Indonesia
NovelToon NovelToon
The Wrong Marriage

The Wrong Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ind_Chris

Beberapa hari setelah mengantarkan paket makanan ke sebuah keluarga konglomerat, Jingga mendapat kabar bahwa 2 orang yang memakan makanan yang ia antarkan meninggal dunia, sedangkan 1 orang lainnya dalam keadaan koma.
Jingga terpaksa menikah dengan pria koma itu agar terlepas dari tuntutan atas makanan beracun yang diantarkannya. Sebulan setelah pernikahannya, pria koma itu akhirnya tersadar tapi dalam keadaan kakinya lumpuh.
Pria itu membenci Jingga karena kebodohan Jingga menyebabkan aset peninggalan kedua orang tuanya berhasil dikuasai oleh tante dan sepupunya.
Jingga mencoba memperbaiki keadaan, ia membantu suaminya untuk bisa merebut kembali aset itu. Jingga berhasil memperbaiki hubungannya dengan suaminya dan mereka pun saling jatuh cinta tapi akhirnya suaminya itu mengetahui kalau Jingga yang mengantarkan makanan beracun untuk dirinya dan orang tuanya hingga menyebabkan orang tuanya meninggal.
Bagaimanakah nasib Jingga selanjutnya? Apakah suaminya akan memaafkan Jingga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

"Aku ingin ke kamar!" ucap Kovu pelan.

"Baik! Di mana kamarmu?" tanya Jingga.

"Di lantai 3." jawab Kovu singkat. Jingga terdiam sejenak.

"Apa aku harus mengangkatmu sampai ke lantai 3?" tanya Jingga polos. Ucapan polosnya itu mendapatkan respon sebuah tatapan tajam dari Kovu.

"Kamu kuat mengangkatku sampai ke lantai 3?" ucap Kovu balik bertanya. Jingga menggeleng pelan.

"Di sana ada lift, pergunakan itu!" terang Kovu. Jingga menganggukkan kepalanya dan segera mendorong kursi roda Kovu ke dalam lift.

Jingga membuka pintu kamar yang diakui Kovu sebagai kamarnya itu dan seketika Jingga merasa sangat takjub melihat apa yang terpampang di hadapannya. Sebuah kamar minimalis tapi terlihat sangat mewah, setiap furniturenya tertata dengan rapi dan terlihat sangat bersih. Jingga membantu Kovu berpindah dari kursi roda ke ranjang mewah, tapi ketika melakukannya tangan Jingga tergelincir sehingga Kovu nyaris terjatuh ke lantai, tapi ia sempat berpegangan pada tubuh Jingga, sayangnya Jingga pun kehilangan keseimbangan, akhirnya mereka jatuh bersamaan ke ranjang dengan posisi tubuh Jingga berada di atas tubuh Kovu.

"Maaf! Maaf! Maaf!" seru Jingga, ia bergegas bangkit dari atas tubuh Kovu.

"Kamu sengaja melakukannya?" tuduh Kovu.

"Aku tidak sengaja! Sungguh!" bantah Jingga. Kovu melemparkan tatapan tajam pada Jingga.

"Aku bersumpah! Aku tidak sengaja melakukannya!" aku Jingga.

"Kenapa kamu selalu berpikiran buruk kepadaku? Padahal aku tidak memiliki niat jahat padamu sedikitpun!" gerutu Jingga, suaranya terdengar bergetar dan matanya terlihat berkaca-kaca. Kovu menyadari hal itu, ia mencoba meredam amarahnya pada Jingga. Kovu sadar, ia memang terlalu banyak marah kepada Jingga, ia juga selalu berpikiran buruk terhadap Jingga, tapi ia tidak bisa menghilangkan perasaan bencinya pada Jingga, setiap kali melihat Jingga, ia selalu teringat dengan kesalahan Jingga dan sudah pasti amarahnya langsung meluap-luap.

"Kalau seperti ini terus, lebih baik kamu mengusirku!" ucap Jingga pelan. Kovu tersentak.

