu dan berbahagia di sisinya?
Terlalu banyak pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri, dan tak satu pun kupunya jawabannya.
Miya ingin kembali ke rumah, tapi aku tak yakin harus berbuat apa.
Kuminta ia memberiku waktu. Aku harus menjernihkan pikiran. Aku harus memikirkan langkahku.
Aku masuk ke kamar. Si gadis Italia menatapku lekat-lekat, sementara aku hanya meliriknya dari sudut mata. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku sudah menjanjikan akan membawanya pergi bersamaku, tapi saat ini kepalaku hanyalah rawa kebingungan.
Aku berpakaian dan segera keluar. Begitu berada di luar, kulihat hari sudah siang. Jam-jam berlalu bagai bintang jatuh, tak kusadari sama sekali. Aku melewati malam yang indah bersama si gadis Italia, begitu indahnya sampai aku hampir tersesat dalam waktu, berada di sisinya.
Tapi sebelum memutuskan apa yang akan kulakukan, aku akan meluangkan waktu supaya tidak berbuat kesalahan.