Satu malam penuh gairah dengan pria asing bak dewa Yunani mengubah hidup Lara selamanya. Gadis yatim piatu yang polos itu terbangun keesokan paginya—ditinggalkan, dengan setumpuk uang dan sebuah nota. Yang tak ia sadari: dari malam itu, ia mengandung benih seorang penguasa dunia bawah tanah.
Nikolai Pushkin, Don Bratva paling ditakuti di Rusia, tak pernah bisa melupakan "malaikat"-nya. Tiga tahun ia dihantui aroma dan bayang perempuan yang merenggut kendali dirinya—sampai takdir mempertemukan mereka kembali, dan Nikolai menemukan kenyataan yang mengguncang: ia punya seorang putra. Pewaris yang tak pernah ia duga.
Namun mencintai seorang raja mafia berarti masuk ke sarang serigala. Tunangan yang terobsesi, aliansi politik yang mematikan, dan musuh dari masa lalu yang paling kelam siap menghancurkan segalanya. Nikolai bersumpah akan melawan langit dan bumi demi keluarganya—bahkan jika itu berarti melepaskan takhtanya.
Sanggupkah cinta yang lahir dari satu malam bertahan di dunia yang dibangun di atas darah, kuasa, dan pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessilane Santos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
POV Lara
Aku menatap bungkus popok yang kosong dan salep yang sudah habis. Kusisir rambut dengan tangan, merasa benar-benar hancur. Aku sudah mendatangi semua restoran, toko, kedai—segalanya—dan tak ada yang mau mempekerjakan ibu tunggal. Kata-kata itu diucapkan sendiri oleh pemilik restoran terakhir yang kudatangi. Aku berlutut di samping ranjang dan mengelus rambut mungil anakku.
"Maafkan aku telah mengecewakanmu, Nak, tapi aku tak melihat jalan keluar lain. Maafkan aku, kumohon."
Aku menangis, merasa seperti sampah. Aku tak ingin menjual tubuhku, tapi tak ada jalan lain. Kuraih ponselku dan menelepon Ayla, yang menjawab pada dering pertama.
Panggilan telepon
"Aku terima! Bisakah aku mulai hari ini?"
"Tentu, aku akan bicara pada bosku, nanti kukabari."
"Baik!"
Aku memutus telepon dan menarik napas dalam. Aku cuma pernah memiliki satu pria dalam hidupku, dan memikirkan harus menyerahkan diri pada pria lain membuatku merasa kotor. Tapi aku tak boleh membiarkan anakku kekurangan apa pun.
Ayla mengirim pesan menyuruhku bersiap, katanya ia sedang dalam perjalanan menjemput. Aku pergi ke rumah Val dan menjelaskan bahwa aku mendapat pekerjaan dan akan kembali begitu selesai. Ia setuju menjaga Gael selagi aku bersiap. Setelah rapi, aku menunggu Ayla. Begitu kami masuk ke mobil hitam, kami langsung menuju sebuah rumah mewah.
"Ia orang baik," kata Ayla.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah nan indah. Begitu masuk, aku mendapati sebuah ruang tamu luas dengan banyak sofa, dan kulihat seorang pria jangkung. Ia berbalik menghadapku, dan mulutku menganga. Ini pasti lelucon—ia bajingan yang melecehkanku saat aku sedang hamil.
"Senang bertemu lagi, Lara," ucapnya.
Aku ternganga, dan ia tersenyum. Ia mengambil segelas minuman lalu duduk.
"Ayla bilang kau ingin bekerja untukku."
"Kau bosnya?"
"Ya! Sudah sepuluh tahun."
Aku baru sadar—Ayla mendekatiku atas perintahnya.
"Aku mau pulang."
Ia berdiri dan mendekat.
"Kau datang mencari pekerjaan, dan kau takkan mendapat pekerjaan lain karena kau ibu tunggal."
Ia tersenyum.
"Jadi ini ulahmu?"
Ia mengangguk membenarkan. Jadi memang dia selama ini, dia yang mengaturnya.
"Aku sudah bilang, Sayang, aku akan memilikimu," ucapnya.
"Kau menjijikkan."
"Kau akan menjadi milikku seorang."
"Tidak akan pernah."
Ia meraih dan mencengkeramku, mencium bibirku. Kugigit bibirnya begitu keras hingga ia mencengkeram leherku.
"Kau akan jadi milikku, Lara. Aku terus mengawasimu dan anakmu, Gael."
"Kau gila, kau sakit jiwa."
"Selama ini aku mengawasimu, dan rumah yang kautinggali itu milikku."
Aku menggeleng.
"Kalau kau pergi dari sini sekarang, kau akan tinggal di jalanan."
"Kumohon, jangan lakukan ini."
"Terima pekerjaan ini dan kau boleh tinggal di rumah itu. Tapi kalau kau pergi sekarang, akan kupastikan kau dan anakmu tidur di jalanan."
"Aku terima."
Ia tersenyum.
"Ayo naik."
Ia menarikku ke lantai atas, membuka sebuah pintu, dan aku masuk. Jantungku berpacu, rasa mual menggerogoti perutku.
Ia mendekat dan melepas gaunku. Tubuhku menegang dan air mata membasahi wajahku. Ia melepas pakaian dalamku dan membaringkanku di ranjang. Kecemasanku memuncak, aku ingin lari secepat yang kubisa. Ia melepas pakaiannya, memasang kondom, lalu menindih dan menembusku. Aku memalingkan wajah dan air mataku tak berhenti mengalir. Ia mempercepat gerakannya dan menggeram, memuncak. Ia menarik keluar dan berbaring di sampingku. Aku berbalik, terisak pelan, lalu dengan sisa harga diriku aku bangkit dan berpakaian.
"Sampai jumpa tiga minggu lagi, Sayang. Anak buahku yang akan menjemputmu. Uangnya sudah masuk ke rekeningmu."
Aku berlari keluar dengan perasaan kotor, melewati Ayla, dan masuk ke mobil yang sama. Tak lama kami tiba di rumahku. Aku berlari ke kamar mandi, melepas pakaian, dan menggosok tubuhku sekuat tenaga sampai perih. Kucuci bagian intimku begitu keras sampai terluka. Aku duduk di lantai dan menangis terisak-isak. Setelah dua jam di kamar mandi, aku masuk ke kamar, dan Val pun pulang. Aku menatap notifikasi bank yang memberitahuku bahwa aku menerima dua puluh lima ribu euro. Aku berbaring di lantai, memandangi Gael yang tertidur di ranjang, sampai akhirnya aku pun tertidur.