"Kamu mau lari dari tanggung jawab?!" Lagi-lagi Kovu berpikiran buruk terhadap Jingga, tapi kali ini Jingga tidak bisa menahan lagi air matanya, ia menangis di hadapan Kovu. Kovu terkejut melihat Jingga menangis di hadapannya seperti anak kecil yang sedang kesal.

"Aku benar-benar tidak tahan lagi berada di sampingmu!" seru Jingga di sela-sela tangisnya.

Tanpa disadari, Kovu terus memperhatikan Jingga hingga akhirnya Jingga menghentikan tangisnya. Jingga menarik selimut Kovu dan menggunakannya untuk menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya.

"Hei!" tegur Kovu.

"Aku mau istirahat!" seru Jingga sambil melemparkan selimut itu kembali ke tempatnya.

"Di mana aku bisa beristirahat?" tanya Jingga ketus.

"Tidak ada tempat untukmu di rumah ini!" tukas Kovu. Jingga menatap Kovu dengan tatapan tajam.

"Baiklah!" seru Jingga, ia beranjak dari tempatnya dan melangkah cepat menuju sisi lain dari ranjang Kovu. Kovu memperhatikan sikap Jingga itu.

"Kalau tidak ada tempat untukku di rumah ini, aku akan tidur di sini!" ucap Jingga. Kovu tersentak.

"Tidak! Kamu tidak boleh tidur di sini!" seru Kovu, tapi Jingga tidak menghiraukannya dan menjatuhkan dirinya di ranjang mewah milik Kovu.

"Pergi dari sini!" usir Kovu.

"Kamu mengusirku?" tanya Jingga. Kovu terdiam.

"Aku akan pergi kalau kamu mengusirku!" ucap Jingga. Kovu merasa terjebak.

"Katakan kalau kamu mengusirku!" desak Jingga.

"Kali ini aku akan dengan senang hati pergi!" tambahnya.

"Pergilah ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" seru Kovu. Jingga tersentak.

"Kamu benar-benar jahat!" maki Jingga.

"Berhentilah bicara! Suaramu itu terlalu berisik!" ucap Kovu. Jingga terdiam.

"Di sana ada sofa, tidurlah di sofa itu!" perintah Kovu. Jingga menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka kalau Kovu menyuruhnya tidur di sofa, padahal di rumahnya terdapat banyak kamar dengan ranjang yang nyaman.

"Kalau kamu tidak mau, aku akan menelepon kantor polisi agar mereka menyiapkan ruangan khusus untukmu di penjara!" ucap Kovu santai. Jingga menghela nafasnya dengan kasar dan akhirnya ia tidur di sofa seperti apa yang diperintahkan Kovu.

...

Jingga terbangun lebih dulu dibandingkan Kovu, ia memperhatikan Kovu yang masih terlelap tapi Kovu terlihat gelisah dalam tidurnya. Jingga mendekati Kovu, terlihat kalau Kovu berkeringat padahal di kamarnya menggunakan pendingin ruangan.

"Dia pasti bermimpi buruk lagi!" batin Jingga.

"Apa aku harus membangunkannya?" gumamnya.

"Tapi kalau aku membangunkannya, nanti dia akan memelukku, setelah itu dia akan marah-marah lagi!" lanjut Jingga.

"Biarkan saja dia menderita dengan mimpi buruknya!" seru Jingga, ia tertawa getir.

"Ma.. Pa..!" gumam Kovu. Mendengar gumaman Kovu barusan, seketika hati Jingga terenyuh.

"Dia pasti merindukan orang tuanya!" batin Jingga, matanya mulai berkaca-kaca, akhirnya Jingga memutuskan untuk membangunkan Kovu.

Kovu membuka matanya dengan cepat, ketika ia membuka matanya itu, air mata mengalir dari sudut matanya, buru-buru ia menghapusnya dengan tangan. Sejenak Jingga hanya terus menatap Kovu hingga membuat Kovu salah tingkah.

"Ada apa?" tanya Kovu.

"Kamu mau kuantar ke makam orang tuamu?" tanya Jingga tiba-tiba. Kovu tersentak.

"Orang tuaku belum meninggal!" seru Kovu. Jingga terdiam, ia merasa sedih mendengar ucapan Kovu itu.

Jingga membawa Kovu ke ruang makan mewah yang ada di rumah keluarga Kovu itu. Di sana sudah tersaji beberapa macam makanan yang terlihat sangat lezat untuk sarapan Jingga dan Kovu. Jingga mengambilkan makanan yang diinginkan Kovu. Kovu menyantap makanannya dengan perlahan, ia terlihat tidak bersemangat.

"Ayo kuantarkan kamu mengunjungi makam orang tuamu!" ucap Jingga dengan suara berbisik. Ucapan Jingga itu membuat Kovu naik pitam.

"Orang tuaku belum meninggal! Sudah kubilang orang tuaku belum meninggal!" seru Kovu marah.

"Kalau kamu yakin orang tuamu belum meninggal, kenapa kamu menangis sambil memanggil-manggil mereka?!" tukas Jingga. Kovu melemparkan sendoknya ke meja dengan keras.

"Kamu membuatku kehilangan selera makan!" ucap Kovu dengan suara yang cukup keras.

"Dari awal kamu memang tidak berselera makan!" sahut Jingga. Kovu menatap Jingga dengan tatapan tajam, tapi kali ini Jingga tidak takut dengan tatapan itu, ia malah menatap balik kedua mata Kovu yang terlihat sangat menyedihkan.

"Mengapa kamu selalu membuatku marah?!" gerutu Kovu.

"Kamu tahu, dokter bicara padaku kalau kelumpuhanmu itu karena trauma." ungkap Jingga pelan. Kovu terdiam.

"Karena kamu tidak menerima apa yang sudah terjadi dalam hidupmu sehingga semuanya itu menjadi sebuah trauma di otakmu!" lanjutnya. Kovu menghela nafasnya dengan kasar.

"Mungkin saja dengan mengunjungi makam orang tuamu, kamu bisa pulih." ucap Jingga.

"Orang bodoh sepertimu tahu apa?!" tukas Kovu.

"Ya, aku memang bodoh!" aku Jingga.

"Tapi kita perlu mencobanya." bujuk Jingga. Jingga meraih pergelangan tangan Kovu dan menggenggamnya dengan lembut. Ia bersimpuh di sisi Kovu.

"Kamu harus bangkit demi dirimu sendiri!" ucap Jingga dengan suara berbisik.

"Kumohon!" pintanya. Kovu menatap kedua mata Jingga itu dengan seksama.

...

1
ArlettaByanca
ga lanjuut kayaknya ni novel
A⃟ꜱepi_@
jangan sampai kovu terhasut omongan miranda ya om,,, nanti aku kecewa 🤪 kasihan jingga
A⃟ꜱepi_@
🤣🤣🤣🤣
A⃟ꜱepi_@
semangat thor 🥰
A⃟ꜱepi_@
🤣🤣🤣🤣🤣
mau nya
A⃟ꜱepi_@
🤣🤣🤣 dasar jingga
A⃟ꜱepi_@
🥰 lanjuuut
Eve.Eveline
👍
ArlettaByanca
terus....gimana lagi ???
IndChris: sabar ya kak tunggu kelanjutannya 🤭😁
total 1 replies
ayybee
kirain udah d unboxing
ayybee: udah greget bacanya
total 2 replies
ayybee
bagussss om
ayybee: ku like semualoh
total 2 replies
ayybee
baru sempet baca om
ayybee: gua Gibeng juga nih author satu ini
total 2 replies
Nath09
seru seru seru
Mimi
👍
Nona Fien
bagus!
Nona Fien
makanya jangan galak2 jadi orang! 🤣🤣🤣
dilanjut thor!
Twinkle Twinkle Little Star
bikin penasaran di setiap episodenya
Twinkle Twinkle Little Star
eh cieeee 😆
Panggil Aku Eun
seru!
Panggil Aku Eun
next!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!